Gea keluar dari taksi dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar kosannya. Gea melihat ada sepatu Sarah sahabatnya sekaligus teman 1 kamarnya. Apa Rendy ada di dalam?, sepatunya ada di sini juga. Gea bicara di hatinya.
Gea mendorong sedikit pintunya yang tidak dikunci, mendengar desahan Sarah sedang berhubungan intim Gea menarik kembali pintunya dan berniat untuk pergi.
Sarah memang sudah biasa melakukan itu dengan pacarnya. Tiba-tiba langkah Gea terhenti ketika mendengar suara pria tersebut tidak asing baginya.
Tubuh Gea gemetaran terlintas di pikirannya takut kalau yang dia dengar barusan itu adalah pacarnya.
Gak mungkin Rendy dan Sarah memiliki hubungan di belakangnya.
Perlahan-lahan Gea membuka pintunya, dan matanya terbelalak terkejut melihat pacar dan sahabat sedang hubungan intim di sofa ruang tamu.
Dada Gea terasa sakit, dan napasnya merasa sesak, hatinya sangat hancur tidak sanggup menerima kenyataan yang di lihatnya langsung.
"Apa yang kalian lakukan hah!!" teriaknya sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delita Shira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi dan Kenyataan
Gea menikmati setiap momen jalan-jalan bersama Bara. Meski ia tahu Bara hanya ingin menghibur diri, namun perlahan tapi pasti, tanpa Bara sadari, ia mulai melupakan Karisa—wanita yang dulu begitu ia puja.
Hari itu, mereka menghabiskan waktu di pantai. Saling berpegangan tangan, berlarian kecil, hingga bermain pasir layaknya pasangan yang sedang dimabuk cinta. Saat lelah, mereka berbaring di atas pasir putih yang bersih sambil menikmati semburat matahari yang mulai tenggelam.
"Tuan, apa cita-cita Anda waktu kecil?" tanya Gea memecah keheningan.
Bara menoleh, lalu menjawab asal, "Saya ingin menjadi penguasa di bumi ini!"
Gea tertawa lepas. "Hahaha! Bukannya sekarang Anda sudah berkuasa, Tuan?"
Bara terdiam sejenak. "Tidak. Kalau saya benar-benar berkuasa, mungkin Karisa yang ada di samping saya saat ini, bukan kamu."
Deg. Hati Gea terasa seperti disayat sembilu. Bara yang tersadar telah keceplosan, langsung membisu, menyesali ucapannya.
"Kalau kamu?" Bara berusaha mencairkan suasana.
Gea terdiam cukup lama sebelum menjawab, "Kalau saya, saya ingin menjadi penulis novel yang terkenal. Saya ingin tulisan saya dibaca oleh seluruh dunia."
Bara menatap Gea dengan tatapan meremehkan. "Memangnya kamu mau menulis kisah apa?"
"Tentang hidupku, Tuan. Tentang semuanya yang pernah saya alami dan saya ketahui."
Bara merasa sesak mendengarnya. "Mana ada yang tertarik dengan kisahmu? Kalau kamu seorang artis terkenal, baru semua orang akan tertarik!"
Kata-kata Bara membuat nyali Gea menciut, namun ia tetap menatap Bara dengan tatapan penuh tekad. "Tapi saya yakin, Tuan. Suatu saat nanti saya akan jadi penulis terkenal, dan tulisan saya akan difilmkan!"
Bara terpaku. Ia diam-diam mengagumi kegigihan dan rasa optimis yang dimiliki gadis di sampingnya itu. "Sepertinya mau hujan, ayo kita ke hotel!" ajak Bara, segera bangkit dan menuntun Gea mencari taksi.
Sementara itu, di tempat lain, Aksan tampak tidak fokus dalam sesi pemotretan bersama Karisa. Ia terus-menerus ditegur oleh fotografer karena ekspresinya yang kaku. Karisa mulai kesal karena harus mengulang adegan berkali-kali.
Dahlan, manajer Aksan, menghampiri dan membisikkan sesuatu agar Aksan lebih fokus. "Aksan, coba bayangkan Karisa adalah Gea. Seolah-olah yang sedang berfoto bersamamu adalah Gea, bukan Karisa."
Aksan tertegun, namun ia setuju. "Oke, ide yang bagus."
Aksan memejamkan mata sejenak, memanggil bayangan wajah Gea ke dalam benaknya. Sugesti itu berhasil. Aksan mendadak luwes dan profesional. Karisa merasa sangat senang, mengira Aksan akhirnya mulai memberikan perhatian padanya.
Aku yakin, lama-kelamaan kamu akan jatuh cinta padaku, Aksan Sjuman! batin Karisa penuh percaya diri.
Setelah sesi foto, Karisa langsung menggandeng tangan Aksan. "Kita makan siang yuk?"
Baru saja Aksan hendak menolak, Dahlan memotong, "Itu ide yang bagus! Biar semua orang tahu kalau kalian memang benar-benar pacaran."
Aksan hanya bisa menghela napas panjang, merasa dirinya hanyalah sebuah boneka. Saat Karisa bertanya ingin makan di mana, Aksan hampir saja memanggilnya dengan sebutan sayang yang ia siapkan untuk Gea.
"Terserah kamu, sa—" Aksan berhenti di tengah kalimat. Ia kecewa karena ternyata yang di depannya adalah Karisa, bukan Gea.
Namun, Karisa justru menanggapinya dengan antusias. "Kamu tidak usah malu-malu, aku dengar kok apa yang baru saja kamu ucapkan!" ujar Karisa seraya mengeratkan genggaman tangannya, seolah ingin mengklaim Aksan sepenuhnya di depan publik.
Aksan hanya bisa pasrah, sementara di dalam hatinya, ia terus memanggil nama Gea agar suasana hatinya tidak semakin memburuk.
Bersambung...