Lilis tumbuh besar bersama kawan kawannya. Tanpa keluarga, tanpa kasih sayang orang tua. Hanya beberapa teman yang selalu ada. Termasuk seorang remaja bernama Kak Nur. Yang selalu ada dan menjadi pelindungnya, walaupun takdir membuat mereka terpisah.
Lilis behasil meraih mimpi menjadi seorang kowad. Dirinya ternyata berbakat memegang senjata. Dalam kariernya dia mengenal cinta. Juga patah oleh cinta itu sendiri.
Kenapa Lilis patah? Lalu mampukah ia bangkit kembali meraih bahagia? Apakah Lilis kembali bertemu Nur lagi?
Bagi yang sudah membaca novel saya, mungkin anda sudah mengenal tokoh ini. Dalam novel ini akan ada orang yang ada kira jahat, ternyata tidak sejahat itu. Dan orang yang anda kira baik, ternyata tidak sebaik itu. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utiyem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi selesai
Pemberontak itu semakin kalang kabut saat tahu roket itu menghantam tempat persembunyian Mujito. Mereka ketakutan dan menembakkan senapan kesegala arah. Beberapa orang yang menyadari posisi roket diluncurkan langsung menem mbaki tebing tempat Herman dan Lilis bersembunyi. Herman menghalau mereka dengan mudah. Hingga tidak ada satupun yang tersisa. Lilis dan Herman berlari menjauh. Mundur dari serangan dengan senyap. Para pemberontak itu tiba di tebing saat Lilis dan Herman sudah jauh pergi.
Musuh tidak mengejar. Gelapnya malam membuat mereka kehilangan jejak Lilis dan Herman dengan cepat. Apa lagi mereka bisa bergerak dengan kaki. Sekarang tinggal menuntaskan target mereka satu per satu. Pemimpin para pemberontak itu. Kemudian pasukan lain yang menuntaskan anak buahnya dengan mudah.
Malam ternyata mencurahkan hujan lebat. Lilis dan Herman berteduh di bawah tumpukan batu besar. Beruntung mereka menemukan secuil tempat untuk berteduh. Dingin malam semakin menusuk. Tidak mungkin mereka membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Herman merapatkan duduknya pada Lilis. Baju penyamaran masih menempel pada keduanya. Tapi suara mereka pasti terendam oleh air hujan. Hingga Herman pun berani membuka suara.
"Nanti usai pulang dari sini, kau risen lah dari tentara. Aku akan menikahimu secepatnya," kata Herman yakin. Lilis terkantuk duduk di sampingnya.
"Nanti ya dipikir nanti. Tugas kita baru dimulai," jawab Lilis setengah terpejam. Herman membiarkan dirinya menjadi sandaran Lilis tertidur saat itu. Mereka memang harus gantian tidur. Mengisi esok yang akan menjadi perang mereka berdua.
"Aku mencintaimu Lis. Hanya mencintaimu," kata Herman di antara riuh suara hujan dan dingin bekunya malam itu. Lilis mendengarnya, namun ia tidak menanggapi. Tidur lebih penting saat ini.
Esok tiba. Mereka menuntaskan target dengan cepat. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Ada sniper lain selain Mujito, namun sanggup dikalahkan dengan mudah. Mereka tidak mahir bersembunyi dan tidak menutup lensa. Kilatan lensa sangat mudah membuat Lilis dan Herman mengetahui posisinya dengan cepat. Ini seperti mainan marksman untuk Herman dan Lilis. Mereka sekalian menuntaskan sniper sniper itu kalau terpaksa.
Target pimpinan diketahui bukan dari tanda kepangkatan yang mungkin terlalu kecil dilihat Herman dan Lilis. Pimpinan biasanya dilihat dari senjata yang mereka sandang. Senjata yang lebih mahal dan bagus. Beberapa dikenali dari wajah. Yang sebelumnya harus dihafal Herman dan Lilis. Mereka terus bergerilya. Berpindah dari satu target ke target lain. Berdiskusi memastikan tempat bidik terbaik.
***
Tiga hari berlalu….
Sekarang tinggal satu target. Herman sudah melaporkan kepada pusat tentang kesuksesan mereka. Tinggal satu target dan mereka mundur menuju titik jemput. Pasukan lain bersiap menyerang. Hujan masih setia membasahi mereka. Jarak pandang Herman sedikit terganggu.
"Angin?" bisik Herman pada Lilis. Target terlihat di depan sana.
"Xx,xx per knot," jawab Lilis yang mengukurnya. Herman mulai membidik. Sekali tembak target tumbang. Akan tetapi sebuah pel luru juga melesat menembus tengah tengah mereka. Pel luru dari sniper lawan yang masih tersisa. Posisi mereka di ketahui! Lilis dan Herman akan kabur, tetapi satu pell luru melesat lagi. Kali ini pel luru itu memantul dari pohon dan mengenai betis Herman. Pria itu tumbang. Lilis susah payah menyeretnya ke tempat aman. Sambil menghindari hujan pel luru. Lilis berbalik saat Herman sudah terlindungi bebatuan. Memasang SPR-2 Herman dan mulai membidik sniper itu. Tembakan terdengar. Sniper lawan tumbang lagi. Saat itu juga beberapa heli datang. Herman sudah melapor. Teman teman mereka menyerbu dengan cepat.
"Tinggalkan aku," kata Herman. Dar rah sudah rembes dari betisnya. Lilis tidak peduli. Dia terus menyeret tubuh Herman mencari tempat aman yang agak jauh. Gadis itu tentu saja kepayahan. Tubuh besar Herman bukan untuk tenaga perempuan. Lilis memeriksa luka Herman. Tem mbakan dan ledakan terdengar. Perang didepan sana sungguh sangat mengerikan di dengar orang sipil. Pel luru di kaki Herman belum terlalu dalam. Lilis mengambil gunting kukunya.
"Tidak…. Tidak…" kata Herman pasrah dan takut. Lilis menancapkan gunting kecil itu. Mengambil pel luru dari kaki Herman. Pria itu mengerang sejadi jadinya.
"Kau psikopat Sayang," kata Herman sambil terengah engah. Pel luru sudah berhasil diambil. Lilis tersenyum dan memberikan Herman minum.
"Lebih baik daripada peluru itu sampai di tulangmu," kata Lilis. Mereka menanggalkan segala penyamaran. Juga beberapa barang tidak penting. Sekarang mereka harus sampai di titik jemput secepatnya.
***
Lilis terus menyeret tubuh Herman. Akar tali pohon membelit dada perwira itu. Lilis sendiri sudah sempoyongan berjalan. Untuk memapah tubuh Herman yang luar biasa besar sungguh tidak mampu. Sedang mereka harus sampai pada titik jemput. Titik aman dimana helikopter bisa mendarat. Tubuh Herman sudah demam. Mukanya pucat luar biasa. Pria itu setengah tertidur setengah sadar. Lilis menampar mukanya. Sorot khawatir memenuhi matanya. Pula dengan setitik air mata.
"Sadar Kom. Jangan tertidur!!" bentak Lilis pada Herman.
"Aku mencintaimu Lis, aku mencintaimu," rancu Herman membuat air mata Lilis makin leleh. Mata Herman tertutup lagi. Lilis menamparnya lagi.
"Kalau mencintaiku kau harus buka matamu!!! Sadar!!! Kau berjanji menikahiku Kak!!" kata Lilis tumbang di dada Herman. Tenaganya Habis. Pula dengan hatinya. Lilis tidak mau pria yang dicintainya mati disini.
"Kau…. Cinta aku Lis?" tanya Herman lirih. Lilis mengangguk di dadanya. Herman tersenyum. Menghembuskan nafasnya. Mengacak rambut cepak Lilis yang masih nyaman di dadanya.
"Ayo bangkit! Kita hampir sampai titik jemput. Bawa mempelai priamu," kata Herman lelah, tapi senyum terukur dari wajahnya. Lilis bangkit dari dada Herman. Mengusap wajah hitam milik kekasihnya. Mengusap bibir Herman dengan jarinya. Mengecup bibir itu sekejap. Herman tersenyum tambah lebar. Dia merayap dengan kedua tangannya. Menyanyikan yel yel ketentaraan dengan lantang. Lilis ikut bernyanyi sambil menyeret tubuh Herman. Kini sedikit ringan karena pria itu membantu dengan tangannya. Tenaga mereka sudah sama sama habis. Rasanya bernafas saja lelah. Tapi kekuatan cinta masih menggelora. Memantikkan semangat baru untuk mereka.
Mereka sampai titik jemput. Herman langsung dirawat. Mereka terbang dengan heli. Pujian dari rekan mereka mengalir deras. Sudah ada pasukan lain yang menyerbu. Dengan mat tinya pimpinan musuh, mereka sudah lemah. Pasukan mereka terbelah. Semoga pemberontak itu musna. Dan keutuhan negara ini bisa terwujud.
Herman ditunggu ambulan di barak terdekat. Sedang Lilis langsung di panggil atasan.
"Lilis!!!! Aku mencintaimu!!!! Ingat janjimu menikah denganku!!!" teriak Herman dari atas tandunya. Membuat semua orang di sana tersenyum. Termasuk Lilis. Gadis itu berbalik menepuk lengan komandan hatinya.
"Sembuh lah dulu, lalu penuhi janjimu," kata Lilis kemudian berlalu. Menemui atasannya.
Setelah pujian beberapa saat, atasannya menurunkan surat tugas baru saat itu juga. Lilis sampai terbengong tidak percaya. Secepat ini? Lilis mengamati lagi surat tugasnya. Pasukan perdamaian di negara Xxx. Negara yang baru saja menghadapi konflik perang saudara. Jaraknya belasan jam dari sini dengan pesawat. Lilis diminta berkemas saat itu juga. Meninggalkan Herman tanpa ucapan selamat tinggal.
maklum y thoor masih terbiasa bca yg happy ending.
Nah, ws thor... aku promosikan lagi tuh