Ketika cinta sudah berada ditikungan terakhir dan selangkah lagi menuju finish, namun ternyata semua harus terhenti ditengah jalan.
Tiga hari sebelum hari pernikahannya Ana membatalkan rencana pernikahan nya tersebut.
Apakah alasan Ana mengakhiri semuanya?
Mungkinkah tidak ada hati yang terluka?
Jangan pernah hadir ditengah tangan yang sedang menggenggam tangan lainnya sampai salah satu tangan melepaskannya
Jika Tuhan mengambil apa yang kamu genggam bukan berarti Dia menghukummu, Dia hanya mengosongkan tanganmu untuk menerima yang lebih baik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anis Abibich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pawang Oma Oma
Ana merasakan tubuhnya sangat lelah, setelah mandi dan berganti pakaian dia segera merebahkan tubuhnya ke ranjang, ketika akan memejamkan mata ponselnya berdering, diliatnya nama mas Tyo.
"assalamualaikum mas"
"wa'alaikumsalam, kamu sudah dirumah?"
"sudah dari tadi, ini mau tidur"
"aku minta maaf tadi sudah agak emosi sama kamu, aku tidak bermaksud untuk membentak, hanya aku terlalu kawatir sama kamu"
"gak apa apa, saya paham kok mas"
"ya sudah kamu istirahat aja, assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
Ana menutup telpon dari Tyo, kepalanya terasa pusing memikirkan masalahnya, matanya pun terpejam menuju peraduan.
****
Sebelum adzan subuh Ana sudah bangun, sebenernya Ana ingin berbicara dengan ibunya namun dilihatnya ibu belum bangun,ketika semalam dia datang ibu sudah tidur.
Ana mandi dan bersiap untuk berangkat mengajar mengaji, ketika dia ke dapur dilihatnya ibu sudah bangun
"semalam kamu pulang jam berapa Ana? Semalam habis sholat isya ibu ketiduran, tengah malam ibu terbangun, ibu liat di kamar kamu sudah tidur"
"semalam Ana terjebak banjir, motor Ana mogok"
"kok kamu ga ngabari ibu, trus kamu pulang gimana?"
"motornya aku titipkan di ruko dekat kantor Ana, pulangnya diantar mas Angga"
"bu, ada yang ingin aku bicarakan sama ibu"
"masalah apa?"
Ketika Ana akan bicara dengan ibunya terdengar pagar rumah ada yang mengetuk.
"itu kayaknya mas Angga, Ana berangkat dulu ya bu, nanti aja bicaranya"
Ana bergegas mengambil tas dan mencium tangan ibunya "assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
Ana membuka pintu rumah dan melihat Angga sudah berdiri didepan pagar rumah.
"maaf ya mas merepotkan pagi-pagi harus berangkat"
Angga hanya tersenyum.
Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam.
Angga memarkirkan mobilnya di pelataran masjid.
"terima kasih ya, mas angga tidak usah nunggu saya, nanti saya naik ojek aja"
"ga apa-apa aku tunggu kamu aja, nanti saya sekalian ke kantor"
"ya sudah, saya masuk dulu. Assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
Ana keluar dari mobil Angga dan masuk kedalam masjid. Sementara Angga menurunkan sandaran kursi mobilnya, dia memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.
Setelah satu jam kelas mengajinya selesai Ana segera menuju mobil Angga, dia masuk ke dalam mobil
Ana tersenyum melihat Angga tidur pulas dikursinya, "kasihan kamu mas harus bangun pagi pagi demi mengantar aku"
Angga yang merasa ada orang disampingnya membuka pelan pelan matanya "kamu sudah selesai?"
"sudah, mas Angga masih ngantuk?"
Angga menaikan sandaran kursinya "udah enggak, lumayan tidur satu jam, cari sarapan yuk, perut aku laper"
"mas Angga mau makan apa? di depan itu ada tempat makan lumayan lengkap masakannya, tapi ya gitu cuma makanan rumahan"
"boleh, ayo kesana" Angga segera keluar dari mobilnya dan berjalan mengikuti Ana yang berjalan duluan menuju tempat makan di depan masjid.
Ana menaruh tasnya di salah satu meja tempat makan, Angga duduk di kursi meja tersebut.
"mas Angga mau makan apa biar aku pesankan".
"adanya apa aja?"
"ada nasi pecel, nasi campur, rawon, soto, sayur asem, sayur sop, ikannya juga macem macem"
"kamu mau makan apa?" Angga balik bertanya pada Ana
"Aku mau nasi campur aja"
"ya udah aku sama kayak kamu aja"
Ana kemudian memesankan nasi campur dua teh hangat dua.
Ketika menunggu pesanan datang, Ana disapa oma-oma muridnya mengaji
"ustazah Ana"
"assalamualaikum oma-oma, mau makan juga? " tanya Ana
"kita cuma numpang duduk ustazah, kita bawa makanan sendiri, untungnya kita ini tidak pernah diusir" ucap oma lily dengan tertawa kecil
"mbak santi emang gini oma" jawab Ana sambil mengacungkan jempolnya pada mbak santi pemilik tempat makan yang sedang mengantar makanan pesanan Ana.
"ustazah Ana bisa aja, saya hanya bisa amal memberi tumpangan tempat oma-oma menunggu jemputan" jawab mbak santi dengan tersenyum
"itu amalan yang mulia mbak, saya doakan mbak santi lancar rezekinya"
"aamiin" jawab mbak santi dan oma oma serempak.
"silakan ustazah" ucap mbak santi yang kemudian meninggalkan meja Ana
"mari oma-oma saya makan dulu" ucap Ana
"monggo ustazah"
jawab salah satu oma
Angga dan Ana menikmati makanan yang mereka pesan.
Setelah selesai Ana mendekati mbak santi untuk membayar
"itu calon suami ustazah Ana?"
tanya mbak santi
"bukan mbak, teman" jawab Ana sambil tersenyum.
"saya pikir calon suami ustazah, ganteng, wajahnya mirip ama ustazah" ucap mbak santi sambil senyum senyum
"mbak santi bisa aja, ya udah mbak saya pamit assalamualaikum"
"waalaikumsalam ustazah"
Ana kembali ke meja dan melihat Angga sedang memainkan ponselnya
"ayo mas, nanti keburu macet"
Angga memasukan ponselnya ke saku celana dan berdiri.
"mari oma oma saya duluan ya"
"gak pengen nyicipi makanan kita ustazah?"
"matur nuwun oma, lain kali aja, assalamualaikum " jawab Ana
"waalaikumsalam" jawab oma oma secara serempak
Angga tersenyum pada oma oma dengan sedikit mengangukan kepalanya, kemudian berjalan mengikuti Ana yang berjalan duluan.
Angga melajukan mobilnya meninggalkan pelataran masjid.
"bayangan aku murid kamu itu anak anak atau remaja ternyata oma oma seusia mama" ucap Angga
"tapi senang ngajari mereka lucu lucu ngalahin anak kecil, tantangannya lebih banyak" jawab Ana sambil tersenyum.
"kok bisa?"
"kalau ngajar anak kecil mereka cepet banget suruh menghapal dan pelajaran mudah terekam di otak mereka, kalau ama oma oma harus super tlaten, udah banyak yang pikun, susah banget kalau disuruh menghapalkan, tapi aku salut sama mereka masih mau belajar walaupun udah sepuh sepuh"
"pantesan mama langsung suka ama kamu mungkin aura kamu yang sabar menghadapi para kaum sepuh, membuat kamu jadi seperti pawang oma-oma"
Ana hanya tersenyum
Mobil Angga sampai di depan kantor Ana.
"nanti aku jemput lepas magrib ya" ucap Angga sebelum Ana keluar dari mobilnya.
"terima kasih, assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
*****
Pagi ini Tyo nampak tidak bersemangat ketika memasuki ruangannya. Rania menyapa saat bertemu di depan ruangan Tyo, namun sapaan Rania tidak dijawab, Tyo berjalan tanpa menatap Rania yang menyapanya
"ada apa ya, kok pak Prasetyo seperti lagi gak enak hati" batin Rania
Rania mengetuk pintu ruangan Tyo, "selamat pagi pak" ucap Rania sambil membuka pintu ruangan Tyo
Tyo yang sedang duduk didepan mejanya sambil memegangi kepalanya, melihat ke arah Rania yang mulai masuk ke ruangannya "pagi, ada apa Rania??"
"bapak lagi sakit?"
"enggak, kenapa?"
"kok mukanya sayu banget dan sepertinya tidak bersemangat, atau mungkin bapak belum sarapan?"
Rania selalu perhatian terhadap Tyo bahkan dia kadang tidak pulang kalau Tyo belum pulang.
"Rania, apa waktu kamu masih pacaran pacarmu pernah selingkuh?" tanya Angga
Rania kemudian duduk didepan meja Tyo "kayaknya tidak pernah, cuman waktu kita putus itu dia bilang sudah tidak bisa meneruskan hubungan jarak jauh lagi, setelah putus dari saya beberapa minggu kemudian ternyata dia nikah, mungkin dia selingkuh saya juga tidak tau"
"apa emang susah ya Rania membina hubungan jarak jauh?"
"kadang emang lebih gampang kalau kita lebih dekat dengan pasangan kita, karena komunikasinya lebih sering, kan ibarat pepatah jawa witing tresno jalaran soko kulino" jawab Rania dengan tersenyum
"kamu pernah selingkuh?" tanya Angga
"kalau selingkuh secara langsung engga pernah sih pak, cuman ya itu tadi karena saya jauh dari pacar saya jadinya komunikasi kami agak buruk, saya lebih merasakan mendapat komunikasi yang baik dengan orang yang dekat dengan saya disini jadi kadang hati saya mulai melupakan dia"
"jadi intiinya karena berjauhan itu tadi bikin suatu hubungan jadi buruk, gitu ya?"
"tapi tidak selalu seperti itu, ada orang yang baik baik saja hubungannya meskipun berjauhan"
Tyo terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"bapak sudah sarapan? kalau belum tadi saya bikin sandwich telor mungkin bapak mau" ucap Rania sambil menyodorkan kotak makan yang dia bawa.
"kebetulan saya belum sarapan, terima kasih banyak ya Rania kamu selalu perhatian sama saya"
"saya disini sendiri tidak ada keluarga, jadi bapak dan teman teman disini saya anggap pengganti keluarga saya, kalau sama keluarga kan harus perhatian pak"
"minggu depan saya akan cuti menikah satu minggu, kamu siapkan berkas yang harus saya selesaikan dan saya tanda tangani"
"baik pak, semoga acara nikahan bapak lancar"
"aamin, terima kasih doanya, saya mau kasih kamu tiket pesawat PP untuk datang ke hari nikahan saya, sebagai rasa terima kasih karena kamu udah baik sama saya selama ini"
"terima kasih banyak pak, tapi nanti liat bapak nikah saya jadi sedih pengen nikah juga" ucap Rania sambil tersenyum
"apa nikahan bareng aja biar rame?" Tyo membuka kotak makan yang diberikan Rania dan memakan sandwich buatan Rania "wah enak Rania, kamu emang pandai bikin makanan enak"
Rania hanya tersenyum mendengar pujian Tyo. "saya permisi dulu ya pak, semoga sandwich dari saya membuat hari bapak indah" Rania meninggalkan ruangan Tyo.
Tyo menikmati sandwich buatan Rania hingga tidak tersisa "benar kata Rania sandwich ini bikin aku melupakan kegelisahan hatiku"
*
*
*
Jika Tuhan mengambil apa yang kau genggam bukan berarti Dia menghukummu, Dia hanya mengosongkan tanganmu untuk menerima yang lebih baik.
Bersambung
😍
sayang q terlambat menemukan nya,
tapi seruuuu
maaf thor baru like storynya