Ashila Nur Hamidah
Seorang hijabers cantik dan baik yang dijodohkan orang tuanya dengan Rayhan Yahya Al-abshory, seorang yang menabraknya pada saat berangkat ke kampus.
Rayhan Yahya Al-abshory
seorang lelaki tampan bak pangeran kerajaan tetapi mempunyai sifat dingin dan selalu bertindak semena mena, dia adalah seorang CEO ternama yang mempunyai banyak perusahaan terkenal, dia merasa terkejut karena dia di jodohkan oleh orang tua nya dengan wanita yang tak dikenalnya.
Akankah mereka menerima perjodohan ini????
tunggu kelanjutannya hanya disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamidah.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Sakit (2)
Azan subuh terdengar nyaring di seluruh penjuru kota, segenap umat muslim mulai bangun dari tidurnya untuk melaksanakan kewajibannya.
Rayhan sedikit tersadar karena mendengar suara adzan, ia merasakan tubuhnya terasa sangat lemah, sehingga membuka mata pun ia enggan.
Tangannya meraba-raba sekitar, tanpa sengaja ia memegang sesuatu yang aneh, seperti sebuah bola kecil, Rayhan pun meremasnya pelan.
"Tonjolan? Sejak kapan guling ada tonjolan kayak gini? Dan kenapa bisa terasa kenyal? Apa ini bola karet?" batin Rayhan yang masih setia memejamkan matanya.
Mata yang masih tertutup itu perlahan terbuka, lalu ia memegang kepalanya yang masih terasa berat dan pusing. Matanya juga berkunang-kunang ketika mengamati setiap inchi ruangan.
Sosok di depan yang awalnya terlihat samar, perlahan makin terlihat jelas.
"Shila!" Matanya melebar sempurna saat melihat wajah sang istri persis di atas wajahnya.
"Itu kepala Ashila, berarti tonjolan yang gue pegang tadi..Astaga.." Rayhan semakin melebarkan matanya bulat-bulat.
Melihat Ashila menggeliat Rayhan segera memejamkan matanya kembali. Ia menenggelamkan kembali wajahnya di dada sang istri.
Perlahan Ashila mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menghilangkan rasa kantuk.
Setelah matanya membulat sempurna,
Ashila menarik tangan yang menjadi bantalan suaminya secara perlahan lalu mengangkat kepala Rayhan dan meletakannya di bantal.
Ashila menempelkan tangannya di kening Rayhan. "Alhamdulillah.. Panasnya udah turun." gumam Ashila sambil menghembuskan napas lega.
Ashila pun beringsut dari kasur berjalan keluar kamar, sedangkan Rayhan hanya membuka matanya sedikit untuk melihat tubuh istrinya yang semakin jauh dari pandangannya.
Setelah Ashila keluar dari kamar, Rayhan perlahan bangkit, kemudian duduk bersender di kepala tempat tidur.
Rayhan mengepal-ngepalkan tangan kirinya sambil tertawa kecil. "Kecil sih, tapi pas lah di tangan gue." ucapnya.
**
Setelah Ashila membersihkan dirinya dan sholat subuh, ia berjalan ke dapur untuk membuatkan bubur untuk suaminya.
Ashila sangat fokus mengaduk saat mengaduk buburnya, ia takut buburnya terlalu terlalu encer atau terlalu kental.
Tiga puluh menit kemudian, Ashila selesai memasak buburnya, ia pun segera menyajikan bubur tersebut.
Ashila segera berjalan menuju kamar Rayhan sambil membawa nampan yang berisi semangkok bubur dan segelas air putih.
Sesampainya di depan kamar Rayhan, Ashila segera membuka kamar suaminya itu. Dilihatnya suaminya sudah rapi memakai kemeja berwarna biru dan jas berwarna hitam.
"Mas? Kamu mau kemana?" tanya Ashila sambil mengernyitkan dahinya.
"Mau ke kantor, nih pasangin." ucap Rayhan menyodorkan dasi berwarna hitam.
Ashila menyimpan nampan di meja sofa lalu berjalan mendekati Rayhan. "No. Enggak boleh! Kamu itu masih sakit, Mas." ucap Ashila sambil mendorong dada Rayhan hingga suaminya itu terduduk di tepi tempat tidur.
"Tapi saya banyak kerjaan di kantor, lagi pula udah gak panas kok."
Ashila menempelkan punggung tangannya di kening Rayhan. "Emang udah gak panas sih. Tapi tetep ajah gak boleh kamu itu belum pulih."
"Tapi.."
Ashila segera menutup mulut Rayhan dengan tangannya untuk menghentikan pembicaraan suaminya itu. "Syuut.. Gak ada tapi-tapian.
"Sekarang kamu makan dulu buburnya." ucap Ashila sambil memberikan mangkok yang berisi bubur pada Rayhan.
"Suapin."
"Dasar manja."
Ashila mulai menyendokan bubur yang ia pegang, lalu menyuapi Rayhan.
"Pahiit."
"Masa sih, pahit." Ashila pun memasukan satu sendok bubur pada mulutnya.
"Enak kok. Mungkin karena Mas aja yang lagi sakit makanya rasanya jadi pahit."
"Nih lagi."
"Gak mau kenyang."
"Baru juga satu sendok. Nih pokoknya lagi."
Rayhan pun terpaksa menerima suapan dari Ashila. "Ck.. Dasar maksa."
"Udah deh gak usah ngumpat-ngumpat gak jelas gitu. Aku cuma gak mau kamu kenapa-napa. Harusnya kamu berterima kasih aku udah perhatian sama kamu."
"Kamu takut banget ya aku kenapa
-napa." goda Rayhan.
"Iya. Aku takut kamu kenapa-napa ka..."
"Cie.. Kamu takut banget ya kehilangan saya." goda Rayhan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ish aku belum selesai ngomong tau. Nih ya aku takut kamu kenapa-napa karena nanti kalo kamu sakitnya makin parah terus gak bisa kerja lagi entar siapa yang ngasih nafkah aku tiap bulan."
Rayhan mengalungkan kedua tangannya di leher Ashila, kemudian menariknya hingga posisi mereka berjarak beberapa senti saja.
"Masa sih?" goda Rayhan sambil mengerlingkan matanya dan menaikturunkan alisnya.
Ashila dapat merasakan hembusan napas Rayhan yang menjalar di wajah, wangi mint dari mulut suaminya itu sungguh segar.
Untuk sejenak jantung Ashila berdetak tak karuan, pipinya juga bersemu merah dan terasa panas.
"L-lepasin ih. Nanti buburnya tumpah, Mas." ucap Ashila terbata-bata. Tetapi Rayhan tidak mengindahkan perkataan Ashila.
"Mas." Ashila menatap Rayhan dengan tatapan tajam.
"Kecil-kecil galak." ucap Rayhan yang akhirnya melepaskan tangannya dari leher Ashila.
"Oh ya, Mas. Aku boleh nanya nggak?" ucap Ashila kembali menyuapi Rayhan.
"Boleh, tapi satu pertanyaan seratus ribu." ucap Rayhan sambil terkekeh pelan.
"Ish! Perhitungan amat sih." Ashila memberengut kesal.
"Emang mau tanya apa sih heum?" tanya Rayhan tersenyum tipis.
"Semalem aku denger Mas Rayhan ngigo terus nyebut-nyebut nama Ren. Emang Ren itu siapa sih?"
Rayhan yang tadinya tersenyum walaupun tipis mendadak pudar, ia terdiam sejenak.
SEKRANG KATANX CINTA SAMA SUAMI??
MENJIJIKKAN WANITA SAMPAH