Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanua Tuntang
'Serikat Bulan Darah??
Sejak kapan kelompok ini muncul? Seingat ku dalam daftar kelompok yang ada di Ksatrian Watugaluh, nama ini tidak pernah tercatat. Hemmmmm, sepertinya Gusti Pangeran Mapanji Wijaya harus tahu hal ini', batin Tumenggung Rengga.
"Perkara ini nanti saja dibicarakan. Sekarang antar aku ke rumah Rama Wanua Tuntang. Cepatlah.. ", perintah Tumenggung Rengga yang membuat Kita Jagabaya Panut segera menghormati.
" Baik Gusti Tumenggung.. "
Diantar Ki Jagabaya Panut dan anak buah nya, Tumenggung Rengga dan Warak menuju ke arah kediaman Rama Wanua Tuntang, Mpu Jambal.
Sebuah rumah besar dengan pendopo luas dan halaman lebar mirip dengan alun-alun kecil yang ada di tengah perkampungan menjadi tempat pemberhentian mereka. Dua abdi dalem menghormat pada Ki Jagabaya Panut. Setelah membisikan sesuatu di telinga salah seorang diantara mereka, keduanya berlari masuk ke dalam rumah besar itu. Tak lama kemudian seorang lelaki paruh baya dengan rambut yang hampir memutih datang bersama dengan seorang perempuan seusia nya dan dua perempuan muda yang memiliki paras rupawan.
Dia adalah Mpu Jambal, Rama ( lurah ) Wanua Tuntang. Bersama dengan Nyai Goprak istrinya dan dua putrinya Sukesi serta Sumirah yang juga merupakan kembang desa Wanua Tuntang, Mpu Jambal segera menyembah pada Tumenggung Rengga dan Warak.
"Hormat hamba Gusti Tumenggung. Mohon maaf jika penyambutan kami kurang berkenan di hati Gusti Tumenggung", ucap Mpu Jambal dengan penuh hormat.
" Kau tak perlu berlebihan, Rama Wanua Tuntang..
Kedatangan ku kali ini adalah sebagai pengawal Gusti Pangeran Mapanji Wijaya yang sedang dalam perjalanan ke Kalingga. Kami membutuhkan tempat untuk bermalam. Bisakah kami meminjam tempat mu ini barang semalam saja? ", tanya Tumenggung Rengga segera.
"Tentu saja, Gusti Tumenggung. Merupakan sebuah kehormatan besar jika Gusti Pangeran Mapanji Wijaya bersedia untuk bermalam disini. Kami mengucapkan selamat datang di Wanua Tuntang", jawab Mpu Jambal segera.
" Baiklah kalau begitu..
Warak, sekarang kau bisa membawa rombongan Gusti Pangeran kemari. Aku akan menata tempat beristirahat untuk junjungan kita. Kau bisa berangkat sekarang juga", perintah Tumenggung Rengga pada Warak.
Hening tanpa jawaban. Rupanya sejak awal Warak terpesona pada kecantikan Sukesi, sang kembang desa, hingga ia sama sekali tidak mendengar apa yang diperintahkan kepadanya. Tumenggung Rengga segera menoleh ke arahnya dan langsung mendengus kesal karena ulah sang abdi setia Pangeran Mapanji Wijaya itu. Tanpa menunggu lebih lama, Tumenggung Rengga langsung menyepak bokong Warak.
Bhhuuuuuuugggggg...
Sepakan keras Tumenggung Rengga membuat Warak tersadar dari lamunan nya.
"Oh eh iya iya Gusti Tumenggung.. ", ucap Warak sekenanya.
" Iya apa hah?! Memang tadi aku memberi mu perintah apa coba? ", nada kesal terdengar dari suara Tumenggung Rengga.
" Ya anu itu tadi, kita utusan Gusti Pangeran Mapanji Wijaya begitu.. "
"Utusan kepala mu itu...!
Cepat ajak Gusti Pangeran kesini. Keburu malam, bisa bisa di hukum kau nanti", lagi Tumenggung Rengga memberikan perintah.
"Sendiko dawuh Gusti Tumenggung... ", ujar Warak sembari menghormat. Sesaat sebelum pergi, Warak masih sempat-sempatnya melirik ke arah Sukesi yang nampak malu-malu kucing dengan sikap genit Warak.
Tak lama kemudian, Warak kembali bersama dengan rombongan Pangeran Mapanji Wijaya. Rama Mpu Jambal menyambut kedatangan sang pangeran dengan penuh kehormatan.
Mpu Jambal menyuruh beberapa pelayan di rumahnya untuk menyiapkan hidangan sembari menunggu Pangeran Mapanji Wijaya mandi berganti pakaian. Seekor kambing di sembelih juga beberapa ekor ayam, menjadi penanda bahwa sang lurah benar-benar menghargai kedatangan tamu kehormatan mereka.
Sambil menunggu hidangan siap, Pangeran Mapanji Wijaya menggelar pertemuan di pendopo rumah Mpu Jambal yang dihadiri oleh beberapa sesepuh kampung termasuk Ki Jagabaya Panut karena laporan yang disampaikan oleh Tumenggung Rengga soal adanya kelompok perusuh yang sering membuat kekacauan di sekitar Wanua Tuntang.
"Berapa kali mereka datang kemari, Rama Wanua Tuntang? ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya usai semua orang Wanua Tuntang melaporkan kerusuhan yang disebabkan oleh Serikat Bulan Darah.
" Satu purnama sekali Gusti Pangeran..
Meskipun tidak ada korban jiwa dalam setiap aksi mereka, tetapi jumlah barang yang mereka minta sungguh memberatkan bagi warga kami. Berulang kali kami sudah melaporkan hal ini pada Watak Waringin Seta, Rakai Mpu Watuhumalang, tetapi pasukan yang dikirim justru dihancurkan oleh Serikat Bulan Darah. Sehingga Rakai Mpu Watuhumalang sendiri akhirnya membiarkan mereka memeras kami agar tidak ada korban lainnya. Hingga kini separuh wilayah Watak Waringin Seta sudah menjadi ladang keuangan mereka", lapor Mpu Jambal kemudian.
Pangeran Mapanji Wijaya menatap wajah para sesepuh Wanua Tuntang yang terlihat putus asa. Dia tahu bahwa sepak terjang Serikat Bulan Darah sangat memberatkan penduduk Watak Waringin Seta. Dia tahu bahwa ia harus bertindak.
Hemmmmmmmmm..
"Aku butuh keterangan tentang markas besar Serikat Bulan Darah ini, siapa pimpinan nya dan berapa besar pengikut yang mereka miliki.
Ada yang bisa memberitahu ku? ", Pangeran Mapanji Wijaya mengedarkan pandangannya.
" Hamba tahu Gusti Pangeran..
Pimpinan mereka adalah Bayuseta, bekas pendekar yang pernah bergabung dengan kelompok pendekar Mataraman yang dahulu menyerang ibukota Tamwlang. Yang hamba dengar, dia memiliki Ajian Pancasona yang membuat nya tak bisa mati. Selain itu hamba juga dengar anggota mereka berjumlah ratusan orang.
Kabarnya, Serikat Bulan Darah bermarkas di kawasan lereng Gunung Karung tangan tepatnya di bekas bangunan suci Nawagraha yang kini sebagian telah hancur. Seperti yang kita semua tahu Nawagraha adalah bangunan suci yang dipercaya menyegel jasad Dasamuka. Hamba juga dengar bahwa Bayuseta adalah pengikut ajaran Tantra Bhairawa, ajaran sesat yang datang dari Jambudwipa. Hamba khawatir, kelompok ini ingin membuka segel kunci jasad manusia iblis itu untuk meminjam kekuatan guna menghancurkan Kerajaan Medang. Gusti Pangeran harus mencegah mereka", ujar Ki Jagabaya Panut yang membuat semua orang terkejut mendengar nya.
"Separah itu rupanya hemmmmmmmmm..
Baiklah, aku akan menyelidiki lebih dulu kelompok ini. Jika benar-benar ditemukan penyimpangan atau bahaya yang mengancam, aku pasti akan menghancurkan kelompok ini hingga ke akar-akarnya. Untuk sementara, aku akan tinggal disini. Mulai besok, aku akan membentuk kelompok penyelidik Serikat Bulan Darah ini", titah Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat penduduk Wanua Tuntang tersenyum puas.
Malam itu hidangan pelbagai jenis masakan dari kambing dan ayam dihidangkan sebagai bentuk penghormatan kepada Pangeran Mapanji Wijaya. Mereka bersukacita karena harapan tinggi mereka akan bebasnya kampung mereka dari penindasan Serikat Bulan Darah.
****
Seorang lelaki berperawakan gempal dengan rambut gondrong serta menyandang sebuah senjata berbentuk golok besar di punggung nya, berdiri menatap sesosok lelaki tua berpakaian merah hitam yang sedang duduk di kursi kayu berbentuk aneh sambil membaca nawala. Lelaki berbadan gempal ini adalah Ki Pragola atau di dunia persilatan lebih dikenal dengan julukan Si Golok Sakti, seorang pendekar golongan hitam yang cukup disegani. Selain merupakan murid langsung Mpu Karmapala yang punya julukan mentereng Dewa Golok dari Utara, Ki Pragola sendiri juga merupakan orang kepercayaan sosok wanita misterius dari Kotaraja Watugaluh.
Sedangkan lelaki tua berpakaian merah hitam dengan wajah tirus dan mata cekung itu adalah Ki Bayuseta atau yang lebih dikenal sebagai Tuan Iblis Darah, pimpinan puncak Serikat Bulan Darah yang tersohor sebagai pendekar sakti mandraguna karena tak bisa mati berkat Ajian Pancasona yang ia miliki. Dalam kelompok Serikat Bulan Darah ini juga terdapat beberapa pendekar sakti lainnya seperti Jari Pembunuh Bintang, Bidadari Seribu Racun, Tapak Siluman dan Si Kaki Setan. Keempatnya disebut sebagai Empat Penjaga Arah.
Ki Bayuseta meletakkan nawala yang baru ia baca ke atas meja sebelum mengalihkan perhatian pada Ki Pragola.
"Apa benar majikan mu bersedia membayar mahal kepala Pangeran Mapanji Wijaya? ", suara serak dan dalam Ki Bayuseta cukup menakutkan bagi siapapun yang mendengar.
"Tuan Iblis Darah tenang saja..
Majikan ku sudah menyiapkan uang muka 100 kepeng emas untuk kepala Pangeran Mapanji Wijaya dan 50 kepeng emas untuk semua nyawa bawahannya. Jika sudah selesai, majikan ku akan menambahkan 150 kepeng emas lagi sebagai genap nya. Bagaimana Ki? Apa ini masih belum cukup? ", tanya Ki Pragola segera.
Hemmmmmmmmm...
" Ini sudah lebih dari cukup. Lagipula aku juga punya dendam dengan Si Panji Rawit. Membunuh satu anaknya sedikit banyak akan mengurangi dendam di hati ku, Golok Sakti. Saat ini dimana bocah itu berada? ", tanya Ki Bayuseta kemudian.
" Mata-mata ku mengabarkan bahwa ia sudah meninggalkan Padepokan Gunung Kemukus. Besar kemungkinan ia sudah sampai di sekitar Rawa Pening karena ia sedang dalam perjalanan ke Kalingga ", tutur Ki Pragola yang membuat Ki Bayuseta manggut-manggut.
" Rawa Pening ya...
Boleh juga kalau begitu. Kaki Setan, kemari kau..!! "
Teriakan keras Ki Bayuseta mendatangkan seorang lelaki berkepala plontos dengan pakaian rakyat jelata. Tak seperti lainnya, orang ini berjalan tanpa alas kaki.
"Ada tugas untuk saya, pimpinan? ", tanya lelaki berkepala plontos itu sambil menghormat.
Ki Bayuseta menatap lelaki berkepala plontos yang tak lain adalah Kaki Setan, salah satu orang kepercayaannya sambil berkata,
" Bawa sepuluh orang anak buah mu yang paling tinggi ilmu kanuragan nya.
Satroni Wanua Tuntang..!! "
Akankah akan ada episode "Balada Cinta Dua Pengawal Pangeran"
.... . 😄🤭