Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
...Tahun ajaran baru ....
Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di jenjang SMA (Sekolah Menengah Atas). Masa yang katanya paling indah dalam hidup. Ya, tepat hari ini aku resmi menjadi siswa SMA. Siapa pun kamu, saat sudah memasuki masa ini, rasanya mustahil bisa membendung semangat masa muda untuk meniti masa depan lewat berbagai aktivitas remaja.
Tidak terkecuali bagiku, Raka Aditya ....
"Fyuuuh ... jadi di sini panggung masa remaja indahku," gumamku sambil menatap gedung lantai tiga yang akan menjadi tempatku menuntut ilmu selama tiga tahun ke depan.
Terlalu menyilaukan! Bayangan keindahan masa remaja seperti nongkrong di kafe, main ke mal, menjalin persahabatan di ekstrakurikuler, hingga urusan romansa mendadak berputar di kepala. Dulu, saat masih SMP (Sekolah Menengah Pertama), hal-hal seperti itu akan membuatku lari terbirit-birit karena malu. Bahkan sekarang, sekadar membayangkannya saja sudah membuatku tidak nyaman.
"Ahaha ... apa aku berlebihan? Tentu tidak. Masa depanku pasti sangat cerah, sampai-sampai membuat mataku sakit." Aku tertawa kecil, lalu melanjutkan langkah menyusuri trotoar menuju gerbang sekolah.
Ya, semua sempurna. Segalanya terlihat indah di mataku saat ini. Cuaca cerah, awan tebal yang tampak empuk berarak di langit biru, deru daun ditiup angin, dan tumpukan kotoran kucing yang ... tunggu ....
"Kenapa ada kucing yang buang hajat di tengah trotoar seperti ini? Mana sudah terinjak orang lagi! Mengurangi keindahan suasana saja," ucapku sembari menghentikan langkah akibat gangguan kecil itu. Aku bersyukur tidak ikut menginjaknya karena telanjur sadar.
Tidak, aku harus mengesampingkan gangguan kecil ini. Masa remaja emas akhirnya telah tiba! Aku tidak akan mengotori masa pubertasku hanya karena masalah sekecil ini. Saatnya telah tiba, inilah awal langkah dari kehidupan masa mudaku yang bercahaya!
... TIGA TAHUN KEMUDIAN ...
Satu hari sebelum kelulusan .... Aku berjalan menyusuri trotoar yang selama tiga tahun ini menemaniku berangkat sekolah.
...Tidak ada kenangan indah apa pun yang terjadi selama itu...
...Sama sekali tidak ada...
Mengejutkan? Tidak juga. Sebenarnya aku sudah menyadari hal ini sejak menginjakkan kaki di kelas satu pada tahun pertama.
Ujung-ujungnya, tidak satu pun peristiwa khas masa muda yang kutemukan sejak kelas satu sampai menjelang hari kelulusan. Pagi ini, aku sadar masa SMA-ku telah usai. Aku mengakhirinya tanpa bergabung dengan klub apa pun, bahkan sekadar menjadi anggota OSIS pun tidak. Bukan cuma itu, seorang teman pun aku tidak punya—dan jangan tanyakan soal pacar.
Aku menatap gedung sekolah dan kembali mengingat betapa bersemangatnya aku tiga tahun lalu saat menjadi siswa baru. Panggung masa muda apanya? Aku ini orang bodoh, ya? Debut menjadi siswa SMA memang terdengar mudah, tetapi kenyataannya tidak semudah itu. Ternyata ada lebih banyak drama di dalamnya daripada saat masih SD (Sekolah Dasar) atau SMP.
Untuk cowok yang menyandang predikat siswa membosankan saat SMP dulu, mana mungkin aku bisa berharap segalanya akan berubah di SMA? Aku hanya mengulang masa-masa SMP. Seharusnya aku berusaha lebih keras untuk mengubah nasib, tetapi nyatanya aku tidak melakukan apa-apa.
Belum pernah sekalipun aku mengunjungi kafe bergengsi selama masa SMA. Uang sebenarnya bukan masalah karena uang saku dari Ayah lebih dari cukup. Masalahnya, aku tidak punya satu pun teman yang bisa diajak ke sana. Alhasil, satu-satunya tempat yang kudatangi selama tiga tahun ini hanyalah toko buku Gramed* untuk membeli komik baru.
"Ujian kalian sukses, kan? Kita nge-mal, yuk!!" seru seorang perempuan di sebelahku yang sedang berjalan bersama teman-temannya. Sepertinya mereka teman satu angkatanku yang sama-sama berjalan menuju sekolah pagi ini.
"Iya, aku dengar angkatan kita lulus semua, meski aku enggak yakin sama nilaiku," timpal siswi lainnya.
"Enggak ingin lulus sebenarnya ... masih ingin kumpul sama kalian," timpal siswi lain yang membuatku kesal saat mendengarnya.
Dalam hati aku membatin 'Tolonglah jangan mengobrol seperti itu di dekatku'. Aku sangat ingin segera menyudahi masa kelam ini! Tolong pertimbangkan perasaanku!
Jujur, aku tidak paham bagaimana perasaan teman-teman sekelas saat mengucapkan kata "selamat tinggal" ke teman mereka masing-masing. Padahal, sejak TK (Taman Kanak - kanak), SD, dan SMP kita sudah dilatih untuk mengucapkan kata itu. Ini kan hanya pengulangan dari apa yang sudah pernah kita lakukan selama tiga kali. Jadi, seharusnya mereka sudah terbiasa dan membiasakan diri, aku benar, kan?
Ya, aku tahu kalian akan mengataiku, "Kamu saja yang tidak punya teman, makanya hatimu sedingin itu." Namun, coba kesampingkan kritik tajam yang menusuk hati itu. Yah, aku akui itu benar. Tapi jujur, aku pernah memikirkan hal ini baik-baik. Aku ingin punya teman yang bisa nyambung saat mengobrol, membahas seputar novel, komik, anime, atau apa pun topik yang kusukai. Sayangnya, teman senyaman itu tidak ada di dunia nyata.
Aku juga pernah berpikir, kenapa tidak ada siswi cantik yang mau mengobrol denganku? Seperti bintang kelas, cewek wibu yang cantik, atau setidaknya cewek bandel yang familier di fiksi. Aku heran kenapa kehidupanku tidak sama seperti di anime atau manga. Biasanya, di dalam cerita seperti itu, akan selalu ada saja cewek-cewek yang mendekati karakter utama seperti aku.
"Hmp, ya sudahlah. Sudah sangat terlambat untuk mencari teman. Lagi pula, aku sudah dibuat paham oleh keadaan selama tiga tahun ini," gumamku sambil terus berjalan. Aku menghela napas, meratapi masa remajaku yang suram.
Sekalipun berusaha, aku tetap tidak akan bisa punya teman ....
Harus tersenyum seperti orang bodoh saat mendengar seseorang menceritakan hal membosankan, bertukar pesan atau menelepon mereka demi menjaga hubungan agar tetap akrab, hingga memaksakan diri memperhatikan tren yang tidak kusukai demi mendapat pengakuan. Yah ... aku tidak bisa melakukan itu semua. Aku memang tidak cocok dengan interaksi sosial yang ada.
Agak tidak sopan kalau aku benar-benar mengungkapkan apa yang ada di kepalaku saat menghadapi situasi sosial seperti itu. Aku juga tidak mungkin mengatakan kepada mereka, "Aku akan memberi balasan setengah-setengah kalau percakapannya membosankan. Aku tidak mau menghubungimu lewat pesan atau telepon kalau bukan atas kemauanku sendiri. Aku juga tidak tertarik dengan hobimu, tetapi tolong berteman denganku." Jika aku mengatakan itu semua, pasti terdengar aneh, bukan?
Jadi, berada di posisiku yang sekarang pada akhir masa SMA, sama sekali tidak membuatku keberatan ....
...Bip ... bippp ...!
Terdengar suara notifikasi dari ponsel yang kusimpan di dalam saku celana. Aku mengambilnya, lalu memeriksa pesan apa yang masuk.
Setidaknya, hal yang membahagiakan akhirnya muncul ....
"Jadi, pembacanya bertambah, tetapi pengikutnya masih sama saja," gumamku sambil menatap layar ponsel.
Yah, sekadar berbagi rahasia saja. Sebenarnya aku adalah seorang penulis novel amatir yang aktif di salah satu platform daring terkenal. Di saat remaja seusiaku sedang menjalani kehidupan yang semrawut, aku merasa sudah melangkah lebih maju menuju masa depan pasca-SMA. Novel ciptaanku semuanya bertema remaja SMA. Namun, tolong jangan hakimi aku dengan pertanyaan seperti, “Kenapa seorang penyendiri sepertimu menulis cerita tentang hubungan di masa SMA?” atau, “Apa menulis novel bertema SMA adalah bentuk pelarian dari kehidupan nyata?”
...Kalimat itu terdengar menyakitkan. Dan yah, semuanya benar .... Aku hanya bisa menangis dalam senyuman saat mendengar kritik seperti itu...
Namun, terlepas dari kenyataan pahit tersebut, aku sudah mengunggah total dua naskah novel yang semuanya berakhir dengan kata “BERSAMBUNG” dengan total empat puluhan bab. Meski karya-karya itu tak layak mendapatkan pujian, aku punya alasan tersendiri kenapa belum melanjutkannya hingga saat ini. Semua itu karena pembacanya terlalu sedikit. Haaah ....
Jika harus dianalogikan, para pembacaku itu seperti satu kelas penuh yang membaca novelku pada bab awal. Kemudian, tersisa setengah kelas yang terus bertahan pada bab berikutnya. Setelah bab kelima, jumlahnya menyusut setara satu keluarga dengan beberapa saudara kandung, dan diakhiri oleh beberapa manusia elit yang terus setia membaca novelku sampai akhir.
Kalimat terakhir memang terdengar keren. Namun, itu sebenarnya mirip seperti mengatakan bahwa mereka hanya terlambat menyadari betapa bodohnya mereka karena telah membaca novel buatanku. Di titik ini aku cuma bisa memikirkan hal negatif itu. Tapi tidak ... aku tidak boleh berpikiran begitu. Ada orang yang bersedia membaca novelku saja sudah sangat baik dan patut diacungi jempol.
Alasan lainnya, terus menulis hanya akan menguras motivasiku jika jumlah babnya terus bertambah. Aku selalu berpikir, “Bukankah ini sangat membosankan?” Hingga akhirnya, aku memutuskan berhenti menulis. Mungkin aku memang tidak bisa membuat orang tertawa, lagipula tidak akan ada yang marah jika aku berhenti. Namun, kalau kalimat itu kuucapkan keras-keras, rasanya aku ingin menangis~
"Haaah ...." Aku menghela napas berat sambil terus berjalan hendak menyeberang. Tepat saat itu, aku melihat lampu lalu lintas berwarna hijau, tanda bahwa aku boleh menyeberang.
Namun, karena yakin lampu tersebut sudah hijau cukup lama, aku memutuskan berhenti untuk menunggu giliran berikutnya. Di saat yang sama, tepat di seberang jalan, aku melihat empat siswi mengenakan seragam sekolah yang sama denganku. Entah kenapa, aku menatap mereka berempat sambil membatin, Kenapa, sih, cewek suka jalan berempat berdampingan begitu?
Padahal, kalau mereka menjadi serigala penyendiri sepertiku, mereka tidak akan memakan tempat. Mereka juga tidak perlu mengobrol keras-keras sampai mengganggu orang lain. Ditambah lagi, aku yang jarang keluar rumah ini tidak perlu menyisakan banyak jejak karbon di berbagai tempat. Penyendiri adalah yang terbaik! Dalam benak aku berseru, Hidup penyendiri! Hahaha, sambil tersenyum bangga.
"Maaf, aku duluan, ya!" teriak salah seorang siswi di seberang sana yang tiba-tiba berbalik dan bersiap berlari untuk menyeberang. Saat itulah, aku menatap matanya, dan dia pun menatapku.
Dalam hati aku membatin, Ah, Maya .... Namun, pada detik itu juga, aku merasa Maya tampak kaget saat melihatku.
Sedikit cerita tentang Maya, kami berada di kelas yang sama saat kelas dua dan tiga SMA. Setahuku, dia adalah cewek satu sekolah yang paling cantik yang pernah kulihat. Karena itulah aku bisa tahu namanya. Aku tidak pernah berinteraksi dengannya. Kalaupun bisa, tidak akan ada gunanya juga dia berbicara dengan orang sepertiku.
Namun, kali ini ....
"Hei!!! Lampunya!!!!" teriakku pada Maya. Namun, semuanya sudah terlambat. Maya sudah berada di tengah jalan.
Aku melihat sebuah truk baru saja menikung dengan kecepatan tinggi, seolah-olah sedang balapan. Dari posisiku melihatnya, Maya tidak akan punya kesempatan untuk berbalik. Bodohnya, aku malah tiba-tiba berlari untuk menyelamatkannya.
Aku tidak dekat dengan Maya. Aku juga bukan tokoh utama yang punya kenangan tragis kehilangan seseorang. Ini pasti hal yang biasa disebut sebagai "insting untuk menyelamatkan sesama".
Aku berlari dan mendorong tubuh Maya sekuat tenaga tanpa memedulikan diriku sendiri. Aku hanya ingin memastikan Maya terdorong cukup jauh supaya tidak tertabrak truk sialan itu. Rasanya ... aku sudah seperti protagonis dalam sebuah novel, kan?
Di detik-detik terakhirku, aku malah memikirkan hal yang aneh-aneh. Seperti ... posisiku saat tertabrak nanti pasti terlihat sangat buruk. Aku berlari dengan pose yang sangat jelek karena aku memang bukan siswa yang rajin berolahraga. Aku juga menyentuh Maya, siswi paling cantik di sekolah. Mungkin setelah ini aku akan dihajar siswa-siswa lain karena mereka iri padaku ....
Bruuuaaakkk!!!!
Pandanganku menjadi begitu gelap, telingaku berdengung... Aku tidak bisa merasakan tubuhku. Apa organ-organku masih ada pada tempatnya? Aku tidak tahu. Namun, perlahan indraku kembali normal, dan aku mendengar...
"Hei!! Bangun!! Buka matamu!!! Tolong buka matamu!!!" seru suara seorang cewek. Perlahan, pandanganku sedikit lebih terang dan aku melihat Maya yang menangis menatapku.
Sepertinya dia meletakkan kepalaku di atas pahanya ....
"Kubilang tunggu!!! Jangan mati!!! Tolong jangan mati!!!" seru Maya, terdengar begitu memilukan.
Namun sayang, aku tidak bisa berkata apa pun. Suara-suara lain juga semakin banyak terdengar dan begitu berisik. Rasanya sangat tidak nyaman.
"Kumohon jangan mati!!!" teriak Maya padaku.
Yah, meskipun aku juga tidak ingin mati, rasanya semua sudah sangat terlambat untukku. Pandangan mataku kembali gelap secara perlahan.
"Maafkan aku!! Maafkan aku ... aku malah bermain-main dan lupa dengan tujuanku ...." Maya berkata dengan semakin pilu. Aku bingung, tetapi tidak bisa bertanya tentang maksud ucapannya. Namun, hal yang paling membuatku heran adalah ketika dia berteriak ....
"Raka sayang!!! Jangan mati!!!!"
Seketika itu juga, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
.... .... ....
Perlahan aku membuka mata. Aku terbangun di sebuah kasur empuk dan merasa sudah masuk ke dunia isekai. Aku yakin sudah mati tertabrak tadi. Mustahil aku selamat tanpa rasa sakit sama sekali seperti ini. Bahkan ketika meraba badanku, wujudku masih utuh. Dengan kata lain, aku ....
"Bereinkarnasi ke dunia lain!!" teriakku sembari langsung terduduk dari tidurku.