Disarankan untuk membaca novel My Perfect Boss ya...ini skuel ke 3 SIK + kelanjutan kisah cinta anak Micha dan Axelle.
Hubungan Krisna dan Fiona berubah sejak insiden penculikan yang terjadi pada Krisna saat usianya mencapai 15 tahun.
Seorang Krisna yang hangat, ramah dan ceria kini menjadi sosok yang jarang bicara, dingin dan sangat acuh bahkan terhadap keluarganya sendiri.
Namun ambisi dalam mengelola perusahaan papanya, Krisna sangatlah sukses dan mampu membuat perusahaan sang papa berkembang pesat.
Hingga satu keputusan Krisna pergi ke Los Angeles untuk mengurus cabang perusahaan barunya. Akan tetapi hal itu tidak menghalangi Fiona untuk terus berusaha mengejar cinta Krisna kembali.
Akankah Fiona mampu mengembalikan diri Krisna yang dahulu? Akankah rahasia penculikan itu mampu Fiona bongkar dari mulut Krisna?
Dan apakah kisah cinta mereka akan berakhir bahagia?
Cus kepoin yuk novel Author yang satu ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon may leni andiarsi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Setibanya di rumah sakit Krisna dengan panik memanggil perawat serta dokter di sana. Para perawat pun segera mendekati Krisna dan membawa Fiona ke UGD untuk di periksa.
Setelah menunggu beberapa saat dokter keluar dari ruang UGD. Krisna yang sedari tadi mondar mandir segera menghampiri sang dokter.
“Bagaimana keadaannya Dok?” Tanya Krisna tak sabar.
“Tenang saja Tuan, dia hanya syok dan goresan di bagian lehernya juga sudah di obati. Sebentar lagi dia akan di pindahkan ke ruang rawat pasien.”
Krisna pun bernafas lega, bahwa tidak ada hal serius yang terjadi pada diri Fiona.
“Terima kasih Dok.” Dokter itu hanya tersenyum dan berlalu pergi.
Setelah Fiona sudah di pindahkan ke ruang rawat pasien, Krisna dengan setia menemaninya di sana. Krisna sendiri bahkan lupa untuk mengabari keluarga mereka, karena rasa khawatirnya pada Fiona cukup besar.
Bau obat yang begitu kental, membuat indra penciuman Fiona tak nyaman. Dia mulai mengerjapkan matanya beberapa kali. Fiona melihat sekeliling, dia baru menyadari bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.
Sepi! Ya pemandangan itulah yang Fiona dapatkan saat membuka matanya. Hatinya merasa kecewa, mungkin yang tadi malam hanya mimpinya belaka. Jika Krisna datang untuk menyelamatkannya, itu mungkin hanya halusinasinya saja.
“Aku kira semalam sungguhan.” Keluh Fiona.
“Sungguhan? Apanya yang sungguhan?”
Deg!
“Kris?!”
“Maaf sudah meninggalkanmu sendiri, ini aku bawakan sarapan untukmu. Sekarang di makan ya, sehabis ini minum obatmu.” Ucap Krisna panjang.
Fiona hanya melongo menatap Krisna, dia benar-benar tidak mempercayai hal yang sedang terjadi di hadapannya kini.
“Aaaa....” Krisna mencoba menyuapi Fiona, setelah membenahi posisi tempat tidurnya setengah duduk.
“Fi..?! Mengapa melamun? Ayo cepat buka mulutmu.”
Fiona tanpa sadar menuruti perkataan yang di ucapkan Krisna, bahkan sampai Fiona meminum obatnya.
“Argh! Apa yang kamu lakukan Fi?” Teriak Krisna kesakitan.
Karena wajahnya dengan tiba-tiba di cubit keras oleh Fiona.
“Ini bukan mimpi.” Gumam Fiona lirih.
“Mimpi? Memangnya saat kamu makan tadi hanya seperti angin, tidak berasa?” Keluh Krisna.
“Apa kamu salah minum obat Kris? Atau jangan-jangan kamu di rasuki?” Celetuk Fiona asal.
“Kamu kira aku apa Fi?”
“Ini benar-benar kamu?”
“Hmm.”
“Jadi semalam itu nyata?”
“Iya.”
“Bagaimana keadaan para wanita itu?”
“Sudah di urus pihak berwajib.”
“Lalu Morgan?”
“Kamu masih berani menanyakan pria psyco itu?!” Celetuk Krisna kesal.
“Aku hanya ingin melihat dia mendapatkan hukuman yang setimpal.”
“Kamu tidak perlu khawatir, semuanya sudah di urus.”
“Lalu ada apa denganmu?”
“Aku? Memangnya aku kenapa?”
“Jadi cerewet.”
Setelah beberapa berdebatannya dengan Fiona, barulah Krisna menyadari bahwa dirinya lebih banyak bicara dan terus menanggapi perkataan Fiona.
Mungkinkah sikapnya yang dulu mulai muncul kembali dalam dirinya. Tanpa sadar Krisna memang melakukan hal itu, hal yang dulu sering kali dia lakukan dengan Fiona. Seperti berdebatan kecil tadi.
“Sudahlah, kamu istirahatlah. Aku mau menghubungi orang rumah tentang keadaanmu. Semalam aku lupa mengabari mereka.” Ucap Krisna, lalu keluar dari ruangan Fiona.
“Hmm.”
Setelah Krisna memberi tahu orang tua Fiona dan juga orang tuanya. Mereka segera berbondong-bondong ke rumah sakit.
Enzi dan juga Micha sibuk menanyai keadaan Fiona. Sedangkan Jackson dan Axelle mengintrogasi Krisna.
“Jadi semua ini perbuatan Morgan. Sial! Aku benar-benar salah memilih pria untuk anakku sendiri.” Gerutu Jackson.
“Jadi om yang menjodohkan Fio dengan Morgan?”
“Benar, itu semua karena kamu. Jika bukan karenamu anakku tidak akan terpuruk seperti itu.” Kesal Jackson.
“Maaf Om.”
“Maaf? Kamu kira kata Maaf bisa mengembalikkan hatinya yang sudah hancur?”
“Jika kamu hanya main-main dan menyakiti Fiona lagi, jangan harap bisa mendekati anakku lagi.” Ancam Jackson.
Axelle hanya melihat kedua orang di hadapannya tersebut. Dia membiarkan Krisna agar bisa bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.
“Om kali ini saya janji, akan membahagiakan Fiona. Saya tidak akan menyia-nyiakannya lagi.” Ucap Krisna sungguh-sungguh.
“Aku akan melihat kesungguhanmu, itu juga jika Fiona ingin kembali denganmu. Jika dia tidak menginginkan kamu kembali, jangan berharap untuk mendapatkan restu dariku.” Kecam Jackson.
“Baik Om, saya akan membuktikannya.”
Jackson lalu masuk ke ruangan dimana Fiona di rawat. Sedangkan Axelle menepuk bahu Krisna, dia percaya anaknya tidak akan mengingkari janjinya.
“Semoga kali ini kamu tidak mengecewakan Fiona dan juga kami semua.” Ucap Axelle pada Krisna.
“Iya Pa, Krisna tidak akan mengecewakan kalian semua.”
“Bagus, ini baru anak Papa yang mau bertanggung jawab atas ucapannya.”
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....