sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: DUSUN WILLOW
Dusun Willow yang dulu damai kini berubah menjadi neraka.
Rumah-rumah kayu terbakar, meninggalkan kerangka hitam yang masih mengeluarkan asap. Ladang-ladang gandum yang kemarin masih menguning kini hangus terbakar, hanya menyisakan abu yang beterbangan di udara. Dan di tanah, genangan darah mengering membentuk kolam-kolam merah kecoklatan.
Tapi yang paling mengerikan bukan kehancuran. Yang paling mengerikan adalah yang masih bergerak di antara reruntuhan.
Mereka dulu adalah penduduk Dusun Willow—petani, ibu-ibu, anak-anak. Kini mereka berjalan terseok-seok dengan mata kosong, kulit membusuk, dan dari mulut mereka keluar desisan mengerikan. Mayat hidup. Puluhan. Mungkin seratus. Mereka berkumpul di sekitar Lilith yang berdiri di tengah desa dengan senyum puas.
Avatar Varyn yang dikirim sebelumnya sudah hampir habis. Tubuhnya yang kecil dan redup itu berdiri di depan Nenek Greta dan penduduk yang selamat—mungkin hanya dua puluh orang, bersembunyi di balik sisa-sisa pagar kayu yang terbakar. Avatar itu sudah tidak punya kekuatan untuk melawan, hanya bisa bertahan.
Lilith menyambut kedatangan mereka dengan lambaian tangan lembut.
"Akhirnya," bisiknya, suaranya merdu tapi mematikan. "Aku sudah bosan menunggu. Kau lama sekali, Aldric."
Varyn—yang asli—mendarat dengan gemuruh, debu dan abu beterbangan. Tubuhnya membesar kembali ke ukuran raksasa, sayap kelelawarnya membentang, menutupi matahari yang mulai condong ke barat.
"Lilith!" raungnya. "Ini sudah berakhir! Menyerahlah!"
Lilith tertawa—tawa yang membuat mayat-mayat hidup di sekelilingnya ikut bergerak, seperti boneka yang ditarik tali.
"Menyerah? Kepada siapa? Kepada kalian yang kelelahan? Kepada pangeran kecil yang hampir menangis tadi?" Ia menatap Aldric dengan sinis. "Kau pikir aku tidak tahu? Aku melihat semuanya lewat kabut Abaddon. Kau nyaris kalah oleh bayangan adikmu sendiri."
Aldric mengepalkan tangan. Soulrender di tangannya bersinar terang—mungkin marah, mungkin memperingatkan.
"Lilith," katanya tenang. "Ini antara aku dan kau. Lepaskan mereka."
"Mereka?" Lilith menunjuk mayat-mayat hidup di sekelilingnya. "Mereka sudah mati, Pangeran kecil. Aku hanya meminjam tubuh mereka sebentar. Tapi kalau kau maksud mereka—" ia menunjuk ke arah Nenek Greta dan penduduk yang selamat, "—kau bisa mengambil mereka. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kau harus melewati mereka." Ia menunjuk mayat-mayat hidup. "Bunuh mereka semua untuk mencapai aku. Tapi ingat—mereka dulu adalah manusia. Mereka punya keluarga, punya mimpi, punya harapan. Dan sekarang kau harus membunuh mereka lagi."
Aldric ragu. Ia tahu itu jebakan. Jika ia membunuh mayat-mayat hidup itu, ia akan merasa bersalah selamanya. Jika ia tidak membunuh, ia tidak bisa mencapai Lilith.
Elara meraih tangannya. "Kita tidak punya pilihan. Mereka sudah mati. Membiarkan mereka tetap dalam kendali Lilith lebih kejam daripada membebaskan mereka."
Aldric menatap Elara. Wanita itu benar.
"Aku tahu," bisiknya. "Tapi..."
Ren tiba-tiba bicara dari gendongan Sera. "Om, Varyn bilang... mayat-mayat itu bukan manusia lagi. Mereka cuma kulit kosong. Jiwa mereka sudah pergi. Om harus lewatin."
Aldric menghela napas. Ia mengangkat Soulrender.
"Aku yang akan lakukan. Kalian di sini."
"Aldric—" Elara memotong.
"Tidak. Ini tanggung jawabku."
Ia melangkah maju.
Mayat-mayat hidup itu bergerak bersamaan, seperti gelombang yang datang menerjang. Puluhan tubuh membusuk berlari—atau lebih tepat menyeret diri—ke arahnya, dengan tangan terulang, mulut menganga.
Aldric tidak menggunakan Soulrender untuk membunuh. Ia menggunakan gagangnya, memukul, mendorong, membanting. Ia tidak mau menebas—tidak tega melihat tubuh-tubuh yang dulu manusia itu hancur.
Tapi semakin banyak yang datang. Puluhan. Ratusan. Mereka tidak kenal lelah, tidak kenal takut, tidak kenal sakit. Setiap kali ia mendorong satu, dua yang lain maju.
"Aldric!" teriak Elara dari belakang. "Kau tidak bisa terus seperti itu! Mereka tidak akan berhenti!"
Ia tahu. Tapi—
"Om!" suara Ren. "Varyn bilang... mayat-mayat ini dikendalikan Lilith dari pusat! Om harus potong hubungannya!"
Aldric menajamkan pandangan. Di antara kerumunan mayat, ia melihat benang-benang halus berwarna hitam—seperti sutra laba-laba—yang menghubungkan setiap mayat ke Lilith.
Benang itu nyaris tidak terlihat. Tapi dengan mata setengah iblisnya, ia bisa melihatnya.
Ia mengayunkan Soulrender ke benang terdekat.
Srek!
Benang itu putus. Mayat yang terhubung langsung roboh, tidak bergerak lagi—bukan mati, tapi benar-benar berhenti, seperti boneka yang talinya dipotong.
"Apa—" Lilith terkejut.
Aldric tidak memberi kesempatan. Ia berlari di antara mayat-mayat, menebas benang demi benang. Setiap tebasan membuat satu mayat roboh. Puluhan mayat tumbang dalam hitungan detik.
Lilith meraung marah. "KAU—!"
Ia menggerakkan tangannya, mencoba menarik benang yang tersisa, tapi Aldric terlalu cepat. Dalam semenit, semua mayat hidup telah roboh, meninggalkan tubuh-tubuh yang tidak bergerak di tanah.
Aldric berdiri di tengahnya, napas tersengal, Soulrender masih bersinar.
"Sekarang," katanya menatap Lilith, "giliranmu."
Lilith tidak lari. Ia tersenyum—senyum yang berbeda dari sebelumnya. Bukan senyum meremehkan, tapi senyum... kagum?
"Kau memang hebat, Aldric Veynheart," katanya. "Aku sudah melihat banyak pejuang, tapi tidak ada yang seperti kau."
"Aku tidak butuh pujianmu."
"Bukan pujian. Fakta." Lilith melangkah maju, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak bunga hitam yang langsung layu. "Kael kalah karena meremehkanmu. Malak kalah karena tidak siap. Abaddon kalah karena ia terlalu percaya pada kekuatan kenangan. Tapi aku..."
Ia berhenti beberapa meter dari Aldric.
"Aku tidak akan meremehkanmu. Aku tidak akan tidak siap. Dan aku tidak akan menggunakan kenanganmu. Aku akan menggunakan sesuatu yang lebih kuat."
"Apa?"
"Kau."
Tiba-tiba, Aldric merasakan sesuatu memasuki pikirannya—bukan paksaan, tapi bisikan. Bisikan yang sangat halus, sangat lembut, hampir tidak terasa.
Kau lelah, bisik suara itu. Sudah cukup. Berhenti. Biarkan orang lain yang bertarung. Kau sudah cukup berkorban.
Aldric menggeleng, mencoba mengusir suara itu. Tapi suara itu terus datang, lebih jelas, lebih meyakinkan.
Lihat mereka—Elara, Sera, Ren. Mereka juga lelah. Mereka butuh istirahat. Jika kau terus begini, mereka akan mati karena kelelahan. Apakah kau mau itu?
"Aku tidak mau..." gumam Aldric.
Maka berhentilah. Serah pada Lilith. Ia hanya minta satu hal—anak itu. Satu anak untuk menyelamatkan yang lain. Bukankah itu pengorbanan yang masuk akal?
Tangan Aldric mulai lemas. Soulrender hampir terjatuh.
Dari belakang, Elara berteriak, "Aldric! Jangan dengar dia! Itu tipuan!"
Tapi suara Elara terasa jauh, samar, seperti dari dasar sumur.
Dengar istrimu? Ia egois. Ia tidak mau kehilangan Ren karena ia takut kehilangan teman. Tapi kau—kau pemimpin. Kau harus berpikir untuk semua orang.
"Tidak... aku tidak bisa..."
Kau bisa. Ini mudah. Lepaskan pedangmu. Biarkan aku yang mengurus sisanya.
Soulrender jatuh.
Lilith tersenyum puas. Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk mengambil pedang itu.
Tapi sebelum tangannya menyentuh gagang—
CRACK!
Sebuah batu melayang dari belakang, mengenai kepala Lilith. Bukan batu biasa—batu bercahaya, batu yang dulu diberikan Mora pada Aldric, yang sekarang di tangan Ren.
Lilith terkejut, mundur selangkah. Gangguan itu cukup untuk memutus pengaruhnya pada Aldric.
Aldric tersadar. Ia melihat Soulrender di tanah, melihat Lilith yang terkejut, melihat Ren yang melempar batu dengan sisa tenaga.
"Aldric!" teriak Elara. "Ambil pedangnya!"
Ia membungkuk, meraih Soulrender, dan dalam satu gerakan—menusuk tepat ke dada Lilith.
"TIDAK—!"
Soulrender bersinar putih—sangat terang, sangat panas. Lilith menjerit, tubuhnya bergetar, dan dari dalam tubuhnya, cahaya putih mulai merambat, memecah kegelapan yang selama ini menyelimutinya.
"Kau... kau pikir... ini berakhir?" desisnya di antara jeritan. "Kael... Malak... Abaddon... mereka... akan kembali... selama masih ada... dendam... di hati manusia..."
"Kita akan hadapi mereka saat itu tiba," kata Aldric dingin. "Tapi kau—kau sudah selesai."
Ia menusuk lebih dalam.
Lilith meledak dalam kepulan asap hitam—tapi tidak seperti iblis lain yang lenyap dengan teriakan marah. Lilith lenyap dengan... senyuman.
Senyum aneh yang tidak bisa diartikan.
Hening.
Asap hitam menghilang perlahan, terbawa angin sore. Mayat-mayat hidup yang roboh mulai hancur menjadi debu, meninggalkan kerangka-kerangka yang kemudian juga hancur. Seolah tidak pernah ada.
Nenek Greta keluar dari persembunyian, wajahnya penuh air mata. Penduduk yang selamat mengikuti, terisak-isak melihat desa mereka yang hancur.
"Akhirnya..." bisik Nenek Greta. "Akhirnya selesai."
Aldric terhuyung, hampir jatuh. Elara berlari menopangnya.
"Kau hebat," bisiknya.
Aldric menggeleng. "Aku hampir kalah. Aku hampir menyerahkan Soulrender."
"Tapi kau tidak." Elara memeluknya erat. "Kau tidak menyerah."
Sera mendekat dengan Ren di gendongan. Anak itu pucat, napasnya lemah, tapi ia tersenyum.
"Om menang lagi," bisiknya.
Aldric mengusap rambut Ren. "Kita menang, Nak."
Varyn mengecilkan tubuhnya, berjalan mendekat. Ia menatap ke arah matahari terbenam, ke arah barat di mana Lilith lenyap.
"Empat iblis," gumamnya. "Empat Horsemen. Semua sudah tumbang."
"Tapi Lilith bilang mereka akan kembali," kata Aldric.
"Mungkin. Tapi tidak sekarang. Mungkin tidak dalam seratus tahun. Mungkin tidak dalam seribu tahun. Yang penting, hari ini kita menang." Varyn menatap Aldric. "Kau sudah membayar utangmu padaku, Nak. Kau membebaskanku. Kau juga menyelamatkan dunia atas dari kehancuran."
Aldric menghela napas. "Tapi banyak yang mati."
"Selalu ada yang mati dalam perang. Tapi yang hidup harus terus hidup."
Mereka diam, menatap senja yang mulai jingga. Di kejauhan, burung-burung mulai berkicau lagi—tanda bahwa alam mulai pulih.
Nenek Greta mendekat, menggenggam tangan Aldric. "Terima kasih, Pangeran. Kau menyelamatkan kami."
"Kamilah yang berutang padamu, Nenek. Kau sudah memberi kami tempat berlindung."
Nenek Greta tersenyum. "Sekarang, kalian butuh istirahat. Rumahku masih utuh—selamat dari api. Kalian bisa menginap di sana."
Malam itu, mereka berkumpul di rumah Nenek Greta yang sederhana.
Api unggun kecil menyala di perapian, menghangatkan ruangan. Ren tidur di dipan, dipayungi Sera yang masih waspada meskipun kelelahan. Elara duduk di samping Aldric, kepalanya bersandar di bahunya. Varyn—dalam wujud kecilnya—duduk di sudut, matanya setengah terpejam.
Nenek Greta menyajikan teh herbal—minuman sederhana, tapi terasa seperti obat bagi jiwa yang lelah.
"Kau akan tinggal di sini?" tanya Nenek Greta pada Aldric.
Aldric memikirkan pertanyaan itu. "Aku tidak tahu. Mungkin. Tapi aku harus kembali ke istana dulu. Ada yang harus dibereskan."
"Kerajaan?"
"Kerajaan butuh pemimpin. Rakyat butuh kepastian." Ia menatap api. "Aku tidak pernah menginginkan takhta. Tapi mungkin... mungkin ini tugas yang harus kuterima."
Elara menggenggam tangannya. "Aku akan bersamamu."
Aldric tersenyum—senyum tulus yang jarang muncul. "Aku tahu."
Dari sudut, Varyn membuka mata.
"Aldric."
"Ya?"
"Aku akan kembali ke dunia bawah. Ada yang harus dibangun kembali di sana juga. Tapi jika kau butuh aku... panggil lewat Ren. Ia bisa menjadi saluranku kapan saja."
"Terima kasih, Varyn. Untuk semuanya."
Varyn tersenyum—senyum hangat yang tidak pernah ia tunjukkan selama ini.
"Kau murid terbaik yang pernah kumiliki, Aldric. Manusia... iblis... apa pun kau... kau hebat."
Ia bangkit, melangkah ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
"Jaga mereka. Jaga dirimu. Dan ingat—maaf memang mati bersama kepergian mereka. Tapi cinta... cinta tidak pernah mati."
Ia melangkah keluar, menghilang dalam kegelapan malam.
Pagi harinya, mereka bersiap kembali ke istana. Nenek Greta memberi mereka perbekalan—roti, daging asap, dan air bersih. Penduduk Dusun Willow berkumpul di gerbang desa, melambai-lambaikan tangan, berterima kasih pada pangeran yang menyelamatkan mereka.
Perjalanan kembali ke Nivalen memakan waktu beberapa hari. Kali ini tidak ada pengejaran, tidak ada pertempuran, hanya langit biru dan jalanan yang mulai dipenuhi orang-orang yang kembali dari pengungsian.
Istana masih berdiri, meskipun rusak parah. Para pelayan yang selamat mulai membersihkan puing-puing. Dan di ruang tahta, di bawah patung naga yang masih utuh, Aldric berdiri untuk pertama kalinya sebagai penguasa.
Tapi menjadi raja bukanlah akhir dari perjalanan. Ada yang harus dibangun kembali. Ada yang harus dimaafkan. Ada yang harus dikorbankan.
Karena syarat ketiga dari Master Elian—pengorbanan—belum terpenuhi.
Dan Soulrender masih menunggu.