papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.
keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyesalan nadin
Langkah kaki Elvaro terdengar berat dan tegas saat ia berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Aura dingin dan menakutkan masih sangat terasa, membuat Zavira yang masih duduk di tepi kasur semakin menciut. Karena perbedaan tinggi badan yang cukup jauh, Zavira harus mendongakkan kepalanya cukup tinggi untuk bisa menatap wajah datar cowok itu.
Elvaro berhenti tepat di hadapannya. Ia menatap tajam ke manik mata Zavira, lalu tangannya terulur mengambil selembar kertas perjanjian yang tergeletak di atas nakas. Ia membacanya sekilas, lalu mendengus pelan.
"Di kertas ini tertulis jelas, kalau lo melanggar kesepakatan soal kerahasiaan, dendanya satu triliun," ucap Elvaro pelan, suaranya terdengar serak namun jelas. Ia melipat kertas itu sembarangan dan melemparkannya kembali ke atas meja.
"Tapi..." Elvaro menatap Zavira lagi, kali ini dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue tahu persis lo nggak bakal punya duit sebanyak itu. Bahkan kalau lo jual diri pun kayaknya nggak bakal cukup."
Zavira mendengus kesal mendengar ejekan itu, tapi ia tidak berani membalas. Ia tahu posisinya sedang kalah kuat saat ini.
"Jadi..." Elvaro menyela, mendekatkan wajahnya sedikit, membuat jarak mereka kini sangat dekat. "Gue kasih keringanan. Gue nggak minta duit."
Mata Zavira berbinar sedikit, rasa lega sesaat menyelinap. "A-apa? Apa hukuman nya?" tanyanya penasaran dan sedikit waspada.
Elvaro tersenyum miring, senyuman yang selalu membuat Zavira merasa tidak enak hati.
"Layanin gue," jawabnya singkat dan padat.
JEDAG JEDUG!
Jantung Zavira seakan copot mendengar jawaban itu. Otaknya langsung bekerja keras menerjemahkan maksud kalimat tersebut ke arah yang tidak-tidak. Pikirannya menerawang jauh, membayangkan hal-hal yang membuat wajahnya seketika memanas merah padam.
"ANJIR! GILA LO YA?!" seru Zavira kaget bukan main, matanya membelalak lebar menatap Elvaro dari ujung kaki sampai ke ujung rambut, seolah baru pertama kali melihat orang gila. "JANGAN-JANGAN LO PENGEN... EHMM!! EHMM!!"
Elvaro yang awalnya terlihat serius, kini ikut terkejut mendengar respon Zavira. Ia baru sadar betapa ambigu dan menyesatkannya kalimat yang baru saja ia ucapkan. Wajah cowok itu sedikit memerah karena kesal sekaligus malu.
PLAK!
Dengan cepat, tangan besar Elvaro memukul pelan bagian ubun-ubun kepala Zavira.
"BODOH BANGET SIH OTAK LO!" desis Elvaro kesal, lalu ia cepat-cepat membalikkan badan memunggungi Zavira untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. Bahunya sedikit bergetar, dan terdengar suara tawa kecil yang tertahan—ia terkekeh geli sendiri melihat betapa 'kotornya' pikiran istrinya itu.
"Maksud gue..." Elvaro berdeham keras menetralkan suara, lalu menoleh sedikit dengan wajah kembali datar. "Selama satu minggu ke depan, lo jadi babu pribadi gue. Lo harus layanin semua keinginan gue, mulai dari ambilin minum, ambilin baju, sampai bersihin sepatu gue. Ngerti?"
Zavira mengusap ubun-ubunnya yang sakit, mendengus kesal tapi lega ternyata bukan hal yang ia pikirkan tadi. "Terus apa lagi?" tanyanya ketus.
"Masih ada," lanjut Elvaro lagi dengan nada lebih serius. "Gue mau lo minta maaf secara terbuka di depan semua siswa pas upacara atau pas lagi berkumpul. Lo harus bilang kalau lo minta maaf karena selama ini sering jahil dan nyusahin gue."
"Hah?!" Zavira melongo. "Ngapain segitunya?!"
"Karena selama ini orang-orang kenal kita sebagai musuh bebuyutan, kan? Selalu berantem terus. Nah sekarang, lo harus tunjukin kalau lo tunduk sama gue. Lo harus jadi orang yang sopan sama gue di depan umum. Biar mereka tahu siapa bosnya di sini," jelas Elvaro sinis, terlihat sangat menikmati posisinya yang kini menang mutlak.
"Kok gitu sih... gengsi banget gue nanti," rengek Zavira sambil berdiri dan mendekat ke arah Elvaro, mencoba memprotes.
Elvaro menoleh cepat, menatap tajam tepat ke mata Zavira. Ia mendekatkan wajahnya lagi, membuat gadis itu mundur takut hingga punggungnya menabrak lemari.
"Kenapa? Hmmm? Ada yang kurang suka?" tanyanya pelan dengan nada mengintimidasi. "Pokoknya nggak ada bantahan. Itu hukuman buat lo. Anggap aja itu bayar denda satu triliun tadi."
Tanpa menunggu jawaban, Elvaro mendorong tubuh Zavira pelan ke samping, lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Brak!
Pintu kamar mandi ditutup dengan keras, meninggalkan Zavira yang berdiri sendiri di tengah kamar dengan wajah kesal setengah mati.
"Dasar tiran! Sombong! Hukuman apa aneh segala minta maaf di depan umum!" gerutunya kesal sambil mencubit bantal kasur dengan kuat. Tapi di dalam hati, ia tahu ia memang salah dan harus menerima konsekuensinya.
***
Malam harinya, suasana di kafe favorit mereka terasa sedikit berbeda. Tidak ada tawa renyah atau obrolan seru seperti dulu. Hanya ada suara dentingan gelas dan musik latar yang menemani keheningan di antara mereka berdua.
Nadin memainkan sedotan di gelasnya dengan gelisah, sementara Zavira hanya menatap cangkir kopi hangat di depannya, menunggu sahabatnya itu mulai bicara. Akhirnya, setelah menahan rasa penasaran yang mengganjal cukup lama, Nadin mengangkat wajahnya. Tatapannya campur aduk antara bingung dan serius.
"Vi..." panggil Nadin pelan. "Maksud lo kemarin itu apa sih sebenernya? Lo bilang... Elvaro itu suami lo? Gue sama sekali nggak paham sama situasi ini. Selama ini kan kalian kayak kucing sama tikus, berantem terus."
Zavira mendengus pelan, menghela napas panjang seolah beban berat baru saja ia lepaskan. Ia menatap mata Nadin tegas, meski di dalam hatinya berdebar kencang karena harus berbohong lagi.
"Ya... dia emang suami gue, Nad," jawab Zavira pelan namun jelas. "Gue terpaksa nikah sama dia karena kita dijodohin sama orang tua. Gue juga nggak mau, gue juga kaget dan nggak siap. Tapi mau gimana lagi, itu keputusan keluarga."
Nadin terdiam kaku. Mulutnya sedikit terbuka, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia terima. Dijodohin? Nikah? Itu hal yang sangat tidak masuk akal di usia mereka yang masih sekolah, tapi melihat keseriusan wajah Zavira, ia tahu temannya itu tidak sedang bercanda.
Zavira melanjutkan lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut namun penuh kepura-puraan demi menutupi perasaannya yang sebenarnya pada Youjin.
"Gue tahu pernikahan ini bukan karena cinta. Gue sama dia juga belum ada rasa apa-apa, masih canggung dan sering berantem. Tapi... gue harus hargai dia sebagai suami gue. Gue harus jaga hati dia dan nama baik keluarga. Makanya gue tolak Jin, makanya gue bersikap aneh belakangan ini."
Mendengar penjelasan itu, air mata Nadin langsung tumpah. Rasa bersalah menghantamnya begitu keras. Ia merasa menjadi sahabat yang paling buruk di dunia karena selama seminggu ini ia marah, mendiamkan, dan menuduh Zavira mengambil orang yang ia suka, padahal sahabatnya itu sedang menanggung beban rahasia besar sendirian.
"Maafin gue ya Vi..." isak Nadin, tangannya terulur menggenggam tangan Zavira erat. "Gue nggak tahu apa-apa. Gue malah marah-marah sama lo, nuduh ini itu. Gue sahabat yang buruk banget ya Vi? Maafin gue..."
Zavira tersenyum tipis, lalu segera memeluk bahu sahabatnya itu untuk menenangkannya. "Nggak papa, Nad. Gue paham kok perasaan lo. Gue juga yang salah karena nggak cerita dari awal."
Mereka berpelukan sebentar, melepas semua kesalahpahaman yang terjadi selama seminggu terakhir. Setelah air mata Nadin kering dan suasana mulai sedikit lebih tenang, Nadin menatap Zavira lagi dengan tatapan penuh arti. Ia teringat sesuatu yang lebih penting.
"Terus... gimana sama rencana lo yang dulu?" tanya Nadin pelan, suaranya mengecil memastikan tidak ada yang mendengar. "Rencana buat cari bukti itu..."
Wajah Zavira berubah sendu. Ia menggeleng pelan, menatap jauh ke luar jendela kafe.
"Gue belum tahu, Nad..." jawab Zavira ragu. "Gue masih bingung. Sampai sekarang gue belum dapat bukti apa-apa yang bisa ngebuktiin apa yang gue curigain itu bener atau enggak. Semuanya masih gelap."
Nadin hanya mengangguk paham, kembali terdiam bersama Zavira, menyadari bahwa perjalanan mereka masih panjang dan masalah yang mereka hadapi ternyata jauh lebih rumit dari yang mereka bayangkan.
di tunggu up berikutnya 🙏🏼
Wkwkwkwk 😁