NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 Warisan Sang Penjaga Sarung

Pagi itu, kediaman Genta dan Clarissa tampak lebih ramai dari biasanya. Suara tawa anak-anak memecah kesunyian rumah mewah di kawasan Surabaya Barat tersebut. Arjuna Jr., anak pertama mereka yang kini sudah duduk di bangku TK, sedang sibuk memakai tas punggungnya.

​Genta memperhatikan putranya sambil melilitkan sarung kotak-kotak kesayangannya. Meski sudah menjadi Direktur Keamanan Utama, Genta tetaplah Genta—pria yang lebih nyaman pakai sarung daripada jas mahal.

​"Juno, ingat pesan Bapak. Kalau ada teman yang nakal, jangan dilawan pakai kekerasan," ucap Genta sambil mengelus kepala putrinya, Sofia Aulia, yang masih bayi di gendongan Clarissa.

​Juno menoleh dengan mata berbinar. "Terus pakai apa, Pak? Pakai krupuk kayak Bapak?"

​Genta tertawa lepas. "Cukup sabetno sarungmu nang angin, cekne kancamu wedi dhisik!"

​Clarissa hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah suami dan anaknya. "Genta, jangan ajari Juno yang aneh-aneh. Ini hari pertama dia sekolah."

​"Tenang, Mbak Bos. Anak kita ini titisan Penjaga Gerbang. Darahnya sudah menyatu dengan aspal Surabaya dan doa-doa Abah Mansur," jawab Genta dengan percaya diri.

​Tiba-tiba, ponsel Genta bergetar. Sebuah pesan masuk dari Joni, asisten keamanannya di kantor. Wajah Genta yang konyol seketika berubah serius. Ada laporan bahwa sisa-sisa kelompok "Tangan Hitam" terlihat di sekitar sekolah Juno.

​Genta mencium kening Clarissa dan bayi Sofia dengan lembut. "Mbak Bos, aku berangkat dulu. Ada tikus-tikus kecil yang coba-coba mau main di wilayahku."

​Clarissa menatap mata Genta, dia tahu suaminya sedang dalam mode tempur. "Hati-hati, Genta. Pulangnya jangan lupa beli bakso urat kesukaan Juno."

​Genta mengangguk mantap. Dia segera menyalakan motor sport hitamnya dan melesat menuju sekolah Juno. Di tengah perjalanan, dua motor sport misterius kembali mencoba menjepit posisinya.

​Genta menyeringai di balik helmnya. "Gak tau kapok yo, koco-koco iki!"

​Dengan satu tangan, Genta meraih ujung sarungnya yang tersembunyi di balik jaket kulitnya. Dia melakukan manuver miring yang tajam, lalu menyabetkan kain sarungnya ke arah ban motor musuh.

​Wusss! Angin kencang terpental, membuat motor musuh oleng seketika dan menabrak tumpukan ban bekas di pinggir jalan. Genta tidak berhenti, dia terus melaju karena keselamatan putranya adalah segalanya.

​Sesampainya di gerbang sekolah, Genta melihat seorang pria jangkung dengan jaket hitam sedang mendekati Juno. Pria itu tampak menyembunyikan sesuatu di balik bajunya. Genta segera melompat dari motornya bahkan sebelum mesinnya mati.

​"Woy! Jangan sentuh anakku!" teriak Genta menggelegar.

​Pria itu berbalik, wajahnya penuh luka parah—dia adalah salah satu anak buah Pak Baskoro yang selamat dari Jembatan Merah dulu. "Genta Arjuna... dendam kami belum usai!"

​Genta berdiri tegak, menghalangi Juno yang tampak bingung. Genta merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah krupuk kaleng berukuran sedang yang sudah diperkuat dengan doa perlindungan.

​"Ojo macem-macem nang kene. Iki dudu Sidoarjo maneh, iki Suroboyo!"

​Duel singkat pun terjadi. Musuh menyerang dengan pisau lipat, namun Genta dengan lincah menggunakan krupuk di tangannya sebagai tameng. Bunyi krak-krak krupuk itu bukannya hancur, malah membuat pisau musuh terpental seolah menghantam baja suci.

​Dengan satu putaran sarung yang cepat, Genta mengikat tangan musuh tersebut hanya dalam hitungan detik. Polisi yang berpatroli segera datang mengamankan pria tersebut.

​Juno berlari dan memeluk kaki ayahnya. "Bapak hebat! Krupuknya sakti!"

​Genta menggendong Juno dengan bangga. "Ingat ya, No. Kekuatan bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga orang yang kita cintai."

​Sore harinya, keluarga kecil itu berkumpul kembali di rumah. Mereka makan bakso urat bersama dengan penuh kebahagiaan. Di bawah sinar lampu rumah yang hangat, Genta tahu bahwa meski ancaman akan selalu ada, selama sarungnya masih melilit dan cintanya pada Clarissa tetap utuh, dia akan selalu menjadi pemenang.

Setelah memastikan Juno aman di dalam kelas bersama Ibu Guru, Genta keluar dari pagar sekolah dengan wajah yang masih terlihat sangar. Ia mendekati anak buah Pak Baskoro yang sudah dibungkus sarung layaknya lemper tersebut.

​"Heh, koco-koco! Bilangin bosmu, kalau mau main-main di Surabaya itu izin dulu sama aspal sini," ucap Genta sambil membersihkan remahan kerupuk di samping orang itu.

​Namun, tiba-tiba ponsel Genta berbunyi lagi. Joni, asisten keamanannya di kantor, suaranya terdengar sangat ketakutan. "Mas Genta! Gawat! Kantor Wijaya Group dikepung mobil-mobil hitam! Mbak Clarissa masih di dalam!"

​Genta terkejut. "Lho! Katanya kamu sudah jaga semua pintu?"

​"Mereka bawa alat aneh, Mas! Sinyal CCTV kita dimatikan semua!"

​Genta tidak banyak bicara. Ia langsung melompat ke atas motornya. Mesin motor sport itu meraung keras, melaju menuju kantor pusat Wijaya Group di tengah kota Surabaya. Genta merasa ini adalah jebakan double. Satu di sekolah, satu di kantor.

​Sampai di depan kantor, Genta melihat tim security sudah tumbang semua. Ada seorang pria jangkung, berpakaian necis namun wajahnya sedingin es, berdiri di lobi. Itu Pak Baskoro yang asli!

​"Genta Arjuna... ternyata memang susah dibunuh ya," ucap Pak Baskoro sambil tersenyum tipis. Ia memegang tablet yang menampilkan gambar Clarissa sedang disandera di dalam lift yang macet.

​Genta turun dari motor, tangannya sudah memegang dua bungkus lontong yang sudah dibacakan doa oleh Abah Mansur. "Baskoro... kamu salah cari perkara dengan orang sarungan!"

​"Apa yang bisa kamu lakukan dengan sarungmu itu? Pasukanku bawa senjata api!" tantang Pak Baskoro dengan sombong.

​Genta menyeringai nakal. Ia tidak takut sedikit pun. Dengan gerakan yang lebih cepat daripada mata memandang, Genta menyabetkan sarungnya menuju lampu lobi. PYARRR! Ruangan seketika menjadi gelap gulita.

​Di dalam kegelapan itu, Genta mengeluarkan kesaktiannya. Suara sabetan sarung terdengar seperti pecut yang menyambar-nyambar. Anak buah Pak Baskoro yang membawa pistol malah bingung karena aroma bunga kantan yang tiba-tiba memenuhi lobi.

​"Aduh! Kepalaku pusing!" teriak salah satu anak buah musuh.

​Genta muncul dari balik pilar, lalu melempar lontong saktinya tepat di dahi musuh satu per satu. PLETAK! PLETAK! Orang-orang itu langsung pingsan seketika.

​Genta kemudian berlari menuju ruang kontrol lift. Dengan satu sabetan sarung yang diputar kencang, ia memaksa mesin lift itu berjalan lagi. Saat pintu lift terbuka, Clarissa keluar dengan mata yang ketakutan namun langsung berubah bahagia saat melihat Genta.

​"Genta! Aku lihat kamu di CCTV sebelum mati!" Clarissa langsung merangkul Genta sangat kencang.

​"Tenang, Mbak Bos. Surabaya masih punya jagonya," ucap Genta sambil mengusap keringatnya.

​Pak Baskoro yang sudah tidak punya anak buah, mencoba lari menuju mobil sedannya. Namun, Genta lebih gesit. Ia melempar kerupuk kaleng yang paling besar tepat di ban belakang mobil Pak Baskoro. BOOM! Ban itu pecah seketika, membuat mobil itu menabrak tempat sampah besar.

​Polisi Surabaya kemudian datang mengepung Pak Baskoro. Genta hanya berdiri dengan santai, membetulkan letak sarungnya yang agak miring.

​Clarissa mendekati Genta, matanya berkaca-kaca. "Genta, terima kasih. Aku nggak tahu bakal jadi apa kalau nggak ada kamu."

​Genta menyengir konyol lagi. "Sudah, Mbak Bos, jangan sedih. Yang penting sekarang kita segera pulang, bakso uratnya keburu dingin!"

​Malam itu, Surabaya menjadi saksi bahwa kesaktian doa dan sarung kotak-kotak lebih digdaya daripada niat jahat. Genta Arjuna sudah membuktikan bahwa ia memang Warisan Sang Penjaga Sarung yang sejati.

Setelah Pak Baskoro digelandang masuk ke dalam mobil polisi, lobi kantor Wijaya Group yang tadinya mencekam perlahan mulai tenang. Namun, Genta tidak langsung bersantai. Matanya masih tajam menyapu setiap sudut ruangan yang berantakan karena pecahan lampu dan bekas "peluru" lontong saktinya.

​"Mas Genta, tim medis sudah datang untuk mengecek teman-teman security," lapor Joni sambil memegangi kepalanya yang sedikit memar.

​Genta menepuk bahu Joni. "Kerja bagus, Jon. Tapi ini belum selesai. Baskoro itu licin, dia pasti punya 'kartu as' yang disimpan di gudang rahasianya."

​Clarissa yang sedang merapikan rambutnya mendekat. "Maksudmu, masih ada ancaman lain, Genta?"

​Genta mengangguk pelan. Dia berjalan menuju mobil sedannya Pak Baskoro yang ringsek menabrak tempat sampah. Di bawah jok kemudi, Genta menemukan sebuah koper kecil berwarna perak. Begitu dibuka, isinya bukan uang, melainkan tumpukan berkas kepemilikan tanah ilegal yang selama ini digunakan Pak Baskoro untuk memeras para pengusaha di Surabaya.

​"Iki lho, Mbak Bos, biang keroké!" seru Genta.

​Tiba-tiba, dari arah gerbang belakang, terdengar deru motor yang sangat banyak. Ternyata, itu adalah sisa-sisa preman bayaran Tangan Hitam yang ingin membalas dendam karena bos mereka ditangkap. Ada sekitar dua puluh orang, semuanya membawa balok kayu dan rantai besi.

​Genta menghela napas panjang. Dia melepas jaket kulitnya, menyisakan kaos oblong putih dan sarung kotak-kotaknya yang legendaris.

​"Mbak Bos, masuk ke dalam lift lagi. Tutup pintunya rapat-rapat," perintah Genta tegas.

​"Tapi Genta, mereka terlalu banyak!" Clarissa panik.

​Genta hanya tersenyum miring sambil membetulkan lilitan sarungnya hingga setinggi pinggang. "Wong Suroboyo gak tau wedi, Mbak Bos. Apalagi mung mungsuh koco-koco koyo ngene!"

​Genta berjalan sendirian menghadapi gerombolan itu di area parkir. Dia tidak membawa senjata api, tidak juga membawa pedang. Di tangannya hanya ada sebuah benda kecil: Garam dapur kasar yang dibungkus kain perca—warisan teknik rahasia dari Abah Mansur.

​Begitu para preman itu menyerbu, Genta bergerak seperti bayangan. Sabetan sarungnya mengeluarkan suara Wusss-Wusss yang memecah udara. Setiap kali sarung itu mengenai lawan, mereka terpental seolah dihantam beton.

​Saat para preman mulai mengepungnya dalam lingkaran, Genta melemparkan garam dapur itu ke udara. "Jurus Pedes Mripat!" teriaknya.

​Garam itu pecah menjadi debu halus yang membutakan mata lawan. Di saat mereka sedang mengucek mata, Genta melakukan gerakan putaran maut. Tubuhnya berputar cepat, membuat sarungnya melebar seperti baling-baling helikopter.

​BUGH! BRAK! DUARR!

​Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, dua puluh preman itu sudah bergelimpangan di aspal parkiran. Ada yang nyangkut di pagar, ada yang nyungsep ke selokan. Genta berdiri di tengah-tengah mereka tanpa luka sedikit pun, hanya sarungnya yang sedikit berdebu.

​"Masih ada lagi?" tanya Genta sambil menantang siapa pun yang masih berani berdiri. Tidak ada jawaban. Semuanya hanya rintihan kesakitan.

​Genta berjalan kembali ke lobi, menjemput Clarissa. Dia mengambil sepotong krupuk yang masih utuh di kantongnya, lalu memakannya dengan santai. KRIUK!

​"Sudah bersih, Mbak Bos. Surabaya sudah kembali adem," ucap Genta kalem.

​Clarissa menatap Genta dengan kekaguman yang luar biasa. Dia sadar, pria di depannya ini bukan sekadar bodyguard atau direktur, tapi adalah pelindung sejati yang tak akan membiarkan kejahatan menyentuh kota ini.

​"Ayo mulih, Genta. Aku sing nyetir, kowe istirahat wae," ucap Clarissa sambil menggandeng tangan Genta menuju mobil mereka.

​Malam itu, di bawah lampu kota Surabaya yang berkelap-kelip, Genta menyandarkan kepalanya di jok mobil. Tugasnya sebagai Warisan Sang Penjaga Sarung telah terlaksana dengan sempurna hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!