Alfarizqi, putra Kyai pemilik Pesantren Bustanul Huffazh, kembali ke Indonesia setelah menamatkan studi di Madinah. Ia membawa serta janji suci yang terlanjur ia berikan pada wanita asal Maroko yaitu Sarah, seorang perempuan yatim piatu korban pemerkosaan yang kini tengah mengandung. Meskipun tidak ada cinta di hatinya, Alfa merasa bertanggung jawab penuh untuk menikahi dan melindungi Sarah, sebagai wujud pengorbanan dan rasa kemanusiaannya. Namun, janji itu terbentur takdir ketika ayahnya menjodohkannya dengan Rayya, demi keberlangsungan pesantren. Rayya, seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, memiliki mimpi dan masa depan yang telah ia rencanakan bersama Adam, teman sekaligus cinta pertamanya semasa SMA. Mereka berjanji akan menikah setelah Rayya kembali ke Tanah Air. Hidup Rayya yang bebas dan penuh ambisi seketika hancur saat ayahnya memaksanya pulang untuk sebuah perjodohan. Ada lagi Rumanah, santri pintar berprestasi yang sejak dulu sudah diam-diam menaruh hati pada Alfarizqy. Di bawah langit yang sama, dua insan yang tidak saling mengenal, dengan janji dan cinta yang berbeda, kini terpaksa berada di persimpangan takdir. Alfa terhimpit antara janji yang harus ia tepati dan kewajiban keluarga yang tak bisa ia tolak. Sementara Rayya, harus memilih antara cintanya pada Adam atau menuruti permintaan orang tua. "Ada Cinta di Langit Madinah" adalah kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan pencarian makna cinta sejati. Akankah Alfa dan Rayya menemukan cinta di antara ikatan yang tak mereka inginkan, atau akankah mereka tetap berpegang teguh pada janji yang telah terucap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Bahkan Jika~
Pintu kamar rawat tertutup kembali setelah Alfarizqi melangkah keluar. Langkah kakinya menjauh di lorong, makin lama makin samar, hingga akhirnya benar-benar lenyap ditelan bunyi rumah sakit yang tak pernah tidur.
Begitu suara itu hilang, udara di dalam ruangan berubah.
Sarah perlahan membuka matanya. Tatapannya tak lagi selemah tadi. Pucat di wajahnya masih ada, namun sorot mata itu—tajam, sadar, dan penuh perhitungan—tak lagi menyerupai gadis sakit yang nyaris roboh oleh tubuhnya sendiri. Ia perlahan membuka pesan pada layar handphone. From Alfarizqi.
Ketika di bandara, Ibumu berpikir bahwa kau adalah istriku. Maka Rayya terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya adalah adikku agar ibumu yang baru tiba tidak terkejut dan sedih hingga mempengaruhi mood nya. Jadi aku minta padamu agar kau bisa pelan-pelan mengatakan hal yang sebenarnya pada ibumu. Agar semuanya baik-baik saja. Tidak perlu sekarang. Kita akan menjelaskan nya perlahan. Istirahat dan fokus kekesembuhanmu dulu. Terima kasih.
“Ibu…” panggilnya pelan.
Ibu Sarah yang sejak tadi duduk sambil membelai rambut putrinya menghentikan gerakannya. Bahunya yang sebelumnya bergetar karena tangis kini tegak kembali. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke kursi.
“Dia sudah pergi?” tanyanya lirih.
Ibu Sarah mengangguk. “Sudah. Dia mengantar Rayya.”
Hening sejenak. Monitor jantung masih berdetak stabil, seolah tak tahu bahwa kejujuran baru saja runtuh di ruangan itu.
Sarah tertawa kecil—tawa getir yang dipaksakan keluar dari dada yang terlalu lama menahan sesak.
“Anak itu… masih sama. Mudah tergerak oleh rasa tanggung jawab.”
Sarah menoleh, menatap ibunya lama. “Dan itu yang kita butuhkan, Bu.” Kalimat itu meluncur dingin, tanpa getar.
Ibu Sarah bangkit, melangkah ke jendela. Cahaya senja menerobos masuk, memantulkan bayangan dua sosok yang tak lagi menyimpan air mata. “Kau yakin dengan semua ini?” suaranya lebih pelan, kali ini mengandung lelah yang tak bisa disembunyikan. “Berpura-pura sakit. Membuat ibu datang tergesa-gesa. Menangis seperti dunia kita benar-benar runtuh…”
“Bukankah memang sudah runtuh?” Sarah menyela lirih.
Ibu Sarah terdiam.
Kenangan itu kembali menyeruak—rumah besar yang disita, rekening yang dibekukan, nama keluarga yang dulu dihormati kini hanya tinggal bisik-bisik penuh iba. Hutang demi hutang yang ditinggalkan ayah Sarah seperti bayangan panjang yang tak pernah benar-benar pergi. Melahap satu per satu yang mereka miliki: martabat, ketenangan, bahkan masa depan.
“Kita tidak punya siapa-siapa lagi, Bu,” lanjut Sarah, suaranya tenang, terlalu dewasa untuk usianya. “Hanya Alfarizqi. Dan rasa bersalahnya.”
Ibu Sarah memejamkan mata. “Ibu tidak pernah membayangkan harus melakukan ini pada anak orang.”
“Dia bukan anak orang bagi kita,” Sarah tersenyum samar. “Dia harapan.”
Ia menggeser selimut, duduk perlahan. Tubuhnya memang lemah—itu bukan sepenuhnya sandiwara—namun penyakitnya tak separah yang mereka perlihatkan. Pingsan itu nyata, tapi sisanya… diperbesar, dipelihara, dipoles agar terlihat rapuh.
“Alfarizqi tidak bisa melihat orang yang bergantung padanya,” lanjut Sarah. “Terlebih jika itu aku. Terlebih jika itu Ibu.” Ibu Sarah berbalik, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca—bukan karena akting kali ini, melainkan karena kenyataan yang pahit.
“Dan Rayya?” Nama itu membuat senyum Sarah meredup sesaat.
“Tadi perempuan itu mengaku pada ibu bahwa ia adalah adiknya Alfarizqi. Ibu rasa dia masih memiliki rasa belas kasihan”
“Dia penghalang,” jawabnya jujur. “Tapi juga pelindung. Selama Alfarizqi masih merasa bertanggung jawab padanya, dia akan terus berada di tengah-tengah. Itu membuat Alfarizqi tak berani mengambil keputusan.”
“Lalu apa rencanamu?” suara Ibu Sarah bergetar tipis.
Sarah menarik napas panjang. “Kita buat dia percaya bahwa aku—dan keluarga kita—tidak bisa diselamatkan tanpa dia. Bahwa meninggalkanku sama saja dengan membiarkan kita tenggelam.”
Ia menatap infus di tangannya, lalu tersenyum pahit. “Bukankah itu yang selalu membuatnya bertahan?”
Ibu Sarah kembali duduk, kali ini benar-benar lelah. “Ibu hanya takut satu hal.”
“Apa?”
“Jika suatu hari dia tahu… bahwa air mata ini bukan seluruhnya jujur.”
Sarah menunduk sejenak. Lalu ia mengangkat wajahnya kembali, sorot matanya keras, hampir dingin. “Kalau hari itu datang, Bu… semoga saat itu semuanya sudah terlambat untuk ditarik kembali.”
......................
Alfarizqi memberhentikan mobil tepat di depan kamar kediaman Ndalem bagian utama. Mesin masih menyala, tetapi tak satu pun kata terucap di antara mereka. Hening beberapa detik itu cukup untuk menyadarkan Rayya.
“Aku masuk dulu,” ucapnya pelan.
Tatapan mereka bertemu. Alfarizqi menatap Rayya lebih lama dari biasanya, seolah menimbang sesuatu yang tak terucap. Hingga akhirnya ia berkata dengan suara tertahan,
“Seharusnya kamu tidak mengatakan bahwa kamu adalah adikku di hadapan ibu Sarah.”
“A–aku hanya tidak ingin mengecewakannya,” Rayya menjawab lirih.
“Namun pada akhirnya, kamu tetap akan mengecewakannya.”
“Aku tahu,” Rayya menunduk. “Tapi setidaknya bukan pada pertemuan pertama. Aku hanya tidak ingin semuanya menjadi runyam.”
“Justru karena itu, semuanya jadi semakin runyam,” ketus Alfarizqi.
“Aku minta maaf,” ucap Rayya hampir tak terdengar.
Alfarizqi menghembuskan napas kasar, seolah berusaha menahan amarah yang menekan dadanya.
“Masuk dan beristirahatlah. Aku akan mengurus sisanya.”
Rayya mengangguk tanpa daya. Ia membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Langkahnya terhenti sejenak, menatap punggung mobil yang perlahan menjauh, hingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Rayya masuk ke kamar. Ia melepaskan kerudungnya, mengganti pakaian, lalu duduk di tepi ranjang. Pikirannya berkelindan, membayangkan masa depan yang terasa semakin berat. Kedatangan ibu Sarah seolah menambah beban pada pernikahan yang bahkan belum sempat ia pahami sepenuhnya.
Tangannya meraih tas. Namun ada sesuatu yang terasa janggal. Gantungan kunci pemberian Adam tak lagi ada di sana.
“Kemana…?” gumamnya.
Rayya mengobrak-abrik isi tas, menunduk hingga ke kolong tempat tidur, tetapi tak menemukannya. Lelah, ia mengambil dompet dan membukanya. Di sanalah—selembar foto Adam terselip rapi.
“Adam…” lirih Rayya.
Ia melangkah menuju laci, mengambil mancis.
Akan bercerai atau tidak, aku tidak boleh lagi melibatkannya dalam hidupku. Ia berhak bahagia, batinnya, menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca.
Rayya hendak menyalakan mancis, ketika tiba-tiba pintu terbuka.
Ia tersentak.
Alfarizqi berdiri terpaku di ambang pintu.
Untuk sesaat, dunia seolah berhenti. Rambut Rayya yang tergerai melewati bahu—berwarna cokelat dengan semburat highlight terang—jatuh alami. Penampilannya begitu modern, jauh dari kesan santri pesantren yang selama ini dikenal Alfarizqi.
Terkejut, foto di genggaman Rayya terlepas dan jatuh ke lantai.
Dengan gugup, Rayya meraih selimut, menutupi rambut dan tubuhnya yang hanya dibalut piyama panjang. Ia berbalik membelakangi Alfarizqi.
“Mengapa tidak mengetuk pintu dulu?” protesnya.
Ucapan itu menyadarkan Alfarizqi. Ia menarik napas, mencoba menguasai diri.
“Aku hanya ingin mengambil beberapa barangku,” jawabnya singkat, sambil menekan dada yang berdetak tak beraturan.
Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap foto di dekat kakinya. Ia membungkuk dan mengambilnya. Seketika, raut wajahnya berubah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alfarizqi mengambil barang-barangnya dengan cepat.
“Apa yang kamu sembunyikan, Rayya?” suaranya dingin. “Bahkan setelah akad yang disaksikan langit dan bumi itu, jika aku memintamu berdiri di hadapanku tanpa penutup apapun sekalipun, kamu sudah harus mematuhinya.”
Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan Rayya yang terpaku, dengan dada bergetar dan hati yang runtuh perlahan.
...****************...
Maaf baru bisa update setelah libur panjang yaaa,, saya juga libur hehe 🙏🏻
Have A Nice Day Everyone 💖💖💖
Si alfa juga salham, kayaknya doi mkir si Rayya masih suka ma Adam
Kayaknya Sarah n Emak mmg tulus ya… cuma yaaitu, ngeselin beuudddd 💔
Rayya jd mau ceraikan suaminya, klo bgtu…. Yaaa Adam udah siap untuk nampung wkwkwkwk💔🤣