NovelToon NovelToon
AKU IBU TIRI MUDA

AKU IBU TIRI MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHAR YANG BUKAN UANG***

Bailla sedang bersiap siap untuk berangkat kuliah kebetulan hari ini jadwal untuk diskusi dengan dosen pembimbing skripsinya. Bailla sudah banyak waktu luang karena seluruh mata kuliahnya sudah selesai diambil, sekarang hanya fokus untuk skripsi saja.

Tiba-tiba handphone nya berdering tertulis jelas nama sipemangilnya 'Om Duren'. Sudah pasti calon suami bapak dari anak tirinya Bailla. Oh ya waktu pertemuan pertama kemarin mereka sudah saling tukaran no Handphone tetapi jarang chatan kecuali ada yang penting.

"Hallo Om Arya! " jawab Bailla.

"Hallo Bailla, hari ini kamu ada waktu gak"?? Tanya Arya.

"Ada om banyak malahan kan aku pengangguran hehe". Canda Bailla. "kenapa Om"?? Tanya Bailla balik.

"Boleh kita ketemuan ada hal yang ingin saya kasih ke kamu"

"Boleh om nanti saya ada waktu sekitar pukul 11 siang" Pagi ini rencananya mau kekampus sebentar" . Jawab Bailla kaku seperti berbicara dengan dosen pembimbing skripsi gak ada santai-santanya.

"Oke nanti saya jemput langsung kekampus ". Sambungan telepon diputus.

"Ya ampun kenapa jadi canggung seperti ini komunikasinya, Basar duren 80an " gumam Bailla didalam hati.

Setelah selesai bimbingan skripsi sambil menunggu Om Arya menjemput. Bailla dan zeze duduk di halte depan kampus mereka, tidak lupa cireng dan tahu gejrot yang selalu menemani kerandoman obrolan mereka.

zeze yang penasaran tidak sabar ingin melihat sosok Arya secara langsung. Tidak lama kemudian Mobil warna hitam singgah didepan mereka. Sosok lelaki dewasa keluar dari mobil tersebut dengan mengenakan kemeja hitam dan kacamata hitam. Arya Mahendra laki-laki yang bakal menjadi suami nya Bailla Zahira.

Zeze menatap sambil berbisik ke Bailla "Kalau duren seperti ini Tampa mahar pun aku mau Bai".

"Hussst dasar mata bakul Rio mau kamu kemanain. Ingat dan lihat dijidatnyanOm duren sudah tertulis 'Just Bailla' hehe".

"Hallo Om Arya pekenalkan saya zeze teman teraniayanya Bailla hehe". canda zeze sambil mengulurkan tangannya.

Arya menyambut tangan zeze " saya Arya calonnya Bailla . Oh ya sudah lama menunggu disini Bailla??. Tanya Arya ke Bailla membuat zeze sedikit jengkel karena dicuekin. Dan itu dapat dirasakan sama Bailla.

"Gak terlalu lama juga sih om ada Zeze yang menemani". Jawab Bailla cengengesan karena salting yang maha dahsyat.

"Ooo Om Arya kamu.." belum selesai Zeze berbicara langsung dipotong sama Bailla karena sudah kebaca pertanyaan apa yang akan zeze utarakan.

"Ayo Om kita jalan. Zeze cantik baik hati dan tidak sombong maaf ya kita pergi dulu. Ingat Rio bentar lagi jemput Lo hehe. " potong Bailla sambil menarik lengan Arya.

Zeze terbengong Tampa bisa bersuara karena ulah teman nya itu. Sedangkan Arya berlalu sambi tertawa kecil.

"Maaf y ze kita pergi dulu. Bye bye zeze... " Ujar Bailla sambil berjalan menuju mobilnya Om Duren.

"Oke ze sampai ketemu lagi" pamit Arya.

Pertemuan kedua tidak di warung kopi. Kali ini di rumah Pak Arya, tapi siang, terang, dan anak-anak lagi sekolah. Hanya ada mereka berdua, meja kayu di ruang tamu, dan satu map cokelat yang tebal.

Bailla datang pakai kemeja lengan panjang. Gak dandan. Karena ini bukan kencan. Ini “rapat”.

Pak Arya mempersilahkan Bailla duduk , dua gelas teh, toples nastar sisa Lebaran. “Silakan duduk, Bailla,” katanya Arya dengan lembut.

Bailla taruh tasnya disamping kursinya . “Bapak mau bahas apa?”

Pak Arya dorong map cokelat itu ke tengah meja. “Kita bahas pernikahan. Bukan tanggal. Tapi isinya.”

Bailla buka map. Isinya bukan undangan. Ada 3 bagian:

Sertifikat Rumah Mami Papi* sudah balik nama, sudah lunas di bank.

Slip pendaftaran uang kuliah semester depan atas nama Bailla Zahira, sudah dibayar.

Surat pembagian saham perusahaan Papinya Bailla atas nama Bailla Zahira.

Bailla mendongak. “Ini maksudnya apa om...”

“Ini bukan mahar,” potong Pak Arya cepat. “Ini bukti saya serius. Mahar nanti kita omongin. Tapi ini dulu, biar kamu tenang. Biar kamu gak nikah sambil mikir ‘nanti kalau saya ingkar janji gimana’.”

Bailla gigit bibir. Laki-laki di depannya ini gak ngasih bunga. Dia ngasih kepastian. Mengingat cerita papi tentang sikap Arya hati Bailla semakin yakin dengan keseriusannya.

“Giliran kamu,” Pak Arya nyandar. “Apa yang kamu mau dari pernikahan ini, Bailla? Selain yang udah kamu sebut kemarin.”

Bailla kaget. Dia kira dia tinggal “iya” dan beres. Ternyata dia disuruh ngomong. Disuruh punya suara.

Dia tarik napas. “Saya mau satu kamar sendiri, Pak. Sampai... sampai saya siap. Saya gak bisa langsung tidur bareng. Saya...” suaranya kecil, “...takut.”

Pak Arya angguk. Tidak tersinggung. “Rumah ada 5 kamar. Kamar paling ujung buat kamu. Ada kunci. Bapak gak akan masuk tanpa ketok.”

Bailla lega. Bahunya turun sedikit.

“Kedua,” lanjut Bailla, jari mainin ujung map, “saya mau tetap kuliah. Datang ke kelas, bimbingan, KKN. Bapak gak boleh larang dengan alasan ‘udah jadi istri’.”

“Bapak justru mau kamu wisuda,” jawab Pak Arya. “Biar nanti kalau Arbil, Ara dan aya nanya PR matematika dan lain-lain, ada yang bisa jawab karena saya sudah tidak paham dengan pelajaran anak sekarang.”

Bailla ketawa. Kecil. Pertama kali ketawa beneran di depan Pak Arya.

“Ketiga...” Bailla ragu, “Kalau saya... kalau saya gak bisa langsung sayang sama anak-anak, Bapak jangan marah. Saya gak mau pura-pura. Nanti mereka sakit hati.”

Pak Arya natap Bailla lama. Lalu dia geser toples nastar. “Bailla, anak Bapak itu kehilangan ibu. Mereka gak butuh ibu pengganti besok pagi. Mereka butuh orang yang gak kabur. Kamu datang, kamu makan semeja, kamu dengerin Aya cerita Marsha. Itu udah cukup buat awal. Sayang itu... belakangan. Kayak cat tembok. Harus didasarin plamir dulu baru dicat biar sempurna.”

Perumpamaan tukang bangunan. Bailla senyum lagi. “Bapak emang gak romantis.”

“Enggak Saya gak akan sakit hati “ yang pasti saya gak akan selingkuh. Gak akan KDRT. Gak akan jual kamu. Itu janji saya.”

Hening. Cuma suara detik jam dinding.

“Terus... maharnya?” Bailla akhirnya nanya.

Pak Arya buka laci meja. Ngeluarin kotak merah kecil. “saya gak punya emas banyak. Tapi ini punya almarhumah istri Bapak. Dia pesen, ‘Kalau suatu hari Arya nikah lagi, kasih ke perempuan yang mau nerima anak-anak kita.’”

Di dalam kotak: cincin bertahtakan berlian ada ukiran kecil bunga melati.

“Kalau kamu gak mau pakai, gak apa-apa,” kata Pak Arya cepat. “Bisa disimpan. Bapak bisa beliin yang baru kalau...”

Bailla ambil kotak itu. Dia lihat cincinnya terlihat sederhana Karena ini bukan soal harga. Ini soal izin dari perempuan yang lebih dulu punya hati Pak Arya.

“Saya pakai, Pak,” kata Bailla pelan. “Tapi jangan sekarang. Nanti... pas ijab. Biar sakral.”

Pak Arya angguk. Lega. Untuk pertama kali, matanya berkaca-kaca. Tapi dia tahan. Laki-laki 38 tahun, duda anak tiga, gak biasa nangis di depan calon istri yang 20 tahun.

“Terakhir, Bailla,” Pak Arya berdiri, “Bapak mau tanya sekali lagi. Gak akan Bapak ulang. Kamu yakin? Gak ada paksaan? Kalau kamu bilang enggak sekarang, semua surat di map itu tetap jadi milik keluarga kamu. Bapak ikhlas. Anggap sedekah buat almarhum Bapak saya.”

Bailla ikut berdiri. Dia lihat sekeliling. Rumah sederhana, tapi bersih. Ada foto anak-anak di dinding. Ada papan tulis kecil tulisannya “Jadwal Piket: Dito cuci piring”.

Dia tidak lihat istana. Dia lihat tanggung jawab. Dan anehnya, dia tidak lari.

“Saya yakin, Pak,” jawab Bailla. Suaranya tidak gemetar. “Saya gak janji cinta. Tapi saya janji datang. Saya janji gak kabur kalau Arbil ngambek, Ara nangis, Aya demam. Saya janji lulus kuliah biar Bapak gak malu punya istri sarjana.”

Pak Arya ulurkan tangan. Lagi. Sama seperti pertemuan pertama.

Bailla jabat. Genggamannya lebih kuat sekarang.

“Deal,” kata Pak Arya.

“Deal,” balas Bailla.

Di luar, anak-anak pulang sekolah. Suara Arbil teriak, “Paaaak, aku ranking 3!”

Pak Arya dan Bailla barengan nengok ke pintu.

Pernikahan belum mulai. Tapi “keluarga” sudah ketuk pintu duluan.

Sepertinya hari-hari kedepan akan lebih berwarna.. Bailla kamu akan menjadi sosok yang baru ayoo semangat...!!!

...****************...

...****************...

1
Yuliyana
ada bima n dito, siapa ya ?
Miss Danica: Maaf kak di Bab ini ada perubahan nama tokoh dan ada yang lupa edit ... Makasih atas koreksiannya. Selamat membaca kak 😍🙏
total 1 replies
Miss Danica
Hay gaeess sahabat NT mohon suportnya karya pertama ku ini ya. mohon bimbingannya juga semoga sehat sehat semuanya sukses untuk kita semua.😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!