NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata itu...

Saat ada jam kosong beberapa waktu lalu, Yuni menghampiri Jeni di fakultasnya hanya untuk menanyakan keadaan Nadia.

"Beb, Nadia masih sakit ya?"

Jeni bingung mau jawab apa pada Laura, akhirnya dia memberi jawaban asal. "Kemarin sih iya Nadia agak kurang enak badan. Tapi katanya sekarang udah agak mendingan. Mungkin besok sudah masuk lagi."

"Syukur deh. Eh iya, tadi Laura telpon elo, tapi gak lo angkat."

Jeni agak kaget mendengar itu, tapi dia mencoba seakan tidak tau apa apa. "Oh iya, ya? Aduh gue gak lihat hp. Terus hp gue juga mode silent. Gue belum ngecek hp sampai sekarang."

"Oh gitu. Ya udah nanti telpon aja lagi Laura. Kasih tau kalau Nadia baik-baik aja. Dia khawatir."

"Iya nanti gue kasih tau Laura."

"Oke. Gue balik ke kelas lagi, beb. Tugas gue banyak banget."

"Iya sana! Gue juga udah mau pulang. Nih lagi nunggu Kevin jemput."

"Oke. See yaa beb."

"Hmm, see yaa..."

Jeni menatap kepergian Yuri dengan perasaan bersalah karena telah berbohong. Tapi, apa boleh buat. "Pokoknya aku gak akan angkat telpon Nadia dan aku gak peduli dia kenapa. Aku masih harus membuktikan apakah Nadia yang merayu Kevin atau memang Kevin yang jelalatan!" lirihnya bicara sendiri.

Tidak lama kemudian Kevin datang menjemputnya. Jeni langsung masuk ke mobil tanpa mau menatap pada Kevin. Kevin yang memang sudah merasa ada yang aneh pada pacarnya itu sejak pagi pun, memilih untuk tidak melajukan mobil.

"Kenapa gak jalan?" tanya Jeni bingung karena Kevin yang tadi sudah menyalakan mobil malah mematikan lagi mesinnya.

"Sayang kenapa?" tanya Kevin lembut sambil meraih kedua tangan Jeni.

"Kenapa apanya? Orang aku gak apa-apa kok." nada bicaranya ketus.

"Kamu marah ya sama aku? Apa aku bikin kesalahan?"

"Gak ada. Udah ayok jalan. Aku mau pulang!" suaranya meninggi dan dengan kuat Jeni menarik tangannya dari genggaman Kevin.

"Sayang..."

Kevin hendak menarik kembali tangan Jeni, tapi Jeni malah membuka pintu mobil.

"Sayang, kita bicara!" tegas Kevin berusaha menghentikan Jeni turun dari mobil.

"Aku tau, kamu marah sama aku. Kita bicara, oke!"

Jeni terdiam, Kevin bicara sangat tegas. Bukan dengan suara yang keras, hanya terdengar tegas di telinganya.

Begitu melihat Jeni menutup kembali pintu mobil, Kevin langsung mengunci pintu mobil.

"Aku tau ada yang tidak beres. Aku bisa merasakan itu, sayang. Jadi, sekarang ngomong. Katakan apa yang membuat kamu kesal sama aku!" masih dengan nada suara yang tegas.

Jeni tidak langsung menjawab. Dia terdiam beberapa saat sambil memikirkan baiknya mulai dari mana pembicaraan ini.

"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kevin dengan suara lembut lagi.

Jeni menghela napas cukup dalam, matanya terpejam lalu terbuka lagi. "Kamu suka sama Nadia kan?"

Pertanyaan barusan membuat wajah Kevin berkerut sempurna. "Kamu bicara apa sayang?"

"Jawab. Bukannya tadi kamu yang mau tau kenapa aku kesal! Iya aku kesal sama kamu, aku gak tau harus bersikap seperti apa, aku..."

Kevin meraih tubuh Jeni untuk dia peluk. "Kenapa kamu berpikir aku suka sama Nadia?" tanya Kevin pelan.

Jeni diam dalam pelukannya, tidak ada niat untuk membalas pelukan itu sama sekali.

"Malam itu, waktu kamu jemput aku di mall. Aku lihat kamu tatap Nadia dengan tatapan dalam penuh arti. Lalu, waktu paginya kamu antar aku ke kampus, kamu tatap lagi Nadia dengan tatapan yang sama. Tatapan apa itu kalau bukan tatapan suka!"

Kevin menghela napas dalam, perlahan melepas pelukan. Digenggamnya lagi kedua tangan Jeni. "Sayang, lihat aku!"

Cukup lama Jeni diam tanpa mau menatap mata Kevin. Tapi, kemudian meski ragu Jeni pun menatap tepat kedua mata Kevin.

"I love you. I love you Jeni Stevani. I love you more."

Kevin mengucapkan itu dengan suara lembut tapi penuh penekanan agar Jeni bisa merasakan betapa besar dia mencintai kekasihnya itu. Sementara Jeni, setelah mendengar kalimat itu, air matanya jatuh begitu saja.

"Maaf, maaf karena aku membuat kamu merasa aku tertarik pada wanita lain. Maaf, karena aku tidak mengatakan apapun. Maaf, maaf, maaf..."

Jeni semakin menangis deras. Dia bingung, dia takut mendengar permintaan maaf itu yang terdengar seakan mengiyakan bahwa benar Kevin tertarik pada Nadia.

"Sayang, aku merasa ada sesuatu dengan mata Nadia sejak awal bertemu dia di kafe hari itu. Lalu, saat bertemu lagi dengan Nadia untuk kedua kalinya, aku semakin penasaran dengan matanya."

Tangis Jeni makin menjadi. Kevin tersenyum getir, ingin menarik tubuh itu untuk dia peluk, tapi ditahannya sebelum selesai menjelaskan semua kesalahpahaman itu.

"Kamu ingatkan, aku pernah cerita tentang papa yang ketahuan selingkuh sama mahasiswanya puluhan tahun yang lalu. Mama memilih cerai sama papa saat mama tau perempuan itu hamil anak papa."

Dengan suara yang gemetar dan lantang Jeni menjawab. "Aku tau, tapi apa hubungan perselingkuhan papa kamu sama Nadia!"

"Mata Nadia! Mata Nadia sama persis dengan mata papa." ucap Kevin lantang.

Sorot mata Jeni membulat, mulutnya tertutup rapat setelah mendengar kalimat barusan.

"Hari pertama aku ketemu Nadia, aku hanya merasa matanya sangat familiar. Hari kedua aku ketemu Nadia, aku mulai menyadari kalau mata itu, mata papa. Aku gak cerita sama kamu karena aku belum sepenuhnya yakin. Bisa saja aku salah lihat karena mungkin aku rindu papa. Tapi, setiap kali aku melihat mata itu, semakin aku yakin itu mata papa."

Tangis Jeni yang tadi deras perlahan mereda. "Tapi, Nadia punya dua orang kakak kembar."

"Apa kamu tau seperti apa ibu nya Nadia?"

Jeni menggeleng pelan. "Aku belum pernah bertemu ibunya Nadia. Tapi, ayah Nadia sudah lama meninggal."

"Dan papa masih hidup. Papa di Bandung. Hanya saja aku gak tau apa papa menikahi perempuan itu atau papa menikah dengan perempuan lain. Yang jelas papa sudah berkeluarga lagi."

"Tapi kalau Nadia benar anak papa kamu dengan wanita itu, harusnya Nadia anak pertama kan?"

"Harusnya iya, sayang. Karena selingkuhan papa tu mahasiswanya."

"Nadia punya dua orang kakak kembar. Jadi, rasanya gak mungkin Nadia anak papa kamu. Mungkin, Nadia hanya kebetulan punya mata yang sama dengan papa kamu, sayang?"

Kevin mengangguk ragu. "Iya, mungkin begitu."

Jeni menyeka sisa air matanya sendiri, lalu dia memeluk Kevin untuk membuat Kevin merasa nyaman setelah kembali mengingat sosok papa yang sangat dia rindukan.

"Maaf karena telat cerita ini ke kamu. Maafin aku, sayang."

"Aku juga minta maaf karena sudah salah paham."

"Aku janji, setelah ini kalau ada apa-apa, aku akan langsung cerita sama kamu. Aku gak akan merahasiakan apapun lagi. Aku gak mau kamu salah paham lagi seperti ini. Aku takut kehilangan kamu, sayang." gumam Kevin di dekat telinga Nadia.

"Aku juga minta maaf. Harusnya aku langsung tanya kamu aja malam itu. Dan sekarang, Nadia pasti bingung karena aku cuek banget sama dia dua hari ini."

Kevin mengelus lembut kepala Jeni sebelum mendaratkan kecupan hangat di keningnya. "I love you, sayang."

Mata Jeni yang masih berair itu terlihat berbinar-binar mendengar kalimat itu. "I love you more, sayang."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!