#bebas promo euy!!!🥳🥳🥳
#yang mampir wajib like..komen dan vote ya..😎
##
(Season 1)
Haniza Tiara Putri..
seorang putri konglomerat yang rela berpenampilan seperti Betty La Fea hanya untuk terbebas dari sikap protektif sang ayah dan kakak laki-laki nya. Mempunyai sifat keras kepala.
Mencoba mencari cinta sejatinya diantara bayang-bayang masa lalunya.
#Aldian Reza Kusuma
seorang pengusaha muda nan sukses. Namun menyimpan seribu duka dihatinya. Mulai dari penghianatan sang kekasih hingga fitnah keji yang mengikuti setiap langkahnya.
Akan kah kali ini takdir menghadirkan cinta tanpa duka untuk Reza?
Sanggupkah dia menggenggam cinta nya walau berbagai rintangan melanda?
ikuti cerita seru Reza-Tiara ya gengs.... 😘
🥳🥳🥳telah hadir season 2 nya juga di karya ini ya zeyeng ..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kalung senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai besar
Setiba nya di rumah sakit, Tiara menemani Daffa di ruang IGD sambil menunggu dokter untuk memeriksanya, karena banyak sekali anak-anak yang kondisi nya lebih buruk dari Daffa. "Nah, kakak harus menelpon orang tua mu. Apakah kamu ingat nomor telpon ayah atau ibu mu?" Tanya Tiara, dan memegang tangan bocah kecil itu.
Aku hanya ingat nomor telpon rumah ku. Aku tidak punya telpon ayah karena kami jarang bertemu." Jawab Daffa, dan menundukan kepalanya.
"Nomor telepon rumah juga gak papa." Ujar Tiara, menggenggam erat tangan anak laki-laki itu.
Daffa pun menyebutkan nomor telepon rumahnya. Segera Tiara menghubungi keluarga Daffa untuk mengabari kalau Daffa mengalami kecelakaan pagi ini dan disedang diperiksa di Rumah sakit Medical Centre.
"Hallo, kediaman keluarga Kusuma, ada yang bisa saya bantu?" Terdengar suara laki-laki di ujung telepon.
"Apakah ini rumah keluarga Daffa?" Tanya Tiara, ragu.
"Iya benar. Namun tuan muda sedang berada di sekolah saat ini. Mungkin... "
"Maaf, Daffa saat ini sedang berada dengan saya di Rumah sakit Medical Centre. Bus yang membawanya tadi pagi mengalami kecelakaan." Serobot Tiara, memotong pembicaraan pria itu.
"Apa? Tuan Daffa mengalami kecelakaan?" Tanya pria itu pada Tiara. Dan langsung berteriak-teriak memanggil nyonya nya tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut dari Tiara. . "Nyonya.... nyonya.... tuan Daffa kecelakaan!!!"
"Halo.. Halo... bagaimana keadaan cucu saya? bisa saya berbicara dengan Daffa?" Saat ini sepertinya nyonya rumah lah yang sedang berbicara, karena Tiara tidak lagi mendengar suara pria yang berbicara sebelumnya.
Tanpa menjawab pertanyaan wanita tersebut, Tiara langsung menyerahkan handphone nya pada Daffa. "Nenek mu mau bicara?" Ujarnya, pelan.
Daffa mengambil handphone Tiara. Dan mulai berbicara dengan wanita di ujung sambung telepon. " Hallo, Omma? "Sapa nya pelan.
" Daffa, cucu omma! Dimana kamu sekarang nak?Apakah benar bus mu mengalami kecelakaan?"Tanya omma Daffa yang tak lain ialah Siska, sahabat bundanya Tiara.
"I am good, Omma!Tadi ada kakak yang menolong Daffa. Apakah omma akan kemari menjemput Daffa?"
"Tentu sayang.. omma dan ayah akan kesana segera sayang!" Ujar Siska, dan mematikan panggilan tersebut.
"Sudah dimatikan." Ucap Daffa, dan mengembalikan handphone Tiara.
"Apakah nenek mu akan datang?" Tanya Tiara, memastikan.
"Ya, nenek akan datang bersama ayah." Jawab Daffa singkat.
"Hmm.. kalau begitu kakak bisa pergi sekarang? Tapi tenanglah. Kakak akan memindahkan kamu terlebih dahulu ke ruangan Vip." Jelas, Tiara panjang kali lebar.
"Tidak bisakah kakak menemani ku lebih lama?" Tanya Daffa, kemudian memandang Tiara.
"Tidak bisa sayang, karena kakak harus bekerja" ujar Tiara dan mengelus rambut Daffa.
Tiara bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju meja pendaftaran pasien.
Setelah selesai mendaftarkan kamar untuk Daffa, Tiara kembali ke ranjang Daffa bersama seorang perawat wanita.
"Mari ikuti saya, " Pinta perawat wanita itu, lembut.
Tiara memandang Daffa dan berkata, " Apakah kamu bisa berjalan? Kalau tidak, akan kakak gendong. "
Daffa segera turun dari tempat tidur. Dia tidak ingin digendong lagi seperti anak kecil. "Aku bisa sendiri." Serunya, dan melompat turun.
Tiara dan Daffa mengikuti perawat yang menunjukan ruang pasien pada mereka.
Sesampainya di ruangan, perawat itu meminta Daffa untuk tidur di atas ranjang pasien. "Adek kecil, tunggu sebentar ya. Kakak akan memanggilkan dokter." Seru perawat itu, dan pergi meninggalkan ruangan.
Tiara memandang Daffa, "Kakak akan menunggu dokter memeriksa mu, baru setelah itu kakak akan berangkat kerja." Jelas Tiara, pada bocah kecil yang sedang memandangnya.
"Baiklah," Jawab Daffa, dan menutup matanya.
"Selamat pagi." Terdengar suara sapaan dari seorang laki-laki.
Tiara menoleh ke sumber suara. Ternyata dokter yang ditunggu-tunggu oleh Tiara telah datang.
"Pagi, Dok." Jawab Tiara, dan berdiri dan duduknya.
"Apakah anak tampan ini yang sakit?" Ujar dokter itu, dan mendekati Daffa.
"Om, Irfan!" Teriak Daffa, dan memeluk dokter tersebut. Momen ini membuat Tiara terkejut.
"Daffa? .. si ganteng om ini sakit apa?" Tanya sang dokter terkejut melihat Daffa tanpa didampingi oleh keluarganya. Berlahan,Irfan melepaskan pelukan Daffa.
Daffa hanya diam.
Tiara yang melihat Daffa tidak menjelaskan apapun langsung berinisiatif menjelaskannya pada dokter muda tersebut.
"Apakah anda kenal dengan anak ini?" Tanya Tiara, ragu.
"Ya, tentu saja. Saya adalah teman dekat ayahnya. Kenalkan nama saya Irfan." Jawab dokter itu, dan mengulurkan tangannya.
" Saya Hany," Tiara menyalami tangan dokter tesebut.
" Bisa anda periksa anak ini. Tadi pagi bus sekolahnya kecelakaan. Tadi di IGD dia belum sempat diperiksa karena ada banyak korban lain yang keadaannya sepertinya lebih parah." Jelas Tiara pada Irfan.
'Apa? Kecelakaan?"Irfan kaget mendengar penjelasan Tiara. "Apakah ayah mu sudah tau, Daffa?" Tanya Irfan, dan segera memasang Tetoskop nya.
"Aku sudah menghubungi keluarganya, mereka dalam perjalanan kesini." Ujar Tiara.
Irfan hanya mendengar perkataan Tiara tanpa menjawab, karena saat ini dia sedang fokus memeriksa Daffa.
Tak lama kemudian, Irfan menutup baju Daffa dan membelai kepalanya. "Apakah kamu ada terbentur sesuatu sewaktu kecelakaan tadi?" Tanya Irfan, pada anak sahabatnya itu.
Daffa menggeleng.
"Apakah ada tubuh mu yang terasa sakit?" Irfan melanjutkan pertanyaannya.
Daffa kembali menggeleng.
" Hmm.. sepertinya dia baik-baik saja. Tapi untuk memastikan, aku akan membawa nya untuk pemeriksaan lebih lanjut."Jelas Irfan pada Tiara.
"Maaf dok, tapi saya tidak bisa berlama-lama disini. Saya harus pergi bekerja." Ujar Tiara. Karena bagaimana pun ini sudah sangat terlambat. Dia tidak bisa menunggu lebih lama. "Bisa kah saya menitipkan anak ini dengan dokter?" Tanya Tiara.
" Tentu!" Jawab Irfan, dengan yakin.
Tiara lega karena akhirnya dia menemukan orang yang bisa menjaga Daffa. " Ganteng, Kakak pergi dulu ya? Kamu tidak keberatan kan disini dengan om dokter yang tampan ini?" Tanya Tiara pada Daffa.
Daffa pun mengangguk." Terima kasih." Ucapnya, pelan.
"Lekas sembuh ya! Semoga kita ketemu lagi lain kali." Tiara mengusap kepala bocah itu dan segera meninggalkan ruangan Daffa.
Tiara permisi untuk bertukar pakaian di toilet karena yang dikenakan nya sekarang sangat kotor.
Setelah bertukar pakaian, Tiara segera pamit pada Daffa dan dokter Irfan. Lalu keluar dari kamar Daffa.
Pakaian kotor yang telah dia lipat, kemudian dia masukan ke tong sampah di luar kamar Daffa. Tiara segera memesan Grab untuk mengantarkan nya ke kantor.
****
"Kamu dari mana aja Hany?" Tanya Putra ketika melihat Tiara duduk di kursinya.
"Tadi ada kecelakaan,mas!" Seru Tiara dan lanjut menjelaskan peristiwa tadi pagi ke Putra.
Putra hanya tersenyum mendengar penjelasan Tiara. "Baik sekali kamu Tiara!" Ucap Putra dalam hati.
"Sebaiknya kamu temui pak Dahnil sekarang." Seru putra, setelah mendengar semua cerita Tiara.
"Ada apa mas?" Tanya Tiara, penasaran.
"Nanti kamu akan tahu." Jawab Putra, dan kembali melanjutkan designnya.
Tiara pun pergi menghadap atasannya.
"Bapak mencari saya?" Ucap Tiara sopan.
"Kemana kamu tadi pagi, Hany?"Tanya Dahnil ketika Tiara masuk ke ruangannya.
"Ada urusan penting yang sangat mendadak tadi pagi pak. Maaf saya terlambat meminta izin pak." Ucap Tiara, dan menunduk karena merasa bersalah karena tidak memberitahu sebelumnya.
Dahnil menarik nafas, dan berkata, " Kamu dipanggil pak Reza ke ruangannya. Tadi pagi ada rapat mendadak mengenai proyek design permata dengan direktur. Dan dia sangat marah sepertinya ketika tidak melihat mu dirapat itu. Bersiap-siap saja. Sepertinya, kamu sedang dalam masalah besar." Jelas Dahnil, menatap iba pada Tiara.
"Kamu bisa pergi ke ruangan direktur sekarang." Lanjut Dahnil kemudian.
" Baiklah pak." Jawab Tiara, langsung menuju ruang direktur tanpa meletakan tasnya.
***
Sesampainya di lantai atas, Tiara menemui sekretaris sang direktur terlebih dahulu. Dia tidak mau menambah kesalahan nya dengan menerobos masuk ke ruangan sang direktur.
"Maaf, mbak. Pak Direktur ada?" Tanya Tiara pada Tia yang sedang sibuk memeriksa beberapa berkas.
Tia melihat Tiara dan berkata,"kamu masuk aja. Sudah ditunggu oleh pak Reza dari tadi." Serunya.
Tiara hanya dapat menelan salivanya. Dia merasa badai besar akan segera menghantam nya.
Tiara Pun mendekati pintu ruangan direktur dan mengetuk pintu tersebut dengan pelan.
Terdengar perintah masuk dari dalam ruangan. Tiara pun membuka pintu tersebut.
"Selamat siang, pak?" Sapa nya, sambil menutup matanya dan memandang ke bawah.
Reza dan Ardi sedang di dalam ruangan pun melihat ke arah Tiara. Reza langsung melihat Ardi dengan sebuah senyum kemenangan sekaligus penyiksaan di wajahnya.
"Jadi kamu tau, kalau sekarang ini sudah siang?" Seru Reza, tanpa menjawab sapaan dari Tiara.
Tiara yang tahu kalau dia memang bersalah karena terlambat datang dan tidak ikut rapat, hanya bisa tetap menunduk dan diam.
"Jawab!!!" Bentak Reza, karena melihat Tiara yang hanya bisa diam dan menunduk.
Tiara menelan salivanya dan berkata dengan terbata-bata, "ma-maaf, pak. Tadi saya... "
"Saya tidak mau mendengar apapun alasanmu!!" Reza segera memotong omongan Tiara.
"Kamu ini masih magang di perusahaan ini, tapi sudah berani melanggar peraturan perusahaan." Reza kembali membentak Tiara.
Tiara tetap diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Apakah karena design mu menang ketika perlombaan kemaren sehingga kamu jadi besar kepala?" Reza terus menyudutkan Tiara. "Jawab!!!" Bentak Reza untuk kesekian kalinya.
Tiara benar-benar tidak menyangka kalau perbuatan baiknya pagi tadi akan berbuntut panjang seperti ini.
"Kenapa kamu diam!!" Bentak Reza, sambil melemparkan bola karet yang telah dipegangnya dari tadi.
Ardi terkejut melihat Reza melemparkan bola tersebut ke arah Tiara. Karena walaupun dirinya selalu dilempar dengan bola karet tersebut oleh Reza, namun dia yakin,Reza belum pernah melempar bola tersebut ke wanita. Sahabat nya kini benar-benar tengah menikmati pembalasan dendamnya. "Lo benar-benar gila, Za! Untung bola tersebut hanya melewati samping wajah gadis itu." Gumamnya dalam hati.
Tiara yang melihat Reza melemparkan bola ke arahnya hanya bisa menahan rasa takutnya dengan memejamkan matanya. Walaupun bola tersebut tidak mengenai wajahnya, tapi Tiara benar-benar merasa tindakan Reza sangat keterlaluan. Tanpa terasa, air mata yang telah ditahannya dari tadi pun mulai menggenang di matanya.
"Saya tidak mau melihat kamu lagi diperusahaan saya... Ardi tolong.... "
mendadak omongan Reza terputus oleh sebuah panggilan telepon dari ibunya.
"Hallo, mom. "
"Apa? Dimana?"
"Reza akan segera kesana!".
Reza menutup telepon itu dan bergegas memakai jasnya. " Ardi lo ikut gue!"
"Terus, urusan ini gimana?" Tanya Ardi bingung setelah mendapatkan perintah ganda dari Reza.
"Setelah kita pulang aja kamu usir dia!"Ucap Reza, menatap tajam pada Tiara. Dan meninggalkan ruangan tersebut.
" Baiklah." Ardi pun berdiri dari tempat duduknya. Dan menghampiri Tiara. "Sebaiknya kamu mengemasi barang-barang mu. Saya akan memberikan surat pemberhentian magang mu setelah kembali nanti." Ardi pun meninggalkan Tiara di ruangan itu sendirian.
Setelah Reza dan Ardi pergi dari ruang itu, Tiara terjatuh ke lantai. Pertahanan terakhirnya pun runtuh. Untuk pertama kalinya dalam hidup Tiara, dia mendapatkan bentakan beruntun dari seseorang. Bahkan ayah dan ibunya pun tidak pernah membentaknya seperti itu.
Air mata yang tadinya hanya menggenang di kelopak matanya, kini mengalir di pipinya. Tiara memegang dadanya yang bergumuruh. Setiap kali mengelap air mata dipipinya, air mata yang lain turun untuk menggantikan air mata yang sudah dilap sebelumnya.
Perkataan Dimas ketika melarang dia untuk magang di tempat lain pun terngiang di kepala Tiara. "Kakak benar! Tidak mudah untuk magang di tempat orang!"Ujarnya pelan, dan berdiri.
Tiara menarik nafas dalam, dan keluar dari ruangan Reza dengan langkah gontai.
Tia yang dari tadi mendengar teriakan dan makian sang bos, sudah dapat menebak dengan jelas hal yang menimpa Tiara. Dia menatap iba pada anak magang itu.
****
hai.. hai.. hai..
jangan lupa untuk like, komen dan vote ya..
love you semua nya....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣
lsng minta d kelonin