Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERPAKSA
Tuan Thomas dan Nyonya Arin berjalan menuju kamar mereka dengan langkah berat.
Begitu pintu tertutup dan terkunci, pertahanan Tuan Thomas runtuh seketika, dia menyandarkan punggungnya di pintu, memejamkan mata rapat-rapat seolah sedang menahan beban dunia di pundaknya.
"Thomas, katakan padaku. Apa yang pria itu katakan sampai kamu terlihat sehancur ini?" tanya Nyonya Arin mendekat, menyentuh lengan suaminya dengan lembut.
Hah....
Tuan Thomas menarik napas panjang, lalu menatap istrinya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Xavier... dia ingin menikahi Lyra, Arin, tiga hari lagi, dia bilang akan datang untuk menjemput apa yang dia anggap miliknya," jawab Tuan Thomas, lemah.
Nyonya Arin tersentak, tangannya menutup mulut karena terkejut.
"Menikah? Tapi Lyra bahkan belum benar-benar mengenalnya! Dia masih sekolah Thomas, cita-cita nya masih panjang. Bagaimana mungkin?" tanya Nyonya Arin, menggeleng kan kepala nya, dengan mata berkaca-kaca.
"Masalahnya bukan soal kenal atau tidak, Arin," ucap Tuan Thomas menuntun istrinya untuk duduk di tepi ranjang.
"Pria itu tahu segalanya, dia tahu tentang jiwa yang kita sembunyikan selama belasan tahun ini. Dia tahu bahwa raga Lyra mulai menolak kebohongan yang kita tanamkan," lanjut Tuan Thomas, terlihat sangat putus asa.
Nyonya Arin tertunduk, air matanya mulai luruh.
"Aku hanya ingin dia jadi gadis biasa, Thomas, aku ingin dia sekolah, lulus, dan hidup tenang tanpa bayang-bayang masa lalu jiwanya. Kenapa takdir begitu kejam menjemputnya secepat ini?" tanya Nyonya Arin, sesenggukan.
Tuan Thomas menggenggam tangan istrinya erat, mencoba memberikan kekuatan yang dia sendiri pun hampir kehilangan.
Bagi mereka berdua, Lyra adalah segalanya, Lyra adalah hidup mereka.
"Mau tidak mau kita harus menyetujui nya Sayang," ucap Tuan Thomas, pelan.
"Xavier Valerius bukan pria sembarangan, terlepas dia bagian dari jiwa masa lalu Lyra atau tidak, Xavier adalah pria yang bertanggung jawab, bahkan tadi dia tidak membiarkan satu peluru pun mendekati putri kita," lanjut Tuan Thomas, menghela nafas nya panjang.
"Tapi Thomas, kita tidak tahu siapa sebenarnya Xavier Valerius itu," ucap Nyonya Arin, gusar.
"Memang kita belum tahu siapa sebenarnya Xavier Valerius itu, keluarga Valerius sudah lama hilang dan tidak terdengar selama puluhan tahun ini, dan hanya menyisakan kisah sejarah tentang mereka, hingga akhir nya kini muncul pria dengan menyandang nama Valerius," ucap Tuan Thomas, mengingat sejarah masa lalu tentang keluarga Valerius di masa lalu yang pernah dia baca.
"Xavier Valerius, bukan pria brengsek yang akan menyakiti wanita, aku bisa melihatnya dari caranya menatap Lyra. Ada rasa hormat dan cinta yang dalam di matanya, tapi tetap saja, dia adalah badai bagi keluarga kita, jika Lyra bersamanya, kita mungkin akan kehilangan putri kita sepenuhnya ke dunia yang tidak kita pahami, dan menahan Lyra di sini, sama saja dengan kita membunuh nya secara perlahan," lanjut Tuan Thomas dengan nada pedih.
Tes
Tes
Nyonya Arin menghapus air matanya, dia menatap suaminya dengan tekad baru.
"Kita harus melakukan sesuatu, kita tidak bisa menyerahkan Lyra begitu saja, tapi jika Xavier adalah satu-satunya yang bisa membuat Lyra tidak kesakitan lagi, apa kita punya pilihan?" ucap Nyonya Arin, dengan perasaan perih.
Tuan Thomas terdiam, itulah dilema terbesarnya, di satu sisi ia ingin egois memegang Lyra sebagai putrinya selamanya, namun di sisi lain, dia melihat bagaimana raga Lyra menderita saat menjauh dari aura Xavier.
"Aku akan melakukan apa pun, Arin. Bahkan jika aku harus mengemis pada pria itu agar tidak membawa Lyra jauh dari kita," bisik Tuan Thomas.
"Tapi kamu tahu sendiri kan? Lyra bukan gadis yang bisa kita atur, dia sudah mulai curiga, dan dia punya kemampuan untuk menghancurkan rencana siapa pun, termasuk rencana kita untuk melindunginya," lanjut Tuan Thomas, pelan.
"Putri kita terlalu hebat untuk kebaikannya sendiri," gumam Nyonya Arin lirih.
Sementara itu, di depan kamar orang tua nya, Lyra berdiri, dia tidak mendengar detail pembicaraan tentang jiwa, namun dia mendengar dengan jelas tentang rencana pernikahannya, tiga hari lagi.
Wajah Lyra tetap datar, namun tangannya mengepal kuat.
"Menikah? Dalam tiga hari?" batin Lyra dingin.
Lyra berbalik dan berjalan, kembali masuk ke kamarnya, menutup pintu tanpa suara, dia tidak marah, bahkan dia tidak panik, justru otak jeniusnya mulai menyusun skenario. J
ika orang tuanya bersedia melakukan apa pun demi dirinya, maka dia juga akan melakukan hal yang sama, dengan caranya sendiri.
Lyra menatap layar monitor yang menampilkan grafik kesuksesan Xavier Valerius.
Kosong!
Bukan kosong karena tidak ada data, tapi kosong karena pria itu terlalu bersih.
Sebagai orang yang terbiasa membedah algoritma paling rumit sekalipun, Lyra merasa ada yang tidak masuk akal dengan data-data milik Xavier Valerius.
Xavier memegang hampir seluruh pasar saham di Eropa, kekuasaannya melampaui batas negara, namun tidak ada satu pun skandal, tidak ada jejak musuh lama, bahkan tidak ada satu pun foto masa muda yang bocor ke publik.
"Terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa," gumam Lyra pelan, suaranya datar, namun matanya yang tajam terus memindai barisan angka di layar.
Tidak ingin menyerah begitu saja, Lyra kembali mencoba menggali lebih dalam, menggunakan back door yang dia ciptakan sendiri. Namun, hasilnya tetap sama, Xavier Valerius adalah sosok yang seolah-olah baru saja muncul sebagai penguasa dunia tanpa meninggalkan jejak kaki di masa lalu.
"Kalau dia bukan penjahat, lalu kenapa Daddy sampai gemetar menghadapinya?" batin Lyra, otak pintar nya berkecamuk.
Logikanya mulai berputar, jika pria itu bukan ancaman kriminal bagi bisnis keluarga Wijaya, maka ancamannya bersifat personal.
Tapi apa?
Sementara itu di kamar utama, Tuan Thomas duduk di sofa dengan tangan yang saling bertautan, tampak sangat gusar.
"Xavier terlalu bersih dan berbahaya, bahkan Lyra, dengan segala kejeniusannya, tidak akan menemukan apa-apa selain data tentang kesuksesan nya di dunia bisnis," ucap Tuan Thomas lirih.
"Itu yang membuatku takut, Thomas, semakin dia terlihat sempurna di mata dunia, semakin sulit kita meyakinkan Lyra bahwa pria itu berbahaya bagi dirinya," ucap Nyonya Arin.
"Dia bukan pria brengsek, aku akui itu, Caranya menatap Lyra tadi itu bukan tatapan pemburu pada mangsanya, tapi itu tatapan seseorang yang akhirnya menemukan kembali nyawanya yang hilang," ucap Tuan Thomas, mengingat tatapan Xavier pada Lyra tadi.
"Kalau hanya pernikahan yang bisa membuat putri kita baik-baik saja, lakukan, tapi Lyra tidak boleh tahu tentang rahasia jiwanya, Thomas. Dia harus tetap percaya bahwa dia adalah putri kita, Lyra Clarissa Wijaya, aku tidak akan sanggup kalau harus benar-benar kehilangan dia, Thomas," ucap Nyonya Arin, dengan air mata yang mengalir di pipi nya.
Tuan Thomas mengangguk setuju.
"Hanya kita yang tahu rahasia ini, Arin, biarlah Lyra menganggap ini hanya gangguan bisnis atau obsesi pria gila. Kita harus menjaga rahasia ini sampai napas terakhir kita," jawab Tuan Thomas, menghapus air mata istri nya.
Sementara itu Lyra akhirnya menutup laptopnya, setelah tidak menemukan apa-apa di data Xavier Valerius, kecuali tentang bisnis dan betapa berpengaruh nya pria itu.
Lyra berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah taman belakang, Langit malam yang tampak pekat, tanpa bintang.
Dia memang tidak tahu apa yang di sembunyikan Daddy nya, tapi instingnya mengatakan ada tembok besar yang sedang dibangun di sekelilingnya.
Rahasia yang sedang dijaga oleh Daddy nya terasa begitu tebal hingga dia tidak bisa mencium aromanya.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,