Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Pagi di teras rumah Sheila terasa sejuk, namun ada kegelisahan yang menggelayut di ulu hatinya sejak kejadian di ruangan gelap kemarin. Suara srek-srek sapu lidi yang beradu dengan semen teras menjadi musik latar saat motor matic Malik berhenti di depan pagar.
Malik turun dengan tas ransel besar di punggungnya. Wajahnya tampak berat, seolah ada sesuatu yang mengganjal untuk disampaikan.
"Sayang," panggil Malik pelan.
Sheila berhenti menyapu, menatap kekasihnya dengan kening berkerut. "Loh, kok bawa tas gede banget? Mau ke mana?"
Malik menghela napas, ia menggenggam jemari Sheila yang masih memegang gagang sapu. "Aku baru dikabari semalam, ada proyek instalasi kabel di luar kota. Aku harus berangkat pagi ini, sekitar satu minggu di sana. Sinyal mungkin agak susah karena lokasinya di pelosok."
Hati Sheila mencelos. Satu minggu tanpa Malik berarti satu minggu ia harus menghadapi "serangan" Jeremy sendirian tanpa perlindungan. "Satu minggu? Kok mendadak banget, Malik?"
"Iya, maaf ya. Tapi ini buat tabungan kita juga," Malik tersenyum tulus, mengusap pipi Sheila. "Iya sudah, kamu hati-hati. Jangan telat makan. Semangat kerjanya ya."
"Aku antar kamu ke kantor ya, mumpung masih pagi. Sekalian aku langsung berangkat dari sana," tawar Malik.
Sheila mengangguk pelan. "Bentar. Aku siap-siap dulu."
Sepanjang jalan menuju kantor, Jakarta terasa lebih padat dari biasanya, namun bagi Sheila, dunia seolah hanya seluas jok motor Malik. Ia memeluk pinggang Malik dengan sangat erat, menyandarkan dagunya di bahu pria itu. Mereka bercerita banyak hal, dari rencana pernikahan impian mereka hingga janji Malik untuk membawakannya oleh-oleh khas daerah sana.
Namun, bayangan bisikan Jeremy di kegelapan kemarin terus menghantui pikiran Sheila. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas benang tipis.
"Malik," panggil Sheila lirih di balik helmnya.
"Iya, kenapa Sayang?" sahut Malik, suaranya sedikit teriak agar terdengar di balik deru mesin.
"Firasat aku nggak enak. Tapi... janji sama aku jangan berubah ya? Apapun yang terjadi ke depannya, tetap percaya sama aku, ya?"
Malik sedikit memperlambat laju motornya, ia meraih tangan Sheila yang melingkar di perutnya dan mengecupnya sekilas. "Kok ngomongnya gitu? Aku nggak akan berubah, Shei. Aku percaya sama kamu sejauh apa pun aku pergi. Kamu juga ya, jaga hati buat aku."
Sheila hanya bisa memejamkan mata, menghirup aroma jaket Malik yang menenangkan, mencoba menyimpan memori ini sebagai benteng pertahanan untuk seminggu ke depan.
Begitu sampai di lobi kantor Nasution Property Group, Malik melepaskan helm Sheila. "Sudah sampai. Semangat ya, asisten tangguhku."
"Hati-hati di jalan ya, Malik. Kabari kalau sudah sampai," ucap Sheila sambil melambaikan tangan sampai motor Malik hilang di tikungan.
Sheila membalikkan badan, bermaksud masuk ke lift. Namun, langkahnya terhenti. Di lobi utama, Jeremy sudah berdiri di sana. Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang sangat rapi, auranya kembali angkuh dan berkuasa, seolah demam tinggi kemarin tidak pernah terjadi.
"Pagi, Sheila," sapa Jeremy dengan suara baritonnya yang khas. Ada kilat penuh arti di matanya saat ia melirik ke arah jalan tempat Malik baru saja pergi.
"Iya, pagi Pak," jawab Sheila singkat, mencoba bersikap seprofesional mungkin meski jantungnya berdebar tidak karuan.
Namun, perhatian Sheila teralihkan pada sosok pria paruh baya yang berdiri di samping Jeremy. Pria itu memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Jeremy, namun dengan ekspresi yang jauh lebih dingin dan intimidatif. Mengenakan setelan jas kelas atas dengan jam tangan yang harganya mungkin setara dengan rumah Sheila.
Itu adalah Tuan Nasution, ayah kandung Jeremy sekaligus pemilik utama perusahaan ini.
Papa Jeremy tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Sheila dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang sangat tidak suka—sebuah tatapan yang menilai Sheila sebagai gangguan atau "kerikil" yang tidak seharusnya ada di sepatu putranya.
"Papa, ini asisten pribadiku yang aku ceritakan. Sheila Maharani," ucap Jeremy, nadanya terdengar sedikit menantang seolah sedang memamerkan sesuatu yang sangat berharga miliknya.
Papa Jeremy mendengus pelan, matanya menyipit sinis. "Jadi ini asisten yang membuatmu sering telat rapat dan mengabaikan panggilan telepon saya, Jeremy? Dia terlihat... biasa saja."
Sheila merasa darahnya mendidih, namun ia hanya bisa menundukkan kepala. "Selamat pagi, Pak," ucapnya sopan.
"Jangan hanya pagi saja yang selamat, Sheila. Pastikan posisi kamu di perusahaan ini juga selamat," sahut Papa Jeremy dingin sebelum melangkah pergi menuju lift privat tanpa menoleh lagi.
Jeremy tetap berdiri di sana, menatap Sheila yang kini tampak pucat. Ia melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Sheila bisa mencium aroma parfum mahal yang sama dengan kemarin malam.
"Jangan dimasukkan ke hati. Papa memang begitu kalau sedang menilai aset," bisik Jeremy. "Oya, aku dengar si 'Jangkar Ketulusan' itu pergi luar kota ya seminggu? Baguslah. Berarti seminggu ini, kamu benar-benar cuma milikku, Sheila Maharani."
Jeremy tersenyum miring, lalu mengedipkan sebelah matanya sebelum mengikuti langkah ayahnya masuk ke lift. Sheila berdiri mematung di tengah lobi, meremas tali tasnya kuat-kuat. Malik baru saja pergi sepuluh menit, tapi "neraka" yang sesungguhnya baru saja dimulai.
***
Suasana pantry kantor siang itu terasa sangat sunyi, hanya ada suara deru mesin kopi yang sesekali mengeluarkan uap panas. Sheila tidak bisa diam. Langkah kakinya terdengar cepat dan tidak beraturan, mondar-mandir di atas lantai granit abu-abu yang dingin. Jemarinya terus meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara matanya yang mulai sembab terus menatap layar yang gelap.
Nilam, yang baru saja masuk untuk mengisi botol minumnya, langsung menghentikan langkahnya. Ia melihat pemandangan yang tidak biasa. Sheila, yang biasanya tangguh menghadapi semprotan Jeremy, kini terlihat seperti raga yang kehilangan pegangan.
"Kenapa, Shei? Kamu kelihatan tegang banget? Ada masalah sama draf anggaran lagi?" tanya Nilam hati-hati, mendekati sahabatnya itu.
Sheila berhenti melangkah, ia menatap Nilam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Napasnya pendek-pendek, seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis.
"Ini... Malik nggak bisa aku hubungi, Lam. Perasaanku nggak enak banget," suara Sheila bergetar hebat. Ia menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan puluhan panggilan keluar tanpa jawaban. "Tiga jam yang lalu dia baru menghubungi aku, katanya sudah sampai di lokasi proyek dan mau langsung mulai kerja. Dia bilang sinyal di sana agak susah, tapi dia janji bakal kabari kalau sudah istirahat."
Sheila kembali berjalan mondar-mandir, kali ini lebih cepat. "Tapi ini aku telepon nggak diangkat, Lam. Pesan aku cuma centang satu. Aku kok takut ya terjadi sesuatu sama dia di sana? Kamu tahu kan, dia kerjanya di ketinggian, urusan kabel-kabel tegangan tinggi..."
"Tenang dulu, Shei. Mungkin beneran sinyalnya lagi hilang total. Kan kamu bilang sendiri lokasinya di pelosok," hibur Nilam, mencoba menenangkan Sheila dengan memegang pundaknya.
Sheila menggeleng keras, air matanya kini benar-benar luruh. "Enggak, Lam. Beda. Biasanya kalau dia sibuk, dia pasti sempatkan missed call atau apa. Tapi ini perasaanku nggak karuan. Dada aku sakit banget, sumpah... Rasanya kayak sesak, kayak ada yang narik jantung aku. Aku bener-bener takut, Lam."
Sheila menyandarkan tubuhnya ke meja pantry, tangannya memegang dada kiri yang terasa nyeri. Rasa sakit itu nyata, sebuah firasat buruk yang menghujam tajam. Di saat yang sama, ia merasa sangat tidak berdaya karena "terpenjara" di gedung pencakar langit ini sementara orang yang ia cintai berada di antah berantah.
Tiba-tiba, pintu pantry terbuka lebar. Jeremy berdiri di sana, masih dengan aura angkuhnya, namun tatapannya langsung menajam saat melihat Sheila yang sedang menangis di depan Nilam.
"Sheila? Kenapa kamu masih di sini? Saya tunggu di ruangan buat bahas revisi Papa," ucap Jeremy ketus, namun nada suaranya sedikit melunak saat menyadari kondisi Sheila.
Sheila tidak menjawab. Ia bahkan tidak sanggup menatap Jeremy. Ia hanya terus menekan tombol panggil di ponselnya, berharap ada keajaiban suara Malik di ujung sana.
"Dia lagi cemas, Pak. Malik nggak bisa dihubungi," bisik Nilam pada Jeremy, memberikan kode agar sang CEO tidak menambah beban Sheila.
Jeremy terdiam sejenak. Ia melihat Sheila yang rapuh, yang memegang dadanya dengan ekspresi kesakitan yang sangat tulus. Ada rasa cemburu yang sempat melintas karena melihat Sheila sebegitu hancurnya demi Malik, namun rasa khawatir yang lebih besar justru menyelimuti hatinya.
"Berikan ponselnya pada saya," perintah Jeremy, melangkah mendekat.
"Nggak! Mau Bapak apain lagi?!" bentak Sheila melalui isak tangisnya. "Mau Bapak hapus nomornya? Mau Bapak sita lagi?!"
"Bukan, Sheila! Kasih ke saya!" Jeremy menyambar ponsel Sheila dengan paksa. Ia melihat nomor terakhir yang dihubungi Sheila. Tanpa banyak bicara, Jeremy mengeluarkan ponsel pribadinya sendiri dan menghubungi seseorang—bukan Malik, melainkan kepala operasional lapangan dari vendor yang mempekerjakan Malik. Sebagai pemilik Nasution Property Group, Jeremy punya akses ke hampir semua pimpinan vendor konstruksi di Jakarta.
"Halo, ini Jeremy Nasution. Saya mau tanya soal tim instalasi kabel yang baru sampai di lokasi proyek pelosok siang ini. Pastikan semua personel dalam keadaan aman. Saya butuh laporan status mereka dalam lima menit. Kirim lewat pesan," ucap Jeremy dengan nada otoriter yang tidak bisa dibantah.
Sheila terpaku melihat Jeremy. Ia tidak menyangka pria yang selama ini menjadi "musuhnya" justru menggunakan kekuasaannya untuk membantu mencari tahu keberadaan Malik.
Lima menit itu terasa seperti selamanya. Sheila terus terisak di pojok pantry, sementara Nilam mengusap punggungnya. Jeremy berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Jeremy. Ia membacanya dengan cepat, lalu rahangnya mengeras. Ia menatap Sheila dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan penuh rasa iba.
"Jeremy... kenapa? Malik baik-baik saja, kan?" tanya Sheila, suaranya nyaris hilang.
Jeremy melangkah mendekat, ia memegang kedua lengan Sheila dengan mantap, mencoba menyalurkan kekuatan. "Dengar, Sheila. Ada kecelakaan kerja di lokasi proyek itu sejam yang lalu. Trafo meledak saat pemasangan kabel."
Dunia Sheila seakan runtuh saat itu juga. Lututnya lemas, dan jika Jeremy tidak menahannya, ia pasti sudah jatuh ke lantai.
"Malik... Malik gimana, Jer?!" teriak Sheila histeris.
"Dia... dia salah satu korban yang terluka paling parah. Sekarang lagi dibawa ke rumah sakit terdekat yang jaraknya dua jam dari sana," jawab Jeremy pelan.
Sheila tidak bisa lagi mendengar kata-kata selanjutnya. Ia menjerit pilu, memukul dada Jeremy dengan sisa tenaganya. "Ini gara-gara Bapak! Kalau Bapak nggak kasih aku denda-denda itu, aku pasti sudah ikut dia! Aku harus ke sana, Jer! Tolong, aku harus ke sana sekarang!"
Melihat Sheila yang hancur seperti itu, ego Jeremy yang setinggi langit runtuh seketika. Ia tidak peduli lagi soal denda, soal ayahnya, atau soal persaingannya dengan Malik.
"Siapkan mobil," perintah Jeremy pada sekretarisnya lewat ponsel. "Sheila, ikut saya. Kita ke sana sekarang. Saya yang antar kamu."
Sheila hanya bisa menangis sesenggukan, ia tidak peduli siapa yang mengantarnya. Ia hanya ingin sampai di sisi Malik. Di tengah kepedihan itu, ia tidak menyadari bahwa Jeremy memeluknya erat di dalam lift, mencoba menjadi pelindung bagi wanita yang hatinya sedang hancur karena pria lain.