Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.
Malam mulai turun perlahan, menyelimuti langit dengan warna jingga yang berubah menjadi gelap. Lampu-lampu di sekitar rumah Zee mulai menyala satu per satu, menghadirkan suasana hangat dan tenang.
Di dalam kamarnya, Zee baru saja selesai membersihkan diri. Dia duduk di tepi tempat tidur, rambutnya masih sedikit basah, seketika ada bunyi notifikasi terdengar dari ponselnya.
A3: Laporan pengiriman... Status: Terkirim
Zee langsung mengambil ponselnya dan membuka laporan tersebut.
Matanya dan mulutnya bergerak dengan cepat membaca setiap detail.
Pengiriman buah tahap pertama untuk Tuan Daniel telah tiba dengan selamat di lokasi tujuan.
Kondisi barang: 100% segar dan sesuai standar kualitas.
Jumlah diterima lengkap tanpa kekurangan.
Pihak penerima langsung menyatakan kepuasan dan akan menindaklanjuti distribusi ke hotel dan supermarket.
Zee tersenyum tipis. "Cepat juga pengirimannya..." gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, notifikasi lanjutan muncul.
A3: Permintaan tambahan dari pihak Tuan Daniel. Volume pengiriman kemungkinan akan ditingkatkan hingga 2x lipat dalam minggu berikutnya.
Zee menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur, menatap layar ponselnya dengan mata yang sedikit menyipit dan sambil berpikir.
"Berarti... permintaan pasar di Kota juga cukup tinggi," ucapnya pelan.
Dia lalu membuka data stok dari kebun miliknya. Berbagai jenis buah muncul di layar : stroberi, jeruk, alpukat, apel, dan mangga. Semuanya dalam kondisi produksi stabil.
Namun Zee tahu, jika permintaan meningkat dua kali lipat, maka Dia harus mulai mengatur strategi dari sekarang.
Tanpa menunda, Zee mengaktifkan komunikasi dengan A3.
"A3, pastikan kualitas tetap nomor satu. Jangan sampai karena jumlah meningkat, kualitas jadi turun," perintah Zee dengan suara tegas namun tegas.
"Perintah di terima, standar kualitas akan tetap diprioritaskan."
Zee mengangguk kecil.
"Tambahkan juga sistem sortir lebih ketat sebelum pengiriman. Dan... mulai siapkan sebidang tanah yang luas."
"Baik Nona, pembelian sebidang tanah di proses dengan proyeksi permintaan."
Zee tersenyum puas. Kerja sama dengan Daniel ternyata berkembang lebih cepat dari yang Dia perkirakan.
Ini bukan hanya tentang bisnis, tapi ini tentang membuka jalur baru. Dengan kualitas buah dari Desa bisa juga sampai ke kota
Dan itu berarti, lebih banyak peluang, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya.
Tak lama kemudian, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini, sebuah pesan langsung masuk.
Dari Daniel. "Zee, buahnya sudah sampai. Kualitasnya luar biasa, bahkan lebih baik dari yang saya bayangkan. Jadi saya ingin meningkatkan jumlah pesanan. Dan mungkin kita bicarakannya lebih lanjut lagi?"
Zee membaca pesan itu dengan tenang, lalu mengetik balasan singkat. "Tentu, kita atur jadwalnya besok."
Dia meletakkan ponsel di sampingnya, lalu berdiri dan berjalan menuju balkon. Malam ini terasa lebih sejuk, langit dipenuhi bintang dan angin malam yang berhembus pelan menyentuh wajahnya.
Dari kejauhan, suara alam terdengar samar dan menenangkan.
Zee memandang ke arah kebunnya yang luas, lalu ke arah toko kecil di samping rumahnya.
Besok toko itu akan di buka, dan di saat yang sama... jalur distribusi ke kota juga mulai berjalan perlahan, tapi pasti.
Zee menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.
Perjalanan ini baru saja di mulai, dan Dia tahu... ke depan, semuanya akan menjadi jauh lebih besar dari yang Dia bayangkan.
Malam semakin larut, namun pikiran Zee justru semakin aktif.
Dia masih berdiri di balkon, memandangi hamparan kebun dan tamannya. Angin malam membawa aroma bunga dan buah yang menenangkan.
Namun di balik ketenangan itu, Zee tahu satu hal pasti. apa yang Dia miliki sekarang... tidak akan cukup untuk memenuhi permintaan ke depannya.
Perlahan, Dia kembali masuk ke dalam kamar. Ponselnya yang di atas meja kembali berbunyi notifikasi masuk.
*Transaksi berhasil.*
Dalam hitungan detik, status kepemilikan berpindah. Sekarang, tanah kosong di samping rumahnya tepat di belakang rumahnya lima meter dari sumur tua.
Zee tidak berhenti sampai di situ, Dia langsung membuka fitur pengelolaan proyek.
"A3, saya sudah menerima sertifikat tanahnya."
"Ya, Nona Zee."
"Saya mau kalau bisa, kebun barunya segera di buka, karena permintaan buah-buahan kita kedepannya akan meningkat. Dan kita perlu lahan yang siap tanam dalam waktu cepat."
"Permintaan di terima, analisis tanah dan kesiapan lahan akan segera diproses."
Zee mengangguk, "Dan satu lagi, kita butuh tenaga kerja."
Dia berjalan ke arah meja kerjanya, lalu duduk. "Buka lowongan sebesar-besarnya untuk pekerja laki-laki, untuk pembukaan lahan, membersihkan, meratakan, dan menyiapkan tanah."
"Oh iya, saya lupa satu hal lagi, utamakan penduduk Desa disini dulu." lanjut Zee.
"Baik Nona."
"Untuk pekerja perempuan... khusus untuk penanaman bibit dan perawatan awal. Saya ingin mereka tidak hanya bekerja saja, tapi juga belajar."
"Pembagian tugas dicatat."
Zee melanjutkan dengan suara lebih lembut, namun penuh keyakinan. "Untuk bibitnya... kita sediakan dari kita dan gratis, jika ada lebih boleh di bawah pulang oleh mereka."
A3 sempat hening sepersekian detik, seolah memproses keputusan itu.
"Konfirmasi: bibit akan diberikan tanpa biaya kepada pekerja perempuan sebagai bagian dari program?"
"Iya, anggap saja ini investasi jangka panjang. Mereka bisa belajar, dan nanti... kalau mereka ingin menanam sendiri, mereka sudah punya ilmunya."
Senyum tipis kembali terukir di wajahnya. Dia tidak hanya ingin membangun kebun saja, tapi juga membangun kepercayaan warga sekitar.
"Perintah dipahami, dan program akan dijalankan."
Tak lama kemudian, sistem mulai bergerak.
pengumuman lowongan kerja disebarkan ke beberapa Desa sekitar. Informasi tentang pekerjaan, upah yang layak, serta kesempatan belajar mulai menarik perhatian warga.
Keesokan paginya.
Bahkan sebelum Zee turun dari kamarnya, halaman depan gerbang rumahnya sudah mulai ramai dengan banyaknya warga yang berdatangan.
Beberapa pria berdiri di dekat gerbang, bahkan ada yang sudah membawa alat seadanya.
Sementara di sisi lain, sekelompok perempuan dari mudah sampai tua datang dengan wajah penuh harap.
Bu Maya yang melihat itu semua sampai sedikit terkejut.
"Neng... diluar banyak orang," ucapnya saat Zee turun.
Zee tersenyum tenang, "Biarkan mereka masuk Bu."
Tak lama kemudian, halaman rumah sudah di penuhi puluhan orang dari tua sampai mudah.
Zee berdiri di depan mereka, penampilannya sederhana, namun aura tenangnya membuat semua orang memperhatikannya dengan hormat.
"Saya butuh bantuan Bapak, Ibu, semuanya," ucap langsung, tanpa bertele-tele.
Semuanya menjadi hening.
"Kita akan membuka kebun baru, lebih luas dan besar." lanjut Zee.
Beberapa pria saling pandang, sementara para perempuan mulai berbisik pelan.
"Untuk para pria, saya butuh tenaga untuk membuka lahan. Kerja kalian memang berat, tapi upahnya juga akan sesuai dengan kinerja kalian." jelas Zee.
Dia lalu mengalihkan pandangan ke arah para perempuan. "Sementara ibu-ibu dan kakak-kakak untuk sekarang saya belum butuh bantuan kalian." Ujar Zee.
Mendengar bahwa mereka belum dibutuhkan, seketika yang tadinya semangat menjadi lesu dan tidak bersemangat lagi.
"Namun jangan khawatir, kalian boleh daftar dulu. Setelah para pria selesai membersihkan lahan kalian yang akan menanam semua bibit-bibit pohon buahnya." lanjut Zee.
Setelah mendengar lanjutan Zee, mata mereka semua mulai berbinar.
"Bibitnya saya akan sediakan, kalian juga akan diajarkan cara menanam dan merawatnya."
"Dan nanti, kalian boleh membawa pulang bibit yang sama dan juga bisa tanam di rumah kalian masing-masing."
Kali ini, benar-benar terdengar suara haru. Beberapa perempuan bahkan langsung menutup mulut mereka.
Mereka tidak menyangka akan punya penghasilan tetap dan bisa membantu suami, ayah, dan keluarga mereka.
Zee melanjutkan dengan tenang. "Saya tidak hanya ingin kebun ini berkembang dan berhasil. Tapi saya juga ingin kalian semua juga ikut berkembang dan berhasil."
Hening sejenak, lalu...
"Terima kasih Nona..." suara seorang ibu terdengar lirih, penuh rasa syukur.
Disusul yang lain juga.
Dan hari itu, bukan hanya tentang pekerjaan yang dimulai. tapi tentang harapan yang tumbuh.
Zee yang berdiri di depan semuanya, tahu satu hal pasti. Langkah kecil ini mungkin akan membawa perubahan besar di desa ini dan mungkin sampai ke desa-desa tetangga.