NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dewi berantem 2

“Mah, Dewi berantem,” dengan napas tersengal Arjuna berkata.

“Kenapa kamu malah melapor ke sini, bukannya jagain Dewi?” Nanda menatap Arjuna dengan kecewa.

“Dewi melawan lima orang lelaki semua dan mereka besar-besar badannya.”

“Apa?” Amira kaget dan takut Dewi kenapa-kenapa.

“Mah, ayo kita samperin Dewi.”

Nanda sudah berdiri dan memakai sandal jepitnya. “Ayo, Amira, kita harus cepat.”

Amira buru-buru memakai sandal dan menyusul Nanda.

“Cepat tunjukkan jalannya,” terdengar suara Nanda.

Nanda sama sekali tidak khawatir Dewi kalah dalam berantem, apalagi hanya lima orang. Yang ia takutkan adalah Dewi berlebihan dalam bertindak. Nanda tahu betul bagaimana Dewi kalau berantem. Beberapa kali anak jalanan hampir terluka parah kalau tidak segera dilerai.

Sedangkan Amira takut Dewi kenapa-kenapa. Melawan lima orang anak lelaki yang usianya di atas Dewi, tentu saja Dewi akan babak belur. Tidak patah tulang saja sudah untung. Uang tinggal satu juta, takutnya tidak cukup untuk membiayai pengobatan Dewi.

Tak lama kemudian mereka sampai di lokasi. Debu berterbangan, tanah merah terhampar luas. Itu adalah lokasi yang akan dijadikan pabrik. Karena belum memulai pembangunan, sering dijadikan tempat bermain bola. Dewi suka bermain ke situ.

“Di sana,” tunjuk Arjuna ke sebuah lokasi.

Amira dan Nanda berlari ke lokasi, dan pemandangan yang mereka dapatkan adalah sesuatu yang di luar dugaan.

Dewi berdiri tegak dengan kuda-kuda kokoh. Rambutnya sudah acak-acakan, bibirnya penuh darah, dahinya ada benjolan. Di depannya, dua orang sudah terkapar, meringis kesakitan.

“Maju semua!” ucap Dewi lantang.

Tiga anak lelaki itu maju bersamaan. Dewi tahu dia akan kalah. Tenaganya sudah hampir habis. Ia mengincar satu orang, memukul perutnya, lalu menindihnya dan memukulinya dengan brutal. Dua orang temannya terus menendang tubuh Dewi dengan keras.

Anak yang dipukuli Dewi menangis keras. Mukanya sudah babak belur. Sedangkan Dewi tidak menangis sama sekali. Semakin dipukul dari belakang, semakin keras dia memukul orang yang ada di bawahnya.

Nanda menarik dua orang yang menendangi Dewi hingga Nanda juga ikut tersungkur.

Sedangkan Amira mencoba menarik Dewi, namun sama sekali tidak tertarik. Dewi seperti kesetanan, terus memukuli orang yang ada di bawahnya.

“Dewi, berhenti! Nanti kamu tidak akan bisa makan enak kalau di penjara!”

Dewi berhenti. Anak yang dipukul sudah tidak sanggup menangis karena terlalu sesak.

Dewi bangun dan masih melihat ke arah anak yang dia pukul.

“Payah,” gumamnya sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.

Namun tiba-tiba—

“Bugh!”

Kepala Dewi dipukul keras. Dewi merasa oleng. Ini bukan pukulan anak-anak, tapi pukulan orang dewasa.

“Bangsat!” teriak Nanda, menerjang orang yang memukul Dewi.

Nanda memang sudah tua, tapi urusan berantem dia tidak akan mundur sama sekali.

Nanda memukul wanita yang memukul Dewi tadi dengan keras. Wanita itu terhuyung, hampir jatuh.

“Anak kecil yang berantem, kenapa kamu ikutan memukuli cucuku?” ucap Nanda keras.

“Cucu sialan kamu itu menggigit anakku! Lihat telinganya sampai berdarah!” wanita itu menunjuk ke salah seorang anak yang duduk sambil memegang telinganya yang berdarah.

“Alah, cuma luka kecil. Dikasih obat merah saja sembuh. Kalau kamu memukul cucuku, itu urusannya denganku,” Nanda menggulung lengan bajunya dan mengepalkan tinjunya.

“Sudah, Mah, jangan berantem.”

Nanda menoleh ke Amira, dan ia lengah.

“Bugh!”

Satu pukulan mendarat di pipi Nanda. Sudut bibirnya berdarah.

“Brengsek!” ucap Nanda. Dia menerjang wanita itu dengan brutal.

Ia mendorong wanita itu dengan keras hingga terjatuh. Nanda menindihnya dan berusaha mencakar. Adegan saling cakar dan saling jambak pun terjadi.

Nanda, walau sudah berusia, tenaga dan nyalinya masih cukup kuat. Beberapa bagian baju sudah robek.

Sekarang posisi wanita itu ada di bawah. Nanda sudah hampir tak berdaya.

“Hentikan!” ucap seorang lelaki dengan langkah tergesa. Ia akan memukul Nanda.

Namun—

“Bugh!”

Tangannya dipukul seseorang.

Ia menoleh, melihat anak perempuan gemuk memegang kayu.

“Urusan wanita, lelaki tidak boleh ikut campur,” ucap Dewi lantang dan cempreng.

“Anak kurang ajar! Kamu membuat anakku terluka. Aku harus menghukum kamu!”

Lelaki itu langsung menatap Dewi dan melangkah mendekat.

“Jangan sakiti anak saya!” Dewi menghadang pria itu.

“Minggir! Anak kamu itu biang onar. Neneknya tidak pernah mendidik dia dengan baik. Dia harus dipukul biar tahu aturan!”

Lelaki itu tinggi besar. Tangannya juga besar. Sekali pukul, sepertinya bisa membuat Amira pingsan dan terluka parah.

“Hentikan! Hentikan!”

Beberapa orang mendekat ke sumber keributan. Seorang pria berpakaian polisi desa datang.

Ia langsung melerai Nanda yang sedang memukuli wanita itu.

Nanda mendekati Amira. Dewi mendekati Nanda.

“Pak polisi, anak ini memang biang onar. Lihat tuh, anak saya sampai telinganya berdarah!”

“Iya, itu anak saya juga giginya sampai patah gara-gara dia!”

Mereka semua menyalahkan Dewi.

“Anak kalian saja yang payah. Punya anak lelaki kok lemah sekali. Kalau kuat, tidak mungkin terluka,” ucap Nanda dengan angkuh.

Amira merasa kesal. Di saat seperti ini, seharusnya Nanda merendahkan diri dan meminta maaf.

“Tuh lihat, Pak! Orang tuanya mengajarkan kekerasan pada anak. Orang tua jahat!”

“Kalian semua diam! Mari kita ke balai warga. Di sini panas dan sebentar lagi juga ada orang proyek mau kerja di sini,” ucap polisi desa.

Akhirnya mereka meninggalkan lapangan menuju sebuah balai RW.

Anak-anak yang terluka dibawa dulu ke klinik terdekat. Sedangkan Dewi hanya diam, seolah tidak merasakan apa pun.

Amira, Nanda, Dewi, dan Arjuna duduk di sebelah kanan. Orang tua korban Dewi duduk di sebelah kiri. Mereka tampak kesal melihat Dewi yang cuek, tidak ada takut sama sekali. Bahkan saat salah seorang menatap Dewi, Dewi malah mengacungkan jari tengah.

“Baiklah, kita berkumpul di sini untuk mencari mufakat bersama. Bagaimanapun juga anak-anak tidak bisa kita proses secara hukum. Kalau anak salah, yang orang tuanya yang harus tanggung jawab,” ucap Pak Polisi.

Sutinah, ibu dari Deni, berdiri dan berkata dengan lantang.

“Anak itu sudah beberapa kali bikin onar, Pak. Mereka harus diusir dari kampung ini!”

“Benar, anak itu memang biang onar,” seseorang menimpali perkataan Sutinah.

“Selain diusir, mereka juga harus mengganti biaya berobat anak saya. Saya sudah tanya sama dokter, biayanya 10 juta rupiah!”

“Dasar orang gila!” teriak Nanda. “Luka kecil begitu saja 10 juta! Kalian ini mau meras, ha? Sini, aku saja yang urus anak kalian!”

Amira memegang tangan Nanda dan menyuruhnya diam.

Amira berdiri. “Mohon maaf atas kenakalan anak saya.”

“Amira, Dewi tidak nakal,” ucap Nanda kesal. “Dia berantem pasti ada alasannya.”

“Dia itu biang onar, memang suka berantem,” ucap Sutinah.

Amira berbisik pada Nanda, “Mamah diam dulu ya.”

Nanda terdiam.

“Saya orang tua dari Dewi meminta maaf atas kelakuan anak saya, dan saya akan bertanggung jawab biaya pengobatan korban dengan harga wajar. Mari kita ke puskesmas saja.”

“Enak saja ke puskesmas! Anak saya ini harus diperiksa ke spesialis anak, dokter bedah, psikiater anak. Biayanya sekitar 20 juta. Karena saya orang baik, jadi biar 10 juta saya yang tanggung.”

“Tinah dasar wanita gila,” ucap Nanda kesal.

1
sunaryati jarum
Anjani kalau tidak dipanggil Dewi tidak datang, jadi tidak ada yang tahu keberadaannya
Anonim
Gemes ih sama dewi pengen nyuel 🤣
nunik rahyuni
waduuuh dewi kamu bikin masalah untuk anjani...bisa bisa di tangkap sama damkar di tuduh meresahkan warga.kya aq jg klo ketemu ular bisa parno berminggu minggu..jangan di ulangi suruh anjani sembunyi lg. keluar di saat tertentu saja
sunaryati jarum
Hewan ditolong akhirnya balas budi
Test Baru
kak autothor udah 2 hari kok belum up lagi sih 🙏🙏🙏
falea sezi
ular gaib kah
falea sezi
amira ini tolol liat anak mu menderita buat TKW semua gaji Jagan di kasih suami🤣 iya klo suamimu setia
nunik rahyuni
hah untung cs sama anjani....klo g mana mau anjani membantu🤣🤣🤣dan kenapa dewi jd penakut biasanya suka kelahi
sunaryati jarum
Ular Dewi yang beraksi
nunik rahyuni
thor deei manggilnya kok ganti2..dlu mamah td kok jd bunda mana yg betul
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
nunik rahyuni
mereka yg celaka ato mereka yg di celakai .
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔
nunik rahyuni: iya..klo tidurnya terganggu kan langsung jd sumala🤣🤣🤣
total 2 replies
nunik rahyuni
waduh...mau ngapain mereka....anjani muncul lah
mama
syg up ny cm sekali sehari😄
sunaryati jarum
Malik kamu salah, kau sekarang tidak bisa menyentuh Niko.Jika kau menargetkan Amira kau salah cari lawan.Dino sudah jadi pantauan dan pengawasan Niko.
sunaryati jarum
Wah mungkin Mery suka sama Udin
sunaryati jarum
Lanjut , semoga penghasilan kamu makin banyak Udin
nunik rahyuni
thor dewi mana...kangen nyaaaa q sm bocah ni..
nunik rahyuni
dilanjuut....bnyak lho kisah udin ini di dunia nyata...anak dr pejuang yg di lupakan..mudah2 an mereka mendapat nasib yg beruntung jd g mengharspkan negara
Anonim
Lanjut lagi up nya thor seru
sukensri hardiati
ruko ukuran 2x3 m ...?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!