NovelToon NovelToon
Prince Of The Wind

Prince Of The Wind

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tebasan Tanpa Ragu

Keheningan di aula pecah.

WHOOSH!

Angin menerobos masuk dari lorong. Memotong jarak dalam sekejap.

Sebelum siapa pun sempat bereaksi—Reyd sudah berada di tengah aula.

Fokus hanya pada satu hal—Lein. Dan orang yang menahannya.

Tanpa kata—tangannya terangkat. Angin berkumpul. Membentuk bilah. Pedang angin.

TEBAS!

Serangan itu dilepaskan tanpa ragu.

Utusan itu terkejut. Namun terlambat.

BOOM!

Tubuhnya terpental keras ke belakang. Menghantam pilar. Debu berterbangan.

Pegangannya terlepas—cukup untuk satu celah.

Reyd tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung bergerak. Menangkap Lein sebelum tubuhnya jatuh.

Gerakannya hati-hati. Berbeda dari serangan sebelumnya.

“Lein.”

Suaranya pelan.

Lein masih tidak sadar. Namun napasnya stabil.

Reyd menghela napas tipis.

Para penyusup langsung bereaksi.

“Serang—!”

Namun—angin kembali berputar lebih tajam. Mengelilingi Reyd seperti perisai. Mencegah siapa pun mendekat.

Tatapannya terangkat. Menuju utusan itu. Yang kini berdiri kembali.

“Kau berani sekali.”

Nada suaranya berubah serius.

Reyd tidak menjawab.

“Kau menyentuh orang yang salah.”

Di tengah ketegangan itu—suara lain terdengar.

“Berhenti!”

Semua mata beralih.

Iselle melangkah masuk ke aula. Tatapannya langsung ke arah utusan itu.

“Cukup sudah!”

Nada suaranya tegas.

Utusan itu menyipitkan mata.

“Putri Iselle.”

Iselle berdiri di antara mereka.

“Aku mohon.”

Suaranya menurun sedikit.

“Hentikan ini.”

Sunyi. Semua orang memperhatikan.

Iselle melangkah satu langkah maju. Tatapannya serius.

“Raja Ryvons telah memberiku tempat di sini. Dia memperlakukanku dengan baik.”

Ia menggenggam tangannya pelan.

“Aku tidak ingin tempat ini dihancurkan.”

Kalimat itu jujur. Namun juga—bermakna ganda.

Utusan itu terdiam sejenak.

“Anda masih sama seperti biasanya.”

Ucapnya pelan.

Di atas—Seyron memperhatikan. Matanya menyipit.

“Apa yang dilakukannya…”

Bisiknya.

---

Ketegangan di aula belum reda. Reyd masih berdiri di depan. Lein dalam pelukannya. Angin berputar pelan, siap meledak kapan saja. Iselle tetap di tengah. Menahan situasi.

Dan di hadapan mereka—utusan itu masih berdiri.

Namun—tap.

Langkah lain terdengar. Namun langsung menarik perhatian.

Seyron melangkah maju dari atas. Turun ke tengah aula. Tenang. Tanpa tergesa.

Tatapannya lurus ke depan.

Semua orang terdiam.

Seyron berhenti beberapa langkah dari utusan itu. Tidak ada senyum. Tidak ada ancaman yang jelas.

Namun—auranya berubah.

“Sudahi aksimu.”

Satu kata. Tenang. Namun menekan.

Utusan itu menyipitkan mata. Namun belum bergerak.

Seyron mengangkat tangannya. Perlahan. Lalu—mengibaskannya.

Gerakan sederhana.

Namun—udara di dalam aula terasa berubah.

Sejenak—hening total.

Utusan itu terdiam. Matanya sedikit melebar. Bukan karena takut—namun karena… memahami.

Ia melirik bawahannya.

“Tarik mundur pasukan.”

Perintah itu keluar pelan.

Para penyusup langsung bergerak.

Namun sebelum pergi—utusan itu berhenti. Tatapannya ke arah Raja. Lalu—ke arah Reyd.

Senyumnya kembali muncul.

“Kami akan kembali nanti. Risvela… tidak akan selalu seberuntung ini.”

Dan tanpa menunggu—mereka menghilang.

Sunyi.

Aula kembali hening.

Lein selamat. Serangan berhenti. Ancaman pergi.

Beberapa detik. Lalu—suara mulai muncul.

“Luar biasa…”

“Pangeran Seyron…”

“Dengan satu gerakan saja mengusirnya…”

Para bangsawan mulai berbicara. Nada mereka kagum. Penuh hormat.

Raja Ryvons berdiri. Tatapannya ke arah Seyron.

“Kau menangani ini dengan baik.”

Ucapnya.

Seyron menunduk sopan.

“Sudah menjadi tugas saya.”

Jawabnya tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Semua perhatian kini tertuju padanya. Pujian. Pengakuan. Dan posisi—yang semakin kuat.

Namun—di sisi lain—Reyd berdiri diam. Tatapannya ke arah Seyron.

“Trik kecil.”

Bisiknya pelan. Hampir tidak terdengar.

Ia melihatnya dengan jelas. Tidak ada kekuatan besar. Tidak ada pertarungan. Hanya—satu gerakan. Yang entah bagaimana—cukup untuk membuat mereka mundur.

Reyd menatap ke depan.

“Untuk mendapatkan sanjungan harus mempunyai rencana yang mengancam.”

Ia menghela napas pelan.

---

Aula masih dipenuhi suara. Pujian. Kekaguman. Dan nama—Seyron.

Namun—Reyd tidak tertarik.

Tanpa berkata apa-apa—ia berbalik meninggalkan aula. Langkahnya tenang. Namun pasti. Seolah semua yang terjadi di belakangnya—tidak penting lagi.

Lorong istana terasa sunyi. Angin malam masuk dari jendela-jendela besar. Berbeda jauh dari hiruk-pikuk aula.

Reyd terus berjalan menuju taman.

Di sana—cahaya bulan menyinari bangku batu. Dan di atasnya—Lein.

Ia sudah terbangun. Namun matanya terbuka.

“…Reyd?”

Suaranya pelan. Seolah belum sepenuhnya sadar.

Langkah Reyd berhenti. Lalu ia mendekat.

“Ya.”

Jawabnya singkat.

Lein menatapnya beberapa detik.

“…Syukurlah.”

Bahunya sedikit turun. Seolah beban besar akhirnya hilang.

Reyd berdiri di depannya.

“…Kamu hampir mati barusan.”

Ucapnya datar.

Lein mengerutkan kening.

“Aku tidak ingat apa-apa…”

Bisiknya.

Reyd tidak menjawab. Namun tatapannya cukup menjelaskan.

Angin malam berhembus pelan.

Lein menepuk bangku di sampingnya.

“Ayo duduk sini.”

Perintah singkat.

Reyd menurut. Ia duduk di sampingnya.

Sunyi. Namun—tidak canggung.

Lein meliriknya.

“…Kamu menyelamatkanku?”

Tanyanya pelan.

Reyd menghela napas kecil.

“Ya.”

Lein tersenyum tipis.

“Terima kasih, ya.”

Jawabnya tulus.

Reyd menatap ke depan.

“…Jangan ceroboh lagi.”

Ucapnya.

Lein sedikit mendengus.

“Aku tidak sengaja.”

Balasnya.

Beberapa saat—tidak ada yang berbicara.

Lein akhirnya bersandar sedikit.

“…Apa yang terjadi di aula?”

Tanyanya.

Reyd terdiam sejenak.

“…Tidak penting.”

Jawabnya singkat.

Lein menyipitkan mata.

“Kamu bohong.”

Reyd melirik. Namun tidak menyangkal.

Angin kembali berhembus.

1
Protocetus
Min belum kontrak min?
Mr. Wilhelm
Ini beda penulis sama novel² sebelumnya, kah?

soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?

what happen?
Apin Zen: Gk om, Setiap novel pakai editor.
Soalnya malas revisi, meski dikit juga sih yang baca tapi seru nulis novel fantasy, hehe.
total 3 replies
Mr. Wilhelm
Keknya mending dihapus narasi yg sebelumnya deh, soalnya hampir sama dengan dialog ini.
Mr. Wilhelm
Emmm harusnya Ayahnya kan yg pewaris dan Seyron jdi ahli waris?
Mr. Wilhelm
Keknya harus upload ulang, paragrafnya jdi jelek, langsung copas, kah?
Apin Zen: baca ulang lagi bab 1 nya Mr, apa masih kurang🤔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!