NovelToon NovelToon
Beyond Blessed

Beyond Blessed

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:970.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Upi1612

-TAMAT-

Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.


Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.

Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.

Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BB 31 - Pertemuan Kembali dengan Gadis Tirai

“Ini, makanan Umi tinggal di sini dulu ya. Umi akan pergi ke rumah Tante Dian untuk meminta obat untukmu. Karena persediaan obat di rumah habis.” kata Umi.

“Tidak perlu, Umi. Biar Faiz yang mengambilnya sendiri. Setelah mandi dan makan, Faiz akan pergi ke sana.” kata Gus Faiz.

“Rumah Tante Dia ada di dekat santri putri lho, Nak. Apa kamu yakin? Dan bagaimana tubuhmu? Biar Umi saja ya?” tanya Umi.

“Tidak apa-apa, Umi. Mereka semua sedang mengaji, saya mengetahuinya dari Ustaz Sidiq tadi. Lagi pula kalau saya yang ke sana, saya bisa langsung berkonsultasi.” kata Gus Faiz.

Dian adalah adalah adik kandung Umi. Dia memiliki anak yang bernama Zahra. Suaminya bernama Hendra. Hendra berprofesi sebagai seorang mantra atau dokter umum yang ada di area desa dan pondok pesantren, baik santri putra maupun warga sekitar. Sedangkan Dian juga sama seperti suaminya, hanya saja Dian hanya mengurus santri putri saja.

“Mau Umi temani?” tanya Umi.

“Malu, Umi.” kata Gus Faiz jujur.

Umi terkekeh melihat kejujuran Gus Faiz. “Umi sampai lupa kalau anak Umi sudah besar.” kata Umi.

Gus Faiz hanya tersenyum dan mengusap leher bagian belakangnya salah tingkah.

“Yasudah, Umi keluar dulu ya. Lekaslah kembali bila sudah bertemu Om Hendra.” Kata Umi.

Gus Faiz hanya mengangguk mengerti. Umipun keluar.

***

Seusai mandi dan berganti baju. Gus Faiz pun bersiap untuk pergi menuju rumah Tantenya. Meski tubuhnya benar-benar lemah, namun ntah di bagian mana, dia merasa ingin pergi menuju rumah Tante Dian. Dia ingin berkonsultasi dengan Om Hendra. Dia sangat ingin bertanya mengapa beberapa hari ini dia merasakan bagaimana tubuhnya lemas.

Gus Faiz tentu sangat bisa meminta tolong pada Umi atau Abah untuk menelepon Om Hendra datang. Namun, Gus Faiz merasa tindakan itu sangat tidak sopan. Apalagi mengingat dia yang baru saja datang, dan merasa tidak sopan memerintah orang tua.

"Saya harus segera ke rumah Om Hendra." Gumam Gus Faiz.

Kepalanya masih pusing. Namun, ntah dorongan dari mana dia merasa harus pergi ke rumah Om Hendra.

"Lho, kamu mau ke mana, Nak?" tanya Abah saat melihat Gus Faiz keluar kamar. Kali ini Gus Faiz berpakaian layaknya santri di pondok pesantren ini.

"Saya Mau ke rumah Om Hendra, Abah." kata Gus Faiz.

"Bukannya kamu masih sakit, Nak?" tanya Abah.

"Iya, sekalian meminta obat pada Om Hendra, Abah." kata Gus Faiz.

"Perlu Abah temani?" tanya Abah.

"Tidak perlu, Abah. InsyaAllah saya bisa sendiri." kata Gus Faiz.

"Baiklah, lekaslah pulang kalau sudah selesai. Lalu istirahat." kata Abah.

"Baik, Abah. Saya ke rumah Om Hendra dulu. Assalamualaikum." kata Gus Faiz pamit.

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Abah menjawab salam.

Gus Faizpun mencium tangan Abah dan bergegas pergi ke rumah Om Hendra. Di perjalanan saat melewati pondok pesantren putri matanya tak sengaja melihat seorang gadis tanpa jilbab di lantai 3.

Gadis tanpa jilbab memang sudah biasa dilihatnya ketika keluar dari pondoknya dulu di Jakarta. Namun ini, posisi masih di pondok pesantren. Dan pemandangan seorang santri tanpa jilbab yang terlihat sedang melamun membuat Gus Faiz penasaran. Meski hanya melihat sekilas, Gus Faiz tahu bahwa gadis itu sangat cantik.

"Astaghfirullah aladzim." kata Gus Faiz beristighfar.

Gus Faiz melanjutkan perjalanan. Dia terus mencoba menghilangkan rasa penasarannya. Ini bukan kali pertama rasa penasaran akan perempuan mendatanginya. Pertama, soal Gadis Tirai, kedua, soal Nindy yang diamanahkan kepadanya, dan yang terakhir santri tanpa kerudung barusan.

Sesampainya di rumah Om Hendra. Dia langsung memberi salam. Pintu terbuka itu menandakan ada orang di dalamnya.

"Assalamualaikum.." salam Gus Faiz.

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Om Hendra keluar rumah. "Gus Faiz?" tanya Om Hendra seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Gus Faiz mengangguk. Gus Faiz menyodorkan tangan hendak meminta bersalaman namun,

Om Hendra langsung memeluk Gus Faiz. "Apa kabar, Gus?" tanyanya sambil tertawa senang.

"Alhamdulillah baik, Om." jawab Gus Faiz.

Om Hendra buru-buru melepaskan pelukannya dan menyuruh Gus Faiz untuk masuk ke dalam rumahnya.

Ketika melihat Gus Faiz, Om Hendra tahu kalau Gus Faiz sedang sakit hal ini bisa dilihatnya dari bibirnya yang pucat di tambah suhu tubuhnya yang tinggi.

"Masuk, Gus. Masuk.." kata Om Hendra.

Setelah masuk dan berbasa-basi sedikit, Gus Faiz pun memberitahu maksud kedatangannya. Om Hendra pun langsung memeriksa tubuh Gus Faiz dengan cekatan lalu memberinya obat.

Gus Faiz memandangi obat yang di berikan Om Hendra. Ntah kebetulan atau tidak, obat yang diberikan Om Hendra sangatlah mirip dengan obat yang di berikan petugas kesehatan pondoknya di Jakarta.

"Ada apa, Gus?" tanya Om Hendra.

"Tidak apa-apa, Om. Terima kasih atas obatnya. Saya harus kembali ke rumah." kata Gus Faiz.

"Baiklah, perlu om antar pakai motor?" tanya Om Hendra.

"Tidak perlu, Om. Lagi pula jaraknya dekat." kata Gus Faiz.

Om Hendra mengangguk. Gus Faiz me cium tangan Om Hendra.

Hari ini Tante Dian dan Zahra sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang ke pasar, jadi Gus Faiz tidak sempat bertemu ibu dan anak itu.

"Assalamualaikum." salam Gus Faiz.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Om Hendra.

Gus Faiz pun meninggalkan rumah Om Hendra.

Saat memasuki kompleks putri. Gus Faiz kembali melihat gadis yang tadi dilihatnya. Kali ini dia memakai jilbab yang dipakainya asal-asalan. Dia berada di bawah pohon depan pondok. Gus Faiz mengamatinya. Kali ini dia tidak bisa membendung rasa penasaran.

Gadis itu berkomat-kamit seperti ketakutan menengok sambil ke atas pohon, lalu gadis itu terlihat tidak lagi takut. Sudut bibir Gus Faiz tertarik ke atas. Meski dia hanya melihat Gadis itu dari belakang namun Gus Faiz seperti sudah tahu bagaimana ekspresi gadis itu.

Gadis itu kini fokus memperhatikan pondoknya.

“Apa gue lompat dari lantai 4 aja?” tanya gadis itu.

Gus Faiz terdiam. Suara itu. Ntah mengapa suara itu terlihat familiar di telinganya. Suara Gadis Tirai.

Gus Faiz pun terus berjalan namun dia dengan sengaja berjalan di belakang gadis itu. Kini dia tahu alasan di balik mengapa gadis itu terus-terusan menatap pondoknya dengan tatapan yang dia tidak bisa melihatnya dengan jelas.

Alasan dia berjalan di belakang gadis itu bukanlah karena ia ingin berdekatan dengan si gadis, lagi pula meski berjalan di belakang gadis itu, dia tetap mengambil jarak. Namun, karena dia ingin mengatakan sesuatu.

"Lantai 4 hanya membuat kamu masuk ke rumah sakit." kata Gus Faiz.

Setelah mengatakan kata-kata itu, Gus Faizpun langsung berjalan tidak lagi menoleh. Toh, tujuannya hanya ingin menghentikan pikiran hendak bunuh diri si gadis bercelana jeans itu.

Si gadis itu langsung membalikkan badan. Karena Gus Faiz terus berjalan tanpa membalikkan badannya, jadi si gadis itu hanya bisa melihat punggung Gus Faiz.

"Hei! Lo bisa ngomong pakai bahasa Indonesia?" tanya Gadis itu sambil berteriak.

Sudut bibir Gus Faiz kembali tertarik sedikit. Dia mulai merasakan jantungnya berpacu dengan cepat. Dia terus beristighfar dalam hati karena tidak ingin membuat hatinya dipenuhi oleh si gadis yang masih bersemangat memanggilnya.

"Mas! Berhenti!" seru gadis itu.

Gus Faiz kini menahan senyumannya.

"Mas ganteng! Tolongin gue!" teriak gadis itu lagi.

"Mas jelek berhentiii!" teriak gadis itu lagi.

Gus Faiz terus berjalan. Dia ingin segera pergi ke rumah Abahnya. Dia benar-benar takut perasaannya mulai menjadi-jadi.

"Woi! Gue timpuk lo ya!" seru gadis itu lagi.

Gus Faiz masuk ke dalam gang. Dia tidak mau masuk ke rumah Abah lewat depan. Mendengar suara itu bukannya marah, Gus Faiz justru tidak bisa menahan senyumannya.

1
bunda syifa
bukan nya Nindy udah berdamai sama semua orang termasuk juga ayah nya pas masih d rumah sakit y Thor, kn waktu Nindy minta maaf sama ayah nya, ayahnya lagi d musholla rumah sakit
Ati Rohati: cuma aku baca yang terakhir
total 2 replies
bunda syifa
bukan nya yg bawa Nindy jalan" itu Ulfa y Thor
bunda syifa
bener sih, ibarat kata yg kecelakaan lagi sakarat tapi harus nunggu ambulans dulu yg masih d telfon trus berjalan k TKP, yg ada bukan tertolong malah meninggal duluan yg kecelakaan sebelum sampai rumah sakit karena udah kehabisan darah
bunda syifa
penulis kn ngetik Gus, bukan nulis d buka satu" kayak jaman dulu🤦🤦
bunda syifa
dan yg lebih d sayangkan lagi adalah qm Ulfa, padahal melihat dengan mata kepalanya sendiri segimana cinta nya Gus Faiz sama Nindy tetap aja rasa irinya membuat dia menginginkan Gus Faiz bahkan sampai Gus Faiz dn Nindy menikah
bunda syifa
lah banyak banget rasa iri mu mbak, kasih sayang orang tua udah qm kuasai sendiri, sekarang ada orang lain peduli sama Nindy pengen qm ambil jg😒😒
bunda syifa
bukan nya klo sandal emang ada pasangan nya y Bu, kiri sama kanan, masak iya mau d pakai cuma sebelah aja 😅😅😅
bunda syifa
ternyata emang dari awal si Ulfa tetap ular y Thor, aq pikir sempat berubah gt meskipun sebentar
Momy Haikal
segitu panik nya faiz ketika Nindy pergi sampai tidur yak nyenyak makan tak enak
Momy Haikal
aduh padahal nanggung itu
Momy Haikal
umi anakmu di aniaya😂
Momy Haikal
dari sini abah tau seberapa besar dua orang insan ini saling mencintai
Momy Haikal
lah kok takut 🤣🤣🤣😂
Momy Haikal
🤣😂🤣😂😂😂😂😂😂
Momy Haikal
ihh gemezzzzin
Momy Haikal
berarti faiz sebenarnya sudah suka sama Nindy sebagai gadis tirai sebelum faiz tau kalaw gadis yg dijodohkan Ilham adalah orang yang sama
Momy Haikal
🤣😂🤣 Nindy lucu bgd ya
Momy Haikal
o jadi ini mula nya arum takut liat mata faiz
Momy Haikal
gak aku baca surat nya.gakk kuattt😭😭😭😭😭
Momy Haikal
😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!