Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampung Halaman
Terlihat dari jauh nampak sepasang kekasih yang telah berusia lanjut, melangkah anggun tanpa mengenal lelah menghampiri Ibu Elena. Raut wajah gembira mereka terukir indah, seakan-akan rindu yang membelengguhi terhapus kenangan.
Keduanya tak membawa apa-apa, selain cinta yang penuh kasih pada menantu mereka.
"Elena..." panggil wanita paruh baya penuh kerinduan.
Ibu Elena terdiam sesaat ketika mendengar suara sapaan, yang tak asing lagi di telinganya. Perasaannya bercampur aduk, antara rindu dan gelisah.
"Ayah... Ibu," pintanya, menatap mereka berdua penuh makna.
Dia kemudian melangkah laju, menghampiri mereka berdua yang kini duduk di depan teras rumah untuk beristirahat sejenak.
"Apakah kalian telah lama berada di sini?" tanyanya, sembari memberi salam kepada kedua mertuanya.
Ibu Mertuanya menatap dia dingin, dihiasi senyuman khasnya, "Tidak, Elena. Kami baru saja sampai."
""Mari masuk kedalam Ibu, Ayah."
"Iya," jawab mertua wanita, seraya bangkit dari duduknya.
Dia dan Ibu mertuanya pun menuju kedalam rumah mereka sambil bertukar cerita, sedangkan Ayah dari suaminya itu memilih diam di depan teras sesaat, untuk memulihkan tenaga yang terkuras dari perjalanan panjang mereka.
"Ah... Baru sebulan saja aku tidak kesini, nampaknya begitu banyak perubahan yang terjadi." pinta mertua lelaki, menatap bingung keadaaan yang telah berubah di kampung kecil ini.
*****
Empat tahun telah terlewatkan, kampung yang dulunya mimin penduduknya kini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.
Mulai dari meningkatnya jumlah penduduk, yang disebabkan oleh banyaknya pendatang dari kota, memilih hidup damai di kampung ini. Dilain sisi keindahan alam, kesuburan serta sumber daya yang sangat memadai membuat orang-orang yang berada di kota, tertarik akan kekayaan alam yang ada. Oleh karena itu, mereka memilih membangun rumah di kampung ini, demi mencapai tujuan yang telah mereka rencanakan, baik dalam segi bisnis maupun hanya sekedar merenggut kenyamanan yang ada di kampung ini.
Pertumbuhan ekonomi mereka yang dulunya sangat tidak sehat, kini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Oleh karena banyaknya generasi-generasi penerus, yang memiliki wawasan tinggi mampu membuat suatu perubahan, sehingga memungkinkan kampung ini hidup dalam taraf ekonomi sehat.
*****
Kesunyian yang dulunya menghantui lenyap memburu jaman. Siang dan malam kini selalu terpampang senda hingga ke aras waktu. Semuanya indah, tanpa lara yang terukir mengusik benak.
"Tidak kusangka semuanya semuanya begitu berbeda," pintanya, menatapi subur dan indahnya panorama alam kampung halamannya.
Selang beberapa saat dia menikmati keindahan alam sekaligus memulihkan tenaganya, nampak dari jauh seorang pria paru baya menghampirinya. Langkah kaki yang lamban serta sedikit miring membuatnya mulai menduga-duga.
'Siapakah dia? Rasanya sangat akrab, tapi kenapa aku belum pernah melihat orang yang seperti ini di kampung ini,' benaknya.
"Feliks... Tidak mungkin. Apa yang terjadi dengannya?" gumannya, yang tak berdaya metapinya yang kini telah terlihat jelas raut wajah pria paruh baya itu.
Perasaan penuh tanya muncul dalam pikiran Pak Beda, dialami dilain sisi dia masih tidak mengerti dengan musibah yang menimpa Pak Feliks, "Apa yang engkau maksud?"
"Beda, apa yang aku derita ini telah membaik, hanya saja penyakit Asma ini yang terus menyiksa aku," dia menundukkan kepalanya sesaat, sebelum menghela nafas panjang serta mentapinya dengan penuh penyesalan, "
Dia menggelengkan kepalanya pelan, yang seakan-akan tidak mau menerima kenyataan yang ada, "Feliks..." panggilnya.
"Iya, Be... da," jawabnya, terbata-bata.
"Sini... Duduklah disini," pintanya, seraya mendorong kursi tua yang berada di depan teras rumah mereka, "Apa yang terjadi denganmu, sehingga untuk berjalan dan bernafas pun seakan-akan tak mampu?"
Dia menatapnya dalam diam, sembari mengatur pernafasan sebelum meraih kursi tua itu dan duduk, "Iya, seperti yang engkau lihat. Aku begini adanya."
"Feliks... Penyakit yang engkau derita, sama halnya denganku,"Aku sarankan engkau, menetap lah di kota. Oleh karena iklim disini sangatlah dingin, yang untuk penderi Asma."
Dia menggelengkan kepala pelan, seakan-akan tak terima dengan saran darinya. Namun apa yg dikatakan oleh Pak Beda benar adanya, tetapi dengan siapakah dia menetap untuk memulihkan penyakit yang dideritanya, sebab di kota tak ada sahabat ataupun kerabat yang bisa membantunya.
"Iya," pintanya, meyakinkan Pak Beda. Dia kemudian menghela nafas panjang sebelum sebelum mengambil sebatang rokok yang diberikan Pak Beda kepadanya, "Apakah hanya engkau seorang diri saja, kemari?"
"Oh... Aku bersama Kewa. Dia ada di dalam bersama Elena."
Mereka berdua yang ada di dalam rumah terus saja bercerita. Ibu Elena tak kunjung henti menanyakan keadaan Metallo, kerena khawatir akan tindakan Metallo yang kadang-kadang bandel terhadap dia, dilakukannya kepada kedua mertuanya.
"Bu, apakah dia betah bersama kalian?"
Dia menatapi anaknya penuh antusias, oleh karena nampak jelas kekawatiran di raut wajah Ibu Elena akan cucunya.
"Aku tidak bisa menjawab engkau," dia menggelengkan kepalanya pelan, "Itu tergantung anakmu, lagipula pula dia sudah lama sekali bersama kami. Pastinya betah, sehingga sampai saat ini dia masih aman-aman saja bersama kami."
"Bu, apakah anakku tidak bandel?"
"Ini sifat alami Laki-laki yang sulit kita rubah apaan, Biarkan saja dimengerti sendiri tindakan dan perbuatan yang dilakukannya. Lagipula dia sudah dewasa, jadi pastinya DIA tahu membedakan mana yang baik dan mana yang salah."
"Dia memang sudah dewasa, Bu. Tapi orangtua harus menjalankan kewajibannya, sebab yang tahu melahirkan pasti tahu pula membimbing nya."
Ibu Elena memegang erat kedua tangan mertuanya, "Ibu tenang saja. Jikalau dia melakukan hal-hal yang bodoh, katakanlah kepadaku, Bu. Biar aku bisa mendidiknya dengan baik."
"Hm... Selama dia bersama kami, aku tidak pernah melihatnya melakukan tindakan, ataupun perbuatan yang tidak wajar," dia mantap dalam Ibu Elena, sembari menghela nafas panjang, "Tenang anakku. Selama masih ada kami, cucuku pastinya akan menuruti apa yang aku katakan."
"Iya, Bu. Tetapi, aku juga tidak melepaskan tanggung tanggung jawabku sebagai orangtua.
Selain membahas Metallo. Keduanya saling melepas rindu, antara suka dan juga gelisah. Oleh karena itu mereka sama sekali tak sadar akan keberadaan Pak Feliks.
"Kewa... Telah sekian lama tak berjumpa, engkau dan Beda masih terlihat sama seperti dahulu," pintanya dari belakang mereka dengan nada yang sangat datar.
Mendengar ujaran yang tak asing lagi di telinga, dia langsung memanggilnya tanpa perlu memandang, "Feliks..."
Dia sendiri sangat kaget ketika melihat pria yang kini berumur hampir kepala empat, sama sekali tidak berdaya seperti telah berumur kepala enam ata tujuh.
"Apa yang terjadi dengan dirimu, Feliks?" tanyanya, penuh keheranan.
"Dia baru lekas sembuh dari struk yang diderita, hampir sebulan lamanya."
Matanya melotot, menatapi langkah lamban Pak Feliks menuju ke kursi tua yang terbuat dari rotan, "Aku sama sekali tidak percaya." dia menggelengkan kepalanya pelan, "Feliks... Engkau terlihat lebih tua sepuluh tahun dari Suamiku."
"Iya, Kewa. Beginilah keadaanku sekarang."
"Semoga lekas sembuh iya, Feliks," pintanya, penuh harap.
"Iya, aku akan terus berjuang hingga penderitaan yang kualami ini, berakhir...."
Bersambung....
Mohon Doa dan dukungan dari teman semuanya, agar apa yang aku paparkan ini dapat berguna dan bermanfaat untuk kita semua.
SALAM SHANTUN. 🙏🙏🙏
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??