KARYA INI HANYA FIKSI BELAKA, APABILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA DAN TEMPAT ITU HANYA KEBETULAN SEMATA DAN TIDAK ADA UNSUR KESENGAJAAN.
DILARANG KERAS PLAGIAT!!! SEMUA ISI DARI NOVEL REAL DARI IDE DAN PEMIKIRAN SAYA SENDIRI.
SEGALA TINDAKAN YANG TIDAK BAIK DALAM CERITA TIDAK UNTUK DITIRU. AMBIL SISI POSITIFNYA SAJA!!!
Pemuda tampan,gagah dan kekar itu bernama Yusuf. Ia hidup berdua dengan kakeknya.Kehidupan yang ia jalani bisa dikatakan serba kekurangan dengan menjadi kuli cangkul ataupun serabutan disawah.
Rasa sayang pada kakenya, membuat ia mampu untuk tetap berdiri tegak dan mengesampingkan segala sesuatu yang tidak terlalu penting.
Dilema dengan dua pilihan yang sama-sama berarti dalam kehidupannya.Pergi atau tetap tinggal.
Kehidupan yang tak selalu mulus, meski berulang kali yang disebut kematian membuatnya seakan putus asa. Mencintai gadis yang sudah tiada adalah hal yang paling menyakitkan.
Hingga hampir mustahil untuk membuka kembali lembaran yang telah penuh dengan goresan tinta.
Bagaimana cara untuk menghapus???
Atau memberi lembaran baru untuk menghapus yang telah usang.
Bagaimana kisah Yusuf, Muluskah perjalanan cintanya? Bagaimana kisah hidupnya saat cinta yang baru telah tumbuh dihatinya?
Yukk.. Simak terus kisah perjalan hidup dan cinta Yusuf sampai selesai ya.Maaf update nya tidak menentu, jadi mohon bersabar untuk para reader. Tapi insyaa Allah author akan menyelesaikan hingga tamat.
Karya ini orisinil ya para readers..
Semoga bermanfaat dan banyak hikmah yang bisa diambil..
mohon dukungannya supaya author lebih gigih, dan lebih baik lagi dalam pembuatan naskah. 😍🙏
Selamat membaca para readers....... Dukunganmu, Semangatkuu...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lailatul Zulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mbah Suki
Ketika mereka mendengar kabar Pak Cokro sudah kembali ke rumah, para tetangga berbondong-bondong dan silih berganti untuk menjenguk beliau. Tanpa terkecuali Riri dan juga ayahnya, mereka sudah lebih dulu menuju rumah sahabatnya itu. Begitu mendengar mobil terparkir di halaman rumah mereka.
Karena kesibukannya Riri tidak bisa menemani Ajeng pulang pergi ke rumah sakit.
"Maaf banget ya Jeng, kemarin aku nggak bisa nemenin kamu. Kamu tau sendiri kan? Huff.." Riri tertunduk.
"Sudah nggak papa Ri, aku ngerti kok. Doa in aja supaya Bapakku cepat sembuh." Sahut Ajeng.
"Iya Jeng, itu pasti."
"Eh Ri, apa disini ada orang pintar yang bisa ngobatin guna-guna gitu?" Tanya Ajeng berbisik lirih.
"Maksud kamu dukun Jeng?" Riri masih kebingungan.
"Iiihh.. Bukan Riri. Ya pokoknya yang bisa ngatasin kayak santet dan sejenisnya lah."
'Kok pertanyaan Ajeng gitu ya, apa ini ada kaitannya sama Pak Cokro.'
Sejenak Riri terdiam dan ia mulai berpikir, juga mengingat-ingat. Kira-kira siapa yang bisa mengatasi hal-hal seperti itu. Terlintas dibenaknya yaitu Mbah Suki. Iya Mbah Suki, beliau yang memang sedari dulu dikenal sebagai orang yang suka 'tetulung' kalau orang Jawa bilang, yang artinya suka menolong.
"Oh.. Aku tau Jeng.." Spontan Riri berkata dengan nada agak keras.
"Ssttt... Siapa? Siapa Ri, ayo katakan!" Ajeng sudah tak sabar untuk mengetahuinya.
"Eh iya, namanya Mbah Suki, Jeng." Suaranya kini menjadi lirih.
Perbincangan mereka berlangsung diruang tamu, sedangkan saat itu diwaktu yang sama masih banyak tamu yang lalu lalang melewati mereka saat menjenguk Pak Cokro. Jadi jangan sampai perbincangan mereka bisa didengar oleh orang luar.
"Mbah Suki rumahnya mana Ri?" Ajeng memasang raut wajah yang amat serius.
"Deket kok Jeng, rumahnya cuman di Dusun Lembang. Semua orang juga pasti tau siapa Mbah Suki. Nanti tanya aja sama orang disana."
"Oh gitu, yaudah makasih banyak Ri, infonya."
"Iya sama-sama Jeng. Emangnya ada apa sih Jeng?" Kini rasa penasaran di dalam diri Riri tak bisa ia pungkiri.
"Emm, sudah nanti saja akan ku ceritakan semua ke kamu Ri.."
"Baiklah kalau gitu.."
"Oh iya Ri, kira-kira biaya buat ongkosnya berapa ya?"
"Setahuku sih beliau selalu menolak Jeng, saat disodorkan amplop berisi uang. Denger-denger dari mereka yang pernah sowan kesana, mereka ada yang membawakan makanan, gula dan teh, atau apalah yang penting bukan berupa uang. Itu pun bukan kemauan atau permintaan dari Mbah Suki. Mereka yang suka rela memberikannya sebagai tanda terimakasih Jeng."
Sowan artinya menghadap.
"Oh gitu Ri..." Ajeng mengangguk-angguk tanda ia sudah mengerti.
"Iya... Ajeng sayang..." Ledek Riri.
"Hmmm.." Ajeng hanya melirik ke arahnya.
'Sungguh mulia sekali ya hati beliau, menolong tanpa pamrih. Aku jadi penasaran dengan sosok Mbah Suki.'
Disaat malam tiba, Pak Cokro belum menunjukkan keanehan-keanehannya lagi. Mereka bisa bernafas lega. Usahanya membawa ayahnya ke rumah sakit membuahkan hasil.
"Alkhamdulillah ya Has, Bapak udah nggak kayak kemarin." Rasa trauma yang mendalam membuat Ajeng tidak mau menjelaskan secara detail.
"Iya Kak, Alhamdulillah. Semoga Bapak segera seperti dulu lagi ya.."
"Iya Has, aamiin.."
"Aamiin.."
Ternyata dugaan mereka salah, disaat waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB, ayah mereka sudah mulai menunjukkan reaksinya. Beliau mengeluhkan rasa sakit diperut. Bu Halimah kaget dan terbangun dari tidurnya.
"Bu, sakit banget ini Bu. Siapa yang berani membuatku seperti ini? Kurang ajar!" Ternyata Pak Cokro sadar dengan apa yang beliau alami. Beliau merasakan dan juga meyakini bahwa itu adalah guna-guna.
"Husss, jangan seperti itu Pak, istighfar." Pekik Bu Halimah.
Dalam keadaan seperti itu, beliau masih sempat-sempatnya mengumpat. Apa karena wataknya itu, atau kesalahan apa sehingga ada yang tega membuat hidupnya benar-benar layaknya dineraka.
Pak Cokro hanya terdiam. Beberapa saat kemudian tiba-tiba matanya melotot, tangannya memegangi leher. Seperti orang yang sedang dicekik. Spontan Bu Halimah teriak, Ajeng dan Hasan pun berlarian menuju kamar beliau.
Dan lagi-lagi beliau memuntahkan darah dan juga belatung yang ikut menyertai. Kejadian dirumah sakit itu sengaja mereka sembunyikan dari ibunya. Mereka tidak ingin menambah beban pikirannya. Namun sekarang Bu Halimah melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa itu Jeng?"
Bu Halimah sangat ketakutan. Beliau menangis sejadi-jadinya, dan akhirnya jatuh pingsan.
'Astaghfirulloh, kenapa Bapak seperti ini lagi?'
Sambil Hasan mengambil lap untuk menutupi muntahan itu.
"Bu.. Ibu.. Bangun." Seraya Ajeng menggoyang-goyangkan badan ibunya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Berusaha tetap tegar untuk menghadapi cobaan. Ia merasa bahwa dirinya bukanlah gadis yang lemah.
"Sudah Kak, kita bawa Ibu ke sofa depan aja," pinta Hasan.
"Iya, ayo Has." Sambil menyeka air matanya.
Hasan kembali ke kamar ayahnya, dan sebisa mungkin ia melantunkan doa. Sudah berulang kali ia membacakan ayat kursi untuk ayahnya, sampai pagi pukul 04.00. Ia bersyukur karena beliau bisa tertidur, walau sebenarnya tidak tega melihat kondisi yang seperti itu.
Sedangkan Ajeng didepan terlihat pucat, menghadapi situasi seperti ini. Ia juga tak dapat tidur. Hasan menghampiri Ajeng di ruang tamu.
"Alhamdulillah Kak, Bapak sudah tertidur pulas."
"Syukur alhamdulillah kalau gitu. Sepertinya kita harus secepatnya membawa Bapak ke Mbah Suki, Has."
"Mbah Suki, siapa Kak?" Sambil Hasan mengernyitkan dahinya.
"Beliau tinggal di Dusun Lembang, aku tanya sama Riri tadi Has. Di daerah sini beliau lah yang terkenal sebagai perantara orang berobat untuk hal-hal seperti itu."
"Bukan dukun kan Kak?" Tanya Hasan menyelidik.
"Ya bukan lah Has, kita langsung kesana aja biar tau."
Hasan hanya mengangguk, tanda mengiyakan.
...*********...
Keesokan harinya mereka bersiap untuk menuju Dusun Lembang. Ayahnya sudah ia papah duduk dikursi roda. Mereka mendorongnya sampai ke dalam mobil.
Brrmm.. Brrmm.. Brrmm..
Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah mereka. Setibanya dibalai yang biasa buat latihan menari, Ajeng turun dari mobil dan bertanya pada salah satu warga sebelah mana rumah Mbah Suki.
'Dari keterangan tadi, kok arahnya sama persis menuju rumah Mas Yusuf ya? Jangan-jangan..' Dalam hatinya Ajeng hanya bisa menduga-duga.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan, setibanya di depan rumah Pak Udin, Ajeng bertanya lagi.
Kebetulan ada Bu Tri, istrinya Pak Udin, sedang berada di halam depan rumahnya.
"Maaf Bu, mau tanya. Rumah Mbah Suki sebelah mana ya?"
"Ini rumahnya Mbak," sambil menunjuk rumah yang berada disampingnya.
Ajeng pun terbelalak, ternyata Mbah Suki adalah kakek dari orang yang selama ini ia sukai.
"Oh yasudah terimakasih banyak ya Bu.." Sambil tersenyum.
"Sama-sama Mbak.."
'Kenapa Riri menyembunyikan ini dariku? Seolah-olah dia tak tau apa-apa. Ternyata..' Gumamnya dalam hati..
"Gimana Jeng, sebelah mana rumahnya?" Ibunya bertanya.
"Itu rumahnya Bu, kita sudah sampai."
Hasan memarkirkan mobilnya. Sementara kini kaki Ajeng mulai bergetar. Ia tak menyangka bahwa hari ini bersama keluarganya, bisa silaturrahim ditempatku. Itupun karena keadaan yang sangat darurat.
"Assalamu'alaikum.." Salam Ajeng, seraya mengetuk pintu yang terbuat dari bambu itu.
"Wa'alaikumsalam.." Jawabku dari dalam, sambil membuka pintu dan mempersilahkan masuk.
"Loh, Mbak Ajeng."
"Iii.. Iya Mas.."
Ku tengok kesana kemari ternyata ia bersama keluarganya.
Detak jantung Ajeng seketika bedetak dengan kencang, seperti orang habis dikejar anjing. Melihatku saja itu sudah membuatnya salah tingkah. Terlihat mereka mendorong seseorang yang berada dikursi roda.
Setelah mereka masuk dan ku persilahkan untuk duduk, pria berkulit putih itu membuka pembicaraan.
"Maaf Mas, begini maksud kedatangan kami..."
Belum sempat Hasan melanjutkan,Mbah Suki keluar dari kamarnya.
"Oh ada tamu ternyata.. Cup tolong dibuatkan teh hangat untuk mereka." Senyum hangat Mbah ku menyapa mereka.
Segera aku bergegas ke belakang.
"Gimana Nak, ada apa?" Tanya Mbah Suki menatap Hasan.
"Begini Mbah, sudah ada dua mingguan Bapak kami sakit. Kami sudah membawanya, ke klinik bahkan juga ke rumah sakit, tapi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Beliau malah muntah darah disertai dengan belatung. Setiap malam tiba beliau meraung-raung kesakitan."
"Iya Mbah, saya melihat diperutnya seperti ada sesuatu yang berjalan." Bu Halimah ikut menjelaskan.
Sedangkan Ajeng hanya diam seribu bahasa. Sepertinya ada kekhawatiran soal kejadian yang pernah ia alami dulu. Takut jika Mbah Suki tiba-tiba bercerita soal itu.
"Begini Bu, Nak, saya tahu maksud kedatangan kalian kemari. Sedanten tiyang anggadahi kekirangan Bu, ananging yen lathi iku waged dados langkung landhep ketimbang anggar.' Makna dari uacapan Mbah Suki adalah semua orang mempunyai kekurangan, tetapi lidah itu bisa saja menjadi lebih tajam dari pedang.
'Ada salah apa Bapak, kenapa Mbah suki ngendika seperti itu. Seperti sebuah isyarat.' Sebenarnya Ajeng memiliki ketajaman batin yang ia sendiri tidak menyadari. Ngendika artinya berkata.
"Jadi bagaimana Mbah, apa Mbah Suki bisa menolong Bapak saya?" Tanya Hasan.
'N**gene Le, kabeh kekuatan iku amung seko gusti. Gusti hiyo sing nguasani sekabehane ngilmu. Dadi ojo ngiro Mbah sing bisa ngobati. Mbah iki mung lantaran.'
Arti dari perkataan tersebut, begini Nak, semua kakuatan itu hanya dari gusti. Gusti Allah juga yang menguasai semua ilmu. Jadi jangan mengira Mbah yang bisa menyembuhkan. Mbah ini cuman perantara.
Tak lama kemudian beliau membaca doa dan meminta air mineral. Beruntung Ajeng membawanya di mobil, ia pun segera bergegas mengambilnya.
Entah kenapa telapak tangan Mbah Suki selalu menghadap ke wajahnya. Beliau seperti sedang melihat sesuatu di telapak tangannya.
Beliau tidak pernah mau mengatakan siapa pelaku santet ataupun guna-guna. Siapapun yang datang kepada beliau, tidak penting mengatakan hal yang akan menimbulkan dendam dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Mbah Suki berpesan,
"Nak, ini nanti airnya diminumkan ke Bapak kalian, sisanya kalian usapkan ke seluruh tubuh terutama bagian perut dulu."
'Nggih Mbah.." Mereka hanya mengangguk.
'Ini mah Mbah Suki , ilmunya bener-bener dalem banget. Ampuh.. ampuh..' Hasan menyanjung dalam hatinya, salut dengan Mbah Suki.
Tiba-tiba Mbah Suki berkata,
'Mbah mung menungso biasa Le, podo karo awakmu.' Artinya Mbah hanya manusia biasa Le, sama sepertimu juga.
Hasan terkaget-kaget, bagaimana bisa Mbah Suki mengetahui apa yang sedang ia pikirkan. Hasan hanya tertunduk diam.
Sementara aku, keluar rumah setelah memberikan 'unjukan' pada mereka. Hari itu aku sedang memberi makan kambing disamping rumah.
Tiba-tiba dari arah sampingku ada seseorang datang menghampiriku. Mbak Ajeng, iya dialah orangnya.
"Maaf Mas, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Loh Mbak, apa sudah selesai?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku khawatir ia bertanya yang tidak-tidak lagi.
"Belum Mas, didalam mereka masih berbincang. Aku permisi keluar sebentar."
"Oh..." Jawabku singkat sembari mengambil rumput, tanpa memperhatikan ada Ajeng disampingku.
Kegiatanku terhenti, ketika tiba-tiba tangan Ajeng meraih dan memegang erat sekali tanganku dan bertanya,
"Mas, apa benar kamu mau menikah?"
Pertanyaan itu, detak jantungku mulai tak karuan, lembut tangannya kini aku merasakan. Spontan ku lepaskan genggaman tangannya.
"Maaf Mbak, itu berita tidak benar."
'Ya ampun gusti, kenapa sih tidak ada penjelasan tentang semua itu. Cuman jawaban singkat yang ku dapat.'
Gumam Ajeng dalam hatinya.
"Apa? Jadi berita itu tidak benar?"
"Iya Mbak..." Ku lanjutkan kembali kesibukanku tadi.
"Apa tidak ada sedikitpun kesempatan untukku Mas?" Ajeng sepertinya kehabisan cara, ia mulai nekat memberanikan dirinya.
"Mbak ini ngomong apa sih?" Aku masih saja berkelit.
Tempat ini bisa dikatakan kotor. Bau kambing, juga banyak sisa-sisa rumput kering yang berjatuhan. Aku bermaksud pergi ke belakang, agar Ajeng tidak mengejarku untuk memberi jawaban. Namun nekat sekali, ia malah mengikutiku dari belakang.
Ia terjerat tali dari bambu, dan...
Brruuukkk.. Ia terjatuh. Iya, tubuhnya itu tak sengaja mendekap dalam tubuhku, kami seperti orang berpelukan. Jantungku kini seperti mau copot. Aku tau, ia juga pasti merasakan hal yang sama, tangannya dingin sekali. Beberapa saat kami saling bertatapan. Sadar akan itu, aku sedikit mendorongnya agar tidak lagi menempel ditubuhku. Aku berlari ke belakang, menyembunyikan segala perasaan gugup ku.
'Masih saja dia seperti itu. Tidak bisa ku pungkiri, aku benar-benar jatuh cinta. Aku tidak peduli bagaimana status sosialnya.'
Berdiri sendiri setelah ku tinggalkan, aku tau detak jantungnya pasti masih seperti saat tubuhnya tak sengaja ku dekap erat. Merasakan hangatnya, walau perasaan itu masih menjadi misteri. Ajeng pun mulai melangkahkan kaki kembali pada mereka.
"Jangan lupa, nanti cari tanaman andong wulung dua ya Bu, nanti kalian letakkan saja dihalaman rumah. Dan yang terpenting beliau di ingatkan untuk selalu istighfar dan bersholawat.
Kami serentak menjawab,
'Nggih Mbah...'
"Terimakasih banyak Mbah sudah berkenan menolong suami saya." Bu Halimah sambil meletakkan bingkisan disamping Mbah Suki.
"Kok malah jadi repot-repot."
"Tidak Mbah, kami yang merepotkan. Sekali lagi terimakasih, kami mohon pamit Mbah." Ucap Hasan.
"Tidak merepotkan, jangan sungkan! Terimakasih Nak.."
"Sama-sama Mbah..." Kami serentak menjawabnya.
"A**ku tidak tau harus merasa senang atau sedih, yang pasti saat ini perasaanku benar-benar campur aduk seperti 'kluban'. Perasaan di antara ujian dan cobaan. Yah sama aja kali ya."
Kluban adalah masakan Jawa yang terdiri dari sayur-sayuran juga sambal bumbu yang terbuat dari parutan kelapa.
Mungkin kini otaknya bisa mendadak eror karena dua hal yang terjadi dalam kehidupannya menjadi kejutan tak disengaja, juga cobaan yang timbul dari ayahnya.
Hingga Ajeng dan keluarganya sudah tidak terlihat aku masih enggan untuk masuk ke dalam rumah. Ternyata aku juga bisa merasakan syok yang luar biasa. Yang bergetar bukan hanya tubuhku, namun juga hatiku. Kenapa ini?
sekarang anak2 lebih Suka main hp ,fb atau game online, disuruh ikut latihan beladiri aja di kelurahan gak mau😔😔
Nampaknya Ajeng nih yg mulai jatuh hati
Tentang realita kehidupan yg sebenarnya
gak halu
😘😘😘😘
semangat terus...
😍😍