NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Malam itu, suasana di kamar utama terasa sangat tenang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ziva baru saja selesai menggosok gigi dan mengenakan piyama panjang bermotif awan yang sangat tertutup—pilihan yang jauh lebih aman daripada "baju dinas malam" merah marun yang masih teronggok malu-malu di lemari.

Dengan langkah riang dan penuh semangat, Ziva menghampiri tempat tidur sambil memeluk sebuah map tebal berisi dokumen kantor. Ia melihat Baskara sudah bersandar pada headboard ranjang, mengenakan kaus oblong putih tipis yang memperlihatkan lekuk bahunya yang lebar. Pria itu tampak sedang membaca sebuah buku, namun pandangannya langsung beralih ke arah pintu saat Ziva masuk.

"Ayo, Kak! Gue udah siap!" seru Ziva dengan nada antusias, hampir melonjak ke atas kasur di sisi miliknya.

Baskara tertegun. Ia meletakkan bukunya ke meja nakas dengan gerakan yang agak terburu-buru. Tatapannya mendadak berubah menjadi lebih dalam, lebih intens, dan ada sedikit kegugupan yang tidak biasa di balik wajah kakunya. Ia berdehem pelan, mencoba mengatur suaranya yang tiba-tiba terasa serak.

"Serius... kamu sudah siap?" tanya Baskara dengan suara rendah. Ia sedikit menegakkan posisi duduknya, matanya menyapu wajah Ziva yang tampak berseri-seri.

Ziva mengerutkan kening. Ia menghentikan gerakannya yang hendak membuka map. Ia menatap Baskara dengan pandangan heran, menyadari ada yang aneh dengan nada bicara suaminya.

"Iya, siap. Siap bacain laporan buat rapat besok pagi. Gue butuh bantuan lo buat cek poin-poin argumennya supaya nggak ada celah pas ditanya direksi nanti," jawab Ziva polos. Ia kemudian menatap wajah Baskara lebih dekat. "Muka lo kenapa, Kak? Aneh banget. Kayak orang abis liat hantu, tapi... agak merah gitu."

Baskara langsung membuang muka, berdehem lebih keras kali ini hingga terdengar seperti orang yang benar-benar tersedak. "Enggak. Nggak ada apa-apa."

Ziva tidak puas dengan jawaban singkat itu. Insting analisnya yang tajam mendadak bekerja di luar jam kantor. Ia merangkak mendekati Baskara, meletakkan map dokumennya di atas bantal, lalu menumpu dagunya dengan tangan, tepat di hadapan wajah Baskara yang kini sibuk menatap sprei.

"Engga tapi gue bisa liat tadi muka lo itu... mesum!" tuduh Ziva dengan telunjuk yang hampir menyentuh hidung mancung Baskara. "Lo mikirin apaan, hah? Gue bilang 'siap', lo mikirnya 'siap' yang mana?"

Baskara kembali menoleh, mencoba memasang wajah "Inspektur Polisi" andalannya yang dingin dan tidak tersentuh. "Aku tidak memikirkan apa-apa, Zivanya. Aku cuma... kaget saja kamu semangat sekali malam-malam begini."

Ziva menyipitkan mata, ia semakin mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia meneliti setiap inci wajah pria itu—mulai dari keningnya yang sedikit berkeringat, matanya yang tidak mau diam, hingga telinganya yang kini sudah berubah warna menjadi merah padam.

"Bohong banget!" ledek Ziva dengan nada kemenangan. "Lo pasti mikir gue mau pake baju merah marun pemberian nyokap lo itu kan? Lo pikir gue mau... 'dinas malam' beneran ya?"

"Ziva, sudah. Jangan mulai," gumam Baskara sambil mencoba menjauhkan wajahnya, namun Ziva justru menahan bahunya.

"Hayo ngaku! Pak Inspektur ternyata otaknya lagi nggak di kantor ya? Lagi traveling ke mana tadi pas denger kata 'siap'?" Ziva tertawa lepas, ia merasa sangat puas bisa membuat suaminya yang biasanya sangat mengintimidasi itu kini tampak sangat tidak berdaya.

Baskara akhirnya menghela napas panjang, menyerah pada godaan istrinya. Ia menangkap tangan Ziva yang ada di bahunya, menggenggamnya erat agar gadis itu berhenti bergerak. "Oke, jujur. Sedetik tadi, aku memang sempat salah paham. Salah sendiri kamu masuk kamar dengan nada sesemangat itu di jam tidur. Insting laki-lakiku tidak bisa disalahkan kalau frekuensinya agak meleset."

Ziva mencibir, meski hatinya berdegup tak beraturan karena tangan mereka yang bertautan. "Dasar! Polisi mesum. Makanya, jangan kebanyakan interogasi orang di ruangan gelap, otaknya jadi liar kan."

Baskara menarik tangan Ziva, membuat gadis itu sedikit kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di pelukannya. Baskara melingkarkan lengannya di pinggang Ziva, menguncinya agar tidak bisa lari.

"Sekarang karena aku sudah telanjur 'salah frekuensi', gimana kalau laporannya dibaca besok pagi saja?" bisik Baskara tepat di telinga Ziva, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika. "Sepertinya ada agenda lain yang lebih penting daripada audit finansial."

Ziva langsung mendorong dada Baskara, meskipun ia tertawa. "Enggak ada! Kerjaan dulu baru yang lain! Lepasin, Kak! Gue harus presentasi besok pagi jam delapan. Kalau gue gagal gara-gara kurang persiapan, lo yang harus gantiin bonus gue!"

Baskara tertawa kecil, ia akhirnya melepaskan pelukannya namun tetap membiarkan Ziva duduk bersandar padanya. "Baiklah, Nyonya Analis. Mana laporannya? Mari kita lihat berapa banyak angka yang harus aku 'amankan' malam ini."

Ziva pun membuka mapnya dengan puas. Sepanjang satu jam berikutnya, suasana kamar berubah menjadi "kantor darurat". Ziva membacakan laporannya dengan serius, sementara Baskara memberikan masukan dari sudut pandang logika kepolisian yang ternyata sangat membantu Ziva dalam menyusun strategi argumentasi.

Di sela-sela diskusi yang serius itu, Baskara sesekali mengelus rambut Ziva atau membetulkan posisi duduk istrinya agar lebih nyaman. Ziva menyadari bahwa momen seperti ini—bekerja bersama, berdiskusi, bahkan saling menggoda soal "salah frekuensi"—jauh lebih romantis daripada makan malam mewah mana pun.

"Selesai!" Ziva menutup mapnya dengan bangga. "Makasih ya, Kak. Lo bener-bener asisten pribadi yang oke kalau lagi nggak mesum."

Baskara mengambil map itu dan menaruhnya di meja. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. "Sama-sama. Sekarang, karena tugas negaramu sudah selesai, waktunya tugas rumah tangga."

"Apa lagi?" tanya Ziva sambil menarik selimut.

"Tidur. Peluk aku. Itu perintah dari Inspektur," ucap Baskara sambil menarik Ziva ke dalam dekapannya.

Ziva tersenyum di balik dada Baskara. Ia memejamkan mata, merasa sangat aman dan dicintai. "Siap, Komandan."

***

Ruang rapat utama di lantai sepuluh itu terasa begitu hening, hanya ada suara dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang berembus konstan. Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca besar, memantul di atas meja marmer panjang yang permukaannya tampak berkilat sempurna. Di sana, Zivanya Aurora duduk sendirian di salah satu kursi ergonomis kulit hitam, jauh sebelum jadwal rapat dimulai.

Ziva menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai bertalu. Pagi ini bukan sekadar rapat biasa; ini adalah penentuan apakah strategi audit yang ia susun bersama Baskara semalam akan diterima oleh jajaran direksi. Ia mengenakan setelan kerja paling "bertenaga" miliknya—sebuah blazer power suit berwarna abu-abu arang dengan aksen kerah tajam yang dipadukan dengan blus putih bersih.

Ia merapikan tumpukan dokumen di depannya, lalu pandangannya jatuh pada ponselnya yang tergeletak di meja. Tiba-tiba, ia teringat wajah kaku Baskara semalam saat pria itu "salah frekuensi". Sebuah senyum nakal terbit di sudut bibir Ziva.

"Dikasih penyemangat dikit kayaknya seru nih," gumamnya pelan.

Ziva melirik ke arah pintu geser otomatis; masih tertutup rapat. Ia segera mengambil ponselnya, membuka kamera depan, dan mulai mencari sudut yang pas. Ia tidak berpose berlebihan. Ziva hanya sedikit memiringkan kepalanya, membiarkan rambutnya jatuh di satu bahu, lalu ia tersenyum tipis namun penuh percaya diri ke arah lensa. Latar belakang fotonya memperlihatkan papan tulis putih besar yang sudah penuh dengan grafik rumit hasil pekerjaannya.

Klik.

Satu foto berhasil diambil. Ziva melihat hasilnya: ia tampak profesional, cantik, sekaligus menunjukkan sisi tangguh seorang wanita karier. Tanpa membuang waktu, ia mengirim foto tersebut ke kontak "Kak Baskara".

Zivanya: Analis andalan lo udah di medan perang nih. Doain sukses ya, Pak Inspektur!

Ziva meletakkan ponselnya kembali, berniat untuk kembali fokus pada berkas. Namun, baru tiga detik berlalu, ponselnya bergetar hebat di atas meja marmer.

Baskara: Foto itu sangat berbahaya buat konsentrasi patroliku, Ziva.

Baskara: Kamu cantik sekali dengan blazer itu. Majulah, hancurkan keraguan mereka. Aku sudah pesan tempat untuk merayakan keberhasilanmu malam ini.

Ziva menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan pekikan girang yang hampir lolos dari tenggorokannya. Pujian Baskara selalu terasa jujur dan berat, seperti beban lencana yang pria itu kenakan. Ia baru saja hendak membalas pesan itu ketika pintu ruang rapat terbuka secara otomatis.

Pak Heru masuk dengan langkah berat, diikuti oleh jajaran manajer senior dan beberapa direktur dari divisi lain. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi tegang dalam hitungan detik. Harum parfum mahal dan aroma kopi pahit memenuhi ruangan.

"Pagi, Ziva. Sudah siap dengan data revisi semalam?" tanya Pak Heru tanpa basa-basi sambil duduk di kursi kebesarannya.

"Pagi, Pak. Sudah siap sepenuhnya," jawab Ziva dengan suara yang mantap. Ia berdiri, melangkah ke depan layar proyektor, dan mulai memaparkan laporannya.

Satu jam pertama adalah ujian mental yang sesungguhnya. Pertanyaan-pertanyaan tajam menghujamnya. "Ziva, bagaimana kamu bisa yakin efisiensi ini tidak mengganggu operasional?" atau "Data ini terlihat terlalu optimis, apa dasarnya?"

Namun, setiap kali Ziva merasa sedikit terpojok, ia teringat diskusi "meja nakas" semalam. Masukan Baskara tentang bagaimana membangun argumen yang sulit dipatahkan seperti menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP) benar-benar menjadi senjata rahasia Ziva. Ia menjawab setiap keraguan dengan angka yang presisi dan logika yang sangat kuat.

Di tengah sesi tanya-jawab yang panas, Ziva sempat melirik ponselnya yang layar depannya menyala karena ada notifikasi masuk. Ia melihat sekelibat pesan dari Baskara: "Tarik napas, Ziva. Ingat poin ketiga yang kita bahas semalam."

Entah bagaimana, Baskara seolah tahu kapan Ziva mulai merasa lelah. Pesan singkat itu memberinya dorongan energi baru. Ziva kembali menatap para direksi dengan pandangan tajam yang tak tergoyahkan.

"Cukup," potong Pak Heru tiba-tiba. Ruangan mendadak hening. Pak Heru melepas kacamatanya, menggosok matanya sejenak, lalu menatap Ziva dengan senyum yang sangat jarang ia tunjukkan.

"Ziva, saya sudah di perusahaan ini selama dua puluh tahun. Jarang sekali saya melihat analis junior yang bisa mempertahankan argumennya seberani kamu, bahkan di depan direksi. Strategi kamu... cerdas. Saya setuju dengan revisi ini."

Tepuk tangan pelan terdengar dari para peserta rapat lainnya. Ziva merasa seolah seluruh beban di pundaknya luruh seketika. Ia membungkuk sopan, "Terima kasih banyak, Pak. Saya akan segera tindak lanjuti prosedurnya."

Begitu rapat dinyatakan selesai dan orang-orang mulai meninggalkan ruangan, Ziva segera menyambar ponselnya. Ia tidak tahan lagi.

Zivanya: GUE MENANG, KAK! Strategi 'BAP' lo berhasil total! Pak Heru setuju!

Balasan Baskara datang hampir seketika, kali ini bukan pesan teks, melainkan sebuah pesan suara. Ziva mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Sudah aku duga. Selamat, Istriku. Sekarang, simpan laptopmu dan jangan terlalu lelah. Aku akan menjemputmu satu jam lebih awal. Ada kejutan untukmu karena sudah jadi jagoan hari ini."

Ziva tersenyum lebar di tengah ruang rapat yang kini kosong. Ia menyadari satu hal: keberhasilan ini bukan hanya tentang karier, tapi tentang bagaimana ia dan Baskara mulai benar-benar menjadi sebuah tim yang solid. Ia melangkah keluar ruangan dengan langkah ringan, siap menyongsong malam perayaan yang dijanjikan suaminya.

Masa lalu mungkin pernah membuatnya takut akan masa depan, tapi sekarang, di setiap langkahnya menuju lobi, ia tahu ada seseorang yang selalu berdiri di belakangnya—baik di ruang interogasi, maupun di balik layar ponsel yang selalu siap memberikan semangat.

1
Mey Latika
kok gantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!