terus dukung cerita ini dengan like dan komen jika kalian suka. agar cerita tidak mangkrak tengah jalan
"Mas Kenzo! Pocongnya kabur lagi!" teriak Srini sambil ngemil ceker ayam._
"Bukan waktunya makan, sri! Itu pocong bawa kabur anak kepala desa!"
Kenzo, dukun muda nyeleneh dan Srini, kuntilanak centil juga narsis , harus menghadapi Gerombolan pocong pemburu nyawa,Pengkhianatan makhluk gaib yang mereka percaya ,Rahasia mengerikan di balik kematian orang tua Kenzo.
misteri apa yang terjadi mengapa bisa ribuan pocong mengepung sebuah desa dan mengapa orang tua Kenzo bisa mati secara misterius. temukan jawabannya di buku ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the last shadow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Azura menghentakkan kakinya ke tanah lalu melesat, terbang di atas kepala Kendasi dan Lasmi.
"Eternal Shadow Stab!" serunya.
Sebuah petir hitam berbentuk tombak muncul di tangannya dan langsung ia lemparkan ke arah mereka bertujuh.
Zzztt!
"Lasmi, cepat bantu aku menahannya!" teriak Kendasi panik, sambil membentuk perisai energi dari sihir.
Lasmi segera menyusul, menambahkan lapisan kedua. Lima sahyang lainnya juga membentuk perisai masing-masing, menciptakan tujuh lapis perlindungan.
Tombak listrik itu melesat cepat, seperti bayangan maut, dan menghantam perisai mereka.
Lapisan pertama milik Kendasi retak,
“Pyarr!” suara pecahannya menggelegar.
Lapisan demi lapisan runtuh—kedua, ketiga... hingga akhirnya yang ketujuh pun pecah!
"Cepat lari!" Kendasi kembali berteriak, bersiap kabur.
Namun terlambat.
"Duarrrg!!"
Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Asap putih tebal menyelimuti area, lalu perlahan memudar—menampakkan mereka semua terkapar di kawah besar.
"Sial...!" desis Kendasi tertatih, merayap keluar dari kawah dengan napas terengah dan tubuh penuh luka bakar. Pakaiannya sobek di banyak tempat.
Azura muncul di depan mereka "aku bisa saja membunuh kalian!.tapi sepertinya kalian akan berguna nantinya?"ucap azura dengan santai menyilangkan tangannya "bunuh saja kami,aku tidak sudi kau hina! "ucap kendasi berteriak marah menatap azura tajam dengan aura kebencian sangat besar
Azura menunduk sedikit, memandang Kendasi yang tersungkur di tanah, lalu tertawa pelan.
"Kau lucu... Dalam keadaan sekarat begini, masih berani melawan."
Ia berjalan perlahan mendekati Kendasi, aura hitam pekat mengalir dari tubuhnya, membuat tanah di sekitarnya retak.
"Tapi justru itu yang membuat kalian menarik."
Azura berjongkok di depan Kendasi, menatap langsung ke matanya.
"Dendam... kebencian... rasa ingin membalas. Itu semua bisa kupakai."
Kendasi mencoba bangkit, tapi tubuhnya sudah tak sanggup. Lasmi di belakangnya hanya bisa menggertakkan gigi, darah mengalir dari pelipisnya.
"Kau monster...!" desis Lasmi.
"Bukan monster," sahut Azura cepat. "Aku adalah hasil dari semua pengkhianatan dan keserakahan kalian."
Ia lalu berdiri, mengangkat satu tangan ke atas. Rantai cahaya hitam muncul dari udara, melingkari tubuh para sahyang yang terluka, membatasi gerakan mereka.
"Kalian milikku sekarang. Kalian pasti akan berguna untuk Kenzo nantinya."
Di sisi lain medan perang, terlihat sosok wanita yang terluka parah. Darah hitam membasahi wajahnya. Ternyata sosok tersebut adalah Blorong yang terluka parah dikeroyok Srini, Gwandra, dan Maya bersamaan.
Ternyata pertarungan mereka masih berlanjut walaupun di bagian tempat lainnya.
"Kau akan berakhir di sini, ular licik!" ucap Srini, melesat melepaskan api merah pekat dari pedangnya yang langsung menebas Blorong. Blorong berusaha menghindar, tapi terlambat; dari samping, terlihat Maya muncul dan melesatkan kain kafannya, mengikat kaki Blorong. Kaki kanan Blorong tersangkut dan membatasi pergerakannya, lalu dihantam Gwandra dengan tinju besar ke perut Blorong.
"Duagrhh!" Sebuah cairan hitam pekat keluar dari mulut Blorong yang langsung tersungkur berlutut. Tidak ada lagi tatapan kesombongan ataupun dominasi di mata Blorong. Semuanya sirna, entah ke mana. Dan satu hal yang Blorong tahu, dia tidak akan bisa hidup hari ini.
Blorong tersungkur, tubuhnya gemetar hebat. Nafasnya tersengal, darah hitam terus menetes dari mulut dan lukanya. Suara desis ular yang biasa mengiringi langkahnya kini tak terdengar lagi. Dunia seolah hening.
"Aku... ratu ular... tak mungkin... kalah oleh kalian...!" ucapnya lirih, penuh luka, tapi matanya masih mencoba melawan.
Srini berdiri di depannya, menatap tanpa ampun. "kekuatanmu tak akan bisa mengalahkan kami blorong."
Maya mendekat, wajahnya serius. "Kau pikir bisa membunuh kami dan memenangkan peperangan ini?, kau salah besar!"
Blorong tertawa pelan, tapi batuk darah lagi. "Aku tahu... aku tak akan bisa mengalahkan kalian ... tapi sepertinya... waktuku sudah habis."
Gwandra menatap dingin. "Lalu mati sajalah sebagai ular, bukan jin."
Srini tak ragu. Dengan satu gerakan cepat, ia menebas udara dan mengarahkan api merah di pedangnya ke tubuh Blorong.
"**Burning Seal**!"
Api membungkus tubuh Blorong. Ia menjerit keras, suaranya menggema ke seluruh medan. Dalam beberapa detik, hanya sisa debu dan bau gosong yang tertinggal.
Maya menunduk pelan. "Satu selesai... tapi perang belum usai."
Srini mengangguk. "Kita harus bantu Kenzo."
feed back la yaa😍