NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Suasana di ruang VIP kembali hening. Sulthan duduk diam, menatap noda hijau di bajunya dengan wajah datar. Namun rasa lapar ternyata jauh lebih besar daripada rasa kesalnya. Akhirnya dia pun mulai menyantap makanannya dengan lahap. Sop iga yang hangat dan nasi putih dimakannya dengan nikmat, seolah mencoba melupakan kejadian memalukan tadi.

Di sudut lain, Nurlia masih gelisah. Hatinya terasa sangat tidak tenang. Rasa bersalah itu menggunung tinggi sekali.

"Ah, aku tidak boleh begini saja. Aku harus minta maaf lagi dengan cara yang baik," batinnya bertekad.

Nurlia pun segera meminta bantuan teman di bar untuk membuatkan lagi segelas Jus Alpukat Kocok yang baru, lengkap dengan keju dan susunya. Selain itu, dia juga mengambil sepiring kecil kue cubit dan keripik pisang sebagai camilan gratis dari restoran.

Dengan napas tertata rapi dan hati yang berdebar lagi, Nurlia memberanikan diri berjalan kembali ke meja Sulthan.

"Permisi, Pak..." panggilnya, suaranya terdengar sangat lembut dan takut-takut.

Sulthan yang sedang mengunyah makanan pun menoleh. Matanya menatap Nurlia dengan tatapan sulit dibaca.

Nurlia meletakkan gelas jus yang baru dan piring camilan itu dengan sangat hati-hati di sisi meja yang masih bersih, jauh dari pakaian pria itu.

"Ini... saya gantikan yang tadi, Pak. Yang ini hati-hati banget saya bawanya," ucap Nurlia sambil menunduk sopan. "Dan ini camilan buat Pak Sulthan, tanda permintaan maaf saya yang sebesar-besarnya karena sudah ceroboh tadi. Mohon dimaafkan ya, Pak..."

Sulthan menghentikan makannya sejenak. Dia menatap jus yang baru itu, lalu menatap wajah gadis di depannya. Terlihat ketulusan dan rasa bersalah yang mendalam dari sorot mata Nurlia.

Sulthan hanya menganggukkan kepala sekali, pelan dan singkat. Tidak ada senyum, tidak ada kata-kata. Hanya anggukan tanda dia menerimanya dan memaafkan kecerobohan tadi.

"Terima kasih, Pak..." bisik Nurlia lega. Rasanya beban di dadanya sedikit berkurang.

Nurlia pun berniat pamit undur diri. Dia melangkah mundur selangkah, siap berbalik pergi agar tidak mengganggu makan pria itu lagi.

Tapi baru saja kakinya akan melangkah, tangan besar Sulthan terulur ke dalam saku celananya, mengeluarkan sebuah dompet kulit tebal, dibuka, lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah.

Sulthan menyodorkan sejumlah uang tepat di hadapan Nurlia. "Ini buat kamu," ucap Sulthan singkat, nadanya datar namun tegas.

Nurlia terbelalak kaget. Matanya terfokus pada uang di tangan pria itu. Dia menghitung dalam hati... satu, dua, tiga, empat, lima lembar uang seratus ribuan!

Lima Ratus Ribu Rupiah!

Jantung Nurlia seakan berhenti berdetak. Itu jumlah yang sangat besar baginya. Bahkan lebih mahal dari harga makanannya sendiri.

"Eh?! Tidaaaak, Pak! Jangan!" Nurlia langsung mengibaskan tangannya menolak, wajahnya memerah panik. "Saya tidak berani menerima sebanyak ini, Pak! Itu terlalu banyak! Saya kan yang salah tadi, malah dapat uang lagi..."

Nurlia benar-benar bingung. Biasanya dapat tip seratus dua ratus saja sudah bersyukur, ini dikasih setengah juta hanya karena menumpahkan minum?

"Ambil saja," potong Sulthan tanpa mau tahu alasan. Tangannya tetap terulur menawarkan uang itu. "Anggap saja ini bonus karena kamu rajin dan jujur. Lagian baju saya mahal, uang ini belum cukup buat cuci kering. Sudahlah, ambil saja."

Sulthan tidak mau mendengar penolakan. Tatapannya kali ini memaksa, tapi tidak menakutkan.

"Tapi Pak..."

"Sudah saya bilang, ambil! Jangan banyak bicara," tegas Sulthan lagi.

Melihat wajah Sulthan yang sudah mulai tidak sabar dan takut kalau-kalau pria itu malah jadi marah lagi, Nurlia akhirnya pasrah dan luluh. Dengan tangan gemetar, dia menerima lembaran-lembaran uang itu.

Terasa sekali kertas uang itu tebal dan nyata di genggamannya.

"Te... Terima kasih banyak, Pak Sulthan! Allhamdulillah... terima kasih banyak-banyak!" Nurlia mengucapkan terima kasih berkali-kali dengan wajah berseri-seri, senyumnya mengembang lebar menampakkan deretan giginya yang rapi. Rasa sedih dan takut tadi lenyap seketika digantikan oleh kebahagiaan yang luar biasa.

Dengan uang ini, dia bisa belanja keperluan rumah, bisa menabung, dan sisa buat jajan Adelia. Pria ini benar-benar seperti malaikat penolong baginya.

"Terima kasih, Pak! Semoga rezekinya lancar terus ya, Pak!" ucap Nurlia penuh doa, lalu membungkuk hormat dalam-dalam sebelum akhirnya berlari kecil pergi dengan hati yang berbunga-bunga.

Sulthan yang ditinggalkan hanya tersenyum tipis melihat tingkah polos gadis itu.

"Mudah sekali berubah ekspresinya hanya karna diberi uang," gumamnya, lalu kembali melanjutkan makannya ditemani jus yang baru.

•••

Waktu makan malam pun usai. Sulthan menyeka mulutnya dengan serbet makan, lalu berdiri dari kursinya dengan gagah. Perutnya sudah terasa sangat kenyang dan nyaman, meski bajunya masih ada sedikit noda sisa kejadian tadi.

Dia berjalan menuruni tangga menuju pintu keluar. Saat melewati meja kasir, kasir hanya tersenyum ramah dan membungkuk hormat, tidak ada satu pun kata pertanyaan soal pembayaran atau tagihan.

Bagi orang biasa mungkin terlihat mengherankan, tapi itu adalah hak istimewa yang dimiliki Sulthan. Sejak awal dia menjadi pelanggan tetap, dia memilih sistem pembayaran VIP Langganan Bulanan.

Artinya sederhana, Sulthan membayar sejumlah uang yang sangat besar di awal bulan, nominalnya jauh melebihi harga makan biasa. Dengan begitu, selama satu bulan penuh dia bisa datang kapan saja, memesan apa saja, dan makan sepuasnya tanpa perlu repot-repot menghitung harga atau antre bayar di kasir lagi. Semuanya sudah cover dalam paket langganannya itu. Itu cara orang kaya bertransaksi, praktis, cepat, dan eksklusif.

"Matur nuwun, Pak Sulthan. Sampai jumpa lagi," sapa kasir dengan ramah.

"Sama sama," jawab Sulthan singkat sambil terus melangkah keluar.

Di luar restoran, angin malam bertiup cukup sejuk. Lampu-lampu jalan menerangi area parkir. Pak Didik sudah siap siaga membukakan pintu mobil belakang untuk bosnya.

Tiba-tiba, dari arah belakang terdengar langkah kaki berlarian kecil. "Pak Sulthan! Tunggu sebentar, Pak!"

Sulthan dan Pak Didik serentak menoleh. Ternyata itu Nurlia. Gadis itu sudah melepas celemeknya, seragamnya sudah dikancing rapi, dan wajahnya terlihat sangat ceria. Kebetulan sekali jam lemburnya sudah selesai, jadi waktunya pulang berbarengan dengan pria itu.

Nurlia berlari kecil mendekat hingga berhenti tepat di hadapan pria tampan itu. Di tangannya dia memegang kantong keresek berisi makanan sisa restoran.

"Pak Sulthan..." panggilnya lembut, matanya berbinar indah. "Saya mau mengucapkan terima kasih sekali lagi nih, Pak. Uang tadi... sungguh sangat berarti buat saya. Saya tidak nyangka Bapak sebaik itu, sudah dimaafkan kesalahan saya, malah dikasih tip sebanyak itu."

Nurlia mengucapkannya dengan tulus sepenuh hati. Uang 500 ribu itu terasa berat dan nyata di dompetnya sekarang, memberinya rasa aman dan bahagia yang luar biasa.

"Terima kasih banyak ya, Pak. Semoga Bapak selalu sehat, rezekinya makin lancar, dan sukses terus usahanya," doa Nurlia panjang lebar sambil membungkuk hormat sopan sekali.

Sulthan menatap gadis di depannya itu. Terlihat jelas kebahagiaan yang memancar dari wajah polos itu. Dia pun tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang dia berikan pada orang lain.

"Sama sama. Sudah sana pulang, hati-hati di jalan ya," jawab Sulthan lembut, nadanya jauh lebih hangat dibandingkan saat di dalam tadi.

"Iya, Pak! Bapak juga hati-hati!" balas Nurlia ceria.

Sulthan pun masuk ke dalam mobil mewahnya. Pintu ditutup rapat. Mesin menderu halus, dan mobil itu perlahan melaju meninggalkan area restoran.

Nurlia berdiri di trotoar sambil melambaikan tangan meski mobil itu sudah jauh pergi. Hatinya berbunga-bunga luar biasa.

"Waktunya, pulang!" serunya semangat pada diri sendiri.

Nurlia pun berjalan menuju pojok parkiran, mengambil sepeda onthel kesayangannya yang sudah menunggu seharian. Dia menaiki sepedanya, lalu mengayuh pedal dengan sangat ringan dan bersemangat.

Meskipun harus mengayuh sepeda pulang ke rumahnya, rasanya tidak terasa berat sama sekali malam ini. Malam ini benar-benar malam yang tak terlupakan. Mulai dari jantung berdebar, ketakutan, menangis, sampai akhirnya pulang membawa rezeki nomplok yang tak disangka-sangka.

"Alhamdulillah... terima kasih Ya Allah," gumamnya bahagia sambil terus mengayuh sepedanya di bawah remang lampu jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!