Dalam perkawinan ada dua pihak yang sama-sama berperan hingga terjadinya perceraian, sehingga untuk rujuk pun niat harus datang dari kedua pihak. Keduanya juga harus mau melakukan usaha yang sama besar untuk memperbaiki hubungan yang pernah cidera. Kondisi inilah yang dirasakan Zaid Syahputra dan Erina Listyana. Menikah dan mempertahankan biduk rumah tangga, nyatanya pernikahan mereka hanya bertahan lima tahun saja.
Namun, suatu hari karena peristiwa yang menimpa putra semata wayangnya yaitu Raka Syahputra, akhirnya Zaid dan Erina memutuskan untuk rujuk kembali dengan syarat yang diteken bersama.
"Rujuklah denganku, Rina ... untuk Raka, anak kita. Sebab, di dalam perceraian ini, dialah yang paling menderita."
Benarkah rujuk hanya akan terjadi untuk memastikan kondisi Raka tetap baik-baik saja. Atau mau dibawa ke mana akhirnya rumah tangga Zaid dan Erina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dampak Buruk Menakut-nakuti Anak
Kali ini Zaid meminta Erina untuk memahami dampak buruk dari pola pengasuhnya kepada Raka. Zaid sepenuhnya memahami bahwa niatnya baik. Akan tetapi, menakut-nakuti anak tidak selamanya baik. Terlebih Raka sendiri sudah menemukan respons yang cukup ekstrem yaitu dia takut karena berpikir Mamanya akan pergi dari rumah, tidak akan tinggal bersamanya lagi.
"Please, Rin ... jangan menakut-nakuti Raka dengan hal seperti itu. Apa yang dia tunjukkan sebagai respons alamiah itu sangat tidak baik untuk mental. Mungkin beberapa orang abai dengan kesehatan mental, termasuk mental anak. Akan tetapi, kita orang tuanya tidak boleh abai," balas Zaid.
Mendengar apa yang baru saja Zaid katakan, Erina tampak menundukkan kepalanya. Rasanya memang dia merasa terlalu berlebihan menakut-nakuti Raka. Walau sebenarnya niatannya juga baik. Sama seperti yang pernah Zaid katakan barusan Harum Manis memang terbuat dari gula dan pewarna makanan, jika terlalu banyak memakannya bisa menyebabkan batuk. Bentuk hubungan logis seperti inilah yang harus orang tua jelaskan kepada anak.
"Apa menurutmu Raka nakal?" Zaid kini menatap Erina dan bertanya kepada istrinya itu.
Dengan cepat Erina menggelengkan kepalanya. "Tidak, Raka tidak nakal," balasnya.
"Namun, kamu berkali-kali pastilah mendengar bahwa dia mau Mamanya pulang ke rumah dan berjanji tidak akan nakal. Raka adalah anak yang baik, Erin. Dia tidak pernah nakal sama sekali," balas Zaid.
Kini memang Erina seolah sedang melakukan instropeksi diri. Memahami apa yang baru saja disampaikan Zaid kepadanya. Walau memang sebenarnya Erina di satu sisi sedang mengeraskan hatinya sendiri.
"Jika benar kamu mau melarang Raka, sampaikan hubungan yang logis. Jangan sampai Raka kita menjadi anak yang penakut, tidak percaya diri, dana kecemasan karena selalu tidak bisa melakukan apa yang dia mau. Lebih parahnya ketika Raka dewasa nanti, mungkin saja dia tidak berani untuk mengambil keputusan," balas Zaid.
Sebenarnya sejak memutuskan bercerai dengan Erina dulu, Zaid banyak menghabiskan waktu untuk instropeksi diri. Bahkan di waktu senggang dia habiskan untuk membaca materi parenting. Sebab, Zaid pun ingin memperbaiki diri dan juga ingin mengakomodir kebutuhan Raka.
Akan tetapi, ada kalanya rencana tak sebanding dengan harapan. Kecelakaan Raka dan hilangnya ingatan Raka perihal perceraiannya dengan Erina, membuat Zaid kembali rujuk dengan Erina. Namun, upaya rujuk pun rasanya juga berat untuk keduanya, terlebih Erina.
"Kita sama-sama belajar, Erin. Aku akui selama ini waktuku banyak untuk bisnis dan mengembangkan cabang kafe. Namun, aku berusaha memperbaiki diri supaya aku lebih memahami Raka dan kebutuhannya. Aku berusaha menjadi Ayah yang sempurna di mata Raka, walau pada kenyataannya aku pun jatuh bangun."
Tidak dipungkiri bahwa setiap orang tua ingin menjadi figur terbaik untuk anak-anaknya. Begitu juga dengan Zaid. Walau merasa ditolak oleh Raka lantaran suapannya dinilai tidak enak, dan juga merasa yang Raka butuhkan adalah Mamanya. Akan tetapi, Zaid tak menyerah. Dia mau beradaptasi dengan keadaan. Bukan Raka yang harus menyesuaikan diri dengannya. Melainkan dia yang mau dan harus menyesuaikan diri dengan Raka.
"Jangan sampai Raka kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Jika memang makan Harum Manis, katakan saja nanti kalau kebanyakan bisa batuk. Oleh karena itu, boleh beli dan makan sedikit saja. Tidak harus dihabiskan," balas Zaid.
Cukup lama Zaid berbicara di sana, sementara Erina mendengarkan apa yang disampaikan oleh Zaid. Kini, Erina menyadari bahwa caranya untuk menyampaikan sesuatu itu salah. Sehingga respons yang ditunjukkan oleh Raka adalah bentuk ketakutan.
"Maaf," balas Erina pada akhirnya.
"Tidak apa-apa, Rin. Kita sama-sama belajar untuk Raka. Jika bukan orang tuanya, siapa lagi? Dia sangat membutuhkan kita," balas Zaid.
Erina yang mendengarkan Zaid pun mendapatkan wawasan baru. Tidak ada salahnya terlambat melakukan instropeksi diri. Yang penting ketika tahu letak kesalahan adalah mau minta maaf dan memperbaiki sikap untuk bisa terus melakukan yang terbaik.
"Thanks, Rin ... semoga kita berdua bisa kompak untuk Raka," balasnya.
Lebih di atas egonya sendiri. Zaid menyadari bahwa memang dia dan Erina harus kompak untuk Raka. Jika menerapkan pola pengasuhan yang baik, anak akan bertumbuh dan berkembang dengan baik pula.