Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah baru
...Dua minggu telah berlalu sejak hari ia terbaring di rumah sakit, dan memutuskan lebih banyak istirahat di desa. Setelah merasa cukup istirahat, Zhara memilih kembali bekerja, menata hidupnya perlahan demi perlahan....
...Di tengah langkah barunya, ia menyadari betapa ia merindukan tawa dan kehangatan teman temannya. Setelah selesai bersiap suap, ia keluar dari kamarnya, melangkah pelan menuju kamar Bibi Widya, yang kini telah pindah dan tinggal di sebelah kamar kos Zhara....
...“Bibi…”...
...Suara Zhara terdengar lembut di balik pintu. Tak lama, pintu terbuka pelan. Bibi Widya muncul dengan senyum hangat yang matanya masih mengantuk....
...“Kamu mau kemana?... Pagi pagi sudah cantik aja...” ucap bibi Widya tersenyum menggoda, menatap Zhara dari ujung kepala hingga kaki....
...“Mau bilang sama bibi, kalau Aku mau berangkat bekerja...” Zhara nyengir lebar, menatap bibinya masih terlihat berantakan....
...“Kalau tidak izin... Nanti dikira hilang,” lanjutnya, setengah bercanda....
...“Wahh, mumpung bibi libur… bagaimana kalau bibi antar kamu berangkat kerja?” ucap bibi yang masih berdiri di pintu....
...Zhara yang sudah hendak melangkah langsung berhenti. Ia menoleh, sedikit terkejut....
...“Ngak usah bi... Zhara bawa motor sendiri aja?” tolak Zhara lembut....
...“Santai Zhara, ini sekalian bibi mau keluar sebentar” jawab bibi meyakinkan....
...“Beneran bii...” Zhara ragu melihat bibinya. “Tapi bibi masih keliatan baru bangun...”...
...“Bibi tinggal cuci wajah, habis itu pakai hoodie… selesai, deh.” bibi merentangkan tanganya, seolah semua dapat teratasi. “Iya. Nggak enak juga kalau Bibi cuma di kos terus. Sekalian jalan jalan, sekalian antar kamu kerja.”...
...“Ya dehh... Aku tungguin bibi di luar saja.” ujarnya sambil tersenyum....
...“Nah, begitu dong. Tunggu sebentar, Bibi siap siap dulu.” bibi Widya langsung tersenyum lega....
...Zhara mengangguk, ia berdiri di depan pintu sambil menunggu. Lorong kos masih sepi. Hanya terdengar suara langkah kaki sesekali dari penghuni lain yang berlalu. Ia bersandar ringan di dinding, jemarinya memainkan ujung hoodienya. Pikirannya melayang layang, tentang hari ini, tentang tempat kerja, tentang teman teman yang akan ia temui....
...Tak lama, pintu di belakangnya terbuka....
...“Bibi sudah siap, ayo berangkat!” ajak Bibi Widya....
...Zhara menoleh, lalu mengangguk kecil. Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong kos yang masih lengang. Sesampainya di parkiran, Zhara berhenti sejenak, menatap motornya....
...“Mana… kunci motornya?” ucap bibi Widya mengulurkan tangan sambil menatap Zhara....
...Zhara sedikit tersenyum canggung, lalu menyerahkan kunci itu. Bibi Widya menerima kuncinya dan langsung memasukkannya ke motor....
...“Nah, sekarang sudah siap berangkat,” ujarnya sambil tersenyum kecil....
...Zhara mengangguk, lalu duduk di belakang. Tangannya sedikit ragu sebelum akhirnya memegang pinggang Bibi Widya pelan....
...“Pegang yang kuat Zhara,” kata Bibi Widya lembut....
...“Okay, Bi…” jawab Zhara pelan....
...Mesin motor pun menyala, dan perlahan mereka mulai meninggalkan area kos. Motor melaju pelan menyusuri jalan pagi yang mulai ramai. Angin sejuk menyentuh wajah Zhara, membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Zhara tersenyum tipis di belakangnya, merasa senang bisa tinggal bersebelahan bersama bibi Widya....
...Tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Bibi Widya fokus menyetir motor dengan hati hati, matanya tertuju pada jalan di depan. Zhara duduk di belakang dengan tenang, membiarkan hening itu menemani perjalanan mereka....
...Motor memasuki halaman spa, lalu berhenti di area parkiran. Mesin dimatikan, suara knalpot perlahan menghilang, digantikan oleh suasana pagi yang sejuk di sekitar gedung. Zhara turun dari motor, merapikan sedikit rambutnya yang berantakan terkena angin perjalanan. Matanya menatap bangunan spa di depannya, sejenak ia terdiam....
...“Zhara… nanti kalau sudah waktunya mau pulang, telepon Bibi ya,” ucap bibi Widya menatapnya lembut...
...“Iya, Bi.” jawab Zhara tersenyum kecil...
...Bibi Widya tersenyum lembut, melambaikan tangan kecil sebelum kembali menyetir motornya meninggalkan spa....
...“Zhara!…”...
...Terdengar ada yang memanggilnya, membuat langkahnya yang baru saja hendak masuk ke dalam spa terhenti....
...Ia menoleh perlahan....
...Terlihat Lani melambaikan tangan ke arahnya, sambil berlari kecil menghampiri. Lani berhenti tepat di depannya, lalu menatapnya dari atas ke bawah, memastikan semuanya baik baik saja....
...“Aduh Zhara… kakak kangen banget sama kamu... kenapa kamu nggak bisa kakak hubungin?”...
...Kak Lani langsung menarik Zhara ke dalam pelukan hangat. Zhara terdiam sejenak, lalu perlahan membalas pelukan itu dengan lembut....
...“Aku juga kangen sama kak Lani... iya aku butuh sedikit waktu untuk tenang,” ucapnya pelan....
...Kak Lani melepas pelukannya, lalu menatap Zhara dengan ramah dan penuh perhatian....
...“Zhara maaf ya… Kakak nggak sempat menjenguk waktu itu. Lagi ada hal serius yang mendesak harus diselesaikan,”...
...Kak Lani menatap Zhara dengan raut sedikit bersalah, sedangkan Zhara terlihat tenang, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum kecil....
...“Nggak apa apa, Kak Lani… Zhara ngerti.” ucapnya pelan....
...“Terimakasih Zhara atas pengertiannya,” Kak Lani tersenyum sambil melirik ke arah pintu spa. “Ayo Zhara… kita masuk ke ruang harmoni,”...
...Zhara mengangguk kecil, mereka berdua kemudian melangkah bersama memasuki ruangan harmoni, kusus tempat para terapis istirahat dan menunggu panggilan. Suasana di dalam terasa hangat, dengan aroma lembut yang khas dan suara tenang yang menenangkan....
...Sesampainya di dalam, matanya langsung tertuju pada Tiara sedang duduk mengobrol dengan Rani di sofa. Keduanya tampak santai, sesekali tertawa kecil membicarakan sesuatu. Tiara yang menyadari kehadirannya langsung menoleh, matanya membesar sesaat, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat....
...“Zhara…?” ucap Tiara semangat....
...Rani ikut menoleh. Ekspresinya sempat terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya berubah menjadi kaget sekaligus lega....
...“Zharaaaa...”...
...Rani langsung berdiri dari tempat duduknya, melangkah cepat mendekat....
...“Zhara… aku kangen banget, banget,” Rani menatapnya dengan mata sedikit berkaca kaca. “Kenapa kamu mengisolasi diri dua minggu penuh?” lanjutnya dengan suara pelan namun penuh rasa khawatir....
...Zhara terdiam sejenak. Ia menggigit bibir pelan, seperti mencari kata yang paling tepat untuk diucapkan....
...Tiara yang berada di samping Rani juga ikut menatapnya dengan serius, menunggu jawaban....
...“Aku lagi mencari tempat yang tepat untuk bertapa. Tujuannya, menaikkan level hidup,” Zhara menatap wajah teman temannya, yang mulai terlihat kaku. “Karena masih banyak cobaan yang belum aku cobain,”...
...“Hah? Bertapa? Slow living nggak Zhara?” ulang Rani, antara kaget dan tidak percaya....
...“Rani. Kalau orang salah resep dokter itu, biasanya...” Tiara menepuk pundak Rani. “Ada yang menjadi amnesia, ada yang koma, dan salah satunya jadi PLENGER,”...
...Rani masih menatap Zhara dengan ekspresi campur aduk....
...“Jadi... Temen kita Zhara, salah satu yang plenger itu?” ucap Rani syok....
...Kak Lani di samping Zhara langsung tertawa kecil, tapi tetap terlihat bingung....
...“Nah gitu ceritanya,” jelas Zhara menahan tawa....
...“Singkat, padat, dan nggak jelas,” ujar kak Lani tertawa....
...“Hidup plenger...” ucap Tiara mengepalkan tangannya diudara....