NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedekatan Tanpa Disengaja

Hujan gerimis mulai membasahi kaca-kaca jendela kantor Ramiro Group, menciptakan pola aliran air yang abstrak dan melankolis. Di dalam ruang kerja Zefan yang luas, suasana justru terasa hangat. Aroma kopi Luwak yang baru saja diseduh memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi buku-buku lama yang tersusun rapi di rak kayu ek.

Zefan Ramiro duduk di kursi kebesarannya, namun kali ini ia tidak menatap layar monitor yang penuh dengan angka saham. Ia sedang memperhatikan sebuah sketsa kecil di atas kertas kusam yang dibawa oleh Seraphina—sebuah lukisan pensil tentang seorang pria yang berdiri di pinggir dermaga, menatap laut lepas.

"Kau melukis ini saat menungguku?" tanya Zefan, suaranya rendah dan penuh ketertarikan.

Seraphina, yang duduk di sofa seberang meja kerja Zefan, mengangguk kecil. "Saya selalu membawa buku sketsa ke mana pun saya pergi, Tuan. Menunggu adalah waktu terbaik untuk menangkap detail yang sering diabaikan orang lain."

Zefan menghela napas, jemarinya mengusap tepian kertas itu. "Pria di dermaga ini... dia tampak sangat kesepian. Seolah-olah dia sedang menunggu kapal yang dia tahu tidak akan pernah datang."

"Atau mungkin dia sedang menunggu kapal yang sudah lama tenggelam, tapi dia tidak sanggup untuk beranjak," sahut Seraphina pelan.

Zefan mendongak, matanya bertemu dengan mata Seraphina. Ada keheningan yang tercipta di antara mereka, jenis keheningan yang tidak lagi terasa asing. Ini adalah kali ketiga dalam satu minggu Seraphina berakhir di ruang kerja Zefan. Awalnya memang tidak disengaja—hanya karena Denzel yang mendadak harus mengawal Leah ke pertemuan rahasia dengan Jeff—namun lama-kelamaan, Zefan mendapati dirinya mulai menantikan kehadiran gadis ini.

Bagi Zefan, Seraphina adalah anomali di dunianya yang keras. Di kantor ini, semua orang bicara tentang profit, kerugian, dan pengkhianatan. Namun Seraphina bicara tentang cahaya, tekstur, dan perasaan. Gadis ini memiliki pandangan yang segar, sebuah kacamata artistik yang membuat Zefan merasa bahwa dunia di luar bisnis masih memiliki warna.

"Kau tahu, Seraphina," ucap Zefan sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Denzel adalah asisten terbaik yang pernah kupunya. Dia efisien, setia, dan tidak pernah mengeluh. Tapi dia adalah pria yang mengunci pintunya dari dalam. Aku sudah mengenalnya bertahun-tahun, tapi aku merasa tidak pernah benar-benar mengenalnya."

Seraphina tersenyum kecut. "Bukan hanya Anda, Tuan. Saya kekasihnya, tapi terkadang saya merasa seperti sedang berkencan dengan sebuah patung marmer yang indah. Dia ada di sana, dia sangat perhatian, tapi jiwanya... jiwanya seperti sedang bertugas di tempat lain."

Zefan mengangguk paham. Ia merasakan simpati yang mendalam pada gadis ini. Ia melihat dirinya sendiri pada Seraphina—seseorang yang memberikan segalanya untuk keluarga Ramiro namun hanya mendapatkan sisa-sisa waktu dan perhatian.

"Tadi pagi, Denzel harus mengantar Leah ke butik untuk mencoba gaun pertunangan titipan Jeff," Zefan bercerita, mencoba mengalihkan suasana namun justru menambah beban di hati Seraphina. "Jeff mulai menekan Leah untuk segera meresmikan hubungan mereka. Aku merasa bersalah, tapi aku tidak punya kekuatan untuk menghentikannya."

"Leah... dia gadis yang kuat," ujar Seraphina. "Tapi saya bisa melihat dia sedang hancur. Dan Denzel... Denzel seolah-olah ikut hancur bersamanya, meski dia tidak mengatakannya."

Zefan terdiam. Ia baru menyadari betapa tajamnya pengamatan Seraphina. Gadis ini bukan hanya melihat permukaan; ia merasakan arus bawah yang sedang bergejolak di rumah itu.

"Kau adalah pendengar yang sangat baik, Seraphina," Zefan berkata dengan tulus. "Di duniaku, orang-orang hanya bicara untuk didengar, bukan untuk mendengarkan. Bisa bicara denganmu seperti ini... rasanya seperti beban di pundakku berkurang satu ton."

"Saya hanya bicara apa yang saya lihat, Tuan Zefan."

"Panggil aku Zefan saja saat kita sedang bicara seperti ini. Rasanya terlalu formal jika kau terus memanggilku 'Tuan' di saat kau sudah tahu betapa berantakannya pikiranku," Zefan terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat manusiawi.

Kedekatan ini, meski berawal dari ketidaksengajaan, mulai menumbuhkan rasa nyaman yang berbahaya. Seraphina mulai membandingkan. Denzel selalu bicara dalam kode dan rahasia, sementara Zefan bicara dengan kejujuran yang rapuh. Denzel selalu sibuk dengan ponselnya, sementara Zefan meletakkan ponselnya jauh-jauh saat Seraphina bicara. Denzel memberikan rasa aman fisik, tapi Zefan memberikan rasa aman emosional.

Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Denzel masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak lelah dan sedikit basah karena gerimis di luar. Langkahnya seketika terhenti saat melihat Seraphina sedang duduk santai di depan Zefan, sedang tertawa kecil menanggapi sebuah cerita.

Denzel terpaku. Ada perasaan aneh yang menusuk dadanya—bukan cemburu romantis yang biasa, melainkan rasa terancam yang sulit dijelaskan. Melihat Seraphina masuk ke dalam lingkaran pribadi Zefan adalah variabel yang tidak pernah ia perhitungkan dalam rencananya.

"Tuan Zefan," sapa Denzel, suaranya kembali ke nada kaku yang profesional. "Maaf, saya tidak tahu Anda sedang ada tamu."

Zefan menoleh, senyumnya tidak luntur namun ada sedikit ketegasan di matanya. "Ah, Denzel. Kau sudah kembali. Seraphina menunggumu sejak tadi, jadi aku mengajaknya minum kopi agar dia tidak bosan di lobi."

Denzel melirik Seraphina, lalu beralih pada sketsa pria di dermaga yang masih ada di meja Zefan. "Terima kasih, Tuan. Tapi sepertinya saya sudah membuat Nona Seraphina menunggu terlalu lama. Saya akan mengantarnya pulang sekarang."

"Jangan terburu-buru, Denzel. Biarkan dia menghabiskan kopinya dulu," ucap Zefan santai. "Kami baru saja membicarakan tentang seni dan bagaimana dunia bisnis butuh lebih banyak warna."

Denzel mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia merasa seperti orang asing di ruang kerjanya sendiri. Ia melihat bagaimana Seraphina menatap Zefan—dengan binar kekaguman dan rasa nyaman yang selama ini sulit ia dapatkan dari Denzel.

"Ayo, Sera. Hari sudah malam," ajak Denzel, kali ini dengan nada yang sedikit lebih mendesak.

Seraphina berdiri, merapikan tasnya. Ia menatap Zefan dengan senyum hangat. "Terima kasih untuk ceritanya, Zefan. Sketsa itu... simpan saja. Anggap saja itu hadiah kecil karena sudah menemani saya menunggu."

Zefan mengangguk. "Terima kasih, Seraphina. Hati-hati di jalan."

Saat mereka berjalan menuju parkiran, suasana di dalam mobil terasa sangat tegang. Denzel tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.

"Sejak kapan kau memanggilnya 'Zefan'?" tanya Denzel, suaranya dingin.

Seraphina menghela napas. "Sejak dia memperlakukanku seperti manusia, Denzel. Bukan seperti paket kiriman yang harus dijaga protokol keamanannya."

"Dia adalah majikanku, Sera. Ada batasan yang harus kita jaga."

"Batasan? Denzel, kau selalu bicara soal batasan! Tapi kau tidak pernah sadar bahwa batasan yang kau buat justru mengurungku di luar," suara Seraphina mulai naik. "Zefan adalah pria yang kesepian. Dia butuh teman bicara, dan aku senang bisa mendengarkannya. Dia jauh lebih terbuka padaku daripada kau."

Denzel terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik. Ia menyadari bahwa ia sedang kehilangan kendali atas segala hal. Leah sedang diseret oleh Jeff, dan sekarang Seraphina mulai terseret oleh Zefan. Ia merasa dunianya sedang runtuh dari dua sisi sekaligus.

"Aku melakukan ini untuk melindungimu, Sera," bisik Denzel parau.

"Melindungi dari apa? Dari dirimu sendiri?" tanya Seraphina sinis. "Nyalakan mesinnya, Denzel. Antar aku pulang."

Sepanjang perjalanan, Denzel tidak bicara lagi. Ia memikirkan tentang Zefan. Ia tahu Zefan adalah pria yang baik, namun ia juga tahu bahwa kesepian bisa membuat pria melakukan hal-hal yang tidak terduga. Dan melihat cara Zefan menyimpan sketsa Seraphina di atas mejanya tadi, Denzel tahu bahwa kedekatan ini bukan lagi sekadar ketidaksengajaan.

Di ruang kerjanya, Zefan masih duduk menatap sketsa pria di dermaga itu. Ia merasakan sebuah getaran yang sudah lama hilang dalam dirinya—sebuah gairah hidup yang baru. Ia tidak ingin merusak hubungan Denzel dan Seraphina, namun ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa bicara dengan Seraphina adalah hal terbaik yang terjadi padanya dalam setahun terakhir.

Malam itu, di bawah guyuran hujan Jakarta, benih-benih konflik baru mulai berakar. Kedekatan tanpa disengaja antara Zefan dan Seraphina telah membuka pintu menuju labirin hati yang lebih rumit, di mana kesetiaan akan diuji oleh rasa nyaman, dan cinta akan diuji oleh kehadiran yang lebih nyata.

Denzel memacu mobilnya kembali ke kediaman Ramiro setelah mengantar Seraphina. Ia menatap jendela kamar Leah yang masih menyala, lalu menatap jendela ruang kerja Zefan yang juga masih terang. Ia berada di tengah-tengah dua orang yang sangat ia cintai, namun ia merasa lebih sendirian dari sebelumnya.

Kedekatan itu mungkin tidak disengaja, namun dampaknya akan mengubah segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!