NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Jangan lupa Follow Instagram Author

@arvn_63

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Langit Merah dan Gelombang Cakar

​Waktu adalah ilusi yang paling kejam di dalam Hutan Cermin Hitam. Tanpa matahari yang terbit atau bulan yang tenggelam, satu-satunya cara untuk menghitung hari adalah melalui jumlah darah yang mengering di ujung pedang.

​Hari ketujuh.

​Shen Yuan duduk berjongkok di atas dahan pohon obsidian raksasa yang menjorok ke jurang berkabut. Di tangannya, sebuah Inti Iblis berwarna biru pucat masih berdenyut pelan, memancarkan hawa dingin sisa nyawa seekor Macan Tutul Es tingkat menengah.

​Ia melemparkan batu seukuran kelereng itu ke atas, menangkapnya kembali, lalu menyimpannya ke dalam Cincin Spasial perak yang kini tersembunyi rapi di balik kerah jubah sutranya.

​"Sembilan," gumam Shen Yuan pelan. Napasnya teratur, membentuk uap tipis di udara. "Satu inti lagi untuk menyelesaikan kuota."

​Tujuh hari di dalam hutan ini telah mengubah Shen Yuan menjadi hantu yang sesungguhnya. Jubah putihnya kini berwarna keabu-abuan, menyatu sempurna dengan kulit pohon dan kabut. Ia tidak banyak bertarung. Sesuai dengan logikanya yang efisien, ia lebih sering menggunakan kelengahan Binatang Buas Mutasi yang sedang bertarung dengan murid elit lain, masuk ke dalam pertempuran layaknya bayangan, mencuri last hit (serangan terakhir) untuk mengambil intinya, dan menghilang sebelum kelompok elit itu menyadari apa yang terjadi.

​Banyak murid luar yang kini berbisik ketakutan tentang 'Setan Tangan Kosong' yang berkeliaran di hutan, merampok hasil buruan mereka tanpa meninggalkan jejak selain mayat monster yang hancur dari dalam.

​Shen Yuan menutup matanya, merasakan lautan Qi cair di dalam perutnya. Menelan beberapa Binatang Buas tingkat enam dan tujuh secara diam-diam selama seminggu ini telah membuat Dantian-nya terisi hingga enam persepuluh bagian. Progres yang solid, tanpa perlu memancing perhatian Tetua sekte.

​Namun, hari ini terasa berbeda.

​Shen Yuan membuka matanya perlahan. Ia menyentuh kulit pohon obsidian di dekatnya. Biasanya, pohon ini memantulkan ilusi yang mencoba meracuni pikirannya. Tapi sekarang... permukaannya buram. Retak. Seolah ada energi masif yang menyedot seluruh vitalitas hutan dari akar ke ujung daun.

​Lebih buruk lagi, kabut kelabu yang biasanya statis kini mulai bergerak liar, berputar-putar membawa semburat warna merah karat.

​Udara mendadak menjadi sangat berat. Bau amis darah yang terbawa angin bukan berasal dari satu atau dua mayat, melainkan ratusan.

​GGRRRUUUUUMMM...

​Sebuah getaran rendah bergema dari dalam tanah. Awalnya pelan, seperti detak jantung raksasa yang tertidur, namun dengan cepat berubah menjadi gemuruh yang menggetarkan tulang.

​Dari balik kanopi daun di atasnya, ribuan Gagak Mata Hantu terbang serabutan, menerobos ranting-ranting pohon hingga sayap mereka robek, terbang menjauh dari arah pusat hutan (Jantung Cermin). Mereka tidak terbang mencari mangsa; mereka lari ketakutan.

​"Gelombang Binatang Buas (Beast Tide)?" alis Shen Yuan bertaut dalam. "Di dalam arena ujian buatan Sekte? Tidak logis. Formasi pembatas Tetua Yun seharusnya mencegah monster-monster ini berkumpul."

​Tiba-tiba, jeritan manusia yang sangat panjang dan menyayat hati terdengar dari arah lembah di bawah pohonnya.

​Shen Yuan menunduk menembus kabut merah. Di bawah sana, sebuah kelompok yang terdiri dari lima murid elit Lapisan Keenam sedang berlari kocar-kacir. Formasi pertahanan mereka hancur total. Di belakang mereka, bukan satu atau dua, melainkan puluhan Serigala Bayangan tingkat lima dan enam mengejar dengan mata merah menyala, mulut berbusa, mengabaikan sama sekali rasa sakit.

​"Tolong! Siapapun, tolong!" jerit salah satu murid perempuan yang tertinggal.

​Seorang murid pria di depannya, yang seharusnya menjadi rekan satu timnya, tiba-tiba berbalik dan menendang lutut perempuan itu hingga ia terjatuh. "Maafkan aku, Junior! Jika kau dimakan, mereka akan berhenti mengejarku!"

​Perempuan itu jatuh, dan dalam sekejap, puluhan serigala menenggelamkannya dalam lautan cakar dan taring. Jeritannya terpotong oleh suara koyakan daging yang brutal. Namun, yang membuat Shen Yuan mengerutkan dahi adalah: serigala-serigala itu tidak berhenti untuk memakan mayatnya. Mereka hanya mengoyaknya untuk menyingkirkan penghalang, lalu terus berlari ke depan layaknya air bah.

​Mereka tidak sedang berburu. Mereka sedang melarikan diri dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan di belakang mereka.

​"Hutan ini telah lepas kendali," simpul Shen Yuan dingin. Ia berdiri dari dahannya. Posisinya saat ini berada tepat di jalur pelarian monster-monster tersebut. Bertahan di atas pohon tidak lagi aman, karena beberapa monster mutasi raksasa mulai menumbangkan pepohonan dalam kepanikan mereka.

​Ia harus bergerak ke dataran tinggi di pinggiran formasi ujian.

​Langkah Penghancur Bayangan.

​Shen Yuan melesat dari dahan ke dahan, menghindari kerumunan monster yang berlari di bawahnya. Namun, semakin ia bergerak menjauh dari pusat, semakin padat jumlah binatang buas yang menghalangi jalannya.

​Tepat ketika ia melompat melintasi sebuah tebing sempit, sekelompok Monyet Batu Berbisa—monster mematikan yang biasa hidup di tebing—berkumpul menghalangi jalan satu-satunya. Mereka sedang panik, dan siapa pun yang berani melintas di antara kepanikan mereka akan dianggap ancaman.

​"Tiga puluh ekor Monyet Batu Lapisan Keenam," Shen Yuan mendarat dengan ringan, matanya menyipit menilai rintangan. "Aku bisa menerobos dengan Tinju Runtuh Gunung, tapi itu akan membuang terlalu banyak stamina. Dalam situasi tidak terduga, stamina adalah nyawa."

​Ia merendahkan kuda-kudanya, bersiap memaksakan jalan darah.

​Namun, sebelum Shen Yuan sempat mengayunkan tinjunya, sebuah cahaya perak melengkung menembus kabut merah layaknya kilat yang menyambar di malam buta.

​SRIIIING!

​Suara pedang yang ditarik dari sarungnya terdengar begitu sunyi, namun efeknya membelah bumi.

​Sebuah tebasan Qi Pedang berbentuk bulan sabit, transparan namun membawa niat membunuh yang bisa membekukan jiwa, melesat memotong udara tepat di depan Shen Yuan. Tebasan itu menyapu kerumunan Monyet Batu di depannya tanpa perlawanan.

​Tidak ada ledakan. Hanya suara trass... trass... trass... yang lembut.

​Sepuluh ekor Monyet Batu terbelah menjadi dua di bagian pinggang dengan potongan yang begitu halus hingga darah butuh waktu sedetik untuk menyadari bahwa tubuh mereka telah terpotong. Sisa monyet lainnya memekik ketakutan dan melompat lari ke sisi tebing, tidak berani mendekat.

​Dari balik kabut pekat yang baru saja dibelah oleh pedang itu, sesosok pemuda berjubah linen putih melangkah keluar. Pedang besi kusamnya digenggam longgar di tangan kanannya, mengarah ke tanah. Darah merah menetes dari ujung pedangnya, namun anehnya, bilah pedang itu tetap terlihat bersih, seolah darah itu sendiri merasa jijik menempel pada logam tersebut.

​Ye Chuan. Pedang Sunyi.

​Mata sedingin es abadi milik Ye Chuan bertemu dengan tatapan gelap dan hening milik Shen Yuan. Mereka kembali berdiri berhadapan, namun kali ini dikelilingi oleh bangkai monster dan tanah yang bergetar hebat.

​Ye Chuan tidak mengarahkan pedangnya pada Shen Yuan. Ia menatap lekat pada postur Shen Yuan, menyadari bahwa pemuda bertopi bambu itu tidak menunjukkan keterkejutan atau kepanikan sedikit pun melihat tebasan pedangnya.

​"Tebasan yang sangat efisien," ucap Shen Yuan tenang, memecah kesunyian di antara raungan monster dari kejauhan. "Kau membuang sisa Qi tepat setelah bilahmu memotong tulang mereka untuk menghemat tenaga. Jarang ada orang yang menghitung pemborosan energi sedetail itu."

​Ye Chuan sedikit mengerutkan dahi. Baginya, itu adalah sebuah rahasia ilmu pedang yang hanya bisa dilihat oleh master sejati, namun "pelayan" ini bisa membacanya hanya dengan sekali lihat.

​"Kau punya mata yang terlalu tajam untuk seseorang yang tidak memegang pedang," balas Ye Chuan datar. Ia menyarangkan kembali pedangnya dengan bunyi klik yang renyah. "Aku ingat kau menyembunyikan dirimu dengan baik. Kenapa kau belum keluar dari hutan?"

​"Aku punya satu Inti Iblis yang belum terkumpul," jawab Shen Yuan jujur, nada suaranya santai layaknya sedang mengobrol di kedai teh, sangat kontras dengan situasi kiamat di sekitar mereka. "Tapi melihat langit berubah warna menjadi merah karat dan para monster lari terbirit-birit... kurasa ujian ini telah dibatalkan secara sepihak oleh tuan rumah."

​Ye Chuan mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kanopi yang kini memancarkan cahaya merah darah. Hawa dingin di matanya semakin pekat.

​"Jantung Cermin telah retak," kata Ye Chuan, kalimatnya pendek dan tajam. "Hutan ini dibangun di atas sebuah Formasi Segel Kuno milik sekte. Ujian ini seharusnya aman karena energi Yin ditekan oleh formasi tersebut. Tapi sesuatu di pusat hutan baru saja menghancurkan segel itu dari dalam."

​Shen Yuan menimbang informasi itu. "Jika segelnya hancur, para Tetua di luar pasti menyadarinya. Mereka akan membuka kembali gerbang teleportasi untuk mengevakuasi kita."

​"Mereka sudah mencobanya," sahut Ye Chuan dingin. Ia mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan sebuah giok putih kecil yang merupakan jimat darurat dari sekte. Giok itu telah retak menjadi debu. "Energi Yin yang bocor terlalu masif. Ia menciptakan badai magnetik yang mengunci ruang. Pusaran teleportasi di gerbang utama telah runtuh satu jam yang lalu."

​Mata Shen Yuan sedikit menyipit. Analisis terburuknya baru saja menjadi kenyataan.

​"Artinya... kita terkunci di dalam kandang bersama monster-monster yang sedang panik ini," simpul Shen Yuan.

​"Bukan monster yang panik yang menjadi masalah," Ye Chuan memutar tubuhnya, menatap ke arah kedalaman hutan (Jantung Cermin) yang kini tertutup badai kabut merah pekat. "Tapi apa pun yang membuat mereka panik itulah masalahnya."

​GLLLLAAARRR!!!

​Sebuah auman yang melampaui kemampuan pita suara makhluk hidup normal tiba-tiba meledak dari arah Jantung Cermin. Suara itu bukan sekadar suara; ia adalah gelombang suara yang membawa kekuatan fisik.

​Pepohonan obsidian di radius bermil-mil bergetar hingga daun-daunnya rontok. Shen Yuan dan Ye Chuan terpaksa mengalirkan Qi ke kaki mereka agar tidak terhempas oleh tekanan angin yang menyertainya.

​Auman itu mengandung tekanan kultivasi yang membuat aliran darah setiap murid Lapisan Keenam di hutan ini mendidih dan muntah darah.

​"Setengah Langkah menuju Pembentukan Inti (Half-Step Core Formation)," gumam Shen Yuan, wajah datarnya akhirnya menunjukkan sedikit ketegangan. Ia menatap Ye Chuan. "Jika kita tetap diam di sini, badai energinya akan menyapu kita cepat atau lambat."

​Ye Chuan mencengkeram gagang pedangnya lagi. Alih-alih ketakutan, ada sepercik api pertempuran yang menyala di kedalaman matanya yang beku. Namun logikanya masih berfungsi.

​"Satu pedang bisa membelah seribu serigala," ucap Ye Chuan pelan, melirik Shen Yuan. "Tapi melawan monster Setengah Langkah Pembentukan Inti, jika pedang itu patah, tidak ada sarung yang bisa melindunginya."

​Shen Yuan tersenyum. Bukan senyum sinis, melainkan senyum pragmatis dari seorang pedagang kematian. Ia mengerti maksud tersirat Ye Chuan. Dalam hierarki predator, ketika ancaman yang jauh lebih besar datang, musuh sementara bisa menjadi sekutu taktis.

​"Tulangku sedikit lebih keras dari sarung pedang kayu milikmu," balas Shen Yuan, mengangkat tangan kirinya perlahan. "Aku bisa menjadi dinding yang menahan cakar, asalkan pedangmu cukup tajam untuk memotong kepalanya saat monster itu lengah."

​Dua pemuda yang berdiri di puncak rantai makanan sekte luar itu saling bertatapan di tengah hujan daun hitam dan lolongan kematian. Tidak ada sumpah persaudaraan yang diucapkan. Tidak ada janji kesetiaan. Hanya perhitungan matematis absolut untuk saling memanfaatkan demi bertahan hidup.

​"Sepakat," kata Ye Chuan, melesat maju menembus badai kabut merah.

​Shen Yuan menghela napas pendek, lalu melesat di sampingnya. Ujian Seleksi Murid Dalam telah berubah menjadi neraka, dan mereka berdua baru saja melangkah masuk ke lingkaran terdalamnya untuk berburu sang penguasa neraka itu sendiri.

1
Wiharso Saja
ceritanya bagus dan runut.... yg penting lg jgn sampai hiatus
Optimus prime
ga usah pakai kata mandor ...daiken...lebih enak nya pakai kata suhu...wakil sekte...senior...kn jdi enak baca nya thor
@arv_65: terlanjur udah nulis babnya banyak🙏
total 1 replies
Joshua Zirje
Author jangan sampai hilang lagi😁
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue: oke bang, semangat💪
total 3 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!