Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU DAN KAMU
Ranti mengkonfirmasi pertemanan akunku. Aku melonjak kegirangan membuat Jabrik yang juga tengah sibuk dengan hapenya ikut kaget karena teriakanku.
Akhirnya, setelah 5 hari aku meminta pertemanan dengannya. Ranti meresponku juga.
Kuberanikan diri menchat-nya via inbox. Jantungku berdebar melihat notice kalau ia sedang online.
**Ranti,.. apa kabar? Ini aku, Dika
Iya mas, alhamdulillah kabarku baik. Gimana kabarmu, mas?
Alhamdulillah, aku juga baik. Bagaimana kabar Jingga?
Jingga juga sehat mas**!
Aku senang sekali, langsung direspon chatan-ku. Bagai ABG yang tengah memulai obrolan dengan lawan jenis, aku grogi dan tak bisa diam.
**Ranti.... Bolehkah aku menemuimu? Menemui anak kita?
Kamu sudah.... (kamu faham khan maksudku)
Iya. Aku sudah bebas lima hari yang lalu.
Kamu sekarang tinggal dimana, mas?
Aku tinggal dirumah teman didaerah Gunung Sahari. Kalau kamu ga ada kesibukan, mau khan kita ketemuan? Terserah kamu yang pilih tempatnya. Gimana?
Oke. Aku kabari kamu lagi ya, untuk waktu dan tempat.
Bolehkah aku minta nomor hp-mu?
0878 8778 ****
Terima kasih. Aku save ya, nanti ku misscall biar bisa kamu simpan nomorku.
Iya**.
Aku terharu. Senang sekaligus sedih.
Ranti! Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Aku rindu kamu, rindu Jingga juga. Dua tahun kurang aku tak pernah melihatmu dan anak kita. Semoga kamu juga rindu aku, sayang! Aku akan menunggu kamu mencarikan kita waktu untuk bertemu.
Aku langsung menelponnya. Agak lama Ranti baru menjawabnya.
"**Ranti! Aku ga ganggu khan?"
"Sebenarnya Jingga mau bobo, mas! Pengen didongengin dulu sebelum tidur!"
"Sekarang Jingga sudah tidur?"
"Belum."
"Boleh aku video call kamu? Aku kangen Jingga. Juga kamu."
"Nanti saja ya, mas? Maaf... Kita ketemuan aja. Sekarang aku ga bisa video call sama kamu. Mohon mengerti!"
"Iya. Aku ngerti. Maaf, kalau terkesan maksa. Maafin aku ya!"
"Ga papa. Aku faham, kamu pasti rindu Jingga. Dia sekarang sudah besar, sudah 4 tahun. Kalo mau apa-apa harus diturutin. Suka ngambekan! Nanti kamu bisa liat sendiri langsung."
"Hehehehe... Aku makin kangen jadinya!"
"Udah ya mas, Jingga nangis minta susu. Assalamualaikuum...!"
"Walaikumsalam**!"
Hhhh.... Aku menarik nafas lega. Mengingat betapa merdunya suara Ranti. Membuat imajinasiku tinggi melayang.
Ranti... Rindukah kau padaku? Pada suamimu yang hina ini? Ranti.... Sampai kapanpun kamulah wanita istimewa dihatiku ini. Walaupun ada Vika juga, tapi tetap kamu yang teristimewa. Andaikan Allah tak memberiku cobaan seorang 'Vika'...., mungkin seumur hidupku hanya akan menatap dirimu saja. Karena hanya kamu satu-satunya wanita dihidupku dikala aku susah.
Aku lelaki yang telah matang, tapi tidak berani dan tidak percaya diri untuk memulai melakukan suatu komitmen hubungan dengan lawan jenis ketika bujang. Aku ini lelaki minderan. Karena rata-rata perempuan baik itu teman maupun perempuan yang baru kukenal, mereka memandangku sebelah mata karena aku miskin. Wajahku biasa saja. Aku juga tidak pandai berkomunikasi apalagi berkata manis pada perempuan. Jadi tak ada yang bisa kubanggakan. Itu sebabnya aku selalu takut untuk maju memulai suatu hubungan dengan perempuan.
Hingga kamu datang, menerima kekuranganku. Memberiku perhatian lebih dari sekedar teman. Memotivasiku untuk lebih semangat dan maju didunia usaha. Bahkan kamu juga yang membuat aku percaya diri hingga mampu melesat menjadi lelaki hebat ditempat kita bekerja. Aku meraih cita-cita dan impianku berkat kamu, Ranti! Karena ada kamu disisiku. Yang selalu setia mendukung dan mensupport aku.
Aku akhirnya memberanikan diri menyuntingmu diusiaku yang tidak muda lagi. 32 tahun. Waktu itu aku masih miskin karena keuanganku nol karena terfokus untuk menyelesaikan sekolah strata 2 ku sambil bekerja. Kamu tetap menerimaku meski aku tak bisa menjanjikan kebahagiaan padamu. Ranti...... !!!
Aku menarik nafas panjang mengingat masa-masa itu.
Keesokannya Ranti mengabariku pesan via wa kalau ia bisa bertemu lusa di jam makan siang di sebuah kedai kopi di Pasar Baru.
Aku senang sekali. Aku sangat menantikan momen itu. Pertemuan yang begitu kutunggu-tunggu.
Aku akan minta izin pada boss Akung agar bisa bekerja setengah hari esok lusa. Tapi sayang, boss malah marah padaku. Mengatakan kalau aku ini orang yang tidak tahu diri. Dikasih hati minta jantung.
Dia bilang, aku kerja cuma buruh harian lepas. Tidak boleh seenak dengkulku izin wara-wiri disaat kerjaan menumpuk. Lagipula, aku hanya dibutuhkan sampai akhir minggu saja. Karena saat ini sedang banyak pesanan dan menumpukknya kerjaan.
Akhirnya aku mengalah. Kuberitahu Ranti secepatnya kalau kita terpaksa menunda pertemuan. Ranti hanya menjawab singkat dengan kata 'iya' saja.
Aku sedih. Ranti pasti kecewa dan marah karena aku membatalkan pertemuan itu. Apa mau dikata. Aku tak bisa menemuinya karena terikat kerja dengan boss Akung.
Ternyata Allah masih belum mengizinkan pertemuan kami. Hhh.... !!
"Pak Dika?" Aku terkejut menoleh pada suara perempuan yang memanggil namaku.
"Bu Rosa?" Ternyata perempuan itu adalah teman kantorku dulu. Ia juga teman seangkatan kuliahku. Kami sama-sama memulai karier dari bawah di tempat kami bekerja dulu.
"Pak Dika sedang apa disini?" tanyanya membuatku tersenyum kecut.
"Saya lagi bekerja, bu!"
"Bisa kita ngobrol?"
Aku menoleh ke boss. Berusaha meminta izinnya lewat tatapan mata.
"Koh, saya pinjam karyawannya sebentar ya? Gajinya biar saya yang bayar hari ini!" Bu Rosa mengajukan usul membuat bosku mengacungkan jempolnya dengan senyum dikulum. Dasar!
Kami pergi ke cafe sekitar Jembatan Merah. Ditemani masing-masing cappucino dan ceik keju. Aku hanya menunduk melihat bu Rosa memandangku kuatir.
"Dika, kenapa kamu ga hubungi pak Anjar, Dirut kita? Kenapa kamu lebih memilih pekerjaan kasar ketimbang kembali ke perusahaan?" Rosa memberondongku dengan pertanyaan.
"Bukannya aku sudah dipecat secara tidak hormat, Ros? Mana punya muka, aku untuk sekedar say hallo apalagi mendatangi pak Anjar secara pribadi."
"Kamu ini ya...!? Kamu khan tahu, kalau pak Anjar itu selalu menomorsatukan kamu. Bahkan aku ingat kata-katanya dulu, andai saja kalau Dika itulah yang jadi darah dagingku. Aku akan angkat tangannya dan menjunjungnya kemana-mana. Bahkan diforum rapat para pemegang saham, beliau paling keras menentang keputusan memecatmu itu. Kamu tahu, setahun belakangan ini perusahaan goncang. Pak Anjar sepertinya akan mundur dari jabatannya dan menjual sebagian sahamnya. Itu yang kudengar."
"Aku ikut prihatin, Rosa!"
"Datanglah kekediamannya di Serpong, Dik! Kalau mau, hubungi aku. Aku antar sekalian! Kamu harus ingat, titel magister-mu dibiayai sepenuhnya oleh pak Anjar. Nomorku masih yang dulu. Hubungi aku, oke?"
"Aku malu, Rosa! Aku mantan narapidana. Bagaimana pandangan orang kantor nanti, terlebih lagi pak Anjar!"
"Hei, itu kasus pribadimu. Itu diluar kinerjamu dikantor yang dinilai sukses dengan ide-ide brilian. Jujur, aku jenuh kerja sekarang karena tidak termotivasi untuk menyalib jabatanmu."
"Hapeku yang lalu disita polisi. Sekarang aku sama sekali ga punya nomor orang-orang terdekat termasuk kamu!"
"Ya udah, mana handphone mu? Sini!"
Rosa seusia denganku dan memulai perjalanan kariernya bareng aku. Diluar pekerjaan, kami biasa menyapa satu sama lain dengan nama masing-masing. Ia layaknya sahabat kadang musuh karena kami berlomba merebut perhatian para atasan terlebih Dirut kami.
Biar bagaimanapun aku berterima kasih pada Rosa. Baru dia teman yang saat ini berpihak padaku. Sedikit meningkat kepercayaan diriku. Apakah aku menuruti semua katanya untuk menemui pak Anjar? Aku berfikir cukup lama.
"Fikirkan baik-baik! Usiamu juga bukan usia yang wajar untuk melanglang buana mencari pengalaman kerja. Lagipula, kamu tidak ingin kembali kekehidupanmu yang dulu bersama Ranti? Bangkitlah! Kamu benar-benar tidak cocok jika berkecimpung didunia politik. Mentalmu mental tempe, cepat ngedown hanya karena batu sandungan!"
Aku hanya tersenyum ketir mendengar ucapan Rosa.
Kamipun berpisah setelah urusannya dengan persablonan tempatku kerja selesai.
"Hei, Dik! Hebat lu bisa kenal bu Rosa! Itu orang hebat tau!" boss Akung menepuk pundakku.
"Beliau mantan boss saya, boss!"
"Lha? Napa lu sekarang malah kerja kasar macam beginian daripada jadi anak buahnye? Jangan-jangan lu dipecat gara-gara korupsi ye?"
"Si boss nih,... saya mah takut makan duit orang. Duit sendiri aja ga pernah saya makan. Soalnya saya cuma makan nasi, boss!"
Semua karyawan tertawa mendengar celetukanku. Bos hanya memukul bahuku cukup keras. Aku kembali lagi sibuk dengan mesin sablon dan bahan-bahan kaos serta cat kanvas.
Aku sepertinya harus memikirkan perkataan Rosa yang terakhir. Aku harus bisa kembali fight. Kembali menjalani hidup bahagia bersama Ranti. Sementara Vika masih terikat kontrak kerja di Singapura. Aku hanya harus berfokus pada keluargaku. Mungkin jika posisiku kembali seperti dulu, kemungkinan besar Ranti mau kembali kepelukanku. Dan untuk urusan Vika, untuk saat ini bisa kusingkirkan.
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..