NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Retakan Dibalik Pintu

Angin siang yang berembus kencang menerpa wajahnya, perlahan mengeringkan sisa-sisa air mata yang membasahi pipi, meninggalkan rasa perih yang nyata. Sepanjang perjalanan dari sekolah menuju rumah, Cinta hanya bisa mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada ujung jaket rajutnya, mencoba menahan isak tangis agar tidak memancing kecurigaan sang pengemudi ojek.

Kata-kata Clarissa terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang tak bisa dimatikan.

Menginap berdua, menghabiskan malam bersama

di Jakarta.

Setiap suku kata itu terasa seperti sembilu yang menyayat kepercayaan yang baru saja ia bangun dengan susah payah semalam. Bagaimana bisa seseorang yang tampak begitu tulus di bawah pendar sisa api unggun, seseorang yang menggenggam tangannya dengan begitu protektif di lorong gelap, memiliki masa lalu yang sekelam dan sebebas itu? Rasa kecewa yang amat dalam berakar di hati Cinta, memicu perang batin antara logika yang menuntut penjelasan dan rasa sakit hati yang terlanjur menguasai ego.

Begitu motor ojek online itu berhenti tepat di depan pagar rumahnya, Cinta segera turun dan menyerahkan selembar uang dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Terima kasih, Pak," ucap Cinta dengan suara serak.

"Sama-sama, Neng. Kurang enak badan, ya? Istirahat, Neng, habis kemah pasti capek," ujar sang pengemudi dengan ramah sebelum akhirnya memutar balik motornya.

Cinta tidak menjawab. Ia membuka selot pagar dengan gerakan tergesa-gesa, lalu melangkah cepat melintasi halaman rumah. Beruntung, suasana rumah siang itu tampak sepi. Mamah kemungkinan sedang beristirahat di dalam setelah mengurus urusan dapur, atau sedang pergi ke rumah tetangga. Cinta membuka pintu depan, menyelinap masuk ke dalam rumah, lalu langsung menuju ke kamarnya sendiri di bagian belakang.

BRAK.

Pintu kamar ditutup sedikit lebih keras dari biasanya. Cinta menjatuhkan tas ranselnya ke lantai begitu saja, lalu mengunci pintu dari dalam. Ia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu yang tertutup rapat, perlahan merosot hingga terduduk di lantai yang dingin. Di dalam kesunyian kamarnya sendiri, pertahanan Cinta akhirnya runtuh sepenuhnya. Kedua lututnya ditekuk, wajahnya disembunyikan di antara lipatan tangan, dan tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah tanpa kendali.

Ia merasa sangat bodoh. Mengapa ia begitu mudah menyerahkan hatinya yang selama ini ia jaga rapat-rapat kepada seorang cowok yang baru ia kenal sebentar? Sifat Rian yang misterius, masa lalunya yang penuh rahasia di Jakarta yang semalam sempat ia maklumi sebagai bagian dari proses pendewasaan kini berbalik menjadi senjata yang paling mematikan bagi perasaan Cinta.

...****************...

Di sisi lain, di depan gerbang SMA 1 Nusa Bangsa, Rian masih berdiri mematung. Tatapannya lurus menatap aspal jalanan kosong tempat motor ojek online yang membawa Cinta menghilang dari pandangan. Napasnya memburu, memicu gejolak amarah yang sangat pekat di dadanya. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar.

"Rian..." sebuah suara lembut yang sangat ia benci terdengar dari arah belakang.

Rian berbalik dengan cepat. Sorot matanya begitu tajam dan dingin, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat, tipe tatapan yang dulu selalu membuat orang-orang di Jakarta memilih untuk mundur dan tidak mencari masalah dengannya.

Clarissa yang baru saja melangkah keluar dari gerbang sekolah sempat tersentak mundur melihat ekspresi Rian. Senyum kemenangan yang semula menghiasi wajah cantiknya seketika memudar, digantikan oleh rasa ngeri yang menjalar di tengkuknya.

"Apa yang kamu katakan pada Cinta?" tanya Rian. Nada suaranya sangat rendah. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti desisan ular yang siap mencabik mangsanya.

"A-aku tidak bilang apa-apa, Rian. Aku cuma mengingatkan dia tentang siapa kamu sebenarnya," jawab Clarissa, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya meskipun suaranya sedikit bergetar. "Aku cuma bilang kalau tempatmu bukan di sini, dengan gadis kampung seperti dia!"

Rian melangkah maju satu langkah, membuat jarak di antara mereka mengikis drastis. Aura intimidasi Rian begitu kuat hingga membuat beberapa siswa yang masih berada di sekitar gerbang memilih untuk menjauh, tidak berani mendekat.

"Dengarkan aku baik-baik, Clarissa," desis Rian tepat di depan wajah gadis itu. "Aku sudah pernah memperingatkanmu di koridor dua minggu lalu. Jangan pernah menyentuh Cinta. Apapun kebohongan yang kamu katakan hari ini, bersiaplah untuk menanggung akibatnya.

Tanpa menunggu balasan dari Clarissa, Rian berbalik dengan kasar. Ia melangkah menuju motor besarnya, menyalakan mesin dengan sentakan kuat hingga deru knalpotnya menggema memekakkan telinga di area parkir, lalu memacu kendaraannya keluar dari lingkungan sekolah dengan kecepatan tinggi. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama yaitu Cinta.

...****************...

Waktu menunjukkan pukul dua siang saat deru mesin motor besar yang sangat familiar bagi telinga Cinta berhenti tepat di depan rumahnya.

Cinta, yang saat itu sedang berbaring telentang menatap langit-langit kamar dengan mata yang sembap dan merah, langsung menegakkan tubuhnya. Jantungnya kembali berdegup kencang, kali ini dipenuhi oleh rasa panik dan cemas. Ia tahu Rian pasti akan menyusulnya, namun ia belum siap atau mungkin tidak akan pernah siap untuk menghadapi cowok itu saat ini.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan keras pada pintu depan rumah, diikuti oleh suara berat Rian yang memanggil namanya dari luar.

"Cinta! Cinta, tolong keluar sebentar. Kita harus bicara!" panggil Rian dari teras rumah. Ketukannya terdengar tidak sabar namun masih mencoba menjaga batas kesopanan agar tidak mengejutkan ibu Cinta.

Cinta tetap bergeming di dalam kamarnya. Ia menutup kedua telinganya dengan bantal, mencoba meredam suara Rian yang terus menggema di ruang tamu.

Dari balik dinding kamar, Cinta bisa mendengar suara langkah kaki Mamah yang berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Rasa panik Cinta semakin memuncak.

"Eh, Rian? Ada apa? Kok mukanya panik begitu? Cinta mana? Bukannya tadi kalian pulang bareng?" tanya Mamah terdengar bingung dari arah ruang tamu.

"Pagi, Tante. Maaf mengganggu," suara Rian terdengar mengatur napasnya yang memburu. "Cinta sudah pulang duluan naik ojek tadi. Apa dia ada di kamarnya, Tante? Saya... saya ada urusan penting yang harus diselesaikan dengan Cinta sekarang."

"Oh, begitu. Soalnya tadi Tante lagi istirahat jadi tidak melihat kalau dia sudah pulang. Ya sudah masuk saja, coba ketuk pintunya, " ucap Mamah memberikan izin.

Langkah kaki tegap Rian terdengar mendekat menyusuri koridor rumah menuju ke arah kamar bagian belakang. Setiap ketukan langkah kaki itu terasa seperti hitungan mundur yang mendebarkan di dada Cinta. Hingga akhirnya, langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.

Tok Tok Tok

Pintu kamar Cinta diketuk dengan ritme yang lebih pelan namun bertenaga.

"Cinta, aku tahu kamu di dalam. Tolong buka pintunya," ucap Rian dari balik pintu. Nada suaranya tidak lagi meledak-ledak seperti di sekolah, melainkan terdengar sangat melembut. "Jangan percaya dengan apa yang Clarissa katakan. Dia bohong, Cinta. Demi apa pun, dia cuma mau memisahkan kita."

Cinta melepaskan bantal yang menutupi telinganya. Ia berjalan perlahan mendekati pintu, namun tidak berniat untuk memutar kunci. Ia berdiri tepat di balik daun pintu kayu yang tebal, memisahkan jarak di antara mereka yang hanya berkisar beberapa sentimeter saja.

"Pulanglah, Rian," ucap Cinta akhirnya. Suaranya terdengar sangat serak dan lemah, sisa dari tangis panjangnya tadi. "Aku lelah. Aku ingin istirahat."

Mendengar suara Cinta yang serak, Rian menyandarkan keningnya pada permukaan luar pintu kamar. Rasa bersalah yang luar biasa menghantam dadanya. Ia benci melihat fakta bahwa dirinya kembali menjadi penyebab air mata gadis yang sangat ia sayangi itu luruh.

"Aku tidak akan pulang sebelum kamu membuka pintu ini dan mendengarkan penjelasanku, Cinta," balas Rian bersikeras. "Clarissa pasti mengatakan hal-hal buruk tentang masa laluku di Jakarta, kan? Aku akui hidupku dulu berantakan, tapi tidak semua yang dia katakan itu benar. Tolong, beri aku kesempatan untuk meluruskan semuanya."

Air mata Cinta kembali menetes perlahan membasahi pipinya saat mendengar desakan Rian. Rasa sakit hati dari klaim Clarissa tentang hubungan fisik di masa lalu itu terlalu besar untuk ia abaikan begitu saja. "Tentang apartemen itu... tentang kalian yang sering menghabiskan malam bersama... apa itu juga bohong, Rian?" tanya Cinta dengan suara bergetar, menuntut kebenaran yang paling ia takuti.

Pertanyaan itu membuat suasana di koridor luar mendadak sunyi mencekam. Rian tertegun di tempatnya. Ia tidak menyangka Clarissa akan melangkah sejauh itu dengan membawa kebohongan tingkat rendah yang sangat menjijikkan untuk merusak reputasinya di depan Cinta. Keheningan sesaat dari Rian itu justru diartikan lain oleh Cinta. Bagi Cinta, jeda itu terasa seperti sebuah konfirmasi bisu.

"Pulang, Rian. Tolong... hargai keputusanku untuk sendiri dulu saat ini," ucap Cinta dengan sisa ketegasannya, sebelum akhirnya ia melangkah mundur dari pintu dan berjalan kembali menuju tempat tidurnya, mengabaikan ketukan dan panggilan Rian yang kembali terdengar memanggil namanya di balik pintu yang tetap terkunci rapat.

1
Restu Siti Aisyah
mampir kak👍
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!