Sequel Nafkah 20 Juta Sehari.
Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis cantik bernama Emily selama terpisah dengan orang tua kandungnya.
Edward tak pernah mengira, jika dia akan jatuh cinta pada seorang gadis yang dibawa pulang ke rumah oleh kedua orang tuanya 10 tahun yang lalu.
Gadis itu bahkan telah mencuri semua perhatian kedua orang tuanya, hingga ia merasa terasingkan dalam keluarganya sendiri.
Namun setelah dewasa Edward malah jatuh hati pada adik angkatnya sendiri.
Akankah hubungan Edward dan Emily mendapat restu dari kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian kecil
"Mana mungkin saya memarahi diri saya sendiri, hanya orang tak waras saja yang akan melakukan itu"
Ujar Pria itu.
"M-maksudnya?"
Emily masih tidak mengerti maksud dari perkataan pria itu.
Sampai akhirnya Gadis itu melihat sebuah foto seorang pria sedang merangkul seorang Wanita tua di pajang di atas meja pak Nicko.
Wajah Pria itu sama persis dengan pria yang ada di hadapan Emily.
"Jangan bilang kalau kamu adalah pak Nicko?"
Tebak Emily sembari menatap lekat pada pria itu.
Karna pak Nicko yang ada di bayangan Emily adalah seorang pria tua seumuran Papanya. Sedangkan pria di hadapannya masih sangat muda, usianya pasti tak jauh dari Edward.
"Maaf sekali jika tidak sesuai dengan harapanmu, tapi sayangnya saya memang Nickolas lee"
Jawab Nicko sembari mengulum senyumnya.
Deg!
Sikap santai Emily seketika berubah jadi tegang. Ia menepuk kepalanya sendiri karna mengingat perkataan-perkataan konyolnya tentang perusahaan ini pada pria itu sebelumnya.
Mana gadis itu tahu, kalau ternyata Pria itu adalah pak Nicko. CEO di kantor Giant grup tempatnya magang. Kalau dia tahu pasti Ia akan menjaga ucapannya sedari tadi.
"Maaf pak Nicko, saya benar-benar tidak tahu kalau anda CEO di kantor ini"
Ucap Emily sembari membungkukan badannya untuk memberi hormat pada Nicko.
"Tidak usah sungkan seperti itu, saya mengenal Papamu dengan baik. Beliau telah memintaku untuk memperlakukan kamu dengan baik selama kamu magang di kantor ini, jadi bersikaplah seperti biasa agar kau merasa nyaman dan betah selama magang di kantor ini"
Jelas Nicko panjang lebar. Entah kenapa Emily malah merasa tersindir mendengar ucapan Nicko barusan.
Emily bukanlah gadis manja yang akan mengunakan nama besar Papanya untuk mempermudah segala urusannya.
"J-jadi anda mengenal Papa saya?"
Tanya Emily tergugup.
"Tentu saja, Beliau adalah partner bisnisku"
Jawab Nicko apa adanya.
Begitu tahu Emily magang di kantor Louise grup. Petter langsung menghubungi Nicko. Petter mengenal Nicko dengan baik, jadi tanpa rasa sungkan Pria paruh baya itu meminta Nicko agar menjaga putrinya dengan baik selama Putrinya magang di kantor tersebut.
"Maaf atas sikap lancang saya sebelumnya. Kalau begitu saya permisi dulu"
Pamit gadis itu. Sembari membungkukan badannya sebelum beranjak pergi.
"Tunggu!"
Titah Nicko saat Emily sudah memutar badannya dan bersiap untuk melangkah pergi.
"Ada apa pak Nicko? Apa ada yang bisa saya bantu?"
Tanya Emily setelah memutar badannya kembali.
"Bantu saya untuk memeriksa semua berkas-berkas ini"
Titah Nicko pada Emily.
"S-saya?" Emily menunjuk dirinya sendiri dengan ragu. Karna Ia pikir, tugasnya hanya mengantar berkas-berkas itu saja. Bukan memeriksanya juga.
"Tapi saya tidak mengeri apa-apa pak Nicko. Saya cuma mahasiswi magang dan ini hari pertamaku bekerja di kantor ini"
Ucap gadis itu. Bukannya tidak mau membantu, tapi Emily takut membuat kesalahan.
"Tidak apa, aku akan mengajarimu"
Balas Nicko dengan senyumnya yang tipis.
***
"Bagaimana menurutmu? Apa design ini cocok untuk gedung baru kantor cabang kita"
Tanya Nicko sembari memperlihatkan beberapa design gambar pada Emily.
"Bagus Pak, saya suka. sangat menarik."
Jawab Emily namun pandangannya tidak fokus menatap gambar-gambar design bangunan itu.
Gadis itu malah lebih tertarik untuk menatap jarum jam yang ada di tangannya.
Sudah lebih dari 2 jam Emily berada di ruangan pak Nicko.
Dan ini sudah lewat dari jam makan siang. Ia memiiki janji untuk makan siang bersama Edward. Tapi sekarang Ia masih terjebak diruangan CEO muda itu.
"Pasti kakak sudah menunggu aku sekarang?" Tanya Emily dalam hatinya.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit?"
Nicko bisa melihat kegelisahan di wajah gadis itu.
"M-maaf pak? Ini sedah lewat jam makan siang dan waktu kerja saya sudah habis. Apa boleh saya izin pulang sekarang?"
Emily memberanikan diri untuk bicara.
"Astaga, maaf saya sampai lupa kalau kamu itu mahasiswi magang di kantor ini."
Peraturan Untuk mahasiswa magang di kantor itu adalah, bekerja selama setengah hari saja. Dan berkerjanya juga tidak full setiap hari, hanya 3 hari dalam seminggu.
"Kamu juga pasti sudah laparkan? Mau ikut makan siang bersamaku?"
Ajak Nicko. Namun gadis itu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Maaf tidak bisa pak Nicko, saya sudah memiliki janji makan siang dengan orang lain"
Emily menolak ajakan dari Nicko, karna memang gadis itu sudah memiliki janji dengan Edward.
"Baiklah. Kamu boleh pergi sekarang, tapi lain kali jangan menolak ajakanku. Kamu harus mau menemaniku makan siang. Ok!"
Ucap Nicko dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Baiklah lain kali kita pasti akan makan siang bersama"
Emily menyetujui permintaan Nicko, agar Ia bisa pergi secepatnya dari ruangan itu.
"Saya permisi"
Emily membungkukan badannya ke arah Nicko, kemudian pergi meninggalkan ruangan CEO muda itu.
***
***
"Terima kasih Pak! Kembaliannya simpan saja "
Ucap Emily setelah memberikan ongkos pada seorang supir taksi online, gadis itu langsung bergegas menuju restoran untuk menemui kak Edwardnya.
"Terima kasih Non" Jawab supir taksi itu sumringah.
Dengan tergesa Emily berlari menuju restoran tempatnya membuat janji makan siang bersama Edward.
"Apa Kak Edward masih menungguku? Atau dia sudah pergi karna terlalu lama menunggu?"
Emily mengedarkan pandangannya mengitari seisi restoran itu untuk mencari keberadaan Edward.
"Kak Edward, Maaf aku terlambat"
Ucap Gadis itu setelah berhasil menemukan Edward.
"Hem...Makanlah, semuanya sudah aku pesan untukmu. Aku ada jadwal operasi sebentar lagi, jadi tidak bisa menemanimu lebih lama lagi"
Jawab Edward dengan wajah dinginnya.
Edward memang nemiliki jadwal operasi yang akan berlangsung 30 menit lagi. Namun Ia tidak bisa pergi begitu saja sebelum bertemu dengan Emily.
"Makanlah, jangan sampai kau sakit karna terlambat makan"
Peringati Edward, sembari membenarkan anakan rambut Emily yang sedikit berantakan akibat lari-lari barusan.
Perhatian kecil seperti itu, cukup membuat perasan Emily berbunga-bunga.
Cup
"Aku pergi sekarang"
Usai mencium kening Emily, pria itupun beranjak pergi.
"T-tapi kak?!"
Emily mencoba menahan langkah Edward, tapi pria itu berlalu begitu cepat.
"Pasti Kak Edward juga belum makan siang"
Ucap Emily kala melihat makanan-makanan di meja itu masih utuh. Bahkan piring Edward juga terlihat masih bersih seperti belum di gunakan sama sekali.
"Mbak. tolong semua makanan ini di bungkus saja ya"
Pinta Emily pada seorang pelayan di restoran itu.
Ia memutuskan untuk menyusul Edward ke rumah sakit tempatnya bekerja dan makan siang bersama disana.
Emily sangat mengenal Edward dengan baik, Pria itu tidak akan mau makan apapun saat suasana hatinya sedang kesal.