Menikah kemudian bahagia adalah impian semua orang. Begitu juga dengan Soraya. Namun dapatkah dia bahagia saat menikah dengan seorang player?
Apakah harapan Soraya bahwa Ardan akan berubah bisa menjadi kenyataan?
Ataukah pernikahan mereka akan kandas karena wanita lain?
Lalu siapa Soraya sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang wanita sebatang kara? Bagaimana jika seandainya waktu mengungkapkan jati dirinya?
Cerita ini penuh dengan intrik, dendam, perselingkuhan, perebutan kekuasaan dan kekuatan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijjatul Helna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama keluarga
"Apakah kita akan segera membuka diri kita pada Soraya?"
Dua orang pria berbeda generasi sedang duduk di sebuah sofa panjang di sebuah ruangan yang cukup besar.
Pria yang lebih tua menggeleng.
"Belum saatnya. Biarkan dulu seperti ini!"
"Lalu apakah tidak membahayakan Soraya jika dia harus menghadapi semuanya seorang diri?"
"Tidak! Selama kau terus berada di sampingnya dan membantunya, itu sudah cukup untuk saat ini. Tentang bahaya yang kau sebutkan tadi. Aku pikir akan lebih baik kalau Soraya berusaha menghadapinya dengan kemampuannya sendiri. Jika dia sudah tak mampu, baru kita turun tangan membantu."
"Iya, Papa benar! Mmm ... Aku mendapat laporan, bahwa ada beberapa orang yang tengah mengawasi Soraya."
"Awasi mereka! Selidiki siapa yang menyuruh mereka! Biar bagaimanapun, Soraya masih baru dalam dunia persaingan ini. Dia belum mampu mengatasi semuanya seorang diri."
"Jadi, maksud Papa kita masih akan menyingkirkan duri dan kerikil yang akan menghambat jalan Soraya?"
"Tidak! Sebaiknya kau beri petunjuk kepada Soraya agar dia dapat berhati-hati dan memikirkan cara mengatasi orang-orang itu. Dengan begitu, kemampuannya akan terasah lebih baik lagi."
"Bagaimana jika orang-orang itu adalah orang suruhan dari Erick?"
Pria paruh baya itu memejamkan mata. Menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
Erick! Nama itu selalu menimbulkan gemuruh dalam hatinya. Berkaitan erat dengan masa lalu yang kelam.
Pria muda di sampingnya diam saja, membiarkan pria yang dipanggilnya Papa itu bergelut dalam pikirannya sendiri. Entah mengapa, setiap mendengar nama itu, ekspresi Papa menjadi gelap. Ada kesedihan, kemarahan, dan kehilangan.
Dia tak berani menanyakan lebih lanjut. Karena takut akan mengakibatkan hal yang tak diinginkan. Jika Papa belum menceritakannya, berarti memang belum waktunya dia mengetahui itu. Dia percaya, Papa nya bukan orang yang picik.
Keheningan menyelimuti beberapa saat.
Pria yang dipanggil Papa itu membuka matanya dan menoleh.
"Kalau benar mereka orang suruhan Erick, itu berarti Soraya dalam bahaya. Kau tahu apa yang harus dilakukan bukan?"
Pria muda itu mengerjap melihat betapa seriusnya sorot mata pria di hadapannya. Dia menyadari bahwa apa yang dihadapinya adalah sebuah bahaya besar. Sedikit saja lengah akan berakibat fatal.
Dia mengangguk cepat.
"Pasti, Papa! Tak akan kubiarkan mereka menyentuh Soraya."
Terlihat kelegaan dalam kilat mata pria tua itu. Dia menepuk pelan bahu anaknya.
"Aku berharap banyak padamu. Semoga Tuhan membantumu."
*****
Permana dan Alena memasuki mansion setelah beberapa waktu sebelumnya mendarat di bandara.
Mereka memang baru sampai di Budapest setelah menghadiri acara penting di Singapura.
Permana segera masuk ke kamar pribadi mereka sedangkan Alena memilih untuk mendatangi kamar Hana, cucunya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Seorang pelayan membukakan pintu kamar. Alena masuk dan mengitari ruangan dengan pandangannya.
"Di mana cucuku Hana?"
"Putri muda sedang berada di taman belakang bersama dengan Nyonya Soraya."
"Oh, begitu! Baiklah, aku akan ke sana." kata Alena dengan bersemangat karena begitu merindukan cucunya.
Alena berjalan ke taman belakang dan menemukan Soraya yang sedang meletakkan Hana di stroller.
"Apakah dia sudah tertidur?" tanya Alena yang membuat Soraya terkejut.
"Eh, iya Mom!"
Soraya merapikan selimut si kecil, kemudian kembali duduk di kursi panjang yang ada di taman itu.
Alena juga duduk di samping Soraya setelah sebelumnya mencium pipi Hana, membuatnya menggeliat merasa tidurnya terganggu. Alena terkekeh melihatnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Alena.
"Baik, Mom!"
"Tak ada rencana kembali ke Indonesia?"
"Mungkin untuk waktu dekat ini belum ada rencana ke Indonesia. Meski masih asing tapi tempatku sebenarnya di sini, Mom. Keluarga dan asalku di sini. Aku akan berusaha menyesuaikan diri. Selain itu, aku harus meneruskan perusahaan keluarga. Setelah perpindahan kekuasaan dari Granny ke aku, kondisi perusahaan masih belum stabil. Aku masih harus belajar banyak, dan juga memperhatikan orang-orang di sana untuk melihat siapa saja yang dapat dipercaya dan siapa yang berpotensi berkhianat. Tidak mudah memang, tapi ini tanggung jawabku sebagai seorang Palvin." Soraya menatap ke depan tapi pikirannya menerawang jauh.
Alena mendesah berat. Dia mengerti beban yang dipikul menantunya.
"Ya, momy mengerti! Lalu bagaimana dengan bisnismu di Indonesia?"
Soraya terkejut karena mertuanya mengetahui bisnis yang dilakukannya secara rahasia dengan Lusi, sahabatnya.
"Momy tahu?"
"Ya ... Sudah lama kami tahu tapi kami sadar itu adalah hak kamu. Untuk apa kami melarang jika itu untuk kebaikanmu. Kamu melakukan itu saat Ardan masih memperlakukan hubungan kalian dengan dingin. Dan kamu merasa cepat atau lambat Ardan mungkin akan meninggalkanmu. Karena itu kau mulai menanam saham pada sahabatmu itu. Benar, 'kan?"
Soraya memgerjap tak percaya. Bahkan alasan dia melakukan bisnis itu pun mertuanya tahu.
"Benar, Mom! Mmm ... Aku sebenarnya hanya pemegang saham, sedangkan semua pelaksanaannya aku serahkan pada Lusi. Aku percaya dia tidak akan berkhianat. Untuk sementara ini aku memang tidak lagi menghubunginya tapi pembagian keuntungan masih masuk ke rekeningku. Itu berarti dia melakukan tugasnya dengan baik."
"Momy percaya dengan intuisimu melihat kemampuan seseorang."
Keheningan tercipta beberapa saat.
"Lalu bagaimana dengan nenekmu?"
"Granny masih di pulau. Aku berencana mengunjunginya dalam waktu dekat ini."
"Bagus! Meski tak sepaham denganmu tapi biar bagaimana pun dia tetap keluargamu. Kau harus tetap menjalin hubungan baik dengannya."
"Iya, Mom! Granny memang memiliki pendirian keras tapi aku yakin dia akan luluh jua jika terus didekati."
"Momy percaya kau mampu melakukannya. Ardan adalah contohnya."
"Ada apa denganku?" tanya Ardan yang mendengar namanya disebut. Dia baru melangkah ke taman setelah pelayan memberitahunya keberadaan Soraya.
"Kau sudah pulang?" tanya Soraya sambil menyambut Ardan dengan pelukan dan kecupan.
Untuk kebiasaan di luar negeri hal itu adalah suatu yang lumrah tapi kalau di Indonesia yang memiliki adat ketimuran mungkin akan menimbulkan rasa malu di tengah orang banyak, apalagi di depan mertuanya.
Namun Alena malah tersenyum bahagia melihat bagaimana anaknya sekarang benar-benar menemukan tambatan hatinya dan kebahagiaannya bertambah dengan kehadiran si kecil yang menyedot perhatian semua orang karena memiliki wajah yang begitu imut dan cantik.
"Iya, sayang! Aku sangat merindukan kalian berdua, sehingga aku bekerja keras menyelesaikan semuanya dengan cepat."
"Jadi, momy ga dianggap nih?" kata Alena dengan ekspresi sedih.
"Ah, momy tentunya tetap menjadi wanita nomor satu di hatiku." kata Ardan sambil memeluk Momy nya.
"Sudah ... Sudah. Tak malu ya dilihat istrimu bermanja seperti ini sama momy?"
"Tuh, 'kan! Tadi katanya ga dianggap." kekeh Ardan.
Oek ... Oek ... Oek ...
"Yaah ... Si kecil Papa juga cemburu? Duuh ... Sayang Papa dah bangun. Sini sama Papa dulu ya! Papa kangen sama Hana." Ardan mengangkat Hana dari stroller.
Seperti mengerti dengan perkataan Ardan, si kecil Hana menghentikan tangisnya dan memandang Papa nya dengan matanya yang polos.
Ardan menghujani Hana dengan ciuman yang membuat si kecil tertawa kegelian karena rambut-rambut halus di wajah Ardan terasa menggelitik kulit lembutnya.
Tawa khas anak kecil memenuhi taman dan menyenangkan hati siapapun yang mendengarnya.
Bersambung...
**Jangan lupa like dan krisan ya!
Terima kasih buat teman2 yg sdh mampir ke cerita ini. Smoga ga bosan ya!
juga aku ucapin makasih byk buat reader setia yg ngikutin Soraya-Ardan dari FB sampe di sini. 🥰
Buat yg mau kasih krisan, tolong kata-katanya yg santun ya! Soalnya aku nya baperan. 😅**
sukses
semangat
mksh
mksh cerita nya kk 🤗
kerennnn 👌👍
tetap semangat berkarya ✍️✊