Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Sorakan dan tepuk tangan masih menggema di seluruh aula bahkan setelah Thalia menunduk memberi salam terakhir dan melangkah turun dari panggung. Suara MC yang mengucapkan terima kasih nyaris tenggelam di antara riuhnya penonton.
Di barisan kursi, mahasiswa yang tadinya menunggu drama kini saling pandang, sebagian terlihat malu karena sebelumnya mereka ikut meremehkan Thalia.
"Gila... aku kira dia cuma bakal nyanyi biasa-biasa aja," gumam seorang mahasiswa.
"Biasa apanya? Dia kayak diva internasional!" balas temannya, matanya masih berbinar.
Para wartawan yang hadir mulai sibuk dengan kamera dan laptop mereka. Ada yang langsung menulis headline sementara:
"Penampilan Misterius Thalia Anderson Memukau Panggung Duta Kampus"
Video singkat penampilan Thalia sudah tersebar di media sosial kampus, membuat riuh di kolom komentar.
"Siapa dia sebenarnya?"
"Kenapa baru sekarang kelihatan?"
"Aku fans barunya!"
"Kaka peri, aku mencintaimu <3"
Di sudut aula, Zea duduk sambil menekan dadanya. Perasaan lega bercampur bangga membuat matanya sedikit berkaca-kaca. "Dia benar-benar melakukannya..." pikirnya.
Sementara itu, di sisi lain aula, Nadine masih berusaha mempertahankan senyumnya. Ia tahu kamera media bisa saja sewaktu-waktu mengarah ke kursinya. Tapi di dalam, darahnya mendidih.
Bagaimana mungkin Thalia tampil hebat dengan wajah secantik itu? Dan yang lebih buruk...
semua orang jelas-jelas terpesona.
Marrie menatap Nadine dengan tatapan datar-tatapan seorang ibu yang tidak puas.
"Kau harus berusaha lebih keras lagi," bisiknya, nadanya seperti pisau tipis yang menusuk.
Nadine hanya mengangguk kecil, tak berani berkomentar. Mereka berdua tahu, penampilan Thalia barusan telah menggeser pusat perhatian.
Di deretan kursi tamu undangan, beberapa perwakilan agensi pencari bakat mulai membicarakan Thalia.
"Gadis itu... punya panggung alami," kata seorang pria berjas abu-abu, suaranya serius.
"Kontrol vokalnya luar biasa. Dan dia main piano sambil bernyanyi dengan teknik sempurna. Ini bakat mahal," sahut wanita berambut bob yang duduk di sebelahnya.
Mereka mencoba mencari info ke panitia.
"Nama lengkapnya Thalia Anderson," jawab salah satu panitia, sambil membuka daftar peserta. "Fakultas Ilmu Komunikasi."
"Tapi kami jarang dengar namanya di acara kampus," tambahnya, heran.
Beberapa mahasiswa mencoba menebak latar belakang Thalia. Rumor mulai beredar cepat: entah kabar dari mana, ada yang bilang dia keturunan musisi terkenal, ada yang bilang dia pernah ikut audisi luar negeri. Kebenaran masih misteri, dan misteri itu justru membuat rasa penasaran semakin tinggi.
Thalia kembali ke ruang persiapan dengan langkah tenang. Rina langsung menghampirinya dengan mata berbinar.
"Nona Thalia, itu luar biasa! Semua orang terpesona. Saya bahkan dengar beberapa juri langsung berdiri waktu tepuk tangan tadi."
Zea menerobos masuk ke ruang persiapan, wajahnya berseri-seri. Ia memeluk Thalia erat.
"Aku... aku nggak tahu harus bilang apa. Itu... sempurna."
Ze." Thalia tersenyum kecil. "Itu cuma pemanasan,
Salah satu panitia masuk membawa sebotol air.
"Nona Thalia, Anda nyaris sempurna. Tadi itu benar-benar penampilan yang menyihir"
Thalia mengucapkan terima kasih singkat, lalu duduk, meneguk air sambil tetap menjaga ekspresi santai.
Acara terus berlanjut dengan penampilan terakhir dari Fakultas Kedokteran. Gadis yang tampil cukup memukau, tapi suasana aula masih terbawa oleh penampilan Thalia sebelumnya.
Sorotan seolah belum beralih.
Akhirnya MC kembali naik ke panggung.
"Hadirin sekalian, tibalah kita pada momen yang ditunggu-tunggu-pengumuman pemenang Duta Kampus tahun ini!"
Suara penonton menggema, sebagian bersorak, sebagian menahan napas.
MC membuka amplop pertama. "Juara ketiga... jatuh kepada... Sophia dari Fakultas Musik!"
Sorakan terdengar, Sophia naik ke panggung menerima piala kecil dan bunga.
Amplop kedua dibuka. "Juara kedua... jatuh kepada... Flower dari Fakultas Sastra dan Budaya!"
Flower naik ke panggung dengan senyum bahagia, menerima piala. Tari tradisionalnya memang memukau sejak awal.
Aula hening ketika MC memegang amplop terakhir.
"Dan... Juara Pertama Duta Kampus tahun ini... adalah... THALIA ANDERSON dari Fakultas Ilmu Komunikasi!"
Sorakan meledak. Kamera berkedip, wartawan berlari ke depan panggung. Thalia melangkah naik dengan anggun, menerima piala emas dan buket bunga besar. Sorot lampu memantul di gaun lilacnya, membuatnya terlihat seperti bintang yang benar-benar lahir untuk panggung.
Di kursi penonton, Nadine membeku. Marrie menatap ke depan, berusaha menahan ekspresi, tapi jemarinya yang mencengkeram tas menunjukkan rasa frustrasi.
MC mengundang ketiga pemenang berdiri berdampingan di panggung untuk sesi foto. Thalia berdiri di tengah, senyumnya tenang, matanya berkilat seperti mengatakan: "Ini baru permulaan."
Tepuk tangan panjang masih bergema bahkan ketika Thalia sudah menuruni panggung sambil membawa piala emas di tangannya. Sorak sorai itu terasa berbeda-bukan sekadar sopan santun penonton, melainkan tepuk tangan tulus yang lahir dari kekaguman.
Beberapa mahasiswa di barisan depan berdiri, memberikan standing ovation. Kilatan kamera dari para wartawan terus menghujani Thalia. Bahkan MC terpaksa memberi waktu khusus untuk sesi foto tambahan karena permintaan media begitu banyak.
"Sekali lagi, hadirin sekalian, tepuk tangan untuk pemenang kita, Thalia Anderson!" suara MC menggelegar. Sorakan kembali memuncak.
Di tengah riuh itu, mahasiswa yang dulu meremehkan Thalia mulai berebut mendekat.
"Thalia, boleh foto bareng?"
"Aku nggak nyangka kamu sehebat ini."
"Boleh upload videonya? Nggak akan aku potong, janji!"
Thalia hanya tersenyum sopan. Ia mengizinkan beberapa orang berfoto, namun tidak berlama-lama. Aura tenangnya tetap terjaga, meski semua mata memandangnya.
Di sisi aula, Nadine duduk tegak dengan senyum tipis yang kaku. Kamera TV kampus menyorot wajahnya sebentar, menangkap ekspresi yang berusaha terlihat tenang. Di sampingnya, Marrie tak banyak bicara, tapi jemarinya yang mencengkeram tas kecil menunjukkan rasa frustrasi yang ia pendam.
"Setidaknya kau sudah tampil baik," ujar Marrie lirih-lebih terdengar sebagai sindiran daripada dukungan.
Nadine hanya menatap lurus ke panggung, bibirnya tertarik paksa membentuk senyum. Di kepalanya, sudah mulai berputar rencana untuk membalas malam ini.
Di barisan undangan VIP, beberapa pencari bakat mulai berdiskusi serius.
"Gadis itu punya aura panggung alami. Kontrol vokalnya luar biasa," ujar seorang pria berjas abu-abu.
"Kalau dia mau, dia bisa langsung debut," balas wanita berambut bob di sampingnya.
Di sela kerumunan, Yoshi melangkah mendekati Thalia. Wajahnya dibuat seramah mungkin, seperti seorang ayah yang bangga pada anaknya. Beberapa wartawan mengalihkan kamera, mengira akan ada momen mengharukan.
"Selamat, Thalia," ucap Yoshi, mencoba menambahkan nada hangat. "Penampilanmu... luar biasa."
Thalia menoleh, menatap ayahnya lurus-lurus.
Senyumnya sopan tapi tipis, dingin, tanpa sedikit pun sorot kerinduan.
"Terima kasih, Tuan," jawabnya datar.
Ucapan itu singkat, formal, dan mengiris. Tidak ada panggilan "Ayah", tidak ada nada hangat. Hanya jarak yang begitu jelas.
Ekspresi Yoshi sedikit goyah. Dalam sekejap, kenangan akan mendiang Renata kembali membanjir. Wajah Thalia malam ini begitu mirip dengan Renata, hingga membuatnya teringat pada masa mudanya-masa ketika ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Namun kini, tatapan anaknya justru membuat dadanya terasa berat.
Ia melangkah mundur, mencoba menelan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul. Kebanggaan yang sempat ia rasakan di awal kini bercampur aduk dengan penyesalan dan kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan.
Thalia kembali lagi ke ruang persiapan, disambut Rina yang langsung memeluknya singkat.
"Nona, itu penampilan paling menakjubkan yang pernah saya lihat," katanya, mata berbinar.
Zea berlari menghampiri. "Kau gila, Thal! Aku nggak percaya aku duduk di kursi penonton dan lihat semua orang berdiri untukmu. Aku... aku bangga banget!"
Sementara itu, di dunia maya, video penampilan Thalia sudah beredar luas. Salah satu akun kampus dengan jutaan pengikut memposting potongan klipnya, diberi judul:
"Thalia Anderson Sang Duta Kampus"
Tagar #ThaliaAnderson langsung meroket, menembus trending nomor 5 nasional hanya dalam dua jam.
Orang-orang mulai penasaran, mencari akun media sosial Thalia.
Akun Instagram yang sebelumnya hanya memiliki 1 pengikut asli dan 8 bot kini melonjak drastis. Angka itu terus naik... 5 ribu... 30 ribu... hingga 120 ribu pengikut dalam satu malam.
Kolom komentarnya dibanjiri pujian:
"Aku fans barumu!"
"Kapan rilis lagu, Kak?"
"Cantik, berbakat, dan aura-nya luar biasa."
"Tuhan tidak adil. Kenapa dia cantik dan berbakat di waktu yang bersaan?"
Beberapa DM dari akun bercentang biru mulai masuk penawaran kolaborasi, undangan wawancara, bahkan tawaran endorsement.
Acara ditutup dengan sesi foto pemenang. Thalia berdiri di tengah, piala di tangan, senyumnya tenang tapi matanya memancarkan cahaya seorang pemenang sejati. Flower di sebelahnya tersenyum bahagia, sementara Nadine berdiri di bawah sorot lampu yang sama namun dengan ekspresi terkontrol yang nyaris retak.
Ketika semua orang beranjak pulang, Yoshi masih duduk di kursinya. Pandangannya mengikuti punggung Thalia yang semakin jauh. Ada perasaan yang ia benci akui-takut kehilangan anak itu sepenuhnya.
Dan di luar gedung, lampu-lampu kota bersinar, seolah merayakan lahirnya sebuah nama baru yang mulai menggema di dunia maya. Thalia Anderson-nama yang malam ini, untuk pertama kalinya, membuat semua orang berhenti meremehkannya.
lanjuttttt/Kiss/