Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelompok Kecil Dikelas D
Udara di koridor menuju gedung Kelas D terasa lebih lembap dan sepi dibandingkan dengan area utama akademi yang selalu dipenuhi oleh tawa dan suara langkah kaki yang terburu buru. Arlan berjalan dengan langkah yang sangat stabil, tangannya sesekali menyentuh dinding batu yang dingin. Setiap langkahnya kini terasa lebih berat namun mantap, sebuah efek nyata dari latihan Napas Bumi yang dia lakukan semalam di gudang bawah tanah. Dia merasa seolah olah ada akar halus yang tumbuh dari telapak kakinya, menghubungkannya langsung dengan pondasi bangunan ini. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia selalu merasa bahwa dasar dari setiap kesuksesan adalah pondasi yang kuat. Tanpa pondasi, gedung pencakar langit yang paling megah sekalipun akan runtuh oleh satu getaran kecil.
Saat Arlan memasuki ruang kelas, dia disambut oleh suasana yang masih sama seperti kemarin: penuh dengan keputusasaan. Namun, ada sedikit perubahan pada beberapa mahasiswa. Gadis berkacamata tebal yang duduk di barisan depan, yang Arlan ketahui bernama Liora, tampak sedang mencoret coret buku catatannya dengan sangat cepat. Di sampingnya, seorang pemuda bertubuh kurus bernama Hans terlihat sedang mencoba mengatur pernapasannya dengan wajah yang sangat pucat. Mereka berdua adalah gambaran dari orang orang yang sudah menyerah sebelum perang dimulai.
Arlan duduk di bangku belakangnya yang biasa. Dia meletakkan tasnya dengan perlahan, lalu mulai memperhatikan rekan rekan sekelasnya dengan lebih saksama. Dia menyadari bahwa meskipun mereka berada di Kelas D, setiap dari mereka memiliki sedikit aliran mana yang unik. Liora memiliki mana elemen air yang sangat halus namun tidak stabil, sementara Hans memiliki mana elemen tanah yang cukup padat namun tersumbat di area dadanya. Di mata para penguji, mereka adalah sampah karena potensi mereka tidak bisa digunakan untuk serangan besar. Namun di mata Arlan, mereka adalah bahan baku yang belum diolah.
"Hei, Arlan," suara lirih memecah fokus Arlan.
Liora berdiri di samping meja Arlan dengan tangan yang memegang erat ujung seragamnya. Wajahnya tertunduk, tidak berani menatap mata Arlan secara langsung. Arlan hanya menatapnya dengan diam, menunggu apa yang akan dikatakan oleh gadis itu.
"Terima kasih untuk kejadian kemarin," bisik Liora. "Tapi... kamu harus berhati hati. Mahasiswa Kelas A yang kamu lukai itu adalah bagian dari Kelompok Elang Perak. Mereka tidak akan membiarkan anggotanya dipermalukan oleh seseorang dari kelas kita. Mereka pasti akan mencari mu di kantin nanti."
Arlan hanya mengangguk kecil. "Terima kasih atas informasinya, Liora. Tapi aku tidak punya rencana untuk bersembunyi."
Liora tampak terkejut mendengar jawaban Arlan yang begitu tenang. Dia ingin bicara lagi, namun Profesor Silas masuk ke dalam kelas dengan gaya berjalannya yang limbung. Silas meletakkan botol minumannya di meja dan menatap seluruh mahasiswa dengan pandangan yang kuyu. Hari ini dia tidak membawa buku, melainkan membawa sebuah tumpukan batu bata yang sudah tua.
"Hari ini kita tidak belajar sejarah," ucap Silas sambil mendengus. "Pihak akademi memerintahkan kita untuk membersihkan area taman belakang gedung ini. Mereka bilang tempat itu terlalu kotor untuk dilihat oleh para bangsawan yang akan berkunjung minggu depan. Jadi, ambillah peralatan kalian dan mulailah bekerja."
Keluhan kecil terdengar dari seluruh penjuru kelas. Mereka masuk ke akademi untuk belajar sihir dan ksatria, namun mereka justru diperlakukan seperti buruh kasar. Arlan adalah satu satunya yang tidak mengeluh. Dia bangkit dari kursinya dengan sangat ringan. Baginya, pekerjaan fisik di taman adalah kesempatan lain untuk melatih Teknik Napas Bumi di bawah sinar matahari.
Pekerjaan di taman belakang ternyata jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Taman itu dipenuhi oleh semak berduri yang sangat liar dan batu batu besar yang harus dipindahkan secara manual. Mahasiswa lain mulai bekerja dengan ogah ogahan, tangan mereka terluka oleh duri dan wajah mereka penuh dengan peluh. Arlan mengambil bagian yang paling berat: memindahkan bongkahan batu marmer yang sudah pecah.
Dia mempraktikkan teknik menyerap beban ke tanah. Setiap kali dia mengangkat batu, Arlan membiarkan berat batu itu mengalir melalui lengannya, turun ke tulang belakang, dan berakhir di tanah melalui telapak kakinya. Dia tidak menggunakan otot punggungnya secara berlebihan. Hasilnya, Arlan bisa mengangkat batu yang beratnya dua kali lipat dari berat tubuhnya dengan wajah yang tetap tenang.
Liora dan Hans yang bekerja tidak jauh dari Arlan hanya bisa melongo melihat kekuatan Arlan. Mereka melihat Arlan seolah olah sedang melakukan tugas yang sangat ringan. Rasa penasaran mulai mengalahkan rasa takut mereka.
"Bagaimana kamu bisa melakukannya, Arlan?" tanya Hans sambil menyeka keringat di dahinya. "Aku mencoba mengangkat batu kecil itu saja sudah membuat pinggangku sakit."
Arlan berhenti sejenak dan menatap Hans. Dia melihat aliran mana Hans yang tersumbat di dada. "Kamu menahan napas mu di dada saat mengangkat beban. Itu salah. Kamu harus mengirimkan napas mu ke perut bawah, lalu bayangkan kakimu sedang menembus lantai. Jangan mencoba melawan berat beban itu, tapi biarkan beban itu mengalir melewati mu menuju tanah."
Hans mencoba mengikuti instruksi Arlan. Dia menarik napas panjang ke perut bawahnya dan mencoba mengangkat kembali batu kecil tadi. Sesaat kemudian, mata Hans membelalak. "Ringan... ini jauh lebih ringan dari tadi!"
Liora juga mencoba teknik pernapasan tersebut untuk menarik semak berduri yang sangat kuat akarnya. Dia menyadari bahwa saat dia rileks dan mengatur napasnya sesuai arahan Arlan, mana elemen airnya mulai mengalir lebih lancar, melumasi sendi sendinya dan mengurangi rasa sakit. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Liora dan Hans merasa bahwa mereka memiliki harapan untuk berkembang.
Setelah beberapa jam bekerja, waktu istirahat makan siang tiba. Seluruh mahasiswa akademi diwajibkan makan di kantin pusat yang sangat luas. Arlan berjalan menuju kantin diikuti oleh Liora dan Hans yang kini tampaknya sudah memutuskan untuk berada di dekat Arlan. Suasana di kantin sangat ramai. Bau makanan mewah tercium di seluruh ruangan. Namun, ada pemandangan yang sangat kontras di sana. Meja meja di bagian tengah yang paling nyaman diduduki oleh Kelas A dan B, sementara meja meja di pojok yang dekat dengan tempat sampah disediakan untuk Kelas D.
Arlan mengambil nampan makanannya yang berisi sup sayur encer dan sepotong roti keras makanan standar untuk Kelas D. Dia duduk di meja pojok, diikuti oleh Liora dan Hans. Mereka makan dalam diam, mencoba mengabaikan tatapan menghina dari meja meja di depan mereka.
Tiba tiba, suara langkah kaki yang keras mendekat ke meja mereka. Sekelompok mahasiswa Kelas B berdiri di depan meja Arlan. Pemimpin mereka adalah seorang pemuda bertubuh tegap dengan pin Kelompok Elang Perak di dadanya. Dia menatap Arlan dengan pandangan penuh kebencian.
"Jadi ini dia si sampah yang melukai adikku kemarin?" tanya pemuda itu sambil menggebrak meja Arlan hingga sup Arlan tumpah sedikit. "Namaku adalah Marco. Dan aku di sini untuk memastikan kamu membayar setiap tetes darah yang keluar dari tangan adikku."
Liora dan Hans gemetar ketakutan. Mereka ingin melarikan diri, namun kaki mereka terasa lemas. Arlan tetap melanjutkan makannya, mengunyah roti kerasnya dengan sangat perlahan. Sikap mengabaikan Arlan ini membuat Marco semakin meledak dalam amarah.
"Aku bicara padamu, Sampah!" Marco meraih nampan makanan Arlan dan melemparkannya ke lantai.
Suara nampan logam yang menghantam lantai menimbulkan bunyi dentang yang sangat keras, menarik perhatian seluruh orang di kantin. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Arlan menatap nampannya yang kosong di lantai, lalu dia perlahan lahan berdiri. Dia menatap mata Marco dengan pandangan yang sangat dalam dan gelap.
"Di kehidupan dulu, aku sangat benci orang yang membuang buang makanan," ucap Arlan dengan suara yang sangat tenang namun membawa tekanan yang luar biasa. "Ibu ku bekerja keras di ladang untuk mendapatkan sepotong roti seperti itu. Dan kamu baru saja membuangnya ke lantai."
Marco tertawa mengejek. "Lalu apa yang akan kamu lakukan? Memukulku dengan teknik sihir hitammu? Di sini ada banyak saksi, dan pengawas kantin adalah pamanku. Satu gerakanmu, dan kamu akan dikeluarkan dari akademi ini."
Arlan tidak memukul. Dia hanya melangkah maju satu langkah. Tekanan dari Gerbang Keempat yang dia lepaskan secara halus membuat udara di sekitar Marco terasa sangat berat. Marco tiba tiba merasa sulit bernapas. Dia merasa seolah olah ada seekor pemangsa raksasa yang sedang berdiri di depannya, siap untuk merobek lehernya dalam satu detik.
Arlan membungkuk, mengambil nampannya, lalu menatap Marco kembali. "Bersihkan tumpahan sup ini sekarang juga. Atau aku akan memastikan kamu meminumnya dari lantai."
Ketegangan di kantin mencapai puncaknya. Mahasiswa lain menahan napas, menunggu apakah Marco akan menyerang. Namun, Marco terdiam kaku. Nyalinya ciut melihat kedinginan di mata Arlan. Di panggung pengawas, seorang ksatria penjaga mulai memperhatikan mereka, siap untuk turun jika terjadi keributan fisik.
Arlan menyadari kehadiran pengawas tersebut. Dia memutuskan untuk tidak memicu keributan besar di hari kedua. Dia hanya mendekati telinga Marco dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Marco.
"Festival musim gugur masih lama, Marco. Jika kamu ingin mati lebih cepat, carilah aku di taman belakang gedung Kelas D nanti sore. Tapi jika kamu masih ingin melihat hari esok, menjauh lah dari meja ini."
Arlan kembali duduk dan memberi isyarat kepada Liora dan Hans untuk melanjutkan makan mereka. Marco berdiri mematung selama beberapa detik sebelum akhirnya dia berbalik pergi dengan wajah yang pucat pasi diikuti oleh teman temannya. Dia tidak berani membalas sepatah kata pun.
Liora menatap Arlan dengan mata yang berbinar. "Kamu... kamu baru saja mengusir Marco tanpa menyentuhnya. Bagaimana bisa?"
Arlan kembali memakan roti cadangannya yang ada di tas. "Orang yang hanya mengandalkan status biasanya memiliki mental yang sangat rapuh. Aku hanya menunjukkan kepadanya apa itu ketakutan yang sesungguhnya."
Siang itu, sebuah kelompok kecil mulai terbentuk secara alami di Kelas D. Liora dan Hans menyadari bahwa di balik sifat dingin Arlan, terdapat kekuatan yang bisa melindungi mereka. Dan bagi Arlan, ini adalah awal dari rencananya. Dia butuh pengikut yang setia, orang orang yang dibuang oleh sistem namun memiliki keinginan untuk bangkit. Karena dia tahu, untuk menghancurkan kerajaan, dia tidak bisa hanya mengandalkan satu tangan.
Di sudut kantin yang gelap, Profesor Silas sedang duduk sambil memegang botolnya, memperhatikan kejadian tadi dengan senyum tipis. "Bocah itu benar benar tahu cara memanipulasi situasi. Dia tidak hanya kuat, tapi dia tahu kapan harus menahan diri. Sepertinya Kelas D tidak akan pernah sama lagi setelah ini."
Arlan menyelesaikan makan siangnya dan mengajak Liora serta Hans kembali ke taman untuk menyelesaikan tugas mereka. Dia berjalan dengan kepala tegak, tidak peduli dengan bisikan di sekitarnya. Di kehidupan keduanya ini, Arlan Vandermir baru saja mulai membangun fondasi kekuasaannya di tengah tumpukan sampah akademi. Dan saat pondasi itu selesai, seluruh bangunan kerajaan ini akan bergetar oleh kehadirannya.