Di kehidupan keduanya Melvin diberikan sebuah bonus oleh dewi, tak hanya dikirim ke dunia lain dia juga diberikan status tinggi untuk menjalani kehidupan barunya, menjadi petualang lalu bersantai setiap saat dengan uang sedikit adalah keinginannya.
Sayangnya semua itu sesuatu yang lebih sulit dibandingkan melawan raja iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 : Seekor Peri Kegelapan
Sementara para gadis berkumpul. Aku duduk selagi bersandar di pohon, aku yakin bahwa mereka sudah tertidur namun Claudia berdiri di depanku tersenyum bangga.
"Apa yang kau inginkan nona pedagang?"
"Aku ingin memberikan hadiah untukmu."
"Lupakan saja aku sudah cukup dengan uangmu, dan sepertinya kotak yang kau sodorkan sangat berbahaya."
Claudia mengembungkan pipinya.
"Apanya yang berbahaya, kau tahu, kotak ini bahkan sangat diinginkan para pahlawan.. mereka bahkan berusaha untuk mendekatiku dan menawar dengan harga fantastis."
Mendengar nama pahlawan membuat tenggorokanku mengering karena mual.
"Kau sepertinya tidak suka pahlawan, wajar juga sih kelakuan mereka memang bertolak belakang dengan gelar mereka."
"Jadi apa yang harus kulakukan jika menerima kotak ini?" tanyaku skeptis.
"Kau sangat peka, apa kau memiliki jiwa pedagang? Bukan, lebih tepatnya kau memang seorang pedagang juga, kau juga mampu menyuruh bangsawan Duke mengembangkan wilayah kota Isbel dan desa kucing."
Sepertinya dia tahu dari rekanku, Noa pasti orang yang dengan mudah menceritakan apapun hanya dengan sogokan.
Atas diriku yang tersenyum masam, gadis pintar ini melanjutkan.
"Belum ada orang yang mampu membuka kotaknya tapi kurasa kau bisa melakukannya.. yah jika kau menerima kotak ini, aku ingin kau memiliki hubungan baik denganku sebagai rekan bisnis."
"Aku bisa merebut posisi pertamamu loh."
"Itu tidak masalah, dibandingkan jadi musuh aku lebih ingin bisa beriringan bersama orang yang kuat."
Orang ini memang terlahir sebagai pedagang.
Claudia duduk di sebelahku sementara aku berusaha memeriksa kotaknya. Kotak ini tampak biasa dari luar namun sejujurnya menghisap manaku sangat banyak.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanyanya.
"Tidak, tapi kurasa aku memang bisa membukanya."
Aku memberikan mana lebih banyak dan kotak akhirnya terbuka sendiri.
"Sudah kuduga," kata Claudia bersemangat.
Kotak ini seolah memilih siapa yang mampu membukanya, di dalamnya terdapat wanita kecil berambut hitam sebahu dengan gaun terbuka berwarna serupa.
"Yang ada di dalamnya ternyata peri, dia sangat imut bukan Melvin."
"Ah iya."
Jadi peri ini yang menghisap manaku, dia bangun, menguap lebar sebelum menggosok matanya.
"Aku sepertinya sudah tidur sangat lama, hmm apa kau tuanku?"
"Sepertinya begitu."
Dengan sayapnya dia terbang dan duduk di bahuku.
"Imutnya."
"Jangan menusukku dengan jarimu," teriak peri terhadap Claudia.
"Jadi siapa namamu?"
"Lin, aku seorang peri kegelapan yang bersumpah setia pada siapapun yang membuka kotaknya."
"Melvin kau beruntung, kudengar peri adalah senjata kuno mengerikan yang digunakan pada zaman dulu."
"Senjata tapi bagiku dia hanya hewan peliharaan."
"Tuan Melvin kah, tolong jangan sebut aku hewan peliharaan.. aku ini peri yang terkuat dari peri yang lain, jika anda mengunakanku aku bisa sangat membantu."
Aku sudah kuat tapi tak apa untuk memiliki pet di dekatku.
"Tuan Melvin pasti berfikir aneh tentangku."
"Tidak juga, tapi Lin mohon bantuannya kedepannya."
"Sama-sama tuan Melvin," balasnya riang.
Esok paginya kami melanjutkan perjalanan bersama dimana itu berlangsung selama tiga hari, kereta kami memimpin paling depan sementara kereta Claudia mengikuti dari depan.
Latisha berkata dalam perjalanan.
"Tak kusangka kita bisa pergi bersama dengan seorang putri pedagang ternama, Melvin kamu pasti memiliki keberuntungan yang tinggi."
"Benarkah?"
"Benar, keluarga Asterix begitu berpengaruh jika kamu kenal dengan mereka, hal itu akan sangat membantu terlebih Melvin juga berniat membuka guild pedagang sepertinya ayahku memang memutuskan hal tepat untuk mengembangkan kota Isbel."
"Aku senang jika kau berfikir demikian."
Tak lama kemudian kami telah sampai di ibukota Kerajaan Termisia di mana dinding-dinding kokoh dari tembok tinggi menyambut kami, kota itu lebih besar dari yang kubayangkan khususnya tetang menara yang berdiri di tengahnya.
"Akhirnya kita sampai."
Ceritanya santai dan komedinya juga lumayan, untuk bagian geludnya juga oke walaupun setiap gelud ada aja gtu komedinya kayak bagian awal2 si Alice lawan slime.
Overall keren lahh