NovelToon NovelToon
Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Harem
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
​Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENCARI JATI DIRI DI BALIK CADAR MAFIA

Dunia hitam Eropa mengenal klan De Calvi sebagai entitas yang bergerak tanpa wajah yang pasti. Selama belasan tahun, mereka beroperasi di balik cadar metaforis spionase tingkat tinggi, enkripsi siber berlapis, dan reputasi mematikan yang membuat nama mereka hanya dibisikkan dalam ketakutan di sudut-sudut gelap Paris, Marseille, hingga Sisilia. Bagi Lucien, Marc, Julien, dan Etienne, identitas sejati mereka adalah fungsionalitas mereka bagi klan. Mereka adalah mesin, perisai, dan algoritma. Keberadaan individu di balik nama besar De Calvi telah lama terkubur di bawah puing-puing trauma masa kecil mereka.

​Namun, ruko Palmerah memiliki atmosfer yang sangat berbeda dari kastil batu di Eropa Barat. Di sini, di bawah langit Jakarta yang dinamis, cadar mafia yang dingin itu perlahan-lahan dipaksa mengelupas oleh kehangatan yang tidak bisa dihitung dengan rumus taktis mana pun.

​Sabtu pagi itu, ruko Palmerah diliputi hawa sejuk sisa hujan subuh. Alya Putri sedang duduk di lantai ruang tengah, mengelilingi sebuah cermin rias besar yang sengaja dia seret dari kamar. Di sekelilingnya berserakan berbagai macam kain: mulai dari selendang sutra satin, syal rajut, hingga beberapa daster batik simpanan yang motifnya paling anggun.

​Keempat kembar De Calvi berdiri berjejer tidak jauh dari sana, menatap aktivitas istrinya dengan kerutan di dahi masing-masing. Mereka baru saja menyelesaikan rapat koordinasi mingguan mengenai pengamanan jalur laut Tanjung Priok, namun panggilan domestik dari Alya langsung mereduksi aura tegang militer mereka menjadi kebingungan massal.

​"Alya," Lucien melangkah maju, tangannya bersedekap di dada bidangnya. "Analisis visual: apa tujuan dari pengumpulan material tekstil non-taktis ini di tengah ruang utama?"

​Alya mendongak, menyugar rambut hitamnya yang diikat asal dengan jedai plastik. "Abang-abang sekalian, sini deh duduk melingkar. Hari ini kita nggak bakal bahas soal pelabuhan, faksi Valois, atau sistem keamanan siber. Hari ini, agenda kita adalah mencari jati diri!"

​Etienne langsung tertawa renyah, melompat santai untuk duduk di atas tikar mendong di samping Alya, diikuti oleh Julien yang duduk dengan posisi siaga dan Marc yang membawa tabletnya dengan kaku. Lucien akhirnya ikut duduk, menekuk kakinya yang panjang dengan anggun namun canggung.

​"Mencari jati diri?" Etienne menopang dagunya dengan tangan, menatap Alya dengan mata abu-abu yang berbinar jenaka. "Alya manisku, apakah kau sedang meragukan pesona identitasku sebagai pria paling modis di Paris? Aku tahu persis siapa diriku di depan cermin."

​"Bukan itu, Bang Etienne," ralat Alya serius, wajahnya tampak sangat berwibawa layaknya seorang guru spiritual lokal. "Kalian berempat itu kembar identik. Sejak kecil dilatih buat saling menggantikan posisi satu sama lain di medan perang. Bang Lucien bisa pura-pura jadi Bang Etienne, Bang Julien bisa nyamar jadi Bang Marc kalau lagi megang laptop. Pertanyaan saya: kalau cadar mafia kalian dilepas, kalau senapan, pisau, kacamata, dan jas mewah kalian ditaruh... siapa sebenarnya diri kalian di balik muka yang sama ini?"

​Ruangan itu mendadak hening. Pertanyaan sederhana dari Alya menghantam fondasi psikologis keempatnya dengan telak. Selama ini, menyamar dan menyembunyikan jati diri di balik topeng saudaranya adalah mekanisme pertahanan hidup terkuat mereka. Namun, di depan daster batik Alya, topeng itu mendadak terasa hambar.

​"Untuk memulainya," Alya mengambil sebuah selendang kain tenun songket berwarna hitam dengan benang emas yang kokoh, lalu memakaikannya ke pundak Lucien. "Kita bakal pakai metode penokohan visual tradisional. Bang Lucien, coba liat ke cermin tanpa mikirin status Abang sebagai kepala klan."

​Lucien menatap pantulan dirinya di cermin. Kain songket tradisional Indonesia itu berpadu kontras dengan kemeja hitam Eropa yang dia kenakan. Tanpa pulpen taktis atau dokumen rahasia di tangannya, Lucien tertegun melihat matanya sendiri di cermin—ada kilatan keletihan yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat sebagai anak sulung.

​"Aku... melihat seorang pria yang selalu dipaksa berdiri tegak, bahkan ketika tanah di bawah kakinya sedang runtuh," ucap Lucien, suaranya terdengar sangat dalam dan jujur, kehilangan nada otoritas militernya yang biasanya kaku. Hebatnya, dia tidak mengalihkan pandangan dari cermin. "Sejak usia lima belas tahun, jati diriku adalah 'pemimpin'. Aku lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang diizinkan untuk mengeluh atau merasa lelah. Cadar mafia ini membuatku lupa bahwa di balik tanggung jawab besar ini, aku hanyalah seorang kakak yang ingin memastikan adik-adikku aman."

​Alya tersenyum lembut, mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu kokoh Lucien yang dilapisi kain songket. "Tapi di ruko ini, di depan Alya, Bang Lucien nggak perlu jadi tameng besi terus-menerus. Di sini, Abang adalah suami pertama saya yang berhak minta pijit kalau pegel, dan berhak tidur nyenyak tanpa perlu masang insting siaga satu."

​Lucien menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis yang sangat damai terukir di wajah tampannya. Dia menggenggam tangan Alya di bahunya, merasakan beban belasan tahun di pundaknya perlahan-lahan meluruh.

​Alya kemudian beralih ke Marc. Dia mengambil sebuah kemeja batik tulis bermotif semen rante yang memiliki filosofi ikatan batan yang kuat, lalu meminta Marc melepas kacamata minusnya sejenak.

​"Bang Marc," ujar Alya, melilitkan kain batik itu di pangkuan Marc. "Coba lepas dulu tabletnya. Jangan hitung probabilitas atau algoritma. Liat ke cermin, siapa pria yang ada di sana kalau internet di seluruh dunia mati?"

​Marc mengerutkan dahinya, matanya yang minus mencoba memfokuskan pandangan pada pantulan dirinya yang sedikit buram di dalam cermin rias. Tanpa layar monitor yang memancarkan cahaya biru, wajah Marc tampak sangat polos dan rapuh.

​"Tanpa data dan angka... aku merasa kosong, Alya," pengakuan Marc mengalir begitu saja, memicu keterkejutan kecil di mata Julien dan Etienne yang mendengarkan. "Di balik cadar siber ini, aku sebenarnya adalah anak remaja yang ketakutan karena tidak bisa memprediksi masa depan dengan logikaku saat pengkhianatan di Marseille terjadi. Aku membangun tembok kode digital ini untuk menyembunyikan ketidakberdayaanku sendiri. Aku takut jika aku berhenti menganalisis, dunia akan kembali menyakiti kita semua."

​Marc menundukkan kepalanya, jemarinya yang panjang meremas kain batik di pangkuannya. Alya dengan lembut mengambil kacamata Marc, membersihkannya dengan ujung dasternya, lalu memasangkannya kembali ke pangkal hidung sang dewa siber.

​"Bang Marc nggak kosong," bisik Alya penuh empati, menangkup wajah tampan Marc dengan kedua tangannya. "Angka dan kode itu cuma alat, tapi jati diri Abang yang sebenarnya adalah seorang pelindung yang peduli. Abang itu jenius bukan karena komputer, tapi karena isi kepala Abang selalu mikirin cara terbaik buat jagain rumah kita. Dan di ruko ini, logikamu nggak perlu kerja rodi. Rumus terbaik di ruko ini adalah: kalau laper, ya makan masakan Alya sampai kenyang."

​Marc menatap Alya dari balik lensa kacamatanya yang kini jernih. Sepasang mata hitamnya yang biasanya sedingin es, malam ini memancarkan binar kehangatan emosional yang sangat hidup.

​Giliran berikutnya adalah Julien. Pria yang paling irit bicara ini menatap Alya dengan pandangan waspada saat Alya mendekatinya dengan selembar kain selendang katun putih bersih tanpa corak.

​"Bang Julien," Alya melingkarkan kain putih itu di atas lengan kanan Julien yang dipenuhi bekas luka sajam dan peluru. "Abang selalu menyembunyikan diri di balik senjata dan bayangan. Coba liat ke cermin, kalau belati dan senapan rundukmu ditaruh di dalam gudang bawah tanah, siapa pria bermata tajam ini?"

​Julien menatap pantulan dirinya. Kain putih bersih itu tampak sangat kontras dengan aura predator mematikan yang selalu memancar dari tubuh kekarnya. Dia mengepalkan tangan kanannya, merasakan tekstur kain katun yang lembut di kulitnya yang kasar.

​"Aku melihat sebuah mesin yang hanya tahu cara menghancurkan," kata Julien, suaranya rendah, serak, dan dipenuhi oleh refleksi diri yang kelam. "Sejak awal, peranku di dalam klan adalah menjadi eksekutor. Jati diriku dibangun di atas darah musuh dan bau mesiu. Kadang... di balik cadar pembunuh ini, aku bertanya-tanya, apakah tangan yang kotor ini pantas untuk menggandeng tanganmu yang bersih, Alya? Apakah pria yang hanya tahu cara memotong kehidupan ini memiliki hak untuk merasakan kedamaian domestik?"

​Alya tidak menjawab dengan kata-kata dekoratif. Dia langsung meraih tangan kanan Julien yang besar dan kasar, lalu menempelkan telapak tangan suaminya yang ketiga itu tepat di atas pipinya yang lembut.

​"Tangan ini emang udah ngelewatin banyak pertempuran di luar sana, Bang Julien," ucap Alya dengan mata yang berkaca-kaca haru namun penuh ketegasan. "Tapi di ruko ini, tangan yang sama inilah yang selalu bantuin saya motong sayuran, yang selalu bukain tutup botol yang keras, dan yang selalu meluk saya paling erat kalau saya lagi mimpi buruk. Jati diri Abang bukan penghancur, tapi penjaga perdamaian di dalam rumah tangga kita. Kain putih ini buktinya: di mata saya, hati Bang Julien itu bersih dan tulus banget."

​Julien terpaku. Rahangnya yang tegas bergetar halus menahan gelombang emosi yang mendobrak dinding hatinya. Dia tidak menarik tangannya dari pipi Alya, melainkan justru mengusap kulit lembut istrinya itu dengan kelembutan yang luar biasa, sebuah kontras estetika yang sangat indah.

​Terakhir, Alya menoleh pada Etienne yang sejak tadi diam dengan ekspresi yang tidak biasa. Pria yang biasanya paling vokal dan penuh lelucon ini kini tampak sangat kontemplatif. Alya mengambil sebuah daster batik motif parang warna oranye menyala miliknya, lalu melampirnkannya di pundak Etienne seperti sebuah syal mewah.

​"Nah, sekarang giliran si Abang yang paling centil," goda Alya, mencoba mencairkan suasana yang sempat emosional. "Bang Etienne, lepas dulu senyuman topengnya. Liat ke cermin, siapa pria tampan di sana kalau panggung sandiwara bawah tanah Eropa udah ditutup?"

​Etienne menatap cermin, senyuman kardus menawannya perlahan-lahan memudar dari bibirnya, digantikan oleh ekspresi kedewasaan yang sangat murni. Dia meraba daster oranye Alya di pundaknya, lalu terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar agak rapuh.

​"Aku melihat seorang aktor yang lelah, Alya," aku Etienne, matanya yang abu-abu menatap pantulan dirinya sendiri dengan kejujuran yang telanjang. "Jati diriku selama ini adalah menjadi apa pun yang dunia inginkan. Aku menjadi pria ramah untuk menjebak musuh, aku menjadi pria kejam untuk mengintimidasi kartel, dan aku menggunakan lelucon untuk menyembunyikan rasa takutku akan pengulangan sejarah Marseille. Di balik cadar manipulasi psikologis ini... aku sering lupa wajah asliku sendiri. Aku takut jika aku berhenti tersenyum atau berhenti menghibur, kalian semua akan menyadari betapa hancurnya jiwaku di dalam."

​Alya langsung merangkul leher Etienne dari samping, menyandarkan kepalanya di bahu pria pirang gelap itu. "Bang Etienne, sandiwaranya udah selesai pas Abang nginjekin kaki di Palmerah. Di sini, Abang nggak perlu akting jadi cowok sempurna atau pahlawan tanpa celah. Di sini, Abang boleh nangis, boleh ngambek, dan boleh jadi diri sendiri yang apa adanya. Lelucon Abang itu bukan topeng buat saya, tapi itu adalah cahaya yang bikin ruko ini selalu rame dan penuh tawa. Jati diri Abang adalah jiwa dari keluarga kita."

​Etienne terdiam, lalu sebuah air mata bening tunggal lolos dari sudut mata abu-abunya, mengalir melewati pipinya yang tampan. Dia memeluk tubuh Alya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya, menangis dalam diam untuk pertama kalinya setelah belasan tahun memendam trauma di bawah topeng keceriaan.

​Lucien, Marc, dan Julien bergerak serentak. Tanpa komando militer, mereka bertiga ikut merapat, membentuk sebuah lingkaran pelukan keluarga yang sangat besar dan kokoh di atas tikar mendong ruko Palmerah, mengunci Alya dan Etienne di tengah-tengah mereka.

​Di bawah pendaran cahaya matahari sabtu pagi yang hangat, cadar-cadar mafia klan De Calvi yang selama ini memisahkan mereka dari kemanusiaan akhirnya runtuh sepenuhnya tanpa sisa. Di balik wajah identik mereka, kini tidak ada lagi mesin pembunuh atau dewa siber yang dingin, melainkan empat orang pria sejati yang telah menemukan jati diri mereka yang sesungguhnya: sebagai suami, pelindung, dan belahan jiwa dari seorang gadis Jakarta sederhana bernama Alya Putri.

​"Analisis emosional akhir," gumam Marc dari dalam pelukan, suaranya sedikit sengau karena menahan haru. "Tingkat kebahagiaan domestik kita saat ini berada pada angka seratus persen. Tidak ada variabel kesalahan yang terdeteksi."

​Lucien mengecup puncak kepala Alya dengan penuh rasa takzim. "Terima kasih, permaisuriku. Kau telah merobek cadar kegelapan kami dan memberikan kami sebuah rumah yang sesungguhnya."

​Alya tertawa di dalam jepitan pelukan keempat pria raksasa itu, wajahnya memerah penuh kebahagiaan. "Udah ah, pelukannya udahan! Ini saya susah napas, astaga! Jati diri udah ketemu, sekarang waktunya kembali ke realita domestik: Bang Lucien sama Bang Julien buruan angkat jemuran di lantai atas, Bang Marc bantuin saya motong bawang, dan Bang Etienne... tugas Abang adalah berhenti nangis dan buruan beli es cendol di depan komplek buat kita semua! Gimana? Setuju?!"

​"Siap dilaksanakan, permaisuri dasterku!" sahut keempat kembar De Calvi secara serentak dengan tawa lepas yang menggema memenuhi seluruh sudut ruko Palmerah, menandai babak baru kehidupan klan De Calvi yang kini telah melangkah keluar dari bayang-bayang masa lalu menuju masa depan yang penuh dengan warna-warni cinta lokal yang tiada tanding.

1
Lilis Khotimah
sangat memabukkan untuk di baca dan bikin candu 😍😍😍😍😍😍😍
Lilis Khotimah
jangan pake kata gaul. terkesan aneh. pake bahasa biasa aja
Lilis Khotimah
auThor tolong bahasanya biasa aja gk usah d campur aku jd geli bacanya. kerasa aneh
lontong sayur
bastet 😭
Aiyliqa Ciie ImuEyt
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Aiyliqa Ciie ImuEyt
🤣🤣🤣🤣ngakak parah...
falea sezi
lnjut🤣
falea sezi
🤣🤣 poliandri gpp lahh cogan semua yee kan
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!