NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Boneka Beruang dan Kebenaran yang Menghancurkan

Satu minggu berlalu seperti musim dingin yang tak berujung di Glanzwald. Selama tujuh hari itu, Daisy bertransformasi menjadi bayangan yang paling sunyi. Setiap pagi, ia membiarkan Matthew berbohong dengan wajah kaku andalannya, dan setiap pagi pula, Daisy mengikuti jejak suaminya dengan mobil sedan biasa yang tidak mencolok.

Namun, hasilnya nihil. Matthew seolah sangat waspada sejak insiden di lapangan latihan itu. Jenderal itu hanya pergi ke markas, ke barak, lalu pulang. Daisy mulai bertanya-tanya, Masa lalu mana yang sedang kau perbaiki, Matthew? Apakah kau hanya mempermainkan kewarasanku?

Hingga hari kedelapan tiba.

Sore itu, salju turun lebih lebat dari biasanya. Daisy melihat mobil Matthew berhenti di depan toko mainan terbesar di pusat kota. Dari kejauhan, ia memperhatikan suaminya keluar membawa sebuah boneka beruang cokelat raksasa yang sangat mahal. Boneka itu begitu besar hingga hampir menutupi separuh tubuh tegap Matthew.

Jantung Daisy berdegup kencang. Untukku? Batinnya. Gengsinya yang setinggi langit mendadak melunak oleh secercah harapan. Mungkin itu permintaan maafnya karena sudah mengabaikanku selama tiga tahun lebih ini.

Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat mobil Matthew tidak berbelok ke arah jalan pulang menuju Glanzwald. Mobil itu justru meluncur ke pinggiran kota, menuju sebuah klinik kecil yang asri.

Daisy memarkir mobilnya di balik deretan pepohonan tua. Napasnya memburu, mengembun di kaca jendela. Dari kejauhan, ia melihat Matthew turun dengan boneka beruang besar itu.

Lalu, pintu klinik terbuka.

Seorang wanita keluar. Ia mengenakan jubah putih dokter yang sangat pas di tubuhnya yang tampak anggun dan dewasa. Wajahnya tenang, memancarkan kecantikan yang berbeda dengan Daisy—kecantikan yang matang dan penuh kasih sayang. Daisy tidak mengenal wajah itu, tapi ia melihat bagaimana wanita itu tersenyum menyambut Matthew.

Itu bukan senyum seorang kekasih yang memuja, melainkan senyum tulus seorang teman lama yang sudah berdamai dengan masa lalu. Namun, di mata Daisy yang sedang terbakar cemburu, senyum itu tampak seperti sambutan seorang istri untuk suaminya yang pulang membawa hadiah.

Tak lama kemudian, Adelie berlari keluar. anak kecil itu melompat kegirangan saat melihat boneka raksasa tersebut. Matthew berlutut, membiarkan Adelie memeluk lehernya sebagai ucapan terima kasih.

Daisy mencengkeram setir mobilnya hingga buku jarinya memutih. Anak itu... wanita itu...

Pikiran kolot Daisy mulai merangkai skenario yang paling menyakitkan. Adelie sudah berusia empat tahun. Artinya, anak kecil itu lahir sesaat sebelum atau tepat saat Matthew menikahinya. Apakah wanita itu adalah istri rahasia Matthew jauh sebelum pernikahan kami? Apakah aku hanyalah tameng politik sementara dia memiliki keluarga sungguhan di pinggiran kota ini?

Segalanya terasa masuk akal bagi Daisy sekarang. Alasan kenapa Matthew tidak pernah menyentuhnya selama empat tahun, alasan kenapa Matthew selalu dingin di kamar tidur, dan alasan kenapa Matthew begitu hidup saat bersama anak kecil itu.

Daisy tidak sanggup melihat lebih lama. Ia memutar kunci kontak dengan tangan gemetar. Ia tidak ingin pulang ke Glanzwald yang terasa seperti penjara penuh kebohongan. Ia juga tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya dan mengakui kegagalannya sebagai seorang istri.

Ia melajukan mobilnya menuju pusat kota, menuju sebuah kompleks apartemen mewah yang ia beli dengan royalti lagunya sendiri setahun yang lalu—tempat rahasia yang bahkan keluarganya pun tidak tahu.

Pukul delapan malam. Matthew pulang ke Glanzwald dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Ia baru saja memberikan hadiah untuk Adelie sebagai bentuk tanggung jawab moral atas apa yang pernah ia lakukan pada keluarga anak kecil itu. Ia bertekad, malam ini ia akan mencoba bicara jujur pada Daisy—setidaknya sedikit demi sedikit.

Namun, saat ia melangkah masuk, paviliun itu terasa kosong. Tidak ada aroma parfum bakung. Tidak ada suara piano.

"Di mana Daisy?" Tanya Matthew pada Kepala Pelayan yang tampak pucat pasi.

"Lapor, Tuan Duke... Nyonya Muda pergi sejak siang. Beliau mengikuti mobil Anda lima menit setelah Anda keluar gerbang," jawab Kepala Pelayan dengan suara bergetar. "Dan sampai sekarang, beliau belum kembali. Ponselnya tidak bisa dihubungi, dan tidak ada pelayan yang tahu ke mana beliau pergi."

Wajah Matthew mendadak berubah menjadi sangat mengerikan. Matanya yang dark blue berkilat tajam dengan amarah yang meledak-ledak.

"Siapkan tim pelacak! Periksa semua kamera jalanan! Cari mobil sedan perak yang dia gunakan!" Teriak Matthew. Suaranya menggelegar di aula paviliun, membuat para pelayan menunduk ketakutan.

Aura kegelapan yang sudah lima tahun terkubur—sejak insiden Maira—kini bangkit kembali dengan intensitas sepuluh kali lipat lebih kuat. Matthew mengamuk. Ia membanting vas bunga di meja, napasnya memburu seperti singa yang kehilangan mangsanya.

Tapi kali ini berbeda.

Dulu, saat Maira pergi, Matthew marah karena obsesinya terganggu. Namun sekarang, saat ia menyadari Daisy hilang, ada sesuatu yang hancur di dalam dadanya. Ia tidak hanya marah, ia takut. Benar-benar takut.

Matthew jatuh terduduk di kursi ruang musik Daisy. Ia melihat tuts piano yang biasanya dimainkan istrinya. Air mata yang selama bertahun-tahun tidak pernah menitik dari mata sang Jenderal Agung, kini jatuh membasahi tangannya yang gemetar.

"Daisy... kau di mana?" Bisiknya parau.

Ia takut Daisy melihatnya di klinik tadi. Ia takut Daisy salah paham. Dan yang paling ia takuti adalah Daisy meninggalkannya selamanya. Jika Maira pergi tanpa ia tangisi, kepergian Daisy kali ini membuatnya merasa seolah jantungnya dicabut paksa dari rongga dadanya.

Sementara itu, di sebuah apartemen minimalis di lantai dua puluh, Daisy duduk di lantai yang dingin sambil memeluk lututnya. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya lampu kota dari balik jendela besar.

Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis di perjalanan tadi. Gengsinya telah hancur, namun harga dirinya bangkit sebagai perisai.

"Hampir empat tahun, Matthew," bisiknya pada kegelapan. "Hampir empat tahun aku menunggu di balik pintu yang tidak pernah kau buka. Dan ternyata, kau memiliki kunci untuk pintu rumah orang lain."

Daisy mematikan ponselnya, memutuskan segala akses menuju dunia Eisenberg. Ia ingin menghilang. Ia ingin Matthew merasakan apa itu kehilangan, seperti ia merasakan kehilangan harga diri setiap kali Matthew membohonginya.

Di kejauhan, suara sirine mobil militer mulai terdengar meraung-raung di jalanan Ibukota. Matthew telah mengerahkan seluruh pasukannya untuk mencari istrinya. Sang Jenderal tidak akan berhenti sampai ia menemukan Daisy, namun ia tidak sadar bahwa yang ia cari bukan lagi Daisy yang penurut dan penuh gengsi, melainkan seorang wanita yang hatinya telah membeku karena pengkhianatan yang tak termaafkan.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!