NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi Sosok Pria Sejati

Tangan Vandini mencengkeram garpu dengan kuat. Suara tawa dan denting piring seakan terdengar jauh dari telinganya.

Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan air mata dan fokus pada makanan di hadapannya. Namun rasa sakit itu tetap ada, mengingatkannya bahwa ia tak bisa begitu saja menghapus pengkhianatan itu.

Satura menoleh, menyadari perubahan sikap Vandini. Ia tersenyum kecil, penuh keraguan. Vandini memaksakan senyum balasan.

Ia tahu Satura sedang berusaha berubah, tapi ada tembok besar yang terbentang di antara mereka akibat kesalahan pria itu.

Rindu, harapan, kenangan, dan rasa sakit bercampur menjadi satu. Vandini terjebak di antara keinginan untuk sembuh dan ketakutan untuk terluka lagi. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Momen ini adalah untuk anak-anak, untuk keluarga yang masih ada walau tak lagi utuh.

Anak-anak terus bercerita tentang sekolah dan permainan mereka dengan antusias. Vandini tersenyum getir melihat keceriaan itu.

Namun, perhatian Dannur justru tertuju pada sesuatu yang lain. Kakek itu mencondongkan tubuh ke depan, menatap cucunya dengan mata berbinar penuh bangga.

"Connan," ucapnya dengan nada lembut namun tegas, "kamu harus mulai belajar menjaga adikmu, pastikan dia aman. Itulah tugas laki-laki. Nah Cia," lanjutnya sambil tersenyum, "kamu nanti harus bantu bantu kakakmu dan Papamu, ya?"

Senyum Vandini sedikit memudar. Ia tahu Dannur tak bermaksud buruk, pola pikirnya memang sesuai zamannya.

Tapi Vandini merasa tak nyaman melihat ekspresi anak-anak. Connan tampak berpikir keras seakan menanggung beban besar, sementara kepercayaan diri Cia tampak sedikit meredup.

Belum sempat Vandini menyela, Satura sudah angkat bicara dengan suara tenang namun mantap.

"Sebenarnya, Pak," kata Satura sambil menatap ayahnya dengan senyum ramah, "kami mengajari Connan dan Cia bahwa mereka bisa saling menjaga. Menjadi kakak atau adik bukan berarti satu pihak harus menanggung segalanya atau pihak lain hanya jadi pembantu. Ini soal menjadi sahabat, ada saat dibutuhkan, dan saling mendukung."

Pria itu menoleh ke arah kedua anaknya, tatapannya lembut namun berwibawa.

"Kalian berdua sama-sama kuat dan bisa menjaga diri sendiri maupun satu sama lain. Gak ada aturan yang bilang Connan harus memikul semua tanggung jawab atau Cia cuma boleh menolong. Kalian punya kelebihan masing-masing, dan itulah yang membuat kalian hebat saat bersama."

Kata-kata itu menggantung di udara, membawa kehangatan yang mengejutkan. Vandini merasa tertarik pada sosok di sampingnya dengan cara yang sudah lama tak ia rasakan. Ia menatap Satura, terkejut dengan nada bicara yang begitu bijaksana dan penuh rasa hormat. Ini bukan Satura yang dulu ia kenal.

Dannur tampak sedikit terkejut, namun akhirnya mengangguk setuju sambil tertawa kecil. "Yah, boleh juga. Memang zaman sudah berubah, pikiranku mungkin sudah kuno."

Pandangan Vandini kembali tertuju pada Satura. Ia melihat bagaimana suaminya itu mendengarkan anak-anak dengan sabar dan terbuka.

Vandini terkagum melihat ketenangan dan otoritas dalam suara Satura. Pria itu tampak begitu berusaha memastikan anak-anak mengerti bahwa mereka setara. Cara bicaranya yang lembut dan tulus terasa begitu asing namun menyenangkan, seakan Satura kini berbicara dengan bahasa baru yang belum pernah Vandini dengar sebelumnya.

Saat anak-anak mengangguk paham dan obrolan kembali riuh, rasa penasaran muncul di hati Vandini. Ia tak pernah tahu Satura bisa berkata-kata sedemikian rupa, begitu tulus dan sadar saat mendidik anak. Dulu Satura memang ayah yang penyayang, tapi kini ada sesuatu yang berbeda, ia tampak lebih peka dan dewasa.

Vandini bertanya-tanya dalam hati, dari mana datangnya perubahan besar ini?

Apa yang membuat Satura begitu perhatian dan hadir sepenuhnya seperti sekarang?

Perasaan kagum perlahan muncul dan menyelinap di dadanya, bercampur dengan rasa sedih akan apa yang pernah hilang.

Apapun alasannya, jelas sekali Satura sedang berusaha keras berubah. Saat melihat Satura mendengarkan antusias cerita Cia, Vandini tak bisa menahan perasaan lain yang mulai tumbuh.

Mungkin, hanya mungkin, pria di hadapannya ini sedang berubah menjadi sosok yang selama ini selalu ia impikan.

...***...

Beberapa hari berlalu.

Satura duduk di ruang praktik terapis. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan, jarinya mengetuk-ngetuk pelan di lutut.

Pandangannya terpaku pada motif karpet. Ia berusaha mencari titik fokus, tapi pikirannya justru berkecamuk tak karuan. Setiap sesi terasa seperti mengupas lapisan demi lapisan luka yang sebenarnya belum siap ia hadapi.

"Terus," tanya terapis itu lembut, pena masih tergenggam di tangan. "Bagaimana keadaan di rumah? Rutinitas bareng anak-anak gimana?"

Satura menghela napas panjang, lalu mendongak. "Rutinitasnya... sebenernya berjalan aja dengan baik," jawabnya. Ada rasa hangat yang anehnya muncul di dada saat mengucapkan itu.

"Maksud aku, emang nggak gampang, tapi rasanya seneng banget bisa ada buat mereka. Kayaknya aku lagi belajar banyak untuk hadir di antara mereka, deh."

Ia terdiam sejenak, melirik ke arah jendela sebelum melanjutkan.

"Sekarang aku yang ngurusin pagi hari. Nyiapin anak-anak, bikinin bekal, pastiin mereka siap berangkat sekolah."

"Aku... baru sadar ternyata segalanya yang harus dikerjakan itu banyak banget. Banyak hal kecil yang selama ini Vandini kerjain setiap harinya."

Satura berhenti bicara. Rasa bersalah yang mulai ia kenal itu kembali menyergap, makin kuat setiap kali ia ingat betapa dulu ia sering meremehkan usaha istrinya.

Terapis itu mengangguk, memberi isyarat agar ia terus bicara. "Sepertinya kamu mulai melihat segalanya dari sudut pandang yang beda. Itu langkah bagus, Satura."

Satura mengusap wajahnya kasar, lalu mencondongkan tubuh, siku bertumpu pada lutut.

"Iya, dan itu... rumit banget sih," akunya, suaranya mengecil.

"Bukan cuma soal ada buat anak-anak. Ini juga soal Vandini. Kita udah nggak bareng lagi, tapi tiap kali aku deket sama dia..."

Ia menelan ludah. Bayangan kejadian pagi itu kembali terbayang, hangatnya bibir Vandini yang menyentuh pipinya, dan getaran yang masih terasa sama seperti dulu.

"Aku masih punya perasaan. Aku sayang dia. Aku masih cinta."

Terapis itu memiringkan kepala, wajahnya terbuka dan penuh pengertian. "Terus gimana perasaan kamu pas sadar hal itu?"

"Bingung," jawabnya jujur, tangan mengacak rambutnya frustrasi.

"Jengkel juga. Rasanya kayak... aku tahu aku salah. Aku sadar banget. Aku udah berusaha nerima semuanya."

"Tapi di saat yang sama, aku pengen dia balik. Aku pengen jadi cowok yang dia...harapkan. Dan tiap kali liat dia, rasanya kayak diingetin lagi sama apa yang aku punya, dan apa yang udah aku sia-siain."

Ia berhenti sejenak, merasakan beratnya setiap kata yang terucap. "Dan aku tahu, cuma 'pengen' itu nggak cukup. Aku harus... beneran berubah jadi lebih baik."

Terapis itu mengangguk perlahan, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan sejenak sebelum berbicara lagi.

"Satura, kadang proses dewasa itu juga belajar memaafkan diri sendiri. Kamu ada di sini, berusaha memperbaiki diri, menghadapi hal-hal yang mungkin dulu kamu hindari. Itu udah termasuk kemajuan. Tapi kamu juga harus paham, dapetin lagi kepercayaan dan rasa hormat Vandini itu butuh waktu. Apakah kamu siap nunggu?"

Satura menarik napas dalam. Jawabannya terasa lebih jelas dari yang ia duga.

"Siap," ucapnya pelan namun mantap. "Aku siap. Dia pantas dapetin itu. Dan jujur, aku rasa aku juga pantas dapet kesempatan itu. Cuma... rasanya berat karena aku nggak tahu apakah dia nanti bakal beneran percaya lagi sama aku atau enggak."

"Wajar kalau merasa nggak yakin, apalagi taruhannya besar," jawab terapis itu. "Tapi kamu lagi belajar menghargai kebutuhannya, batasannya, dan itu bagian penting. Usaha yang kamu lakuin sekarang ini, pertama-tama adalah buat diri kamu sendiri, baru kemudian buat dia atau anak-anak. Entah nanti hasilnya sesuai harapanmu atau enggak, perubahan ini bakal tetap jadi milikmu selamanya."

Satura menelan ludah, membiarkan kata-kata itu meresap. Rasa sesal yang biasa ia rasakan kini bercampur dengan sedikit kelegaan yang aneh.

Untuk pertama kalinya, ia merasa mulai mengerti arti mencintai seseorang dengan tulus, tanpa pamrih. Bukan semata-mata karena ingin balikan, tapi karena ia berhutang pada Vandini, dan pada dirinya sendiri, untuk jadi pria yang pantas dihormati, apa pun akhirnya nanti.

1
Eva Rosita
bagus
Fifi: makasi,kak 🥰
total 1 replies
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Fifi: makasih kak, udah berkenan mampir🙏😍
total 1 replies
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!