NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

"Nadia, tolong aku." Clara meraih dengan Nadia yang bersembunyi di belakang tubuhnya.

Nadia terpejam, menahan diri untuk tidak marah ketika parfum dan aroma tubuh belalang kembali menyapa untuk penciumannya. Dia bukan gadis bodoh yang tidak bisa membaca situasi. Meski tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, dia menyadari terang menghianati oleh dua orang di depannya ini.

Galang terhenyak. Dia baru menyadari bahwa masih ada Nadia di sana. Saking terkejutnya dia atas kabar kehamilan Clara, membuatnya refleks berdebat dengan garis itu dan menyangkal apapun yang Clara katakan.

"Sayang,,a-aku.."

Nadia mengangkat satu tangannya ke udara dengan mata yang tetap terpejam. Dia tidak ingin mendengar apapun yang akan galang katakan. Tubuhnya menenganh, wajahnya merah padam, mosinya mengambil alih, nama berusaha untuk dia kendalikan.

"Nadia, tolong aku. Aku hamil anak dari laki-laki brengsek yang pengecut. Dia tidak mau bertanggung jawab." Clara masih mencoba membela diri, menggunakan hadiah sebagai tameng sekaligus memprovokasi Galang. Dia tau laki-laki ini cinta mati pada kekasihnya dan ia bisa memanfaatkan kesempatan ini.

Jika Nadia meminta Galang menikahinya, laki-laki itu tidak akan bisa menolak atau menyangkalnya. Itu pasti, Clara sangat yakin Galang akan menuruti semua ucapan Nadia.

"Tutup mulutmu!" Ucap Galang dengan tegas.

"Nadia, aku takut." Clara mendramatisir keadaan dengan memegang lengan Nadia semakin erat.

Galang semakin gusar, dia tau Nadia sedang berusaha mengendalikan amarahnya, tapi Clara justru sengaja membuat keadaan semakin keruh. Wanita ini mencoba mencari kesempatan.

"Clara, lepas!" Kata-kata dingin dan tajam itu keluar dari mulut Nadia, ia menolehkan kepalanya ke samping. Dengan gemetar menahan amarah, dia melepaskan tangan Nadia dari lengannya. " Selesaikan urusanmu sendiri!"

Atensi Nadia beralih ke depan, Dnegan tatapan tajam tanpa ekpresi, dia melewati Galang begitu saja." Kitq bicara di lain waktu, selesaikan dulu urusanmu. Aku pergi."

"Nadia, aku menyukai Galang."

Ucapan alarm membuat langkah Nadia terhenti, hatinya begitu perih mendengar wanita itu memiliki perasaan pada kekasihnya. Terlebih dia mengetahui fakta bahwa wanita itu tengah mengandung. Entah itu nyata atau tidak, Nadia tidak tau dan tidak mau tau.

Clara mengejar Nadia, dia berdiri di hadapan gadis itu.

"Nadia, kamu tau ini apa?" Clara menunjukkan lehernya yang memiliki tanda kemerahan. " Kalau Galang tidak suka, dia tidak akan meninggalkan jejak di ini."

Nadia bungkam, dia tidak ingin berkomentar apapun. Hatinya patah, hancur berkeping-keping.

"Kamu yang punya prinsip itu selalu menolak permintaan Galang kan? Jadi kita tidak sepenuhnya salah." Clara membela diri atas kesalahan fatal yang dia lakukan.

Galang terpaku, tidak menyangka wanita licik itu akan menyalakan Nadia.

"Tutup mulutmu!" Galang mendekat, ingin menghentikan wanita licik itu untuk menghasut Nadia.

"Biarkan dia melanjutkan ucapannya."  Nadia merentangkan tangannya menjadi penengah antara Clara dan Galang.

"Sayang,,aku.."

"Diam!" Ucap Nadia tegas dengan lirikan tajam. Dia terlihat mengerikan jika sudah marah seperti ini. Galang tidak pernah melihat gadis itu semarah ini. Selama mereka menjalin hubungan pun mereka jarang bertengkar.

"Apa lagi?" tanya Nadia, menatap Clara. Dia ingin mendengar pengakuan yang tidak mungkin Galang ucapkan. Dia memang selalu menolak besar kekasihnya itu berusaha mencium nya. Jadi jangankan tidur bersama, bahkan bibirnya pun tidak pernah Nadia izinkan.

"Dia adalah pria dewasa yang butuh kehangatan dan aku adalah wanita yang butuh belaian. Kita tidak sepenuhnya salah." Alarm masih merasa dirinya paling benar.

"Sejak kapan kalian berhubungan di belakangku?" Adik ingin tahu sudah berapa lama dia dibodohi.

"Kami sudah berhubungan sejak satu tahun terakhir. Kita melakukan ini atas dasar suka sama suka, tanpa paksaan sama sekali." Clara tersedia mengatakan hal untuk membela diri." Kalau saja kamu sedikit terbuka, mungkin Galang tidak akan berpaling. Dia butuh kasih sayang dan selalu mendapatkan kepuasan. Lupakan satu jam yang lalu saja dia juga menghabiskan waktu bersamaku."

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Clara. Galang sudah tidak tahan dengan semua ucapan wanita itu. Harga dirinya terasa diinjak-injak.

Clara terkejut. Semoga nggak ada yang masih ingin diucapkan tertelan seketika. Galang tidak pernah bersikap kasar sebelumnya. Meskipun kata-kata yang diucapkan seringkali tidak enak didengar, tapi clara tidak pernah menghiraukannya.

"Kamu?!" Clara menegang pipinya yang terasa panas dan perih di saat yang bersamaan.

Sama seperti Clara, Nadia pun tak kalau terkejut dengan apa yang dia lihat barusan. Ini pertama kalinya dia melihat Galang semarah ini, bahkan laki-laki itu tidak segan menampar Clara. Laki-laki atau teman kepadanya, berlaku kasar pada seorang wanita?

Perlahan Nadia mundur ke belakang. Ia tidak pernah menyangka bahwa hubungan Galang dan Clara sudah sejauh ini. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas, seolah tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.

Apa-apaan ini? Apa yang terjadi sebenarnya? Nadia menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangan. Yang berhasil merenggut seluruh kepercayaannya pada Galang. Pria itu berubah, bukan lagi sosok lemah lembut dan penyayangnya selalu ia lihat sejak kecil.

"Sayang," panggil Galang, dia berlutut di depan Nadia.

"Untuk sementara waktu, jangan temui dan hubungi aku," ucap Nadia.

"Tidak!" Galang menggeleng, dia tidak setuju dengan permintaan gadis itu. " Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, aku..."

Lagi-lagi Nadia mengangkat tangannya, tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari mulut Galang.

"Tolong beri aku waktu," lirih Nadia dengan mata berkaca-kaca. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri, wanita kembali hatinya yang ini hancur.

Mimpi indahnya untuk menikah dengan Galang pupus sudah. Baru sajalah dia ingin meminta maaf pada laki-laki itu dan berharap mendapatkan jalan keluar atas pernikahan kontraknya dengan Arya. Tapi yang terjadi justru di luar dugaannya, lokasinya itu memiliki wanita lain di belakangnya.

Nadia mengambil nafas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Dia harus pergi dari tempat ini secepatnya.

Clara ra tersenyum lebar. Dia begitu bahagia melihatnya Nadia menolak Galang. Jalan terbentang luas untuknya memiliki Galang seutuhnya.

.....

Di tempat lain, mobil hitam melaju membelah malam. Di dalamnya, Arya duduk kaku, aura dingin memancar dari setiap inci tubuhnya. Rio menyetir dengan hati-hati, merasakan tekanan yang tak kasat mata menyesakkan kabin.

Tidak ada yang berbicara. Hanya suara mesin dan gesekan ban di aspal.

Arya memejamkan mata sejenak, namun pemandangan itu kembali muncul Nadia dalam pelukan pria lain. Cara tangannya menepuk punggung Nadia. Kedekatan yang tidak seharusnya. Dadanya bergemuruh, rahangnya mengeras. Ia membenci sensasi ini campuran amarah, cemburu, dan rasa kehilangan yang tidak ia akui.

Setibanya di rumah, Arya keluar dari mobil dengan langkah lebar. Pintu ditutup keras. Rio mengikutinya, berusaha menjaga jarak aman. Begitu masuk ke ruang utama, Arya melepas jasnya kasar, melemparkannya ke sofa. Tangannya terangkat, siap meraih apa pun untuk dilampiaskan vas, bingkai foto, apa saja.

“Tuan,” kata Rio cepat, melangkah ke depan sebelum tangan itu menghantam. Suaranya tegas, namun penuh kehati-hatian. “Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan. Penting.”

Arya berhenti. Dadanya naik turun. “Apa.”

Rio menelan ludah. Inilah saatnya. Ia sudah menimbang kata-kata sepanjang perjalanan. Terlambat atau tidak, kebenaran harus disampaikan sebelum semuanya semakin kacau.

“Laki-laki itu,” ucap Rio perlahan, memilih setiap kata, “dia selingkuh.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!