mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32: rahasia seorang pemberontak marga wang
“Lin Xieng, kamu yakin itu arah barat laut?” tanya Lian Bo sambil menunduk menatap peta yang kini mereka salin ke lembar bambu. “Kelihatannya seperti arah barat sedikit ke... selatan atas kanan.”
“Yang kamu maksud itu barat laut, Lian Bo,” desah Chu Qingli, menahan napas panjang seolah perlu latihan pernapasan untuk bersabar. “Dan kamu membaca terbalik.”
“Oh,” Lian Bo membalikkan peta. “Pantas garis spiritualnya seperti benang kusut.”
Mereka kini berada di sebuah dataran rerumputan terbuka, dengan langit senja yang perlahan berubah menjadi malam. Di tengah-tengah perkemahan kecil yang mereka dirikan, Miao-sama meregangkan tubuhnya dengan malas, lalu duduk di atas bantal Lin Xieng.
“Hey, itu bantalku!” protes Lin Xieng.
Miao-sama hanya menjawab dengan satu kedipan lambat dan menguap seolah berkata: Bantalmu, sekarang milikku.
Chu Qingli sedang membuat teh dengan api kecil. “Besok kita akan mulai perjalanan ke titik cahaya paling terang di peta. Tapi sebelum itu, istirahat dulu.”
“Tehnya aroma apa?” tanya Lian Bo, mencium bau manis dari teko.
“Ramuan penambah ketenangan dan fokus,” jawab Chu Qingli tenang. “Campuran daun giok muda, bunga bulan, dan serpihan serbuk... tunggu, mana botol serbuk spiritualnya?”
Mereka semua menoleh ke satu arah.
Miao-sama duduk tenang dengan wajah pura-pura polos… dan bubuk spiritual menempel di kumisnya.
“Dia bikin teh sendiri?” gumam Lin Xieng tak percaya.
“Bukan teh,” jawab Chu Qingli dengan suara datar. “Itu ramuan pembesar kumis naga yang belum diformulasikan sempurna.”
Lin Xieng menyipitkan mata. “Jadi... kalau makhluk berbulu minum itu...?”
Tepat saat itu, poof!
Kumis Miao-sama tumbuh dua kali lipat dan melambai seperti bendera di puncak gunung.
Lin Xieng dan Lian Bo tak kuat—mereka tertawa sampai berguling-guling di tanah. “Kumisnya seperti dua cambuk!”
Chu Qingli memegang dahinya. “Ini kelompok pahlawan... atau sirkus keliling?”
Namun sebelum keabsurdan meningkat, Miao-sama tiba-tiba membeku, matanya melebar. Ia mengendus udara, lalu mendesis pelan.
Lin Xieng langsung serius. “Ada yang datang?”
Dari balik pepohonan, muncul seorang lelaki berjubah hitam. Matanya tertutup kain, namun langkahnya mantap dan auranya... tak biasa. Bukan tekanan kekuatan, melainkan aura kekosongan—hampa, sunyi, tapi menelan perhatian.
Lelaki itu berhenti di pinggir api unggun. “Kalian melihat peta itu.”
Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.
Chu Qingli berdiri. “Dan kau siapa?”
Lelaki itu tersenyum tipis. “Aku... seseorang yang pernah mencoba membaca peta itu dengan mata terbuka, dan kehilangan keduanya.”
Lin Xieng menegang. “Apa maksudmu?”
Ia duduk, mengambil sebongkah roti isi dan mulai memakannya dengan tenang. Tapi dari roti itu, terdengar suara kecil… seperti bisikan.
“Marga Wang... ah itu adalah penguasa dan pemberontak pada masa nya tidak tahu sekarang ia di mana…”
Lin Xieng refleks berdiri. “Suara itu lagi! Kau tahu tentang marga Wang?”
Lelaki buta itu mengangguk pelan. “Kalian telah membuka pintu lama yang seharusnya tetap terkunci. Dan sekarang... kalian sudah diikuti.”
Lian Bo langsung menarik pedangnya. “Diikuti oleh siapa?!”
Namun lelaki itu tak menjawab. Ia berdiri dan berkata lirih, “Jangan pergi ke titik cahaya di barat laut dulu. Pergilah ke titik redup di tenggara. Di sanalah... tempat yang akan menjawab mimpi-mimpi kalian.”
“Mimpi?” tanya Chu Qingli, curiga.
Namun sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh, lelaki itu memutar tubuhnya dan berjalan pergi—menyatu dalam kegelapan.
Miao-sama mengendus-endus bekas pijakannya, lalu bersin. Mrrrff!
Lin Xieng memandang peta lagi, kini dengan kebimbangan. Dua titik yang menyala: satu terang membara, satu redup tapi... tak padam.
Ia mengepalkan tangan. “Besok, kita ganti arah. Kita ke tenggara.”
Chu Qingli mengangguk pelan. “Kalau itu kata hati nuranimu.”
“Tidak,” jawab Lin Xieng. “Itu kata Miao-sama. Dia duduk di atas titik tenggara dan mendengkur seperti gendang perang.”
Lian Bo bergumam. “Kalau kucing itu bisa memimpin kita ke takdir, haruskah aku mulai menyembahnya?”
Miao-sama meliriknya dan... melemparkan serangga mati ke arah Lian Bo.
Lin Xieng tertawa. “Dia menerima permohonanmu. Dengan persembahan.”
Langit mulai dipenuhi bintang, dan angin malam berhembus pelan. Tapi di kejauhan, cahaya biru samar tampak berkedip dari balik pegunungan tenggara...
Dan di tempat lain yang jauh, seseorang bermarga Wang—yang rela memberontak surga, demi seorang wanita
“Waktunya sudah dekat... Jalur tubuh naga dan jalur waktu akan segera bersilangan.”
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
narasi doang, membosankan