NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahasiswi Baru

BAB 1 — Mahasiswi Baru

Angin dingin berhembus kencang, menerpa wajah Alena saat gadis itu berdiri mematung di depan gerbang besar Kingston University. Matanya mengelilingi area sekitar, takjub melihat bangunan-bangunan tua bergaya Eropa yang begitu megah dan klasik. Arsitekturnya kokoh, dipenuhi ukiran-ukiran halus dan tanaman ivy yang menjalar di dinding bata, memberikan kesan kuno namun sangat elegan.

Ini London. Kota impian banyak orang, tapi bagi Alena, kota ini terasa asing, sunyi, dan membekukan.

"Wow..." desisnya pelan, napasnya terlihat berupa asap putih tipis karena suhu udara yang cukup rendah.

Alena merapatkan mantel wol berwarna abu-abu yang dikenakannya, berusaha menahan rasa dingin yang mulai merasuk ke tulang. Di tangannya dia memegang erat tali tas ransel besarnya, satu-satunya benda yang membuatnya merasa sedikit aman di tengah keramaian orang-orang asing ini.

Jauh. Rasanya sangat jauh dari rumah. Ribuan kilometer memisahkan dirinya dari Indonesia, dari keluarga, dan yang paling penting... dari masa lalu yang ingin dia hapus dari ingatannya.

Alena menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan karena gugup. Dia tahu penampilannya mencolok di sini. Dengan wajah khas Asia, kulit yang lebih cerah dibandingkan mahasiswa lokal, dan cara berpakaian yang sedikit lebih tertutup, dia sadar betul posisinya sebagai orang baru, sebagai orang asing.

Tapi justru itulah yang dia cari. Ketidakdikenalan.

"Gue ke sini buat mulai hidup baru, Len. Fokus kuliah, dapet gelar, terus pulang dengan kepala tegak. Gak ada tempat buat nangis atau lemah di sini," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menguatkan hati yang sebenarnya masih rapuh.

Bayangan-bayangan buruk sempat melintas sekejap di pikirannya. Luka lama, pengkhianatan, air mata, dan rasa sakit yang hampir menghancurkannya dulu. Alena menggeleng cepat, menyadarkan dirinya dari lamunan menyedihkan itu.

Udah selesai. Itu masa lalu. Sekarang gue Alena yang baru.

Tujuannya jelas: Fokus 100% ke pendidikan. Cinta, asmara, atau main-main sama cowok? Sudah tamat sejarahnya. Dia tidak mau lagi membiarkan siapapun masuk ke hatinya dan merusak segalanya. Dia datang ke sini untuk menjadi kuat, bukan untuk jatuh cinta lagi.

Dengan langkah yang dipaksakan tegas, Alena melangkah masuk melewati gerbang kampus yang megah itu. Suasana di dalam sangat hidup. Mahasiswa-mahasiswa lalu lalang dengan wajah santai, ada yang tertawa, ada yang sibuk membaca buku, dan ada yang duduk santai di bangku taman.

Alena berjalan menyusuri koridor panjang menuju aula utama tempat acara orientasi akan dimulai. Jantungnya berdegup makin kencang. Campuran antara rasa gugup, takut, dan penasaran bercampur jadi satu.

 

Ruangan aula fakultas itu luas, tinggi, dan ber-AC sangat dingin. Sudah penuh diisi oleh mahasiswa baru dari berbagai negara. Suasana awalnya cukup riuh, suara percakapan dalam berbagai bahasa terdengar bersahutan, menciptakan kebisingan yang wajar di hari pertama kuliah.

Alena memilih duduk di barisan tengah, tidak terlalu depan tapi juga tidak terlalu belakang. Posisi yang aman buat dia mengamati keadaan tanpa terlalu mencolok. Dia sibuk membereskan buku catatan kecilnya, sesekali melirik sekeliling dengan tatapan waspada.

Tiba-tiba, suara bisik-bisik terdengar di sebelahnya.

"Eh, liat deh pintu..."

"Itu beneran dosen ya? Ganteng banget sumpah..."

"Tapi auranya serem banget ya, gak berani deh liat mata nya..."

Alena mendongak perlahan, mengikuti arah pandangan mahasiswa-mahasiswa lain. Dan detik itu juga... waktu seakan berhenti berputar.

Pintu besar di bagian depan ruangan terbuka lebar. Seorang pria masuk dengan langkah santai namun penuh wibawa yang memancar begitu kuat.

Dunia seakan ikut diam. Suara riuh rendah yang tadi memenuhi ruangan itu lenyap seketika, digantikan oleh keheningan total yang mencekam.

Pria itu berjalan perlahan menuju podium. Tinggi, tegap, mengenakan setelan jas hitam tailor-made yang pas sempurna di tubuh atletisnya. Rambutnya hitam legam disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi yang lebar dan garis wajah yang sangat tegas serta maskulin.

Tapi yang paling membuat Alena tercekat di tempat duduknya adalah matanya.

Mata itu gelap, tajam, dan sedingin es. Tidak ada senyum, tidak ada keramahan. Hanya tatapan datar yang seolah bisa menembus sampai ke tulang sumsum. Aura yang dia bawa begitu dominan, begitu bossy, membuat siapapun yang melihatnya langsung merasa kecil dan segan.

Siapa dia? Tuhan pasti tidak adil menciptakan manusia seperfect ini, tapi memberinya hati yang sedingin batu.

Pria itu berhenti di tengah podium, meletakkan tumpukan berkas tipis di atas meja dengan gerakan lambat dan terkontrol. Matanya menyapu seluruh isi ruangan, satu per satu, dengan tatapan penilaian yang membuat bulu kuduk merinding.

Akhirnya, dia membuka suara.

"Good morning. I am Dr. Adrian Vale. I will be your lecturer and supervisor for this semester."

[Selamat pagi. Saya Dr. Adrian Vale. Saya akan menjadi dosen dan pembimbing kalian semester ini.]

Suaranya. Astaga, suaranya.

Dalam, berat, berwibawa, dan terdengar sangat seksi saat melafalkan kalimat bahasa Inggris dengan pelafalan yang sempurna. Namun nadanya datar, dingin, tanpa emosi sedikitpun. Satu kalimat saja sudah cukup membuat seluruh mahasiswa di ruangan itu menahan napas serentak.

Adrian Vale... Nama itu terngiang di kepala Alena. Terdengar mahal, berkelas, dan jauh di atas jangkauan.

"As you can see on the paper, my class is not for everyone. It requires hard work, dedication, and absolute focus. If you are here just to have fun or waste time, you better leave right now."

[Seperti yang sudah kalian baca di berkas, kelas saya bukan untuk sembarang orang. Ini butuh kerja keras, dedikasi, dan fokus penuh. Kalau kalian ke sini cuma mau main-main atau buang waktu, lebih baik keluar sekarang juga.]

Ucapannya tegas, bahkan terdengar sedikit kasar. Tidak ada basa-basi, tidak ada sapaan manis. Adrian Vale jelas tipe dosen killer yang sangat ditakuti dan dihormati.

Alena menelan ludah susah payah. Dia merasa lemas, tapi anehnya dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria itu. Ada sesuatu yang magnetis dari sosok Adrian. Sesuatu yang berbahaya, tapi justru membuatnya penasaran.

Adrian kembali berjalan turun dari podium, mulai berkeliling di depan barisan kursi dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahan nya. Tatapannya tetap dingin, menyapu setiap wajah mahasiswanya dengan cepat dan dingin.

Sampai... langkahnya berhenti.

Tepat di hadapan Alena.

Dunia seakan menghilang. Hanya ada mereka berdua di ruangan yang luas ini.

Mata hitam pekat milik Adrian bertemu langsung dengan manik mata Alena.

Alena tersentak hebat, jantungnya seakan berhenti berdetak sepersekian detik sebelum akhirnya berpacu sangat kencang, seperti ingin meledak keluar dari rongga dadanya. Dia ingin membuang muka, ingin menunduk dan bersembunyi seperti orang lain, tapi anehnya tubuhnya seakan terkunci. Dia terpaku, terperangkap dalam tatapan tajam itu.

Kenapa? Kenapa dia menatap gue kayak gitu?

Adrian tidak berkedip. Dia tidak bergerak. Dia menatap Alena jauh lebih lama dibandingkan mahasiswa lainnya. Tatapan itu intens, menyelidik, seolah dia sedang mencoba membaca pikiran gadis itu, mencoba mengupas lapisan demi lapisan yang Alena bangun untuk melindungi dirinya.

Ada rasa penasaran di mata itu. Ada kekaguman. Dan ada juga... peringatan keras.

Wajah Alena memanas drastis. Dia bisa merasakan darahnya berdesir naik ke pipi, membuatnya terlihat sangat jelas sedang grogi dan salah tingkah di depan dosennya sendiri. Rasanya panas, padahal suhu ruangan itu sangat dingin.

Hanya beberapa detik, tapi rasanya seperti berjam-jam bagi Alena. Detik-detik yang penuh ketegangan, detik-detik yang melanggar batas profesionalisme.

Akhirnya, Adrian memalingkan wajahnya. Dia berbalik badan dengan santai kembali ke arah podium, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah hal biasa. Tapi Alena bisa melihat sudut bibir pria itu sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang sangat sulit ditangkap mata, namun cukup membuat Alena makin bingung.

Adrian bersandar di tepi meja, menyilangkan kedua kakinya yang panjang, dan menatap seluruh kelas lagi.

"Welcome to my class."

[Selamat datang di kelasku.]

Ucapnya lagi, kali ini terdengar lebih rendah.

"Rule number one: Discipline is everything here. And I don't like to repeat myself. Is that clear?"

[Aturan nomor satu: Kedisiplinan adalah segalanya di sini. Dan saya tidak suka mengulang perkataan saya. Mengerti?]

"Yes, Sir!" serentak seluruh mahasiswa menjawab dengan suara lantang, termasuk Alena yang ikut berbisik pelan.

"Good."

Alena menghela napas panjang, baru menyadari bahwa dia menahan napas sejak tadi. Dadanya masih naik turun tidak beraturan.

Dia menatap punggung lebar milik Adrian Vale yang kini sedang membalik halaman buku daftar hadir. Pria itu dingin, menyeramkan, otoriter, dan jelas-jelas berbahaya bagi hati gadis mana pun.

Dan sekarang Alena sadar satu hal yang membuatnya makin panik...

Pria itu akan menjadi dosennya.

Firasat Alena berkata, rencananya untuk fokus kuliah dan menjauh dari masalah cinta mungkin akan gagal total sebelum bahkan sempat dimulai. Karena badai terbesar dalam hidupnya baru saja masuk lewat pintu itu, dan namanya adalah Adrian Vale.

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!