Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Memang Monster
"Saya hamil."
Kalimat itu terdengar lantang dari mulut Aluna.
Arka terdiam sesaat, menatap perempuan itu dengan wajah yang begitu terkejut—seolah kata-kata itu belum benar-benar ia pahami.
Aluna meneruskan kalimatnya.
"Tadinya saya pikir.. ini anak Gavin." Wajahnya tertunduk.
"Tapi saya ragu," lanjutnya.
"Lalu saya memberanikan diri untuk melakukan tes DNA."
Ia mengambil surat dari bawah bantal.
"Dan hasilnya." kalimatnya terpotong.
Ia menyodorkan secarik kertas kepada Arka.
"Ini anak Anda."
Hening.
"Di yacht malam itu.. saat Anda merenggut sesuatu milik saya." Nadanya terdengar serak.
Arka mengusap wajahnya, ia terlihat sangat frustasi.
Arka menatap surat yang berada ditangan Aluna, seolah ia ragu untuk mengambilnya.
Tangannya bergetar, perlahan meraih surat itu.
Membukanya dan—
Ia memejamkan mata sesaat.
Ekspresi wajahnya sangat sulit untuk digambarkan.
Antara marah, kecewa, sesal, sedih dan rasa bersalah yang begitu dalam.
Aluna menetap ekspresi itu, ekspresi yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Ekspresi yang sudah ia tebak dari jauh hari.
"Pak Arka tidak usah khawatir," katanya lirih. "Saya pastikan.. saya tahu menempatkan posisi saya."
Hening.
Pria itu tertunduk, tatapannya kosong.
"Saya sudah membuat keputusan." Dagunya bergetar.
"Saya akan kembali kepada Gavin, dan akan mengakui bahwa ini adalah anaknya."
Air matanya menetes.
"Selagi perceraian saya belum ketuk palu, saya masih bisa rujuk."
Bibirnya tersenyum tipis.
"Demi kebaikan kita berdua."
Kalimat-kalimat yang keluar dari bibir perempuan itu membuat hatinya terasa hancur dalam diam.
Bukan hanya karena luka yang terlalu dalam, tapi juga karena amarah dan penyesalan yang datang bersamaan.
Ia ingin menyalahkan keadaan, ingin berteriak, ingin memutar waktu—
tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.
Semua sudah terjadi.
Dan sekarang… ia duduk tak berdaya di tengah kekacauan yang ia ciptakan sendiri,
tanpa tahu harus melangkah ke mana.
Arka memeluk Aluna secara tiba-tiba, dorongan tubuhnya membuat Aluna sedikit terhuyung.
Wajahnya terbenam di antara leher perempuan itu. Tangisnya perlahan terdengar.
"Maafkan aku, Aluna."
Nadanya bergetar, suaranya teredam diantara sesak dan air mata.
"Aku memang seorang monster."
Kini pria itupun akhirnya menyadari bahwa dirinya seperti monster.
Mendengar itu, Aluna menjatuhkan wajahnya di pundak Arka.
Arka memeluk Aluna dengan erat, seolah itu satu-satunya cara untuk menahan semuanya agar tidak benar-benar runtuh.
Namun semakin ia mendekap, semakin jelas ia merasakan—perempuan itu tidak hanya lelah… tapi terluka karena dirinya.
Tangis Aluna pecah di dadanya, tertahan sejak lama, kini tak lagi bisa ia bendung.
Tangannya mencengkeram kemeja Arka, seolah mencari sesuatu untuk bertahan, meski yang ia pegang adalah orang yang sama yang telah menghancurkannya.
Dan untuk pertama kalinya, Arka tidak tahu harus berbuat apa.
Ia, yang selama ini selalu punya kendali atas segalanya—
kini hanya bisa diam, menahan sesak yang perlahan membunuhnya dari dalam.
“Maaf…”
Suara itu keluar begitu pelan, hampir hilang di antara isak tangis mereka.
Namun kata itu terasa begitu kosong.
Karena Arka tahu—
tidak ada kata maaf yang cukup untuk memperbaiki apa yang telah ia lakukan.
Tangannya bergetar saat membelai rambut Aluna.
Bukan karena ragu, tapi karena ia baru menyadari—
bahwa luka yang perempuan itu tanggung… adalah akibat dari dirinya.
Dan itu tidak bisa ia tarik kembali.
Aluna tidak menjauh.
Tidak juga memukul atau menolak.
Ia hanya menangis.
Tangis yang lebih menyakitkan dari segala bentuk kemarahan.
Seolah ia sudah terlalu lelah untuk melawan,
terlalu hancur untuk sekadar membenci.
Di dalam pelukan itu, mereka berdua runtuh—
bukan sebagai dua orang yang saling mencintai,
tapi sebagai dua jiwa yang sama-sama terlambat menyadari segalanya.
Arka menutup matanya rapat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
ia berharap waktu bisa diputar kembali.
Bukan untuk mengubah dunia—
tapi hanya untuk satu hal sederhana:
tidak menjadi alasan di balik air mata perempuan itu.
Namun kenyataan tetap diam.
Dan takdir…
tidak pernah memberi kesempatan kedua.
"Aluna.."
Suaranya hampir habis, "tolong jangan kembali padanya."
"Lalu saya harus bagaimana?" tanyanya lirih.
Arka melepaskan pelukannya, menatap mata perempuan itu begitu dalam.
"Berikan aku waktu untuk memikirkannya."
"Saya takut.. jika saya tidak mampu berjalan sendirian."
Wajahnya tertunduk.
Arka mengangkat wajah perempuan itu.
"Nggak Aluna.. kamu tidak akan berjalan sendirian." Jemarinya mengusap air matanya.
"Aku tidak akan membiarkan mu berjalan sendirian."
"Aku disini," lanjutnya.
Mendengar itu.. ada kelegaan yang perlahan tumbuh dalam dirinya.
Seolah untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian menghadapi semua ini.
Napasnya yang semula terasa berat, kini mulai teratur, meski masih tersisa getaran kecil di dadanya.
Tangannya yang tadi gemetar, perlahan melemah—bukan karena menyerah, tapi karena ia akhirnya punya tempat untuk bersandar.
Kalimat sederhana itu… terdengar begitu biasa.
Namun entah kenapa, mampu menembus semua ketakutan yang selama ini ia tahan seorang diri.
Aluna memejamkan matanya sejenak.
Ketakutan itu belum benar-benar hilang.
Luka itu masih ada.
Dan kenyataan tetap menunggu di depan.
Tapi setidaknya…
ia tidak lagi harus menghadapinya sendirian.
Dan untuk saat ini—
itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bertahan.
Tapi di sudut hatinya, Aluna tahu—
kalimat itu mungkin hanya singgah sesaat, seperti harapan kecil yang tak pernah benar-benar bisa ia genggam.
***
"Rasanya mustahil ada kehidupan di sini."
Tangannya mengelus-elus perut kecil Aluna.
Aluna tertawa kecil. "Saya juga tidak yakin."
"Kira-kira.. dia bakal seperti apa, ya?"
Wajah Arka terlihat penasaran.
Aluna mengernyit.
"Asal jangan gila seperti, Anda."
Arka terkekeh.
"Dan jangan sampai bodoh seperti kamu."
Tangannya menoyor kening perempuan itu.
Mereka tertawa bersama.
"Kalau begitu.. mulai sekarang kamu harus menjaga kesehatan mu," tegas Arka.
Ia melanjutkan kalimatnya, "kamu harus makan yang banyak, jangan terlalu lelah, dan.."
Kalimatnya tertahan.
"Jangan makan seblak lagi."
Aluna terdiam sesaat lalu tertawa.
"Memangnya kenapa?"
"Jangan sampai dia," jarinya menunjuk perut Aluna. "Ikut merasakan jenis makanan aneh itu."
Mereka tertawa bersama.
Arka memeluk Aluna dari belakang saat mereka berbaring di atas kasur. Lengannya melingkar di pinggang perempuan itu, menariknya lebih dekat, seolah tak ingin membiarkannya pergi.
Dalam diam, pelukan itu terasa lebih kuat dari kata-kata—
sebagai cara untuk tetap bertahan di tengah semuanya.
***
"Arka."
Suara itu terdengar dari ujung meja makan.
Arka yang semula fokus pada makanannya langsung menghentikan gerakannya. Ia mengangkat kepala, menatap wanita yang duduk dengan posisi tegak dan anggun di hadapannya.
Ibunya.
Perempuan itu tidak meninggikan suara, namun ada tekanan halus di setiap katanya yang membuat suasana berubah.
Sendok yang beradu dengan piring perlahan mereda.
Hening yang tadi terasa biasa, kini berubah menjadi sesuatu yang menekan.
"Kamu harus segera menyelesaikan urusan bisnis mu."
Tatapannya fokus pada steak yang ia potong.
"Tanggal pernikahan kalian semakin dekat. Jadi kamu harus beristirahat sejenak."