NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GOOD FOR YOU

Sangat muak, Mireya hampir ingin meninju rahang James. Setelah susah di hubungi, apalagi di ajak ketemu, malah tak sengaja bertemu di kafe. Dia malah cuek aja. Padahal Mireya mau di manja, di perhatiin. Oke kalau ini memang begini. Kesempatan tak boleh di sia-siakan.

Mireya berbalik badan, awalnya juga mau bales kelakuan James. Buat pura-pura gak kenal. Tapi ia harus menanyakan kelanjutan hubungannya bagaimana. Masa mau di gantung terus?

“Mau sampe kapan kita backstreet? Gue capek. Lo juga ilang-ilangan jadi manusia. Kalo ada yang lain bilang, bosen sama gue bilang. Gue juga punya hati.” Mireya berbicara pelan, lelah dan kecewa.

Pandangan Mireya naik. Menatap wajah James yang sulit di tebak. “Kita udahan aja kalo gitu?”

Luz, jangan bilang karna dia. Mireya terhasut. Lantas tangan James terkepal kuat dengan rahang mengeras. “Kenapa? Jangan bilang temen lo ngehasut buat kita udahan karna kita jarang berkabar? Gue sibuk.”

“Sibuk itu ada, tapi masa sih gak ada waktu sama sekali?” Suara Mireya mulai bergetar. “Capek ngemis waktu terus seakan cuman gue yang ingin.”

Mireya mengusap sudut matanya. “Bahkan zaman sekarang gak mungkin ke toilet gak bawa hape. So, udah kita udahan aja.” Tanpa ingin mendengar penjelasan lagi, ia pergi meninggalkan James.

Tak di sangka James menghadang langkahnya. Meraih tangan Mireya dan memohon. “Maaf, gue lagi banyak kerjaan gak sempet chat. Kita gausah putus, yaudah sebagai gantinya kita quality time aja ya. Ayo, mau muncak? Lo suka pemandangan gunung kan?”

Mungkin ini adalah solusi, untuk Mireya bahagia dan membuat Karel cemburu. Capek juga di buat cemburu, sesekali bikin dia cemburu.

“Engga. Gue bisa muncak sendiri.” Mireya membuang pandangan lalu pergi.

James tidak menyangka. Ia langsung merogoh saku dan mengirim chat terus menerus ke Luz. Tak kama ia telepon, awalnya tidak di jawab hingga akhirnya di jawab.

“Lu beneran anj*ng!” makinya marah.

Disana Luz menjauhkan handphone karena telinganya terasa sakit. “Anj*ng apaan sih bangs*t? Gak cukup lu maki gue, mau apalagi? Cekik gue lagi hah kayak waktu itu? Emang ya lu cowok sinting, gak waras.”

“Bacot anj*ng, Mirae mutusin gue. Itu pasti lu bocorin kan? Ngaku! Gue sial nelpon tante Elena.”

Suara Luz terdengar memelan kaku. “Sumpah enggak, gue masih jaga rahasia itu. Soal itu gue gatau beneran.”

“Bacot tai, awas kalo sampe Luz beneran mutusin gue, siapin aja pusara lu segera.” James mengakhiri panggilan sepihak dan mengejar Mireya untuk membujuknya, agar kembali mau bicara dengannya.

Cuman dia keburu naik ke dalam mobil, James ikutin dari belakang kemanapun tujuannya. “Lo gak boleh pergi dari gue sampai kapanpun!”

James pun menyalip mobil Mireya. Hingga dia terhenti secara mendadak.

James turun dan menghampirinya. Pintu nya tidak di buka, kacanya tidak di turunkan. “Turun! Mau ngomong.”

Wajah Mireya datar, menatap lurus ke depan. Ia memencet klakson berulang kali. Dan mengambil ancang-ancang untuk menabrak James kalau dia memang tidak mau menyingkir.

“Sebentar aja!”

Mireya menurunkan kaca mobilnya. Masih enggan melihat James. “Apalagi? Kita udah selesai.”

“Maafin gue, janji gak gitu lagi. Sumpah maaf!”

Mireya menghela nafas dan menaikkan kaca mobilnya. “Basi.”

“Oke! Gue bakalan sebar video pribadi lu.”

Mireya berdecak sebal dan meliriknya malas. “Terus lu pikir gue peduli? Dari pada lu sebar gratisan, kenapa gak di jual biar makin punya duit?” Padahal dalem hati khawatir juga. “Ya paling juga lu yang di penjara, gue laporin balik atas pencemar nama baik dan melanggar privasi.”

“Arghhhh gak gitu, kenapa lo kenal sama ancaman?? Gue beneran sayang sama lo, sumpah Mireya. Gue gatau sehancur apa dunia gue kalo lo beneran pergi selamanya!” Sok iye nih si James, dari tingkah dan nada bicaranya.

Mireya membunyikan klakson semakin cepat. “Bacot banget tai, gak ngabarin gue lama aja lu masih idup, gue juga masih sehat. Udahlah minggir atau gue lindes mobil lu biar jadi butut mau?”

“Oke, oke,” balas James menyerah, bisa-bisanya Mireya tidak terbuai. Apapun akan ia lakukan agar Mireya mau kembali bersamanya. Ini pasti ulah Luz! Membuat Mireya ragu padanya.

James masuk ke dalam mobil. “Hubungan gue sama Mirae mulai terancam, perusahaan gue pasti ikutan goyah. Apa gue lamar dia? Segera. Terus bilang ke Karel, kalau gue juga nikah cuman buat nutupin semuanya dan bilang ke Karel kalau Mirae gatau apa-apa soal kita, beda dari Luz yang tahu.” Ia mengangguk cepat. “Kayaknya emang harus. Mungkin baginya gak ada balikan kecuali menikah.”

Kalau boleh milih sih, James males nikah, males terikat panjang dengan satu orang. Ia lebih suka hubungan seperti ini, bebas.

--✿✿✿--

Luz bingung, kenapa James kembali mengertaknya lagi. Mengancam bahkan memaki, seakan dirinya sebersalah itu disini? Padahal itu salahnya sendiri. Kalau emang di putusin Mireya, mungkin dia sudah merasa tidak ada yang bisa di pertahankan. Lagian buat apa? Laki-laki biseksual seperti itu cuman bikin makan hati, gak akan bener juga nantinya.

Kita berikan hati setulus mentari menyinari bumi, malah di kasih tai kucing.

Saat Luz hendak melangkah, panggilan dari Mireya masuk. Pas terhubung dia curhat kalau hubungannya dengan James telah berakhir. Membuat hatinya lega. Mireya terselamatkan dari hama perusak rasa.

Nada bicara Mireya terdengar netral, santai seakan tidak ada yang dia tangisi.

Kelihatannya sih dalam kesadaran penuh ngomongnya tapi gatau. Kadang Luz males kalau udah kesenengan di awal sahabatnya bisa keluar dari toxic relationship tiba-tiba gak lama setelah itu dia nelpon lagi sambil nangis, bilang kangen mantan. Cuih, pengen dia ludahin.

Nahkan bener aja, pas malam datang. Mireya nelpon lagi, dia nangis mengaku rindu semuanya. Wangi parfum, kenangannya juga.

Sekarang Luz memakai bandeau dan celana pendek duduk menghadap televisi nonton series sambil ngemil. Perutnya di jadiin meja, menaruh ciki dan selonjoran syantik. Nemenin suami yang lagi work from home di sampingnya. Cuman baru beberapa menit lalu lagi keluar beli jajan.

“AC rendah, pake baju pendek. Gak takut masuk angin?” tegur Karel membuat Luz kaget.

“Gerah tau.” Luz pun balik ngobrol sama Mireya. “Terus rencananya gimana sekarang mau dateng lagi ke dia? Bilang “aku miss banget mau balikan” hidih gausah, buang aja udah. Cari lakik lain aja beres.”

Terdengar Mireya mendengkus kesal. “Enteng banget lo ngomong, lo kan udah dapet husband material banget lah gue?”

“Itu tau, upil kebo aja masih lo pelihara. Kek gak ada berlian aja. Semoga segera sembuh, gue mau sayang-sayangan dulu sama suami.” Luz pun sengaja mengecup singkat pipi Karel. “Nah kedengeran kan? Udah dulu ya mau—“

“Mau apa? Kalian jahat ih, gue lagi sedih malah di tinggal kuda-kudaan!” seru Mireya kesal.

Luz mengedipkan matanya ke Karel. “Sandiwara aja please!” bisiknya. Membuat Karel menurut nge-iya-in gitu aja tanpa mikir lagi. “Nahkan bener, udah ya see you.”

Karel mengetik dengan cepat. “Lega banget kayaknya bisa udahan call.”

“Iyalah, gue males dengerin dia nangisin opet pulu-pulu. Padahal yang naksir dia banyak tau, tapi aneh mau aja bertahan sama buldozer rongsokan.”

Karel terkekeh. “Nahh gitu dong cerewet lagi jangan murung terus.”

Luz diam memperhatikan wajah Karel, begitu sempurna. Cuman hasrat seksualnya ngadi-ngadi sih. Coba aja normal, tiap hari ganti seprei dan kasur selalu basah. Apalah otaknya ini, mikir nya begituan mulu, parah ih.

Dari pada memandang Karel terlalu lama, makin naksir yang ada. Belum lagi salfok ke sesuatu yang menonjol, mending merem dan balik nonton series.

“Gue pengen secepatnya ke Washington,” katanya. Karna mungkin disana ia aman, James juga tidak akan melukainya lagi. Kalau dirinya mati, nasib anaknya gimana? Siapa yang bakalan sayang sama dia seperti ibunya. Atau kalau keduanya mati, rasanya semua perjuangan Luz akan sia-sia hanya kesalahpahaman James yang di dasari cemburu buta.

Karel menggaruk hidungnya. “Rencananya emang gue mau pulang, jadi bareng aja ya.”

“Terlalu lama disini, bikin gue ngerasa selalu denial soal mama. Semuanya masih kerasa sama, gue masih ngerasa ada mama. Dia masih ngawasin gue. Kalau gue tangisin terus, takut mama gak bisa pergi dengan tenang. Disini juga gue makin sumpek, gak enak juga. Siapa tau Abang gue ke ganggu mau mesra-mesraan sama istrinya yakan?” Luz mendongak hingga lehernya melengkung. Posisinya lagi tiduran, Karel di belakangnya.

Karel membetulkan posisi leher Luz. Nanti sakit lehernya, yang bener napa. Bar-bar amat jadi orang.”

“Besok juga jadwal gue check up, mau tau posisinya udah dimana.”

“Katanya baby boy terpantau masih di pengiriman menuju perjalanan ke rumah,” sambung Karel membuat Luz tertawa.

Luz melempar bantal dan duduk. “Gue terlalu kece gak sih buat jadi cewek bunting?”

“Mimpi~~~~jangan terlalu tinggi.”

Luz cemberut, ia menggeser duduknya dan duduk di pangkuan Karel. Memeluk lehernya. “Pengen ke kuburan deh.”

“Udah males gausah ngarang!” Karel menepis tangan Luz, makin takut liat dadanya udah mau nempel ke pipi. Mengangguk sekali soalnya.

Luz bersandar di kepala Karel. “Ngerjain apa sih? Boleh ya gini, pengen banget di manja.”

“Bisa diem gak pinggangnya?” Masalahnya Luz duduk di paha kanan Karel, memaju mundurkan pinggangnya perlahan. Malahan menjepit pahanya semakin kuat. Karel mendongak. “Jangan bilang lo---“

Satu kecupan Luz berikan di hidung Karel hingga dia diem. Pas mau ngoceh, giliran bibirnya yang di kecup. Karel tidak membalas, bahkan menolak, tapi Luz semakin memperdalam cumbuannya. Bahkan menekan tengkuknya dengan kuat.

Karel mendorong bahu Luz. Yang ada kepalanya di pegang kuat. Sampe gak bisa nafas dan terdorong bersandar di punggung kursi. “Shit, cewek gila!” umpatnya dalam hati. Mana kedua pahanya di kunci sama kakinya kuat banget. Masa tenaganya kalah begitu saja?

Kalau Karel pake tenaga dalam, gimana kalau dia jatuh dan kandungannya kenapa-kenapa? Repot lagi, tapi yang ada---oh tidak! Luz mengukung tubuh Karel hingga jatuh di atas sofa dan dia duduk di atasnya.

Mata Karel membulat. Ia menggeleng cepat. Menjerit memohon pertolongan. “Jangan please anjir jangan woi!” ucapnya bergetar.

Namun, tangan Luz telah bergerak mengelus perut Karel dan melepas kancing celananya. Pas Karel akan memberontak, Luz membekap mulutnya.

Waktu ini Luz beneran gak kuat, sehingga begitu tertarik ke Karel bagaimanapun juga dia wanita normal. Hasratnya kian menggebu dan memaksa Karel untuk bercinta, lagi pula mereka sudah sah jadi suami istri.

“Gue gak bisa lakuin itu, Luz. Dengerin gue tolongin gue!” jerit Karel sambil mencoba kabur. Tapi kakinya di tahan.

“Come on be my baby!” Luz pun menaiki Karel. Dia seperti seorang predator yang buas, hingga nyali Karel ciut dan bayangan tantenya muncul. Sehingga dia mencoba menepis bayangan itu.

Itu hal yang membuat Luz malah marah, karna karel tidak kunjung turn on dan menggigit kemaluan karel karna kesal, begitu kencang sampai dia menjerit histeris, memegangi selangkangannya.

“Ssshh f*ckk girl!” umpat Karel meringis pelan.

Namun di depan pintu, Devan tengah menguping karna kepo. “Waduh abis tempur nih, gila adek gue liat banget sampe lakiknya ngeringgis gitu.”

“Ada apa Mas?”

“Gausah di gangguin, lagi malam pertama mereka.” Devan menarik Bebingah pergi. “Kita mau ikut malam pertama juga gak?”

Belum juga menjawab, Bebingah sudah di bawa masuk ke dalam kamar dan di kunci disana. “Mas mau ngapain?” tanyanya dengan suara gemetar.

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!