Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Aku orang yang jelas membedakan antara baik dan buruk. Kau menembakku dua kali dari belakang, jadi aku akan balas dengan dua tebasan pisau. Bukankah itu adil?” kata Budi dengan suara datar.
Yang lain langsung mundur ke samping, memberi ruang. Anak buah Bos Janip berkeringat deras, matanya melirik kanan-kiri, ragu-ragu mundur pelan. Andi membuka mulut seolah ingin bicara, tapi akhirnya diam saja.
“Anjing!” Bos Janip memaki anak buahnya sendiri. Ia menelan ludah, mundur pelan sambil bicara pada Budi, “Kau nggak takut mati ya?”
“Aku lebih takut ditembak dari belakang lagi,” jawab Budi sambil menatapnya tajam.
“Kurang ajar!” Bos Janip tahu tak bisa kabur lagi. Tiba-tiba ia angkat tangan kanan, tarik pelatuk pistolnya untuk menembak Budi.
Tapi begitu jarinya menekan pelatuk, ia merasakan dingin menusuk di tangannya, disusul rasa sakit luar biasa.
Ia memegang tangan yang patah sambil menjerit kesakitan. Tubuhnya mundur terus, keringat membanjiri wajah. Akhirnya ia benar-benar ketakutan. “Tolong, Mas Budi! Maafkan saya! Saya salah besar! Saya nggak akan ulangi lagi. Saya masih punya istri dan anak, tolong jangan bunuh saya!”
“Kalau istri kamu jelek, kamu nggak perlu khawatir. Kalau cantik, malah makin sedikit yang perlu dikhawatirkan. Itu baru satu tebasan, kamu masih hutang satu lagi padaku!” kata Budi dingin.
Ia maju cepat, menusukkan pisau ke perut Bos Janip, lalu memutar paksa hingga usus terputus. Dengan cepat ia cabut pisau. Darah segar mengalir deras. Bos Janip menekan perutnya, jatuh ke tanah dengan ekspresi tersiksa. Tubuhnya berkedut, darah mengalir dari mulutnya. Dengan susah payah ia berkata, “Kau… kejam sekali!”
Yang lain menatap Bos Janip yang megap-megap menunggu napas terakhir, lalu melihat Raja Tikus yang perutnya robek dan tenggorokannya terpotong hingga ke tengkorak. Mereka diam-diam setuju dengan kata-kata Bos Janip tadi. Tapi di dunia seperti ini, kalau kau nggak kejam terhadap orang lain, mereka yang akan kejam terhadapmu.
“Sudah selesai urusan ini, bisakah kita mulai bagi rampasannya?” kata Andi. Ia tampak tak terlalu terganggu oleh kejadian barusan. “Waktu terbatas, tentara mungkin sebentar lagi datang ke sini.”
Karena waktu mendesak, mereka langsung bagi Raja Tikus.
Budi menusuk leher makhluk itu dengan ujung parang, tarik horizontal dengan kuat hingga kepalanya terpisah. Lalu ia potong kaki belakangnya dan berhenti. Meski bisa ambil lebih banyak, ia tak mau kelihatan serakah. Lagipula, ia sudah ambil bagian terbaik.
Parang-nya sangat tajam bisa dibilang mudah mengupas logam. Kulit dan daging Raja Tikus keras, tapi tak berarti apa-apa bagi senjata level biru muda. Saat Budi mengeluarkan karung untuk masukkan kepala dan kaki, yang lain masih kesulitan memotong daging dengan pisau biasa.
Budi lihat jam, menyapa Pak Harun dan beberapa orang lain, lalu pilih jalan dan pergi cepat. Ia tak berani lama-lama di situ. Tentara pasti sedang ikuti jejak darah. Kalau ketahuan, bahaya besar.
Masih ada beberapa tikus mutan tersisa di TPA. Dengan raja mereka kabur tiba-tiba, mereka jadi kacau dan berkeliaran. Budi bunuh beberapa di sepanjang jalan, masukkan ke karung untuk ditukar bensin dengan Bang Aji, sekaligus tutupi apa yang ada di dalamnya.
Begitu Budi menyatu dengan kerumunan, ia baru merasa lega. Saat ikut arus orang ke area gubuk-gubuk pinggir TPA, ia lihat beberapa jip tentara di persimpangan. Ada polisi bersenjata lengkap juga. Mereka masih santai, sepertinya belum dapat laporan. Budi hanya lirik sekilas lalu alihkan pandangan.
Tak lama, ia temukan Bang Aji. Dagangannya sudah habis. Karena gerombolan tikus mutan besar tadi, stok biji-bijian tak cukup meski ia punya lebih banyak.
Bang Aji berdiri di atas batu besar, melihat sekeliling. Ia sebenarnya mau pulang karena daging tikus mutan nilainya langsung anjlok. Daging juga tak tahan lama seperti biji-bijian, dan daging olahan harganya lebih rendah daripada segar. Tapi setelah pikir sebentar, ia putuskan tetap tunggu. Karena sudah memutuskan kenal Budi, ia tak mau setengah-setengah. Bensin memang berharga, tapi buat dia tak ada artinya ia punya koneksi.
“Mas Budi, akhirnya datang juga. Saya sudah nunggu lama,” kata Bang Aji sambil lompat turun dari batu, perutnya bergoyang.
“Ada urusan tadi, telat,” jawab Budi singkat, lalu alihkan topik. “Bensinnya sudah dibawa?”
“Sudah dibawa ke sini, tinggal nunggu kamu,” kata Bang Aji cerah. “Total 30 liter. Mau berapa?”
“Cari tempat yang lebih sepi dulu,” kata Budi sambil lirik polisi terdekat.
“Baik, ke persimpangan sana aja,” setuju Bang Aji. Ia melambai tangan, dua anak buahnya bawa dua tangki plastik berisi bensin.
Mereka tinggalkan TPA, pilih sudut terpencil. Budi lempar semua tikus mutan ke tanah ada tujuh ekor. Bang Aji tak keberatan bau darah. Ia jongkok, periksa dengan teliti. Semua tikus baru mati, masih hangat. Luka di kepala, potongannya halus dan langsung ke otak. Ukuran tiap ekor hampir sama, seperti diukur pakai penggaris.
Bang Aji kagum, nilai Budi langsung naik di matanya. Ia tersenyum lebar. “Estimasi kasar, tiap tikus sekitar enam kati, setelah darah kering jadi lima kati. Jadi dapat 2,5 liter bensin. Tapi ambil aja tangki 30 liter ini dulu, sisanya bayar belakangan.”
Budi tahu Bang Aji sengaja baik. Menurut harga hari ini, satu kati tikus mutan bahkan tak cukup tukar tiga kati biji-bijian Bang Aji rugi. Tapi ini cara bangun jaringan: harus bayar dulu baru dapat untung. Memberi dan menerima, begitulah hubungan terbentuk. Budi pikir tak buruk mungkin nanti butuh bantuan dia jadi jawab, “Nanti kita kerjasama lagi dengan ramah.”
Kesepakatan selesai, hubungan mereka langsung lebih dekat. Bang Aji tiba-tiba bicara misterius, “Kudengar malam ini ada Raja Tikus. Kamu lihat nggak?”
Budi terkejut sebentar, tapi langsung sadar tak apa-apa. Ia pura-pura kesal. “Jangan ditanya. Marah aja ingatnya. Saya hampir dapat, eh tiba-tiba direbut tentara. Terpaksa mundur. Kalau nggak, saya nggak bakal bunuh tikus-tikus ini.”
Bang Aji tak curiga. Ia menghela napas. “Begitu ada organisme level pemimpin di Kota Banjar, langsung diambil tentara dan polisi. Harga dagingnya sekarang mahal banget. Kalau Bang Budi dapat, tolong hubungi saya ya. Harga pasti nggak masalah.”
“Kalau saya dapat, pasti nggak lupa sama Bang Aji. Tapi ketemu makhluk seperti itu susah, bahayanya juga gede. Meski ketemu, belum tentu bisa bunuh,” kata Budi. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Kalau Bang Aji bisa dapat senapan sniper kaliber besar, mungkin ada harapan.”
Ia ingat betul kesan senapan sniper polisi tadi. Hanya beberapa tembakan, Raja Tikus level pemimpin sudah luka parah. Untung tak kena titik vital. Kalau kena kepala atau jantung, langsung mati seketika.
Kalau punya satu, misi selanjutnya bakal mudah.
Bang Aji terkejut. “Bang Budi berani sekali. Pistol aja pemerintah bisa hilangkan karena dunia sudah berubah. Apalagi senapan sniper pasti ilegal. Di seluruh Kota Banjar juga nggak banyak.”
“Pikir saya juga begitu,” kata Budi. Harapannya memang tak tinggi. Kecuali punya koneksi dengan tentara atau orang berpangkat tinggi, mustahil dapat. Budi tak mau bicara lebih lanjut biar tak curiga, lalu pamit pergi.