Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I LOVE YOU
Alex menatap jasad terbujur kaku di depannya. Air matanya sudah kering setelah seharian menangis. Tidak ada lagi yang harus ia perjuangkan saat ini. Hatinya mendingin, pikirannya membeku.
Salah ayahnya...
Atau salahnya...?
Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar saat takdir sudah digariskan.
Begitu ibunya dulu berbicara.
Ia menatap Leon dan Bara yang duduk di depan jasad ibunya sambil melantunkan doa dengan terisak.
Alex menyandarkan kepalanya ke dinding.
Menatap lampu kristal yang tergantung di atas plafon setinggi lima meter.
Pada akhirnya kemewahan hanya terbatas pada kain kafan dan ruangan 1x2 meter.
Apa yang ia kejar selama ini?
Lalu ia menatap sekeliling.
Yang ada di ruangan itu hanya beberapa Ustad dan wakil dari beberapa pondok pesantren tempat bapak dan ibunya sering membayar zakat dan bersedekah.
Lalu ia mengambil ponselnya.
"Six, ibu saya sudah meninggal. Alamat saya di xxx"
Lalu Alex menatap Leon.
Seperti yang lain, sebenarnya Bianca berhak mengetahui keadaan 'orang tuanya', namun saat itu Alex sedang mencurigai Bianca memiliki affair dengan ayahnya karena puisi itu. Namun seiring waktu berjalan Alex mulai sangsi kalau Bianca adalah wanita jenis itu, terlihat sekali kalau ia sangat menghormati ibunya juga, dan seumur hidupnya, cinta pertama dan perebut kegadisannya adalah Leon.
Sial...
Mungkin akan lebih baik apabila orangnya adalah Alm. Ayahnya,
Setidaknya sudah tidak berada di dunia ini.
Pengakuan Leon yang seperti itu membuatnya memulai investigasi dari awal lagi...
Sekitar 30 menit setelahnya Bianca datang dengan terengah-engah. Alex naik melalui lift ke kamarnya di lantai 3.
*****
"Six, Bu Retno harus segera dimakamkan. Kamu harus pulang." sahut Bara.
"Kenapa saya harus pulang?"
"Karena Pak Alex harus memakamkan ibunya."
"Ya silakan saja, ngga masalah kan?" tangan wanita itu masih membelai-belai dahi Bu Retno yang tertidur selamanya.
Bara menghela napas.
"Kamu lihat di sini ngga ada orang dari kantor sama sekali kecuali kita kan?" kata Bara.
"Memangnya apa bedanya saya dengan kalian?" kata Bianca lirih.
"Bianca, jangan kekanak-kanakan."
"Yang kekanak-kanakan itu sebenarnya siapa?!" jerit Bianca marah. Emosinya sudah memuncak dikepalanya. Membuatnya tidak bisa mengendalikan omongannya.
Ruangan seketika hening. Bahkan Alex bisa mendengar jeritannya dari dalam kamarnya.
Pria itu menghela napas mendengarnya.
Apa ia sudah keterlaluan selama ini? Bianca menganggap orang tua Alex adalah orang tuanya juga. Bahkan mungkin Bianca lebih mengenal mereka daripada Alex.
"Bianca Damar!!" seru Bara ikut emosi. "Apa pun yang Pak Alex ingin lakukan terhadap jasad orang tua kandungnya bukan urusan kita! Kamu tidak memiliki hak apa pun di sini! Kita ini orang lain yang kebetulan dibantu Pak Baskara, hanya itu!!"
Bianca terkesiap mendengarnya.
Alex hanya mendengarkan sambil menatap awan yang bergelombang
"Bagaimana mungkin kamu bicara seperti itu Bara? Selama ini kita yang mendampingi Pak Baskara dan Bu Retno, bukan Alex yang melihat wajah orang tuanya saja ngga mau!"
"Kata siapa?!" tantang Bara.
"Kata..." Bianca kehabisan kalimat, berusaha mengingat. "Kata Pak Baskara dan Bu Retno? Kamu kan ingat mereka sering mengeluh mengenai Alex?!"
"Kamu lihat sendiri ngga kalau Pak Alex menolak orang tuanya?!"
Bianca diam.
"Memangnya seluruh persoalan keluarga mereka akan cerita ke kita? Kamu pikir yang berhutang budi dengan Pak Baskara hanya kita? Mana kamu tahu ternyata keempat Direksi Beaufort Bank ternyata juga memiliki janji mereka sendiri kepada Pak Baskara?! Jangan merasa penting sendiri!!" seru Bara.
Bianca memejamkan matanya.
Kata-kata Bara bergaung dari telinga ke dalam kepalanya.
Leon menyentuh pundak Bara.
"Udah cukup, Bar." sahut Leon. "Pak Alex kirim wa ke gue. Seluruh pertanyaan Bianca akan dia jawab setelah pemakaman. Bi, tolong pulang dulu, dia akan telepon lo nanti."
Bianca menatap Bara dan Leon dengan pandangan kosong. Lalu menatap jasad Bu Retno beberapa saat.
Akhirnya ia mengangguk dan membereskan barang-barangnya.
*****
Alex menatap gundukan tanah dengan taburan bunga di depannya. Ibunya dimakamkan satu liang lahat dengan ayahnya. Akhirnya setelah tujuh bulan berpisah, mereka bersatu juga...
Pria itu menghela napas.
Banyak sekali orang-orang yang mencintai kalian, namun tidak tahu kalau sudah tiada...pikir Alex.
Ia memandang ponselnya.
Sekarang, di depan pusara ayah ibunya, Alex akan berbicara dengan Bianca.
"Six..."Sapa Alex.
"Sejak kapan Pak Baskara sakit?" Bianca langsung bertanya. Wanita itu tidak suka basa-basi.
"Sejak lima tahun lalu kondisinya memburuk. Ia tidak bisa terlalu capek sehingga memutuskan pensiun."
"Lalu Anda mengambil alih?"
"Ya. Saya langsung ambil alih. Tapi saya masih di Amerika waktu itu. Semua transaksi di Indonesia diwakilkan Bara dan Leon."
"Sejak kapan Pak Alex pulang ke Indonesia?"
"Tujuh bulan yang lalu. Saat Ayah meninggal."
"Bu Retno?"
"Beliau terserang stroke malamnya, setelah pemakaman. Dan koma keesokan harinya."
Keadaan hening beberapa saat.
"Six...ehm...Bianca?" Alex memanggil Bianca dengan namanya. "Kamu dengar baik-baik. Alasan saya menyembunyikan identitas saya adalah untuk penyortiran pegawai di seluruh anak usaha Beaufort. Apa kamu tahu berapa banyak orang yang ayah saya masukkan ke perusahaan? Sebagian besarnya tidak benar-benar berterima kasih ke ayah saya. Mereka malah menganggap ayah saya otoriter...manipulatif dan bahkan mengatai ayah saya licik. Saya mendengar isu bahwa akan ada penyusup yang membuat kami, saya dan ayah saya , dituduh melakukan penggelapan. Sejak saat itu saya memutuskan untuk mengaudit semua transaksi setiap dua minggu sekali dan melakukan penyamaran."
"Melakukan.... Penyamaran....?" terdengar gumaman Bianca dari seberang.
"Ya."
"Anda...yang mana?"
"Saya belum bisa jawab."
"Apakah saya mencurigakan?"
"Tidak...bukan saya menuduh kamu adalah pelaku. Saya malah...melihat kamu hampir setiap hari."
Bianca terkesiap.
"Akan ada waktunya kita bertemu. Selama ini kerja kamu sangat baik. Karena itu saya menunjuk kamu menjadi sekretaris saya. Dan maaf... Awalnya saya memang mencurigai kamu."
"Memang benar begitu kan?!"
"Sekarang saya percaya kamu."
"Atas dasar apa Pak Alex mencurigai saya? Kalau saya mau berbuat curang, saya tidak perlu menunggu sampai 10 tahun!"
"Leon juga berkata hal yang sama. Alasannya sama dengan saya tidak mengizinkan kamu tahu kalau ayah saya sudah meninggal."
"Dan itu adalah?" Bianca terdengar tidak sabar.
"Saya mencurigai kamu ada affair dengan ayah saya, sehingga membuat ibu saya stres dan terserang stroke."
Terdengar Bianca terkesiap dari seberang sana.
Alex menunggu sampai wanita itu tenang sambil memainkan salah satu bunga yang ada di atas pusara orang tuanya.
Ia mengirim wa ibunya di saat terakhir ke Bianca dan foto puisi ayahnya.
"Jangan salahkan saya. Saya menuduh kamu karena dua hal yang baru saja saya kirimkan ke kamu." Kata Alex.
Lagi-lagi yang ada hanya kesunyian beberapa saat. Bianca mungkin masih mempelajari isi pesannya. Alex melihat Bara dan Leon menunggunya di bawah pepohonan. Sandiego hills hari ini cerah tanpa awan.
"Saya tidak sebaik yang di puisi ini, Pak Alex. Lagi pula yang dimaksud di sini bukan hanya wanita. Bisa saja Pria. Ibu Anda bahkan tidak menjelaskan jenis kelaminnya."
Alex tertegun.
Lalu membaca ulang puisi dan wa ibunya.
Benar juga...
"Lalu...kenapa sekarang Anda memutuskan untuk memberitahu saya?"
Angin sepoi-sepoi menerpa rambut Alex. Wangi bunga yang semerbak.
Akan menghilang bersama dengan berjalannya waktu
Yang akan ada hanya kesunyian...
"Karena saya jatuh cinta sama kamu." Alex mengakui perasannya.
malah mantan😉
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.