Ibu Alya meninggal karena menyelamatkan anak majikannya yang bernama Bagas, dia adalah tuan muda dari keluarga Danantya.
~
Bagas patah hati karena kepercayaannya dihancurkan oleh calon istrinya Laras, sejak saat itu hatinya beku dan sikapnya berubah dingin.
~
Alya kini jadi yatim piatu, kedua orang tua Bagas yang tidak tega pun memutuskan untuk menjodohkan Bagas dan Alya.
~
Bagas menolak, begitupun Alya namun mereka terpaksa menikah karena terjadi sesuatu yang tidak terduga!
~
Apakah Bagas akan menerima Alya sebagai istrinya? Lalu bagaimana jika Alya ternyata diam-diam mencintai Bagas selama ini?
Mampukah Alya meluluhkan hati Bagas, atau rumah tangga mereka akan hancur?
Ikuti kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon znfadhila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
Edo dan Laras mencoba kabur dari Bagas namun semuanya terlambat mereka tidak bisa lari lagi, apalagi di belakang mobil anak buah Joshua sudah stanby mengikuti untuk mengawasi mereka.
"Sialan!" Edo mengumpat keras, Joshua yang sedang menyetir menoleh sekilas kemudian tersenyum miring.
"Lo kalah lagi Edo, jangan pikir lo bisa ngalahin gue dan yang terjadi tadi itu cuma trik kecil buat jebak penjahat licik kaya lo." cibir Joshua yang langsung membuat Edo tertampar keras dengan kenyataan.
Joshua itu lebih cerdik darinya, terbukti sekarang jebakan yang di buat Joshua mampu membuat Edo terjebak.
"B-bagas, ini gak kaya yang kamu pikirin Edo jebak aku Bagas." Laras mencoba meraih tangan Bagas dari belakang, namun Bagas langsung menepisnya kasar.
Pria itu menoleh ke belakang, tatapannya begitu tajam.
"Lo pikir gue peduli? gue udah tau semuanya, ternyata cewek jahat kaya lo gak akan pernah bisa berubah, harusnya lo merasa bersalah sama gue bukannya malah cari orang buat celakain gue sialan!"
Teriakkan Bagas membuat Laras langsung gemetar, Joshua cukup terkejut tapi dia mengerti pasti Bagas begitu emosi.
Edo yang melihat Laras ketakutan jelas saja tidak terima, dia mencoba menarik tangan Bagas namun Bagas lebih dulu menahan tangannya.
"Kenapa lo gak terima?" Bagas tersenyum remeh, dia merasa bodoh karena di tipu juga oleh salah satu orang kepercayaannya, tapi Edo memang licik sekali dan manipulatif suka memutar balikkan fakta bahkan orang licik seperti Laras pun bisa tertipu jadi dia lebih suhu.
"Jangan pernah bentak Laras sialan! lo emang munafik, dulu lo bilang lo cinta sama Laras tapi sekarang lo malah buang dia lo emang brengsek!" maki Edo marah, seperti biasa orang seperti Edo itu tidak akan mau di salahkan makanya dia menyalahkan korban seperti pelaku.
"Lo bilang gue brengsek? siapa yang lebih brengsek sialan! dia yang nipu gue, dia yang bikin keluarga gue hampir hancur, adik gue hampir celaka!" Bagas hendak memukul Edo, namun Joshua menahan tangannya.
"Sabar, kalo lo mau mukul dia jangan di sini tapi di luar." Joshua segera menepikan mobil di jalan yang cukup sepi.
Anak buah Joshua langsung sigap berdiri untuk menjaga kondisi bosnya tetap aman, tidak lama kemudian Joshua lebih dulu keluar kemudian menarik tangan Edo untuk keluar dari mobil.
Laras berteriak, tapi dia di tahan oleh anak buah Joshua.
"Nah sekarang lo boleh hajar dia, tenang semuanya aman." bisik Joshua menepuk pundak Bagas, tangan pria itu mengepal kuat.
Bagas berjalan mendekat dengan sorot mata penuh amarah, Edo mendadak merinding sendiri jujur dia takut menghadapi amarah Bagas sekarang.
"B-bagas k-kita b-bisa bicarain ini baik-baik." suara Edo sampai terbata, Bagas menyeringai.
"Lo pikir gue bakal berhenti Edo? jelas engga.."
BUGH! BUGH! BUGH!
"BAGAS STOP!" Laras sudah menangis histeris, sekarang Edo tidak bisa melawan karena tenaga Bagas susah di imbangi.
Joshua yang mendengar teriakkan Laras langsung menoleh, suami Berlian itu tersenyum miring.
"Lo khawatir sama dia?" tanya Joshua melipat kedua tangannya di dada, dia menatap sinis Laras.
Bagaimanapun juga Laras dulu hampir membuat Berlian celaka, makanya itu Joshua sangat membenci Laras.
Nafas Laras memburu, dia menatap penuh kebencian pada Joshua pria itu lah yang membongkar semua rencana liciknya makanya Laras membencinya.
"Apa lo liatin gue kaya gitu, mau tau rahasia tentang dia?" Joshua menunjuk kearah Edo yang sudah babak belur di hajar Bagas.
"Jangan pernah coba buat adu domba gue sama Edo, itu gak akan mempan rencana licik lo udah bisa gue tebak." sinis Laras mengusap airmatanya, lihatlah keangkuhan masih ada dalam dirinya.
"Oh ya? lagian gak ada kerjaan banget gue harus adu domba lo berdua." Joshua tertawa pelan, dia kemudian segera membuka ponselnya.
"Sebelum gue puter rekaman aslinya gue cuma mau kasih tau, dia sebenernya gak pernah niat bantu lo selama ini yang ada dia naksir sama lo, dan gong nya rencana dia ajakin lo kabur bukan buat lari dari Bagas, tapi supaya lo bisa di nikahin secara paksa dan akhirnya lo bakal di kurung sama dia."
DEG!
"A-apa?! g-gak m-mungkin!"
"Terserah mau percaya atau engga, mending lo denger sendiri apa yang ada di rekaman ini." Joshua segera memutar rekaman yang dia punya, mata Laras membulat sempurna mendengar suara Edo yang sedang menjelaskan rencananya entah pada siapa.
"EDO BAJINGAN!"
'Perang bakal di mulai, gak perlu turun tangan biarin mereka saling jatuhin satu sama lain.' Joshua menyeringai.
****
Di apartemen nampak Alya tidak bisa duduk dengan tenang, Berlian yang datang menemani Alya langsung menggenggam erat tangan Alya.
"Al.." suara Berlian membuat Alya tersadar dari lamunannya dia masih kepikiran dengan apa yang di bicarakan oleh Bagas, jujur Alya sangat penasaran siapakah orang yang tega ingin menyakiti Bagas hingga akhirnya Ibunya lah yang jadi korban.
"Lian, apa kamu tau siapa pelakunya?" Alya langsung bertanya to the point, Berlian menghela nafas pelan jujur dia tidak bisa menjelaskan langsung karena itu hak Bagas meskipun dia tau kebenarannya.
"Maaf Al, tapi aku gak bisa kasih tau kamu sekarang Bang Bagas lebih berhak buat kasih tau kamu sendiri, aku bukannya gamau kasih tau kamu tapi Bang Bagas yang bilang sendiri kalo dia yang bakal jelasin sama kamu." jelas Berlian.
Alya nampak kecewa mendengarnya, tapi dia juga tidak bisa marah pada Berlian.
"Maafin aku Alya.."
"Gapapa Lian, aku ngerti kok." Alya memaksakan senyumnya, Berlian mengeratkan genggaman tangannya pada Alya.
"Aku cuma mau minta satu hal sama kamu Al, nantinya kamu jangan marah sama Bang Bagas ya."
Alya mengerutkan keningnya mendengar perkataan Berlian.
"Maksudnya gimana Lian?"
"Gapapa, aku cuma gamau nantinya Bang Bagas hancur lagi." Berlian memejamkan matanya, perasaan Alya makin tak karuan.
"Jujur aku gak ngerti apa maksud kamu, tapi kenapa aku harus marah sama Bang Bagas?"
"Soalnya pelaku itu ada hubungannya sama masa lalu Bang Bagas."
DEG!
"M-maksud k-kamu?!"
Bersambung........
terlalu jauh bab babny jadi sampai agak lupa alurnya.
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️