Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengacau Rencana
Seorang pelayan membawa sapu lalu menghampiri meja makan Niken dan Vahisa. Dia menyodorkan sapu di bawah meja, sapu itu dikenakan ke kaki Niken.
"Hei pelayan, bisakah kau bekerja yang benar. Ada yang berkunjung malah kau perlakukan tidak sopan." Celetuk Niken.
"Kalau nona tidak suka, silahkan cari restoran yang lainnya untuk makan." Jawabnya santai, dengan diiringi senyum manis.
Pelayan itu lalu pergi, setelah puas mengganggu Niken. Tak berselang lama pelayan membawa makanan pesanan mereka.
"Nona Vahisa terimakasih iya telah mentraktir makanan untuk aku. Ini restoran mewah yang pernah aku kunjungi."
"Iya sama-sama. Mau bicara apa tadi?" Tanya Vahisa sambil menyendok kan makanan ke mulutnya.
"Tuan besar pernah mencelakai nona Nadin hingga dia jatuh dari sepeda. Diam-diam dia membuat rem sepedanya blong." Tutur Niken.
"Bagaimana bisa? Di rumah itu kan ada seribu pengawal?" Tanya Vahisa penasaran.
"Tuan besar kan papa tuan muda, tentu mudah saja mencelakainya."
"Ternyata dia sangat tidak menyukai menantunya itu iya."
"Nona harus tahu satu hal, dia menginginkan nona Vahisa yang menjadi menantunya. Tapi aku sih yang menyuruhnya mencari nona." Ucap Niken dengan bangga.
Mereka sedang tidak sadar saja, bahwa mereka diawasi oleh Dera dari tempat duduk yang sedikit jauh. Namun, Dera masih dapat mendengar apa yang mereka ucapkan.
'Oh, ternyata tuan besar terlibat dalam hal ini. Aku akan mengikuti permainan pelayan tidak tahu diri ini. Akan aku pastikan kau menyesali semuanya Niken.' Batin Dera.
Seseorang dengan berpenampilan ustadzah datang menghampiri meja Niken dan Vahisa. Lalu dia mulai mengeluarkan kalimat, yang membuat keduanya merasa risih.
"Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Qalam ayat 10-11. "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah (adu domba)." Ucap ibu paruh baya itu.
Mereka merasa kesal, Vahisa segera berdiri dari duduknya.
"Kalau mau ceramah jangan di sini." Vahisa akhirnya mengeluarkan semburan api dari mulutnya.
"Betul itu, di sini bukan masjid." Niken ikut berdiri.
Brak!
Dengan beraninya si ustadzah menggebrak meja. Dia kemudian tersenyum.
"Kalau tidak merasa, tidak perlu marah." Ucap ibu itu dengan santai.
"Cepat pergi dari sini, atau aku panggil security." Ancam Vahisa.
Tiba-tiba datanglah anak-anak yang berpenampilan seperti pengamen. Mereka sengaja bernyanyi dengan suara yang kuat, membuat Niken dan Vahisa tutup telinga. Vahisa segera berteriak memanggil security. Niken merasa seperti sedang dikerjai, oleh orang-orang aneh itu.
Dera tertawa-tawa menyaksikan hal itu. Orang-orang yang mengganggu mereka adalah suruhan Dera.
"Security!" Panggil Vahisa dengan lantangnya.
Security itu segera datang.
"Usir mereka semua!" Titah Vahisa.
"Maaf nona tidak bisa, mereka adalah tamu kami."
"Aku bisa membayar kalian dengan mahal, bila mengusir orang tidak penting seperti mereka." Ujarnya.
"Tetap tidak bisa nona, ini sudah menjadi peraturan yang ada di restoran ini. Siapa yang merasa terganggu silahkan keluar, dan tidak perlu merepotkan kami"
Kedua mata Vahisa melotot, dia merasa tercengang mendengar penuturan mereka. Segera dia melirik Niken supaya mengikutinya untuk pergi. Semua orang yang ada di sana, tertuju pada Niken dan Vahisa. Bahkan ada yang tertawa-tawa, menyaksikan pertengkaran itu.
****
Argan mengambil sepotong roti di atas meja, dia hendak menyuapkannya ke Nadin. Namun Nadin menggelengkan kepalanya, dia sedang tidak berselera untuk makan roti.
"Kenapa kamu tidak mau, coba dulu pasti enak." Ujar Argan.
"Aku tidak mau sayang." Jawab Nadin.
"Ayolah coba sedikit saja, ini roti enak sekali. Makanan kesukaanku." Menarik tangan Nadin lembut, supaya dia mau menghadap ke arah wajah Argan.
"Aku sedang tidak mau." Nadin segera membelakangi Argan.
Nadin ditarik paksa, lalu Argan mengangkat roti itu untuk menyuapkannya ke Nadin. Namun, roti itu malah menempel pada kedua bibir mereka secara bersamaan.
'Dia kenapa sih bersikap seperti ini.' Gumam Nadin di dalam hati.
"Ayolah sayang, makan rotinya." Ujar Argan. Dia membelah roti menjadi dua bagian.
"Kenapa di belah menjadi dua?" Tanya Nadin.
"Biar aku juga ikut makan. Ayolah terima, pasti kamu berselera." Memberikan potongannya pada Nadin.
Karena terus dipaksa akhirnya Nadin mengambil belahan roti itu. Argan senang karena Nadin mengetahui makanan kesukaannya.
Nadin pun duduk di atas ranjang tidur dan mulai mengunyahnya. "Hmmm, ini lembut sekali."
"Enak kan sayang, kamu sih tidak percaya." Jawab Argan.
Drrrt!
Ponsel Argan berbunyi, dia segera mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Dia melihat nama Dera.
"Hallo, ada apa?" Tanya Argan.
"Tuan muda aku sudah tahu, siapa yang sudah membuat rem sepeda nona muda blong."
Argan mengingat kejadian waktu di belakang villa. "Siapa yang sudah melakukannya."
"Tuan besar yang melakukannya. Namun bila ingin mengusirnya, jangan tuan lakukan sekarang. Bagaimana pun dia adalah papa kandung tuan muda sendiri." Tutur Dera.
"Tapi dia sudah mencelakai istriku." Argan sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Itu hanya saranku tuan. Biarkan kita ikuti permainan mereka dulu. Karena tuan akan segera mengetahui komplotannya."
"Baiklah, kamu urus semuanya dengan baik." Argan mematikan sambungan teleponnya.
Nadin tidak dapat mendengar suara Dera, karena Argan tidak loud speaker suara ponselnya.
'Kenapa tuan muda terlihat marah, dan dia bilang ada yang mencelakai aku. Siapa orangnya, kenapa dia terlihat kesal sekali.' Batin Nadin.
'Aku rasa aku perlu berduaan dengan Nadin. Aku akan menghabiskan waktu bersamanya. Tapi bagaimana bisa, dia kan sudah kerja. Dia pasti banyak waktu sibuk.' Batin Argan.
"Nadin ingatin kata sandi ponselku iya." Ujar Argan.
"Apa kata sandinya sayang?" Tanya Nadin.
"Aku cinta kamu." Jawab Argan dengan tersenyum.
'Ayolah Nadin peka terhadap perasaanku.' Batin Argan. Sengaja dia memberi sinyal cinta.
"Oh itu, insyaa Allah aku mengingatnya." Ucap Nadin.
"Bisa kamu ulangi kalimat yang aku ucapkan." Pinta Argan.
"Aku cinta kamu." Ucap Nadin.
Argan tersenyum. "Aku juga mencintai kamu." Jawabnya.
"Kenapa kamu bilang seperti itu?" Tanya Nadin dengan sedikit grogi.
"Aku membalas pernyataan cintamu." Jawab Argan.
"Aku tidak menyatakan cinta. Aku hanya mengulangi kata-katamu tadi." Jawab Nadin.
'Pasti dia ingin mengerjaiku lagi.' Batin Nadin.
Argan memeluk tubuh Nadin dengan erat. Dia takut kehilangan Nadin yang membuat hatinya nyaman.
"Aku tidak peduli kamu mau bicara apa. Yang pasti kamu harus cinta sama aku." Ujar Argan.
'Ayolah Nadin, balas pelukanku ini. Kenapa tanganmu tidak kunjung memeluk pinggangku.' Batin Argan. Dia memperhatikan kedua tangan Nadin yang tetap menjuntai ke bawah.
Nadin hendak memeluk pinggang Argan, tapi dia malah memundurkan kedua tangannya yang hendak maju. Argan menggenggam kedua tangan Nadin, dan melingkarkan ke pinggangnya sendiri.
'Kenapa harus diajari dulu sih jamur lucu' Batin Argan.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂