NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keraguan di Tengah Malam

Suasana kamar yang tadinya tenang mendadak kerasa makin sunyi, tipe sunyi yang bikin telinga seolah bisa denger suara pikiran sendiri. Nara sebenernya udah merem, tapi otaknya malah makin lari ke mana-mana. Bayangan wajah Rio yang pucat pas diancam Arga tadi emang bikin puas, tapi pertanyaan wartawan soal "masa lalu" itu masih aja muter-muter kayak kaset rusak di kepala Nara.

*Gue beneran pantes nggak sih ada di sini?*

Nara ngerasain kasur di belakangnya sedikit gerak. Dia tahu Arga belum tidur. Cowok itu pasti lagi mikirin hal yang sama, atau mungkin lagi nyesel karena udah nekat belain Nara habis-habisan di depan publik.

"Ga..." bisik Nara, suaranya pelan banget, nyaris ilang ketutup suara AC.

"Hm?" Arga nyaut, suaranya rendah dan serak khas orang yang lagi nahan kantuk.

"Lo... lo beneran nggak malu punya istri yang masa lalunya berantakan kayak gue? Maksud gue, kalau besok-besok ada lagi yang gali soal hutang bokap gue atau gimana susahnya gue dulu, citra lo bakal makin ancur."

Hening bentar. Nara ngerasa Arga ngerubah posisi tidurnya, kayaknya sekarang dia lagi natap punggung Nara.

"Nara, balik badan lo," perintah Arga, nadanya nggak membentak, tapi tegas banget.

Nara pelan-pelan muter badannya. Begitu dia balik, jarak mereka deket banget. Di cahaya lampu tidur yang remang, mata Arga kelihatan lebih dalem dari biasanya. Nggak ada lagi tembok es yang biasanya dia pasang di kantor.

"Dengerin gue baik-baik," kata Arga sambil ngeraih tangan Nara yang ada di atas selimut. Jempolnya ngusap punggung tangan Nara pelan. "Masa lalu itu kayak spion motor. Sesekali perlu dilihat biar kita nggak nabrak, tapi kalau lo ngelihatin itu terus sambil jalan maju, ya lo bakal celaka."

Nara diem, ngerasain getaran aneh di dadanya pas denger omongan Arga.

"Citra gue itu urusan gue. Gue yang bangun, gue juga yang tahu kapan harus ngeruntuhin itu buat sesuatu yang lebih penting. Dan buat gue sekarang, harga diri lo jauh lebih penting daripada sekadar omongan orang yang nggak kenal kita," lanjut Arga.

"Tapi kontrak itu..."

"Kontrak itu udah jadi abu di kepala gue, Ra. Lo pikir gue mau repot-repot bawa lo ke rumah kakek atau nyeret Rio ke jalur hukum kalau gue cuma mau akting? Gue bukan aktor, dan gue nggak punya waktu buat main sandiwara yang nggak ada untungnya buat hati gue."

Nara ngerasa matanya panas lagi. Kenapa cowok sekaku Arga bisa ngomong sedalam ini sih?

"Udah, jangan ragu lagi. Malam ini lo di sini bukan karena kontrak, tapi karena kamar lo bocor dan karena gue emang mau lo ada di sini," Arga narik selimutnya lebih tinggi, nutupin mereka berdua sampai ke dada. "Masa lalu lo nggak bakal bisa ngejar lo lagi selama lo genggam tangan gue. Paham?"

Nara ngangguk pelan, terus dia nyelipn tangannya ke bawah bantal, nyoba buat bener-bener rileks. Keraguan yang tadi numpuk di dadanya perlahan mulai mencair. Ternyata bener, rasa takut itu paling gampang ilang kalau ada orang yang dengan yakin bilang: Gue di sini.

"Tidur, Nara. Jangan sampai besok pagi muka lo bengkak gara-gara kebanyakan mikir. Nanti Bi Ijah kira gue abis ngapa-ngapain lo lagi," canda Arga sambil merem.

Nara ketawa kecil, kali ini beneran lepas. Dia ngerasa bebannya berkurang banyak. Di tengah malam yang sunyi itu, Nara akhirnya sadar kalau rumah bukan lagi soal bangunan, tapi soal siapa yang bikin dia ngerasa aman buat jadi dirinya sendiri, tanpa harus takut soal masa lalu yang kelam.

---

Nara terdiam, matanya masih menatap bayangan Arga di kegelapan. Ucapan Arga barusan kayak air dingin yang nyiram api di kepalanya. Selama ini, Nara selalu ngerasa dirinya itu "beban" atau "gangguan" di hidup Arga yang teratur dan perfeksionis. Tapi malam ini, di atas kasur yang sama, Arga justru bilang kalau Nara adalah sesuatu yang layak dia perjuangkan.

"Kenapa lo sebaik ini, Ga? Padahal di kontrak awal, lo cuma butuh status buat nangkis perjodohan Papa lo," bisik Nara lagi. Kali ini suaranya sedikit bergetar.

Arga ngehela napas panjang, suaranya kedengeran lebih berat. "Awalnya emang gitu. Tapi lo tahu kan, rencana manusia itu seringnya kalah sama keadaan. Gue nggak nyangka lo bakal seberani itu pas ngadepin Rio, atau semanis itu pas kita di rumah kakek. Gue baru sadar, selama ini gue nyari 'temen duet' buat sandiwara, tapi malah nemu 'rumah'."

Nara ngerasa tenggorokannya tercekat. Kata "rumah" itu bener-bener dalem banget maknanya buat dia yang selama ini hidupnya nomaden dan nggak jelas arahnya.

"Lo nggak takut kalau suatu saat gue yang malah ngecewain lo?" tanya Nara, masih ada sisa-sisa keraguan yang nyempil di sudut hatinya.

Arga ngeraih tangan Nara lagi, kali ini dia nggenggam erat banget, seolah nggak mau ada celah sedikit pun. "Kecewa itu bagian dari hidup, Ra. Gue lebih takut kalau gue nggak pernah nyoba buat percaya sama lo. Udah, berhenti nanya yang aneh-aneh. Lo itu penulis, harusnya lo tahu kalau cerita yang paling bagus itu justru yang banyak konfliknya tapi akhirnya tetep bertahan."

Nara senyum tipis di kegelapan. "Iya sih, tapi kan biasanya di novel gue, tokoh utamanya nggak seganteng lo."

"Oh, jadi lo akuin gue ganteng nih sekarang?" goda Arga, nadanya balik lagi jadi jahil.

"Dih, mulai deh kepedeannya kumat!" Nara nyubit pelan lengan Arga yang berotot. "Udah ah, mau tidur. Besok gue harus beresin kamar gue yang banjir itu."

"Nggak usah dipikirin. Besok Bayu bakal manggil tukang buat benerin semuanya. Lo fokus aja buat istirahat," Arga ngerapiin bantalnya, terus dia bener-bener merem. "Selamat malam, Nara."

"Malam, Ga..."

Hening kembali menyelimuti kamar itu. Keraguan yang tadi sempat bikin Nara sesak napas, perlahan-lahan menguap jadi rasa aman. Di balik tembok apartemen yang dingin, ada kehangatan yang mulai tumbuh di antara dua orang yang tadinya cuma asing bagi satu sama lain.

Nara akhirnya bisa mejemin mata dengan tenang. Dia nggak tahu apa yang bakal terjadi besok, entah wartawan makin gila atau Rio bakal balik nyerang. Tapi satu hal yang dia tahu: selama ada tangan yang nggenggam dia seerat ini, dia nggak perlu takut lagi buat pulang ke mana pun.

---

Nara akhirnya mulai memejamkan mata, merasakan ritme napas Arga yang pelan di sampingnya. Rasanya damai banget, tipe kedamaian yang belum pernah dia rasain selama bertahun-tahun pelarian dari penagih hutang. Tapi, di tengah sunyinya malam, tiba-tiba suara petir menggelegar dari luar jendela apartemen yang besar itu.

DAR!

Nara tersentak, refleks mendekat ke arah Arga. Tubuhnya sedikit gemetar. Dia emang paling nggak tahan sama suara guntur yang tiba-tiba kayak gitu.

"Kaget?" tanya Arga, suaranya parau tapi kedengeran sangat terjaga. Ternyata dia juga belum benar-benar terlelap.

"I-iya. Gede banget suaranya," gumam Nara sambil ngeratin pegangannya di selimut.

Tanpa diduga, tangan Arga yang tadinya cuma diam di samping tubuhnya, sekarang terulur buat ngerapihin rambut Nara yang menutupi mata. Gerakannya pelan banget, seolah Nara itu barang pecah belah yang harus dijaga ekstra hati-hati.

"Cuma hujan, Ra. Lo aman di sini. Tembok apartemen ini tebel, nggak bakal roboh cuma gara-gara petir," kata Arga, nyoba buat bercanda biar suasana nggak terlalu tegang.

Nara ngerasa pipinya panas lagi. "Gue tahu... cuma ya kaget aja."

Arga nggak narik tangannya balik. Sebaliknya, dia malah menepuk-nepuk pelan lengan Nara di balik selimut, kayak lagi ninaboboin anak kecil. "Keraguan lo tadi, soal masa lalu itu... jangan dibawa mimpi. Kalau lo mimpi buruk, lo boleh bangunin gue. Gue bakal tetep bangun buat mastiin lo tahu kalau lo nggak sendirian."

Nara tertegun. Cowok yang biasanya cuma mikirin angka saham dan laporan bulanan ini, sekarang lagi nawarin diri buat jadi "alarm" penenang mimpi buruknya.

"Kenapa lo lakuin ini semua, Ga? Gue bener-bener nggak habis pikir," tanya Nara lagi, kali ini lebih ke arah heran daripada ragu.

"Karena lo udah liat sisi paling berantakan gue di rumah kakek. Adil kan kalau gue juga nerima sisi paling rapuh lo?" jawab Arga mantap.

Nara akhirnya bener-bener ngerasa rileks. Kepalanya perlahan-lahan makin berat, dan rasa kantuk mulai menang telak. Dia nggak sadar kalau posisinya sekarang udah makin deket ke arah Arga, sampai-sampai ujung kakinya nggak sengaja bersentuhan sama kaki Arga.

Arga juga nggak menjauh. Dia tetep di sana, jadi tiang sandaran yang paling kokoh di malam yang penuh badai ini. Sisi lembut yang tersembunyi itu sekarang bener-bener keluar sepenuhnya, nggak ada lagi topeng CEO kaku yang selama ini dia pakai buat nutupin hatinya.

Malam itu, di tengah guyuran hujan Jakarta yang makin deres, keraguan Nara bener-bener terkubur. Dia tertidur dengan senyum tipis di bibirnya, ngerasa kalau besok pagi, apa pun yang terjadi, dia punya alasan buat tetep bertahan. Pulang ke rumah yang sama ternyata bukan soal alamat, tapi soal detak jantung yang sekarang mulai selaras di balik selimut yang sama.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!