Sinopsis
Arumi Nadine, seorang wanita cerdas dan lembut, menjalani rumah tangga yang dia yakini bahagia bersama Hans, pria yang selama ini ia percayai sepenuh hati. Namun segalanya runtuh ketika Arumi memergoki suaminya berselingkuh.
Namun setelah perceraiannya dengan Hans, takdir justru mempertemukannya dengan seorang pria asing dalam situasi yang tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 32
Pukul tujuh pagi, Hilda dan Arumi masih terlelap ketika suara bel pintu apartemen berdering nyaring, memecah keheningan.
Hilda mengerjap pelan, mencoba mengusir kantuk yang masih menggelayuti matanya. Sementara di sisi lain, Arumi bergumam tidak jelas, menutup kepala dengan bantal.
Bel berbunyi lagi, lebih panjang kali ini.
Dengan malas, Hilda bangkit dari ranjang, menyeret langkah ke arah pintu.
Begitu daun pintu dibuka, matanya langsung bertemu dengan sosok Ryan ambang.
Hilda mengerjap, matanya masih terasa berat. Namun begitu pandangannya jatuh pada sosok pria asing yang berdiri di ruang tamu, kantuknya seketika lenyap.
Wajahnya tampan, rapi, dan berwibawa, membuat Hilda sempat terpaku. Tapi ia sadar, ia sama sekali tidak mengenalnya.
Itu adalah pertama kalinya ia melihat pria itu.
Hilda masih terpaku di ambang pintu, matanya tak lepas dari sosok pria asing di hadapannya. Wajah tampan itu seolah langsung menghapus sisa kantuk yang tadi menahannya untuk bangun.
"Maaf, Nona," suara bariton pria itu memecah keheningan. Nada bicaranya sopan namun tegas. "Saya ingin bertemu dengan Nona Arumi. Apakah dia ada?"
Begitu mendengar nama Arumi disebut, Hilda seolah baru tersadar dari lamunannya.
“Oh, iya, iya! Tunggu sebentar ya, saya panggilkan,” jawabnya agak gugup, sambil berbalik menuju ruang tengah.
Sementara itu, Ryan tetap berdiri di ambang pintu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, menunggu dengan tenang namun matanya sesekali meneliti sekeliling.
"Rum, bangun," ucap Hilda sambil menggoyangkan tubuh sahabatnya dengan lembut.
Arumi hanya bergumam pelan, matanya masih terpejam, seolah enggan melepaskan diri dari dunia mimpi.
"Bangun, Rum," ulang Hilda, kali ini sedikit lebih tegas namun tetap penuh kesabaran.
Hilda sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Arumi.
"Rum, bangun. Ada yang nyariin kamu," ucapnya dengan nada setengah berbisik, setengah bersemangat.
Arumi menggeliat pelan, kelopak matanya mulai terbuka setengah, masih dibayangi rasa kantuk.
"Siapa?" tanyanya malas, suaranya serak khas orang baru bangun.
Aku nggak tahu siapa dia, Rum. Aku nggak kenal, tapi yang jelas dia cowok, dan ganteng banget,” ujar Hilda dengan mata berbinar, seolah baru saja melihat selebritas.
“Ganteng?” gumam Arumi pelan.
Sejak kapan ia mengenal pria ganteng? Selama menikah dengan Hansel, Arumi hampir tak pernah berinteraksi apalagi berteman dengan pria lain. Pikiran itu berputar di kepalanya, menimbulkan rasa heran bercampur waspada.
Arumi kemudian duduk, berusaha menata sisa rasa kantuk dan perasaan yang masih kusut setelah bangun tidur.
“Dia sendiri?” tanya Arumi, memastikan.
“Iya, sendiri,” jawab Hilda singkat.
“Tapi siapa ya, Hil? Aku nggak kenal cowok mana pun sejak menikah dengan Hansel,” ujar Arumi, keningnya berkerut.
“Kecuali…” ucapannya menggantung di udara.
Hilda langsung menangkap maksudnya. “Kecuali… pria malam itu,” katanya pelan.
Deg!
Arumi menelan ludah. Jantungnya berdegup tak beraturan. Apa mungkin. benar, pria itu yang ada di luar?
"Ah, tapi nggak mungkin, Hil. Dia mana tahu tempat tinggalku? Lagian, aku yakin dia juga nggak tahu wajahku seperti apa. Malam itu kan cahayanya redup," ujar Arumi, mencoba meyakinkan diri.
"Kita nggak pernah tahu, Rum. Sekarang teknologi dan informasi itu canggih, lho," sahut Hilda sambil mengangkat alis.
"Udah, ayo cepat keluar. Kasihan, tuh, cowok ganteng di luar nungguin lama," tambahnya dengan senyum menggoda.
Begitu selesai berbicara, Hilda menarik tangan Arumi, memaksanya berdiri.
Arumi menelan ludah, sedikit ragu, tapi langkah kakinya tetap mengikuti Hilda menuju pintu. Begitu daun pintu terbuka sosok pria yang berdiri tegap di ambang pintu.
Dia mengenakan kemeja biru gelap yang rapi, dan wajahnya terlihat tenang meski matanya jelas menyapu ke arah Arumi.
“Nona Arumi?” tanya pria itu sambil menatapnya penuh kehati-hatian.
“Iya, saya,” sahut Arumi, sedikit mengernyit karena tidak mengenal wajahnya.
“Saya Ryan, asisten Pak Elfando,” kata pria itu sambil merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama lalu menyerahkannya.
Arumi menerimanya, matanya bergerak cepat membaca tulisan di atas kertas tebal itu. Nama dan jabatan yang tertera membuatnya semakin bingung.
“Iya, ada yang bisa saya bantu, Pak Ryan?” tanyanya hati-hati, nada suaranya terkontrol meski rasa penasaran mulai menguasai pikirannya.
Ryan menatapnya sejenak, seolah mempertimbangkan kata-kata yang tepat. “Pak Elfando ingin bertemu dengan Nona, secara pribadi.” katanya.
“Pak Elfando.” Arumi menggumamkan nama asing itu, seolah mencoba mencari-cari di ingatannya. Namun, sama sekali tidak ada wajah atau peristiwa yang berkaitan dengan nama itu. Ia menatap Ryan dengan alis sedikit berkerut.
Dia tidak mengenal siapa pun bernama Elfando, apalagi sampai ada urusan yang memerlukan pertemuan.
“Memangnya ada urusan apa Pak Elfando itu ingin menemui Arumi?” tanya Hilda, suaranya penuh rasa ingin tahu, namun nada curiganya jelas terdengar.
Ryan tersenyum tipis, tapi tatapannya tetap terjaga, seperti seseorang yang sudah dilatih untuk tidak mengumbar informasi sembarangan. “Maaf, saya hanya diminta menyampaikan hanya itu saja." Kata Ryan.
“Jangan, Rum. Nanti malah perdagangan manusia lagi,” ujar Hilda blak-blakan, tanpa peduli Ryan mendengar.
Ryan hanya tersenyum tipis, entah geli atau sekadar sopan menanggapi.
“Saya nggak kenal yang namanya Pak Elfando. Mungkin Anda salah orang,” ucap Arumi, berusaha terdengar tegas meski nadanya sedikit ragu.
“Nona Arumi pasti ingat… tiga minggu lalu, di club. Pak Elfando dan Nona Arumi…” Ryan menggantung ucapannya, seolah sengaja memberi ruang bagi mereka untuk menyimpulkan sendiri.
Mata Arumi langsung membesar, Hilda pun terperangah. Degupan jantung Arumi terasa di telinganya sendiri, ternyata pria yang bersamanya malam itu, bernama Elfando.
“Ada urusan apa dia ingin menemuiku? Aku...aku sudah membayarnya malam itu,” kata Arumi, suaranya terdengar terbata. “Katakan saja padanya, kita sudah impas. Kami sama-sama saling menyenangkan.”
Hilda langsung maju setengah langkah, menatap Ryan dengan tatapan tajam. “Sampaikan pada si Pak Elfando itu, temanku tidak akan menemuinya.”
Tanpa memberi kesempatan Ryan membalas, Hilda segera menutup pintu apartemen.
Begitu pintu tertutup rapat, keduanya saling berpandangan. Napas yang sejak tadi tertahan perlahan terlepas, seolah beban besar baru saja diangkat dari dada mereka.
*****
Support author dengan like, komen dan vote cerita ini ya, biar author semangat up-nya, terima kasih.....
kalau gak ada ibunya mahhh yaa gpp kali... selama Hilda bisa Nerima kamu apa adanya, Ryan...